Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Sehat adalah Merdeka: Refleksi Kesehatan Masyarakat di Usia RI ke-80

Prima Trisna Aji, Editor: Sholahuddin
Minggu, 3 Agustus 2025 09:03 WIB
Sehat adalah Merdeka: Refleksi Kesehatan Masyarakat di Usia RI ke-80
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Prima Trisna Aji (Dok. pribadi).

Setiap bulan Agustus, di negara Indonesia, rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan dengan gegap gempita. Lomba – lomba rakyat, bendera merah putih berkibar di setiap rumah, dan semangat nasionalisme sangat memuncak. Namun, di balik euforia tersebut, ada pertanyaan sangat penting yang perlu kita renungkan: sudahkah rakyat Indonesia benar-benar Merdeka terutama dalam hal kesehatan?

Merdeka bukan hanya terbebas dari penjajahan fisik saja, akan tetapi juga bebas dari belenggu segala penyakit, ketidaktahuan, dan ketimpangan akses layanan kesehatan. Saat ini, banyak warga masih hidup dalam ketergantungan obat tanpa pemahaman yang memadai, terbatas akses kontrol kesehatan, dan rendahnya literasi terhadap penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes mellitus, serta anemia pada remaja saat ini.

Pasal 28h UUD 1945 menegaskan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, termasuk berhak atas pelayanan kesehatan. Namun, faktanya, indeks pembangunan kesehatan masyarakat terutama pada daerah tertinggal masih menunjukkan ketimpangan serius. Akses fasilitas kesehatan, jumlah tenaga medis, hingga edukasi gizi dan pencegahan penyakit masih belum merata.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi di negara Indonesia mencapai lebih dari 30% pada kelompok usia dewasa, dengan proporsi penderita yang tidak menyadari dirinya menderita penyakit tersebut. Ini artinya, ada jutaan orang hidup dalam “ketidaktahuan”, dan mereka bisa saja kehilangan produktivitas, bahkan nyawa, tanpa sempat mendapatkan intervensi yang tepat.

Di sisi lain, anemia pada remaja putri juga masih menjadi masalah serius. Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat bahwa satu dari tiga remaja putri mengalami anemia, yang berdampak pada konsentrasi belajar, produktivitas, dan masa depan generasi bangsa.

Maka, bentuk kemerdekaan baru yang seharusnya kita perjuangkan adalah kemerdekaan dari ketidaktahuan akan kesehatan sendiri. Literasi kesehatan yang kuat memungkinkan seseorang untuk mengenali tanda gejala penyakit lebih dini, seperti mengambil keputusan tepat, dan menjalani gaya hidup sehat dengan sadar.

Sayangnya, edukasi kesehatan belum menjadi bagian dari budaya. Banyak masyarakat Indonesia lebih percaya mitos dibandingkan dengan dokter, lebih banyak memilih pengobatan alternatif yang belum terbukti dibanding pencegahan berbasis sains. Di sinilah kita membutuhkan pendekatan baru: edukasi berbasis komunitas, media sosial, dan teknologi digital.

Aplikasi Kesehatan

Di tengah transformasi digital, inovasi berbasis aplikasi Android untuk manajemen kesehatan mandiri (self-management) menjadi harapan besar bagi seluruh masyarakat Indonesia. Aplikasi tersebut bisa menjadi alat bantu edukasi, pengingat minum obat, pelacak tekanan darah, bahkan wadah konsultasi dengan tenaga medis. Hal ini tentunya sangat penting bagi penderita penyakit kronis yang hidup jauh dari puskesmas atau rumah sakit.

Sebagai contoh, di beberapa daerah, penggunaan aplikasi kesehatan telah meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi dalam kontrol tekanan darah dan konsumsi minum obat. Hal ini tentunya merupakan bentuk nyata kemerdekaan ketika rakyat bisa mengontrol kesehatannya sendiri tanpa harus selalu datang ke fasilitas kesehatan. Momen kemeriahan bulan Agustus ini tentunya harusnya menjadi refleksi: jangan hanya mengibarkan bendera Indonesia saja, akan tetapi juga mengibarkan kesadaran untuk hidup sehat. Jangan hanya menggelar lomba makan kerupuk, tapi juga edukasi tentang isi piring sehat. Jangan hanya menggelorakan semangat kemerdekaan, akan tetapi juga perjuangan menuju kesehatan yang setara untuk semua.

Solusi konkret perlu dilakukan bersama dan secara masif. Pemerintah daerah harus memperkuat promosi kesehatan berbasis komunitas. Sekolah perlu menanamkan literasi gizi dan kesehatan sejak dini. Puskesmas dan kader kesehatan harus aktif menggunakan media sosial dan aplikasi digital sebagai alat edukasi yang dekat dengan generasi muda. Di sisi lain, masyarakat perlu diajak untuk rutin melakukan cek kesehatan, mengenali tanda gejala awal penyakit, dan menjadikan pola hidup sehat sebagai bagian dari budaya keluarga.

Karena sejatinya, sehat adalah merdeka. Dan kemerdekaan itu harus kita perjuangkan mulai dari tubuh kita sendiri.

Penulis adalah dosen prodi Spesialis Medikal Bedah dari Universitas Muhammadiyah Semarang,  spesialisasi kardiovasculer dan pembuluh darah, mahasiswa S3 Ph.D. Lincoln College University Malaysia

 

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment