Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kajian Agama

Maknai Keimanan dan Keadilan, UMS Gelar Kajian Tafsir Berperspektif Surat Al-Ma’arij

Yusuf, Editor: Alan Aliarcham
Sabtu, 2 Agustus 2025 01:45 WIB
Maknai Keimanan dan Keadilan, UMS Gelar Kajian Tafsir Berperspektif Surat Al-Ma’arij
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi keadilan.

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM– Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Tafsir rutin yang diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Kegiatan ini menghadirkan Ainur Rha’in, dosen Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Agama Islam (FAI) UMS sebagai pemateri utama. Dalam kajian itu, Ainur membedah makna mendalam dari Surat Al-Ma’arij, khususnya pada bagian ketiga.

Ia menekankan surat ini memuat pesan penting terkait kondisi kejiwaan manusia, baik yang kafir maupun mukmin, serta solusi spiritual untuk menghadapinya. “Surat Al-Ma’arij ini unik, karena membahas sifat-sifat orang kafir, seperti berkeluh kesah dan mudah sedih, yang ternyata juga bisa hinggap pada orang mukmin. Solusinya adalah kembali kepada salat, zakat, dan kontribusi sesuai kemampuan,” terang Ainur, Jumat (1/8/2025).

Lebih lanjut, Ia menjelaskan keadilan dalam Islam dapat ditegakkan siapa saja sesuai bidangnya. Jika memiliki ilmu, tegakkan dengan ilmu. Jika memiliki tenaga, bantu dengan tenaga. Dosen, hakim, maupun pemimpin, semuanya memiliki peran dalam menegakkan keadilan.

Cermin Kontradiksi

Pada bagian kajian ayat ke-36 dan 37, Ainur menyoroti fenomena orang-orang kafir yang mendatangi Nabi Muhammad SAW. secara berkelompok. Menurutnya, tindakan tersebut mencerminkan kontradiksi dalam logika mereka. “Mereka tidak percaya hari pembalasan, tapi justru datang mengejek dan memprotes wahyu. Ini menandakan bahwa sebenarnya di alam bawah sadar, mereka mengakui kebenaran, tapi akalnya dibutakan nafsu,” jelasnya.

Kajian juga menyinggung bagaimana orang-orang kafir kerap menyamakan kenikmatan dunia dengan jaminan kenikmatan akhirat. Mereka (orang-orang kafir) menyangka kekayaan dan jabatan adalah bukti bahwa Allah memihak mereka. Padahal menurut Ainur, ukuran kemuliaan dalam Islam bukan pada harta, tapi pada keimanan.

Dosen UMS itu juga mengkritisi perilaku masyarakat yang memuliakan status sosial dunia secara berlebihan, bahkan hingga ke urusan kematian. “Kuburan yang mewah tidak berarti apa-apa di sisi Allah. Yang penting adalah amal jariyah dan keimanan semasa hidup,” tambahnya. Kajian dilanjutkan dengan pembahasan ayat ke-40 hingga 44, yang menggambarkan kekuasaan Allah mengganti kaum kafir dengan kaum yang lebih taat.

Menurut Ainur, ini adalah peringatan keras bahwa keistimewaan dunia tidak menjamin tempat di akhirat jika tidak dibarengi keimanan dan amal saleh. “Allah bersumpah dengan kekuasaan-Nya atas timur dan barat. Sumpah ini menunjukkan betapa seriusnya Allah menolak logika keliru orang kafir yang merasa paling layak masuk surga,” tegasnya.

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ainur Rha’in.

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ainur Rha’in. (Humas)

Ainur juga membahas pentingnya menyadari asal-usul manusia. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu yang hina, yaitu air mani. “Jadi apa yang disombongkan? Kemuliaan hanya datang dari iman, bukan dari status duniawi,” ujarnya.

Di akhir kajian, disampaikan hari kebangkitan akan menjadi hari kehinaan bagi orang-orang kafir. Mereka akan bangkit dari kubur dalam keadaan hina dan penuh debu, berlari seperti belalang yang terbangun dari tanah, tertunduk dan takut akan azab yang dulu mereka ingkari.

Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta, Agus Budi Wahyudi, mengajukan pertanyaan tentang bagaimana menghadapi orang kafir yang sebenarnya paham kebenaran namun tetap menolak. Ainur menjawab tugas umat Islam adalah menunjukkan akhlak karimah dan menjadi representasi kebaikan Islam di masyarakat. “Kita mungkin tidak bisa mengubah semua takdir, tapi kita bisa memilih untuk menjadi pribadi yang memperjuangkan peradaban Islam. Setiap tindakan kecil bisa menjadi bagian dari dakwah,” ucapnya.

Kegiatan kajian yang telah terlaksana pada Kamis (31/7/2025) itu menjadi pengingat penting bagi sivitas akademika UMS untuk terus memperkuat keimanan dan menjadikan ilmu sebagai sarana untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Berita Terbaru

Pengajian di Masjid Darul Hayat Solo, Mubaligh Muhammadiyah: Bersyukur Itu Ibadah 24 Jam

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Solo Utara, Dwi Jatmiko, menyampaikan pengajian bertema “Charging Power Ketakwaan” di Masjid Darul Hayat Banyuanyar RT...

Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...

Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an

Pendidikan  kesabaran  (ṣabr)  sebagai  salah  satu  nilai  fundamental  dalam  Al-Qur’an  sangat penting   untuk   pengembangan   karakter   manusia,   terutama   dalam   konteks   pendidikan. Pendidikan  karakter  sebaiknya  diterapkan  sejak ...

Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?

Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...

Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....

Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an

Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...

Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer

Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...

Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an

Daftar IsiApa Itu Ilmu Tafsir?Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era DigitalRagam Pendekatan TafsirTafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju ZamanTafsir sebagai Perjalanan SpiritualDaftar...

Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender

Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...

Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...

Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...

Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...