Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Program Makan Gratis di Sekolah: Nutrisi atau Potensi Keracunan Masal?

Prima Trisna Aji, Editor: Sholahuddin
Selasa, 28 Oktober 2025 07:25 WIB
Program Makan Gratis di Sekolah: Nutrisi atau Potensi Keracunan Masal?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Prima Trisna Aji (Dok. pribadi).

Beberapa bulan terakhir, program makan gratis di sekolah yang digadang – gadang pemerintah pusat sebagai solusi pemenuhan gizi anak sekolah menjadi sorotan publik. Alih -alih hanya disambut sukacita, program senilai triliunan rupiah ini justru dikejutkan oleh kasus keracunan massal di berbagai daerah. Di Sulawesi Selatan, ratusan siswa muntah dan pusing setelah menyantap makanan dari dapur sekolah. Di Jawa Barat, kasus serupa juga terjadi meski dengan skala lebih kecil. Media sosial ramai menyorotinya: apakah “nutrisi gratis” ini justru bisa berubah menjadi “bencana kesehatan” baru?

Secara konsep, program makan bergizi gratis memiliki misi mulia: menekan angka stunting, meningkatkan konsentrasi belajar, serta meringankan beban ekonomi orang tua. Data Riskesdas tahun 2023 menunjukkan bahwa angka prevalensi stunting anak Indonesia masih 21,5%, sementara anemia pada remaja putri mencapai hampir 30%. Memberi asupan bergizi di sekolah merupakan salah satu strategi logis yang didukung banyak ahli.

Namun, di sisi lain, aspek keamanan pangan belum mendapat perhatian memadai. Kasus keracunan di Sulsel, Jabar, hingga NTT menunjukkan lemahnya pengawasan distribusi bahan, standar higienitas dapur, hingga rantai penyimpanan makanan. WHO menegaskan, keracunan makanan pada anak dapat berdampak serius: dehidrasi, gangguan pencernaan jangka panjang, bahkan mengancam nyawa. Apa yang seharusnya menjadi perayaan gizi justru berubah menjadi kekhawatiran massal di banyak sekolah.

Jika ditelusuri lebih dalam lagi, terdapat celah-celah sistemis dalam implementasi program ini. Di banyak sekolah, distribusi bahan pangan masih dilakukan tanpa standar penyimpanan yang memadai. Sayur dan daging dibeli di pasar lalu diangkut dengan kendaraan seadanya, tanpa pengendalian suhu. Kontaminasi bisa terjadi kapan saja, mulai dari rantai distribusi hingga saat bahan masuk ke dapur sekolah.

Selain itu, kualitas sumber daya manusia juga menjadi masalah. Tidak semua dapur bergizi gratis dibekali pelatihan keamanan pangan. Padahal, mencuci sayur dengan benar, menyimpan daging di suhu tepat, atau sekadar memakai sarung tangan bisa menentukan aman tidaknya makanan. Situasi ini diperparah oleh minimnya pengawasan terintegrasi. Puskesmas, Dinas Kesehatan, dan sekolah seharusnya membentuk jejaring pengawasan ketat, tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan pengawasan sering kali dilakukan seadanya.

Belajar dari Kisah Nyata

Sulawesi Selatan menjadi salah satu contoh paling mencolok. Pada bulan Juli 2025, lebih dari 150 siswa SD harus dilarikan ke puskesmas setelah mengonsumsi nasi kotak yang terkontaminasi e.coli. Kasus serupa muncul di Jawa Barat pada bulan Agustus 2025 ketika puluhan siswa SMP mengeluh mual setelah makan ayam olahan dari vendor luar sekolah. Di NTT, pada bulan September lalu, belasan siswa keracunan setelah mengonsumsi lauk ikan yang tidak segar.

Kisah-kisah ini bukan sekadar insiden kecil yang bisa ditutup dengan permintaan maaf. Ia merupakan alarm keras: program nasional sebesar ini tidak boleh dijalankan dengan mental proyek semata. Tanpa standar kesehatan publik yang ketat, niat baik pemerintah justru berpotensi memperbesar masalah kesehatan anak.

Menjaga Program, Bukan Membatalkan

Meski banyak kritik mengemuka, menyerukan penghentian program makan gratis bukanlah jawaban. Justru, program ini sangat penting bagi masa depan generasi Indonesia. Pertanyaannya, bagaimana agar niat baik tidak berubah menjadi petaka?

Pertama, yang harus dilakukan adalah memperkuat standar nasional keamanan pangan sekolah. Pemerintah perlu menetapkan prosedur baku yang jelas mulai dari pengadaan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi makanan. Aturan ini bukan sekadar formalitas, melainkan syarat mutlak yang wajib dipenuhi semua sekolah.

Kedua, keterlibatan puskesmas dan kader gizi harus dipastikan dalam pengawasan harian. Mereka bisa menjadi mata dan telinga lapangan, memastikan rantai produksi makanan benar-benar aman. Ketiga, sertifikasi dapur sekolah juga harus diterapkan. Sekolah dengan dapur sendiri perlu melalui audit berkala terkait sanitasi, sementara sekolah yang belum mampu harus bekerja sama dengan vendor yang memiliki rekam jejak higienitas terjamin.

Tidak kalah penting adalah edukasi berkelanjutan. Guru, siswa, hingga orang tua perlu dilibatkan dalam kampanye kebersihan dan pengawasan makanan. Karena pada akhirnya, keamanan pangan bukan hanya urusan dapur sekolah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh ekosistem pendidikan. Kemudian apabila Langkah di atas belum mengatasi, maka tidak ada salahnya untuk program makanan bergizi gratis bisa dialihkan menjadi pemberian uang tunai kepada orang tua, pemberian beras kepada orang tua ataupun dikembalikan kepada kantin setiap sekolah dimana dana disuplai dari dana makan bergizi gratis dengan pengawasan yang ketat.

Program makan bergizi gratis di sekolah merupakan langkah strategis menuju generasi sehat, cerdas, dan bebas stunting. Tetapi jika pengawasan longgar, ia justru bisa mencetak “generasi rawan keracunan”. Gratis saja tidak cukup, makanan itu harus bergizi, sehat, dan aman.

Kini,  bola ada di tangan pemerintah pusat dan daerah. Masyarakat tentu mendukung niat baik ini, tapi publik juga berhak menuntut standar terbaik serta orang tua bisa tenang apabila anak mereka mengkonsumsi makan bergizi gratis. Karena apa gunanya makanan gratis, bila anak-anak kita justru pulang ke rumah dengan perut sakit dan wajah pucat.

Penulis dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...