Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Lulus Sarjana, tapi Gagal jadi Warga Negara yang Baik

Zulkifli Maharibe, Editor: Alan Aliarcham
Kamis, 30 Juli 2026 17:26 WIB
Lulus Sarjana, tapi Gagal jadi Warga Negara yang Baik
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi wisuda sarjana.

Setiap tahun, ribuan mahasiswa Indonesia diwisuda dengan toga yang megah. Aula kampus dipenuhi tepuk tangan, bunga ucapan selamat, dan senyum orang tua yang bangga melihat anaknya akhirnya menyandang gelar sarjana. Bagi banyak keluarga, wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan simbol keberhasilan mengubah nasib melalui pendidikan.

Namun, ada pertanyaan yang jarang diajukan setelah prosesi itu selesai: apakah pendidikan tinggi benar-benar telah melahirkan warga negara yang lebih baik? Ataukah ia hanya menghasilkan manusia yang memiliki gelar, tetapi miskin tanggung jawab sosial?

Ironisnya, kita mulai melihat gejala yang mengkhawatirkan. Semakin banyak orang berpendidikan tinggi, tetapi tidak selalu diikuti dengan meningkatnya kualitas kewargaan. Pendidikan berhasil mencetak ijazah, tetapi belum tentu berhasil membentuk karakter.

Sarjana yang Pulang, tetapi Tidak Membawa Perubahan

Fenomena ini sangat mudah ditemukan di banyak daerah. Seorang anak berangkat ke kota untuk kuliah selama empat atau lima tahun. Orang tuanya menjual hasil panen, menggadaikan sawah, atau bekerja lebih keras demi membiayai pendidikannya.

Harapannya sederhana: suatu hari nanti anak itu pulang membawa ilmu yang dapat mengangkat kehidupan keluarga dan kampung halamannya. Namun, ketika ia benar-benar kembali, yang dibawa sering kali hanya gelar.

Ia kembali dengan bahasa akademik yang sulit dipahami warga, tetapi enggan terlibat dalam menyelesaikan persoalan desa. Ia aktif berdiskusi tentang pembangunan nasional di media sosial, tetapi tidak pernah hadir dalam musyawarah kampung. Ia mengkritik pemerintah setiap hari, tetapi membuang sampah sembarangan di lingkungan tempat tinggalnya.

Lebih menyedihkan lagi, ada yang pulang dengan cara pandang yang justru merendahkan masyarakatnya sendiri. Kampung dianggap tertinggal, tradisi dianggap kuno, dan warga dipandang tidak memahami kemajuan. Padahal, pendidikan semestinya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan intelektual.

Kuliah Tinggi, tetapi SDM Tetap Rendah

Kita sering mengukur kualitas sumber daya manusia dari lamanya seseorang mengenyam pendidikan. Semakin tinggi gelarnya, semakin tinggi pula dianggap kualitas dirinya. Padahal, indikator sumber daya manusia tidak berhenti pada kemampuan akademik.

Apa artinya lulus sarjana jika masih membuang sampah ke sungai? Apa gunanya memahami teori demokrasi jika masih membeli suara dalam pemilihan kepala desa? Untuk apa mempelajari etika profesi jika masih menganggap menyontek, memalsukan data, atau memanfaatkan koneksi sebagai hal yang lumrah?

Inilah ironi yang sedang kita hadapi. Pendidikan tinggi kadang hanya meningkatkan kapasitas berpikir, tetapi tidak selalu meningkatkan kualitas moral. Kita menghasilkan lulusan yang mampu menyusun proposal penelitian, tetapi belum tentu mampu menghormati antrean.

Kita melahirkan sarjana yang fasih berbicara tentang pembangunan berkelanjutan, tetapi masih merusak fasilitas umum tanpa rasa bersalah. Jika demikian, yang rendah bukan tingkat pendidikannya, melainkan kualitas manusianya.

Kampus Bukan Pabrik Ijazah

Pendidikan tinggi sejatinya memiliki misi yang jauh lebih besar daripada sekadar mencetak tenaga kerja. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menegaskan bahwa perguruan tinggi bertujuan mengembangkan potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, berbudaya, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Artinya, kampus tidak boleh hanya menjadi tempat mengumpulkan nilai. Kampus adalah ruang pembentukan karakter, tempat seseorang belajar berpikir kritis sekaligus belajar hidup bersama orang lain. Sayangnya, dalam praktiknya, ukuran keberhasilan sering dipersempit menjadi indeks prestasi, lama studi, dan seberapa cepat lulusan memperoleh pekerjaan.

Akibatnya, banyak mahasiswa berlomba mengejar IPK tinggi, tetapi tidak pernah belajar menjadi warga yang peduli terhadap lingkungan, menghormati perbedaan, atau aktif menyelesaikan persoalan masyarakat.

Kampung Menunggu Kontribusi, Bukan Kesombongan

Setiap kampung sesungguhnya sedang menunggu anak-anak mudanya pulang. Mereka tidak berharap semua lulusan membangun gedung megah atau membawa investasi miliaran rupiah. Yang mereka harapkan jauh lebih sederhana.

Mereka membutuhkan guru yang mengajar dengan hati, petani muda yang membawa inovasi, pemuda yang menggerakkan literasi, tenaga kesehatan yang melayani dengan empati, dan sarjana yang mampu menjadi teladan dalam kejujuran serta kepedulian.

Jangan sampai kampung hanya menjadi tempat berlibur ketika cuti datang. Jangan sampai desa hanya dijadikan latar belakang foto nostalgia tanpa pernah benar-benar diperjuangkan. Sebab, ilmu yang tidak kembali kepada masyarakat akan kehilangan nilai kemanusiaannya.

Menjadi Warga Negara yang Baik

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah jumlah gelar yang terpajang di dinding rumah. Ukuran sesungguhnya adalah sejauh mana ilmu itu membuat seseorang menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Menjadi warga negara yang baik dimulai dari hal-hal yang sederhana: membayar pajak dengan jujur, menaati aturan lalu lintas, menjaga kebersihan lingkungan, menghormati perbedaan, tidak menyebarkan hoaks, serta berani menolak korupsi dalam bentuk sekecil apa pun. Semua itu mungkin tidak pernah diujikan dalam sidang skripsi, tetapi justru menjadi ujian nyata dalam kehidupan berbangsa.

Indonesia tidak sedang kekurangan sarjana. Setiap tahun, kampus-kampus meluluskan ratusan ribu orang dengan berbagai disiplin ilmu. Yang masih kita butuhkan adalah lebih banyak warga negara yang berintegritas, yang menjadikan ilmunya sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar alat mencari penghidupan.

Sebab, gelar bisa membuat seseorang dipanggil “sarjana”. Tetapi hanya karakter yang akan membuatnya dikenang sebagai manusia yang berguna bagi bangsa, bagi kampung halamannya, dan bagi sesama.

Berita Terbaru

Fenomena Phubbing yang Merusak Kehangatan Keluarga

Perkembangan teknologi digital memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan gadget tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga digunakan untuk bekerja, mencari informasi, hiburan, hingga...

Krisis Empati di Era Media Sosial: Ketika Jempol Lebih Cepat daripada Hati

Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Berbagai platform seperti Instagram, TikTok, X, dan Facebook memungkinkan seseorang berinteraksi dengan orang...

SAGU SAMU, Gerakan Bersama Menjemput Masa Depan Sekolah

Sekolah swasta hidup dan berkembang karena kepercayaan masyarakat. Kepercayaan itu diwujudkan dalam bentuk hadirnya peserta didik yang memilih sekolah kita sebagai tempat belajar dan bertumbuh....

Mendesain Pelepasan dan Mendesain Cari Murid

Membuat acara pelepasan siswa yang meriah memang penting. Menata panggung, menyusun susunan acara, mengundang tamu, hingga mendokumentasikan kegiatan bisa dilakukan dalam hitungan hari atau minggu....

Pendidikan, Kepemimpinan, dan Masa Depan Bangsa: Refleksi dari Indonesia dan Iran

Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan suatu bangsa. Jika ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah bagaimana negara...

Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...