PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM– Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Tafsir rutin yang diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom Meeting.
Kegiatan ini menghadirkan Ainur Rha’in, dosen Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Agama Islam (FAI) UMS sebagai pemateri utama. Dalam kajian itu, Ainur membedah makna mendalam dari Surat Al-Ma’arij, khususnya pada bagian ketiga.
Ia menekankan surat ini memuat pesan penting terkait kondisi kejiwaan manusia, baik yang kafir maupun mukmin, serta solusi spiritual untuk menghadapinya. “Surat Al-Ma’arij ini unik, karena membahas sifat-sifat orang kafir, seperti berkeluh kesah dan mudah sedih, yang ternyata juga bisa hinggap pada orang mukmin. Solusinya adalah kembali kepada salat, zakat, dan kontribusi sesuai kemampuan,” terang Ainur, Jumat (1/8/2025).
Lebih lanjut, Ia menjelaskan keadilan dalam Islam dapat ditegakkan siapa saja sesuai bidangnya. Jika memiliki ilmu, tegakkan dengan ilmu. Jika memiliki tenaga, bantu dengan tenaga. Dosen, hakim, maupun pemimpin, semuanya memiliki peran dalam menegakkan keadilan.
Cermin Kontradiksi
Pada bagian kajian ayat ke-36 dan 37, Ainur menyoroti fenomena orang-orang kafir yang mendatangi Nabi Muhammad SAW. secara berkelompok. Menurutnya, tindakan tersebut mencerminkan kontradiksi dalam logika mereka. “Mereka tidak percaya hari pembalasan, tapi justru datang mengejek dan memprotes wahyu. Ini menandakan bahwa sebenarnya di alam bawah sadar, mereka mengakui kebenaran, tapi akalnya dibutakan nafsu,” jelasnya.
Kajian juga menyinggung bagaimana orang-orang kafir kerap menyamakan kenikmatan dunia dengan jaminan kenikmatan akhirat. Mereka (orang-orang kafir) menyangka kekayaan dan jabatan adalah bukti bahwa Allah memihak mereka. Padahal menurut Ainur, ukuran kemuliaan dalam Islam bukan pada harta, tapi pada keimanan.
Dosen UMS itu juga mengkritisi perilaku masyarakat yang memuliakan status sosial dunia secara berlebihan, bahkan hingga ke urusan kematian. “Kuburan yang mewah tidak berarti apa-apa di sisi Allah. Yang penting adalah amal jariyah dan keimanan semasa hidup,” tambahnya. Kajian dilanjutkan dengan pembahasan ayat ke-40 hingga 44, yang menggambarkan kekuasaan Allah mengganti kaum kafir dengan kaum yang lebih taat.
Menurut Ainur, ini adalah peringatan keras bahwa keistimewaan dunia tidak menjamin tempat di akhirat jika tidak dibarengi keimanan dan amal saleh. “Allah bersumpah dengan kekuasaan-Nya atas timur dan barat. Sumpah ini menunjukkan betapa seriusnya Allah menolak logika keliru orang kafir yang merasa paling layak masuk surga,” tegasnya.

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ainur Rha’in. (Humas)
Ainur juga membahas pentingnya menyadari asal-usul manusia. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu yang hina, yaitu air mani. “Jadi apa yang disombongkan? Kemuliaan hanya datang dari iman, bukan dari status duniawi,” ujarnya.
Di akhir kajian, disampaikan hari kebangkitan akan menjadi hari kehinaan bagi orang-orang kafir. Mereka akan bangkit dari kubur dalam keadaan hina dan penuh debu, berlari seperti belalang yang terbangun dari tanah, tertunduk dan takut akan azab yang dulu mereka ingkari.
Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta, Agus Budi Wahyudi, mengajukan pertanyaan tentang bagaimana menghadapi orang kafir yang sebenarnya paham kebenaran namun tetap menolak. Ainur menjawab tugas umat Islam adalah menunjukkan akhlak karimah dan menjadi representasi kebaikan Islam di masyarakat. “Kita mungkin tidak bisa mengubah semua takdir, tapi kita bisa memilih untuk menjadi pribadi yang memperjuangkan peradaban Islam. Setiap tindakan kecil bisa menjadi bagian dari dakwah,” ucapnya.
Kegiatan kajian yang telah terlaksana pada Kamis (31/7/2025) itu menjadi pengingat penting bagi sivitas akademika UMS untuk terus memperkuat keimanan dan menjadikan ilmu sebagai sarana untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Langgar Agung Al Falah Kerten Gelar Pengajian Arloji Sambut 1 Muharam
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Langgar Agung Al Falah Kerten Solo kembali menggelar Pengajian Arloji (Amanah Ora Lali Ndongo lan Ngaji) pada Malam Jumat Kliwon di Teras...
Momen Iduladha, Umat Diajak Perkuat Kepedulian Sosial
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Semangat pengorbanan dalam nilai spiritual menjadi tema utama Salat Iduladha yang digelar di Masjid Al-Ikhlas Bayan Krajan RT 4 RW 15, Kadipiro,...
Iman dan Takwa Jadi Kunci Keberkahan Kampung
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dwi Jatmiko, menyampaikan kajian bertema “Kunci Kampung yang Berkah dan Bahagia” dalam Salat Subuh...
Doa sebagai Penyembuh: Sembuhkanlah Sakitmu dengan Dahsyatnya Kekuatan Doa
Di tengah dunia yang semakin bising, manusia modern sesungguhnya sedang memikul banyak luka yang tidak selalu tampak oleh mata. Ada tubuh yang sakit karena kelelahan,...
Pengajian Aisyiyah Kampung Sewu, Jatmiko Ingatkan Ketakwaan sebagai Solusi Langit
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dwi Jatmiko, menyampaikan pesan mendalam tentang ketakwaan sebagai solusi atas setiap persoalan hidup dalam...
Tafsir atau Tafsir-Tafsir-an? Bahaya Belajar Agama Tanpa Guru di Era Digital
Ada satu perubahan yang pelan-pelan terjadi dalam cara manusia memahami agama—dan sering kali luput disadari. Hari ini, belajar agama terasa semakin mudah. Cukup membuka TikTok,...
Pengajian di Masjid Darul Hayat Solo, Mubaligh Muhammadiyah: Bersyukur Itu Ibadah 24 Jam
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Solo Utara, Dwi Jatmiko, menyampaikan pengajian bertema “Charging Power Ketakwaan” di Masjid Darul Hayat Banyuanyar RT...
Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...
Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an
Pendidikan kesabaran (ṣabr) sebagai salah satu nilai fundamental dalam Al-Qur’an sangat penting untuk pengembangan karakter manusia, terutama dalam konteks pendidikan. Pendidikan karakter sebaiknya diterapkan sejak ...
Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?
Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...
Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z
Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....
Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an
Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...







