Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kajian Agama

Kajian Tafsir UMS Bahas Tugas Kekhalifahan Manusia lewat Surah Al-Baqarah Ayat 30–39

Adi, Editor: Alan Aliarcham
Senin, 17 November 2025 13:26 WIB
Kajian Tafsir UMS Bahas Tugas Kekhalifahan Manusia lewat Surah Al-Baqarah Ayat 30–39
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tafsir Online dengan menghadirkan Ainur Rha’in. Pada kesempatan ini, ia mengupas secara mendalam rangkaian ayat 30–39 Surah Al-Baqarah, yang menjadi dasar teologis penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi. (Humas)

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tafsir Online dengan menghadirkan Ainur Rha’in. Pada kesempatan ini, ia mengupas secara mendalam rangkaian ayat 30–39 Surah Al-Baqarah, yang menjadi dasar teologis penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Mengawali penjelasan pada ayat 30, Rha’in menggambarkan sikap para malaikat ketika Allah memberitakan rencana penciptaan manusia. Para malaikat mempertanyakan potensi manusia yang dapat menimbulkan kerusakan dan menumpahkan darah.

“Para malaikat bukan menolak, tapi mereka heran sekaligus khawatir terhadap makhluk yang memiliki kecenderungan merusak. Namun Allah menjawab jelas bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui malaikat,” paparnya Minggu, (16/11/2025).

Ia juga menekankan Allah memberitahu malaikat bukan dalam rangka meminta persetujuan. “Ini penting. Allah tidak meminta izin. Sejak awal Adam sudah ditakdirkan menjadi penghuni bumi, bukan sekadar makhluk surga,” tegasnya.

Karena itu, manusia sejak penciptaannya memang diarahkan untuk menjadi khalifah, makhluk yang memakmurkan, menjaga, dan bertanggung jawab atas bumi. Pada ayat 31–33, Rha’in memaparkan peran ilmu sebagai fondasi utama kekhalifahan.

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tafsir Online dengan menghadirkan Ainur Rha’in. Pada kesempatan ini, ia mengupas secara mendalam rangkaian ayat 30–39 Surah Al-Baqarah, yang menjadi dasar teologis penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tafsir Online dengan menghadirkan Ainur Rha’in. Pada kesempatan ini, ia mengupas secara mendalam rangkaian ayat 30–39 Surah Al-Baqarah, yang menjadi dasar teologis penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi. (Humas)

Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruh benda sebagai simbol anugerah intelektual. “Pondasi segala hal adalah ilmu. Manusia diberi daya cipta, daya kreasi, akal, dan kemampuan memahami sesuatu. Inilah yang menjadikan manusia layak memikul amanah besar,” ungkapnya.

Karena itu, menurutnya, hubungan khalifah dan ilmu tidak dapat dipisahkan: semakin tinggi ilmu, semakin besar tanggung jawab yang harus dipikul manusia. Ayat 34 menjadi penanda munculnya kesombongan pertama dalam sejarah, yaitu penolakan Iblis untuk sujud kepada Adam.

“Iblis enggan karena kesombongan. Ini bukan sekadar kisah, tetapi peringatan bahwa kekhalifahan bukan simbol kemuliaan yang membuat manusia boleh menyombongkan diri. Khalifah justru pelayan yang memberi kebermanfaatan,” tutur Rha’in.

Berlanjut pada ayat 35–36, ia menguraikan kehidupan Adam dan Hawa di surga yang penuh kelapangan, namun Allah memberikan satu larangan untuk tidak mendekati pohon khuldi. Godaan setan membuat keduanya tergelincir dan turun ke bumi sebagai bagian dari skenario ilahi.

Rha’in menambahkan, “Ayat ini juga menegaskan bahwa kehidupan manusia itu ada di bumi. Manusia tidak diciptakan untuk planet lain.”

Ayat 37 menjadi titik balik ketika Allah mengajarkan Adam cara bertaubat dengan kalimat-kalimat khusus. Rha’in membacakan doa tersebut secara lengkap:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Ia menegaskan doa itu adalah pengakuan manusia bahwa dirinya dapat berbuat salah namun tetap memiliki jalan pulang. “Inilah bentuk kasih sayang Allah. Kesalahan Adam bukan akhir, karena Allah sendiri mengajarkan cara untuk kembali,” ujarnya.

Pada ayat 38, Rha’in menjelaskan siapa pun yang mengikuti petunjuk Allah akan terbebas dari rasa takut maupun kesedihan. “Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa arah. Petunjuk itu diberikan agar kita tetap teguh dan tidak tersesat,” jelasnya.

Terakhir, ayat 39 menjadi penutup rangkaian ini dengan penegasan tentang pentingnya syukur atas keimanan. “Ayat ini mengingatkan bahwa orang beriman harus bersyukur karena petunjuk itu menyelamatkan. Mereka yang menolaknya akan menanggung konsekuensinya baik di dunia maupun akhirat,” tuturnya.

Kajian yang digelar pada Sabtu, (15/11/2025) itu diakhiri dengan ajakan agar umat memahami kembali misi kekhalifahan sebagai amanah besar: memanfaatkan ilmu, menjaga bumi, menebar kebermanfaatan, dan selalu kembali pada petunjuk Allah dalam menjalani kehidupan.

Berita Terbaru

Pengajian di Masjid Darul Hayat Solo, Mubaligh Muhammadiyah: Bersyukur Itu Ibadah 24 Jam

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Solo Utara, Dwi Jatmiko, menyampaikan pengajian bertema “Charging Power Ketakwaan” di Masjid Darul Hayat Banyuanyar RT...

Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...

Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an

Pendidikan  kesabaran  (ṣabr)  sebagai  salah  satu  nilai  fundamental  dalam  Al-Qur’an  sangat penting   untuk   pengembangan   karakter   manusia,   terutama   dalam   konteks   pendidikan. Pendidikan  karakter  sebaiknya  diterapkan  sejak ...

Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?

Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...

Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....

Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an

Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...

Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer

Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...

Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an

Daftar IsiApa Itu Ilmu Tafsir?Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era DigitalRagam Pendekatan TafsirTafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju ZamanTafsir sebagai Perjalanan SpiritualDaftar...

Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender

Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...

Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...

Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...

Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...