Dalam interval fase kehidupan yang serba cepat, kita kerap dihadapkan dengan kegamangan berpikir dan bertindak. Sebab makna kebenaran, kebaikan dan keindahan tengah mengalami kekaburan. Subjek intelektual yang mesti menjadi pendobrak dan pembebas dalam menemukan kebenaran kini semakin buram. Subjek intelektual dalam wacana Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dihadapkan dengan pelbagai persoalan yang sering kita sebut dengan post-modernisme, post truth, post-humanisme, atau isme-isme yang lain.
Kenyataan yang membawa seseorang akhirnya kembali merenung berpikir sekaligus menata sebuah tata hidup yang baru. Babak baru telah berjalan artinya akan banyak pembaruan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Potret gerakan mahasiswa yang kini dihadapkan dengan babak baru mesti menemukan metode baru, intelektualisasi kesadaran mahasiswa dalam proses menemukan gaya baru dalam pergerakan rasa-rasanya sedang tumpul dan harus diasah kembali agar menemukan format baru. Mahasiswa yang didaku menjadi agent of change tentu memikul tanggungjawab besar bagi sebuah perubahan sosial yang kompleks ini.
Muhammadiyah dengan basis daya juang dalam Al-Qur’an surat Al ma’un dan Al ‘asr adalah fakta sosial yang tak terhindarkan dari kenyataan perhari ini. Buah hasil interpretasi dan ledakan dari ikhtiar membumikan Qur’an (Buya SyafiI Maarif) dalam kehidupan praktis mewujud pada tertatanya kehidupan yang baik berupa layanan kesehatan, layanan pendidikan, dan layanan bantuan sosial serta beragam hal lainnya. Tentu identitas gerakan Muhammadiyah mesti selalu berdialog dengan perubahan zaman.
Selaras dengan Muhammadiyah, identitas gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai anak kandung Muhammadiyah mesti harus dirumuskan kembali. Intelektualisasi gerakan menjadi visi bersama bahwa agenda masa depan berdaya dan berkemajuan atas olah pikir para intelektual sekaligus praktisi yang mampu membumikan nila-nilai yang luhur dan abadi. Di dalam Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) IMM tahun 2021 jelas disebutkan terdapat empat profil kader IMM yang dipetakan, yakni: kader umat, kader bangsa, kader Persyarikatan dan kader kemanusiaan.
Nilai-nilai luhur yang abadi dan tertulis dalam ideologi gerakan ini yang kemudian menjadi batu pijak sosok intelektual, jalan terjal intelektual yang oleh Ali Syariati disebut “Rausyan fikr (pemikir yang tercerahkan) sebagai sosok pembawa misi perubahan memang bukan suatu hal yang mudah. Liku-liku perjalanan dibentuk dari kenyataan bahwa sosok intelektual yang cerdas membaca zaman.
Di era post-truth yang menjadi populer pada tahun 2016, saat Oxford Dictionaries menetapkannya sebagai Word of the Year. Istilah ini merujuk pada keadaan fakta-fakta objektif memiliki pengaruh yang lebih kecil dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi. Dalam konteks ini, informasi yang tidak akurat atau bahkan sepenuhnya salah dapat dengan mudah diterima dan disebarkan jika sesuai dengan keyakinan yang sudah ada pada seseorang.
Intelektual Masa Depan
Kekaburan makna dari perubahan zaman ini menuntut sebuah identitas baru. Opini publik kerap mudah berubah akibat informasi yang marak membanjiri media sosial kita setiap hari. Tentu ini bukan hal mudah, dengan peran ‘aqlun shahih wa qalbun salim (akal yang sehat, dan hati yang bening), kata Buya Syafii Maarif di dalam buku Islam Menyapa Kita. Menjadi batu pijakan yang harus dijalankan dalam dunia yang keruh dan riuh disebabkan arus informasi yang deras hari ini.
Semangat Moh. Djazman Al kindi dalam buku Ilmu-Amaliah, Amal Ilmiah dalam memaknai kader sebagai sosok terpilih kecil seperti creative minority menjadikan peran intelektual semakin hari semakin meluas Ketika dihadapkan pada problematika zaman yang kompleks. Tetapi kemudian semua yang terjadi akan selalu sama dan mampu dihadapi dengan baik. Apabila identitas dan landasan yang kokoh mampu dikontekstualisasikan pada setiap zamannya. Dengan berbekal akal yang sehat dan hati yang bening sebagaimana, kata Buya Syafii maka perubahan zaman sedemikian rumitnya akan selalu menarik untuk terus dikaji dan dikontekstualisasi. Sebab nilai Al-Qur’an akan terus berkembang dan mampu membuktikan Islam yang rahmatan lil’alamin.
Di tengah krisis identitas, intelektual dalam tubuh IMM tengah merumuskan agenda strategis upaya menafsir zaman yang sangat kompleks. Menjaga roh kesadaran sebagai hamba sekaligus sebagai khalifah adalah poin utama bagaimana keran perubahan itu lambat laun mampu teratasi. Sebab spiritualitas yang mendalam serta jiwa sosial yang meluas adalah kunci bagaimana seseorang intelektual di hari ini mampu berdaya saing dengan kehidupan yang kompleks.
IMM sebagai wadah dari intelektualisasi berkelanjutan adalah kenyataan bahwa agenda masa depan kehidupan mesti dilakukan secara kolektif. Gerakan ilmu sebagaimana Kuntowijoyo jelaskan dari teks ke konteks. Kini ini tengah surut dalam dunia aktivis disebabkan penyakit materialistis, bahwa pengilmuan gerakan menjadi satu agenda strategis masa depan intelektual agar kemudian nilai-nilai luhur yang tertulis dalam teks SPI, hasil tanfidz muktamar dari masa ke masa mampu berdialog dengan kehidupan serba canggih ini.
Teknologi adalah era baru dari gerakan yang bisa saya sebut akan hilang suatu hari jika tidak mampu mewadahi para pemikir yang sekaligus penggerak dalam menemukan identitas baru ini. Di dalam buku Aku Berfikir Maka Aku Ada karya Budi Hardiman. Ia menuliskan, kekaburan fakta sosial media disebabkan karena rekayasa media yang membentuk opini publik sehingga kebenaran yang sebenarnya semakin kabur akibat rekayasa media yang semakin jauh dari bentuk nyatanya.
Gerakan IMM yang kini harus tergopoh-gopoh mengikuti rekayasa media, tentu harus membekali individunya dengan akal yang sehat dan hati yang bening agar tidak terjerumus dalam rekayasa media, rekaan dari kehidupan nyata yang mampu mengaburkan nilai-nilai kehidupan yang semestinya. Pengilmuan IMM senyatanya adalah bagian dari ikhtiar merawat Ilmu sebagai fondasi dasar serta secara jernih memandang identitas gerakan berangkat dari nilai-nilai yang luhur dan abadi berupa kebaikan, keindahan dan keadilan yang tertulis dalam Sistem Perkaderan Ikatan (SPI), tanfidz muktamar dan berbagai hasil musyawarah dalam kehidupan IMM.
Penulis adalah aktivis IMM Sukoharjo
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar Isi Behavioral Addiction dalam Psikologi Modern Otak yang Terlatih pada Stimulus Instan Kesehatan Mental dan Relasi yang Terganggu Al-Qur’an dan Penjagaan Kesadaran Kecanduan sebagai...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






