Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Rivaldi Tamapedung, Editor: Alan Aliarcham
Senin, 29 Desember 2025 15:01 WIB
Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi bendera Indonesia. (Unsplash)

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun, di balik semua itu, ada perasaan yang sulit disangkal kelelahan. Bukan lelah biasa, melainkan letih yang menumpuk, pelan tetapi dalam.

Negeri ini tampak terus bergerak, tetapi rakyatnya berjalan dengan napas yang semakin pendek. Kelelahan itu tidak selalu tampak di permukaan. Ia tidak selalu meledak dalam amarah atau protes besar. Ia lebih sering hadir dalam bentuk diam, apatis, dan pasrah. Orang-orang tetap bekerja, tetap beraktivitas, tetapi dengan daya tahan yang semakin menipis.

Sepanjang tahun, ruang publik dipenuhi oleh kabar yang berat. Bencana datang silih berganti, harga kebutuhan pokok naik turun tanpa kepastian, konflik politik tak kunjung reda, dan kasus-kasus ketidakadilan terus bermunculan. Setiap hari, masyarakat disuguhi realitas yang menuntut energi emosional besar hanya untuk dipahami, apalagi disikapi.

Berita buruk yang datang bertubi-tubi ini menciptakan kelelahan kolektif. Banyak orang akhirnya memilih menjauh dari berita, bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak lagi sanggup menanggung beban psikologisnya. Dalam kondisi seperti ini, harapan mudah terkikis, dan rasa percaya perlahan menurun.

Ekonomi yang Bergerak, Hidup yang Terseok

Di atas kertas, ekonomi terus tumbuh. Angka-angka statistik menunjukkan perbaikan, grafik bergerak naik, dan optimisme terus disuarakan. Namun, di tingkat rumah tangga, cerita sering kali berbeda. Biaya hidup terasa semakin berat, sementara pendapatan berjalan di tempat.

Bagi banyak keluarga, bertahan hidup menjadi prioritas utama. Menabung adalah kemewahan, merencanakan masa depan terasa jauh. Kelelahan ekonomi ini tidak selalu dramatis, tetapi nyata. Ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil: menunda pengobatan, mengurangi gizi, atau menerima pekerjaan tambahan yang menguras tenaga.

Tahun politik selalu membawa hiruk-pikuk. Janji dilontarkan, slogan dikumandangkan, dan perdebatan memenuhi ruang publik. Namun, di balik keramaian itu, banyak warga merasa tidak benar-benar didengar. Politik terasa dekat di layar, tetapi jauh dalam kehidupan nyata.

Kelelahan politik muncul ketika partisipasi tidak berbanding lurus dengan perubahan. Ketika suara disalurkan, tetapi kebijakan tetap berjarak dari kebutuhan rakyat. Dalam situasi seperti ini, sinisme tumbuh subur. Demokrasi tetap berjalan secara prosedural, tetapi kehilangan daya hidupnya.

Negara yang Terasa Jauh

Bagi sebagian warga, negara hadir terutama dalam bentuk kewajiban: pajak, aturan, dan sanksi. Sementara dalam urusan perlindungan dan pelayanan, kehadirannya sering terasa lambat atau tidak merata. Ketika bencana datang, bantuan tiba setelah korban bertahan sendiri. Ketika masalah muncul, birokrasi menjadi labirin yang melelahkan. Perasaan ditinggalkan inilah yang memperdalam keletihan. Rakyat tidak hanya lelah secara fisik, tetapi juga emosional lelah berharap dan berkali-kali kecewa.

Di tengah kelelahan sosial dan ekonomi, banyak orang kembali mencari makna melalui agama. Tempat ibadah menjadi ruang berlindung, doa menjadi cara bertahan. Agama menawarkan ketenangan di tengah ketidakpastian, memberi makna ketika penjelasan rasional terasa buntu.

Namun, agama juga menghadapi tantangannya sendiri. Ketika ia hanya menjadi pelarian individual tanpa daya kritis sosial, ia berisiko menjauh dari realitas. Padahal, dalam tradisi keagamaan, iman tidak hanya soal kesabaran, tetapi juga keberpihakan pada keadilan dan kemanusiaan.

Salah satu persoalan terbesar dari kelelahan kolektif adalah ia jarang diakui. Rakyat dituntut untuk selalu tangguh, sabar, dan beradaptasi. Keluhan mudah dicap sebagai kurang bersyukur, kritik dianggap mengganggu stabilitas. Akibatnya, kelelahan dipendam, bukan diolah.

Padahal, kelelahan yang tidak diakui bisa berubah menjadi apatis atau ledakan sosial. Ia menggerogoti kepercayaan, memudarkan solidaritas, dan melemahkan daya tahan masyarakat dalam jangka panjang.

Meski lelah, negeri ini belum kehilangan sepenuhnya daya hidupnya. Di banyak tempat, solidaritas warga tetap menyala. Bantuan mengalir saat bencana, gotong royong tetap hidup, dan kepedulian muncul dari bawah. Inisiatif-inisiatif kecil ini menjadi penyangga ketika sistem besar terasa rapuh.

Solidaritas inilah yang membuat kelelahan tidak berubah menjadi keputusasaan total. Ia menjadi pengingat bahwa harapan tidak selalu datang dari atas, tetapi sering tumbuh dari sesama.

Akhir Tahun dan Pertanyaan yang Tertinggal

Akhir tahun seharusnya menjadi momen jeda, bukan sekadar pergantian angka. Ia memberi ruang untuk bertanya dengan jujur: mengapa kita begitu lelah? Apa yang perlu diubah agar hidup tidak terus-menerus menjadi perjuangan?

Catatan akhir tahun ini bukan untuk meratap, melainkan untuk menyadari. Negeri ini lelah karena terlalu sering dipaksa berlari tanpa arah yang jelas. Rakyat ini letih karena terus diminta bertahan tanpa kepastian.

Tahun boleh berganti. Tetapi tanpa keberanian untuk memperbaiki cara mengelola negeri dan mendengar suara rakyat, kelelahan hanya akan dibawa ke kalender berikutnya dengan beban yang semakin berat.

Berita Terbaru

Pena Ilahi Dalam Gending Jawa

Di malam yang sunyi, ketika cahaya lampu minyak hanya menyisakan bayangan di dinding joglo, suara sindhen merayap pelan mengikuti denting gamelan. Nada-nada itu seolah bukan...

Ketika Baju Adat Lebih Penting daripada Harga Diri Siswa: Pelajaran Pahit dari SMPN 18 Malang

Ada ironi besar dalam pendidikan ketika sebuah pakaian yang seharusnya menjadi simbol budaya justru berakhir menjadi sumber luka bagi seorang anak. Dugaan kekerasan di SMP...

Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka

Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...

Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)

Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...

Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain

Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...

Dingin…

Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...

Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas

Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...

Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...

Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...

Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan

Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....

Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah

Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...

Peta Mutu Pendidikan Kota Solo

Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....