Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

IMM, Intelektualisasi Berkelanjutan

Anas Asy’ari Nashuha, Editor: Sholahuddin
Rabu, 7 Mei 2025 10:31 WIB
IMM, Intelektualisasi Berkelanjutan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Anas Asy’ari Nashuha (Dok. pribadi).

Dalam interval fase kehidupan yang serba cepat, kita kerap dihadapkan dengan kegamangan berpikir dan bertindak. Sebab makna kebenaran, kebaikan dan keindahan tengah mengalami kekaburan. Subjek intelektual yang mesti menjadi pendobrak dan pembebas dalam menemukan kebenaran kini semakin buram. Subjek intelektual dalam wacana Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dihadapkan dengan pelbagai persoalan yang sering kita sebut dengan post-modernisme, post truth, post-humanisme, atau isme-isme yang lain.

Kenyataan yang membawa seseorang akhirnya kembali merenung berpikir sekaligus menata sebuah tata hidup yang baru. Babak baru telah berjalan artinya akan banyak pembaruan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Potret gerakan mahasiswa yang kini dihadapkan dengan babak baru mesti menemukan metode baru, intelektualisasi kesadaran mahasiswa dalam proses menemukan gaya baru dalam pergerakan rasa-rasanya sedang tumpul dan harus diasah kembali agar menemukan format baru. Mahasiswa yang didaku menjadi agent of change tentu memikul tanggungjawab besar bagi sebuah perubahan sosial yang kompleks ini.

Muhammadiyah dengan basis daya juang dalam Al-Qur’an surat Al ma’un dan Al ‘asr adalah fakta sosial yang tak terhindarkan dari kenyataan perhari ini. Buah hasil interpretasi dan ledakan dari ikhtiar membumikan Qur’an (Buya SyafiI Maarif) dalam kehidupan praktis mewujud pada tertatanya kehidupan yang baik berupa layanan kesehatan, layanan pendidikan, dan layanan bantuan sosial serta beragam hal lainnya. Tentu identitas gerakan Muhammadiyah mesti selalu berdialog dengan perubahan zaman.

Selaras dengan Muhammadiyah, identitas gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai anak kandung Muhammadiyah mesti harus dirumuskan kembali. Intelektualisasi gerakan menjadi visi bersama bahwa agenda masa depan berdaya dan berkemajuan atas olah pikir para intelektual sekaligus praktisi yang mampu membumikan nila-nilai yang luhur dan abadi. Di dalam Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) IMM tahun 2021 jelas disebutkan terdapat empat profil kader IMM yang dipetakan, yakni: kader umat, kader bangsa, kader Persyarikatan dan kader kemanusiaan.

Nilai-nilai luhur yang abadi dan tertulis dalam ideologi gerakan ini yang kemudian menjadi batu pijak sosok intelektual, jalan terjal intelektual yang oleh Ali Syariati disebut “Rausyan fikr (pemikir yang tercerahkan) sebagai sosok pembawa misi perubahan memang bukan suatu hal yang mudah. Liku-liku perjalanan dibentuk dari kenyataan bahwa sosok intelektual yang cerdas membaca zaman.

Di era post-truth yang menjadi populer pada tahun 2016, saat Oxford Dictionaries menetapkannya sebagai Word of the Year.  Istilah ini merujuk pada keadaan fakta-fakta objektif memiliki pengaruh yang lebih kecil dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi. Dalam konteks ini, informasi yang tidak akurat atau bahkan sepenuhnya salah dapat dengan mudah diterima dan disebarkan jika sesuai dengan keyakinan yang sudah ada pada seseorang.

Intelektual Masa Depan

Kekaburan makna dari perubahan zaman ini menuntut sebuah identitas baru. Opini publik kerap mudah berubah akibat informasi yang marak membanjiri media sosial kita setiap hari. Tentu ini bukan hal mudah, dengan peran ‘aqlun shahih wa qalbun salim (akal yang sehat, dan hati yang bening), kata Buya Syafii Maarif di dalam buku Islam Menyapa Kita. Menjadi batu pijakan yang harus dijalankan dalam dunia yang keruh dan riuh disebabkan arus informasi yang deras hari ini.

Semangat Moh. Djazman Al kindi dalam buku Ilmu-Amaliah, Amal Ilmiah dalam memaknai kader sebagai sosok terpilih kecil seperti creative minority menjadikan peran intelektual semakin hari semakin meluas Ketika dihadapkan pada problematika zaman yang kompleks. Tetapi kemudian semua yang terjadi akan selalu sama dan mampu dihadapi dengan baik. Apabila identitas dan landasan yang kokoh mampu dikontekstualisasikan pada setiap zamannya. Dengan berbekal akal yang sehat dan hati yang bening sebagaimana, kata Buya Syafii maka perubahan zaman sedemikian rumitnya akan selalu menarik untuk terus dikaji dan dikontekstualisasi. Sebab nilai Al-Qur’an akan terus berkembang dan mampu membuktikan Islam yang rahmatan lil’alamin.

Di tengah krisis identitas, intelektual dalam tubuh IMM tengah merumuskan agenda strategis upaya menafsir zaman yang sangat kompleks. Menjaga roh kesadaran sebagai hamba sekaligus sebagai khalifah adalah poin utama bagaimana keran perubahan itu lambat laun mampu teratasi. Sebab spiritualitas yang mendalam serta jiwa sosial yang meluas adalah kunci bagaimana seseorang intelektual di hari ini mampu berdaya saing dengan kehidupan yang kompleks.

IMM sebagai wadah dari intelektualisasi berkelanjutan adalah kenyataan bahwa agenda masa depan kehidupan mesti dilakukan secara kolektif. Gerakan ilmu sebagaimana Kuntowijoyo jelaskan dari teks ke konteks. Kini ini tengah surut dalam dunia aktivis disebabkan penyakit materialistis, bahwa pengilmuan gerakan menjadi satu agenda strategis masa depan intelektual agar kemudian nilai-nilai luhur yang tertulis dalam teks SPI, hasil tanfidz muktamar dari masa ke masa mampu berdialog dengan kehidupan serba canggih ini.

Teknologi adalah era baru dari gerakan yang bisa saya sebut akan hilang suatu hari jika tidak mampu mewadahi para pemikir yang sekaligus penggerak dalam menemukan identitas baru ini. Di dalam buku Aku Berfikir Maka Aku Ada karya Budi Hardiman. Ia menuliskan, kekaburan fakta sosial media disebabkan karena rekayasa media yang membentuk opini publik sehingga kebenaran yang sebenarnya semakin kabur akibat  rekayasa media yang semakin jauh dari bentuk nyatanya.

Gerakan IMM yang kini harus tergopoh-gopoh mengikuti rekayasa media, tentu harus membekali individunya dengan akal yang sehat dan hati yang bening agar tidak terjerumus dalam rekayasa media, rekaan dari kehidupan nyata yang mampu mengaburkan nilai-nilai kehidupan yang semestinya. Pengilmuan IMM senyatanya adalah bagian dari ikhtiar merawat Ilmu sebagai fondasi dasar serta secara jernih memandang identitas gerakan berangkat dari nilai-nilai yang luhur dan abadi berupa kebaikan, keindahan dan keadilan yang tertulis dalam Sistem Perkaderan Ikatan (SPI), tanfidz muktamar dan berbagai hasil musyawarah dalam kehidupan IMM.  

Penulis adalah aktivis IMM Sukoharjo

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...