Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Kenapa Ilmu Zaman Dahulu Lebih Membekas?

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Alan Aliarcham
Rabu, 9 Juli 2025 17:49 WIB
Kenapa Ilmu Zaman Dahulu Lebih Membekas?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi membaca Al-Qur'an.

“Dulu satu buku dibaca 100 kali, sekarang 100 buku dibuka satu kali.” Kalimat ini bukan sekadar nostalgia romantik masa lalu, melainkan tamparan reflektif tentang bagaimana kita memaknai ilmu hari ini. Dulu, ilmu bukan sekadar informasi yang dikonsumsi cepat-cepat lalu dilupakan, melainkan sesuatu yang diresapi, direnungi, bahkan menjadi bagian dari laku hidup.

Hari ini, di tengah arus informasi tak berujung, kita justru kehilangan kedalaman dalam memahami ilmu. Mengapa ini bisa terjadi? Siapa yang salah? Apakah kurikulumnya, gurunya, atau justru kita sendiri sebagai pelajar zaman digital?

Ilmu yang Diresapi, Bukan Dikonsumsi

Pada masa lalu, seseorang bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk mengkaji satu kitab. Imam Al-Ghazali misalnya, menulis Ihya Ulumuddin dengan pengalaman spiritual dan intelektual yang mendalam. Bukan hanya sekadar hafalan, tapi ia mengikat ilmu dengan kesadaran dan penghayatan. Ilmu bukan sesuatu yang terpisah dari diri, tapi menjadi akhlak yang menyatu dalam laku hidup.

Bandingkan dengan hari ini: kita membaca cepat, menonton video singkat, mendengar potongan ceramah motivasi 1 menit, lalu merasa telah cukup mengerti. Ini bukan lagi belajar, melainkan konsumsi cepat informasi. Kita tahu banyak, tapi tak mendalam. Seperti menyentuh permukaan samudera, tanpa pernah benar-benar menyelam.

Musuh Ilmu Hari Ini

Zaman sekarang adalah zaman distraksi. Kita belajar sambil membuka notifikasi, membaca sambil scrolling TikTok, mendengarkan ceramah sambil membuka tab lain di browser. Otak kita dipaksa multitasking, padahal ilmu menuntut keheningan dan konsentrasi.

Dalam Deep Work, Cal Newport menjelaskan bahwa pekerjaan mendalam termasuk belajar hanya bisa dilakukan dalam kondisi fokus penuh tanpa gangguan. Tanpa kedalaman, ilmu hanya sekadar informasi lewat.

Lebih parah lagi, zaman ini mengubah orientasi belajar. Belajar bukan lagi untuk mengabdi, tetapi untuk terlihat pintar. Ingin viral, ingin validasi sosial. Kita mendengar kalimat seperti “biar kelihatan keren”, bukan “biar jadi manfaat”.

Padahal, ilmu adalah amanah. Ilmu bukan pencapaian untuk disombongkan, melainkan tanggung jawab yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri di hadapan ulama, atau membodohi orang-orang awam, maka ia akan masuk neraka” (HR. Tirmidzi).

Kurikulum yang Berganti, Guru yang Terjebak Sistem

Lalu, apakah sistem pendidikan kita ikut andil? Sayangnya, iya. Kurikulum kita seperti lautan badai tak pernah tenang. Setiap menteri datang, membawa arah baru. Belum sempat para guru menyesuaikan diri, sudah muncul kurikulum baru lagi. Akibatnya, guru terjebak dalam administrasi tak berujung, murid menjadi korban percobaan, dan proses belajar kehilangan arah.

Padahal dalam teori Spiral Curriculum dari Jerome Bruner, kurikulum seharusnya dirancang agar konsep-konsep penting dipelajari berulang dengan kedalaman bertahap. Bukan diganti total setiap lima tahun. Ilmu itu butuh waktu tumbuh dan melekat. Tapi jika tanahnya selalu digali dan dirombak, bagaimana akar bisa kuat?

Di sisi lain, guru pun semakin sulit menjadi pendidik sejati. Di tengah beban kerja, birokrasi, dan tuntutan administratif, ruang untuk membimbing dengan hati menjadi sempit. Guru hari ini dituntut menguasai teknologi, membuat konten kreatif, menyusun modul, mengejar target, dan tetap mengisi absen tepat waktu semuanya dalam waktu bersamaan.

Murid, Korban Sekaligus Penentu

Namun, menyalahkan sistem saja tidak adil. Murid hari ini pun perlu berani bertanya pada diri sendiri: apa niatku belajar? Jika hanya demi nilai, demi konten, atau demi validasi sosial, maka ilmu tak akan pernah masuk ke hati. Murid hari ini harus belajar menahan diri dari kecepatan, belajar menghayati yang dibaca, dan belajar mencintai proses. Kembali kepada adab sebelum ilmu, sebagaimana yang diajarkan Imam Malik dan Imam Syafi’i.

Di era digital ini, sebenarnya ada peluang luar biasa. Ilmu tersebar di mana-mana, gratis, mudah diakses. Tapi itu sekaligus jebakan: karena terlalu banyak pilihan, kita kehilangan kedalaman. “Tenggelam dalam banjir informasi, tapi kehausan akan makna.”

Kembali kepada Esensi Ilmu

Pendidikan bukan semata-mata soal kurikulum, tapi perihal kesadaran akan makna. Apapun kurikulumnya, jika orientasi belajar tetap pada nilai, sensasi, dan validasi, maka ilmu akan tetap dangkal. Tapi jika niatnya adalah pengabdian, tanggung jawab, dan pencarian kebenaran, maka bahkan satu buku yang dibaca 100 kali pun bisa mengubah hidup.

Kita perlu kembali menanamkan kesadaran bahwa ilmu bukan hanya soal apa yang kita tahu, tetapi siapa kita setelah tahu. Ilmu yang benar akan membentuk karakter, bukan hanya wawasan. Ia akan membentuk kebijaksanaan, bukan sekadar kecerdasan.

Menanam Ilmu di Zaman yang Berisik

Zaman boleh berubah, tapi nilai-nilai keilmuan tetap harus dijaga. Kita butuh revolusi sunyi: belajar dengan penuh perhatian, menghayati yang kita pelajari, dan menjadikannya akhlak hidup. Kita tak butuh lebih banyak buku untuk dibuka sekali, tapi butuh kesediaan untuk membuka satu buku dan membacanya dengan hati.

Mari kembali menanam ilmu, bukan hanya menyimpannya di kepala, tapi meresapkannya dalam laku hidup. Sebab, sebagaimana kata Buya Hamka, “Ilmu yang tidak diamalkan, bagaikan pohon tak berbuah.”

Berita Terbaru

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka

“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...

Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton

Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...

Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu

Daftar IsiDakwah yang Kehilangan AkhlakKenapa Fenomena Ini Diberi Panggung?Candaan Boleh, Tapi Jangan BerlebihanKrisis Ilmu di Tengah Budaya ViralDari Popularitas ke PencerahanKembali ke Akhlak dan HikmahFenomena...

MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup

Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...

Leave a comment