Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Kesadaran Individual dalam Konteks Memimpin dan Dipimpin

Farhat Abdillah To Ngili, Editor: Sholahuddin
Selasa, 25 Maret 2025 10:37 WIB
Kesadaran Individual dalam Konteks Memimpin dan Dipimpin
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Farhat Abdillah To Ngili (Dok. pribadi).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) lahir pada 14 Maret 1964 di tengah ketidakstabilan politik nasional. Sebagai organisasi mahasiswa, kehadirannya diharapkan mampu menjawab berbagai problem kebangsaan yang terjadi saat itu. IMM terbentuk dari tiga faktor utama: dinamika umat dan bangsa, kehidupan kemahasiswaan, serta kondisi Muhammadiyah sebagai organisasi induk. Sejak awal, IMM mengemban amanah untuk menjadi wadah kaderisasi intelektual Islam yang berorientasi pada kemajuan peradaban dan pembelaan terhadap kaum tertindas (mustada’afin).

Dalam perjalanannya, IMM menghadapi berbagai tantangan, baik secara internal maupun eksternal. Pada dekade 1980-an, kepengurusan IMM sempat mengalami kevakuman hingga Din Syamsuddin ditunjuk sebagai Ketua DPP Sementara untuk memastikan kaderisasi tetap berjalan. Berpegang pada Risalah Islam, IMM menegaskan komitmennya terhadap kemandirian dan peran strategis dalam membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Muktamar Ke-20 di Palembang menjadi tonggak penting dalam sejarah IMM, melahirkan kepemimpinan baru di bawah Immawan Riyan Betra Delza dengan visi “Tangkas dalam Kepemimpinan, Maju dalam Gerakan.” IMM kini menekankan beberapa aspek utama dalam transformasi organisasi, yaitu moderasi perkaderan, penguatan intelektual, kemandirian ekonomi, spiritualitas inklusif, kemitraan strategis, serta digitalisasi organisasi. Pada usia ke-60, IMM mengusung tema “Seutuhnya Indonesia” sebagai upaya memaksimalkan peran sumber daya manusia unggul dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Selama enam dekade, IMM membuktikan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai dinamika politik dan sosial. Namun, dalam konteks kekinian, tantangan yang dihadapi IMM menjadi lebih kompleks dan subtil, terutama dalam hal kesadaran individual serta tanggung jawab kolektif di dalam organisasi.

Egosentrisme kerap dipahami sebagai perebutan kepentingan individu atas orang lain, tetapi dalam konteks organisasi, ia juga dapat berwujud dalam bentuk yang lebih halus: ketidaksadaran akan tanggung jawab yang diemban. Seorang pemimpin yang memilih jabatan harus memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar status, melainkan amanah yang harus dimaksimalkan dengan baik. Ketika amanah tidak dijalankan sebagaimana mestinya, bukan hanya stagnasi yang terjadi, tetapi juga krisis kepercayaan serta melemahnya militansi kader.

Tahap awal gerakan seorang kader adalah bagaimana dia bergerak untuk bisa memimpin dan dipimpin, dalam konteks ini bukan berarti dengan mendapatkan jabatan yang tinggi ataupun menjadi kader yang patuh dapat dikatakan terealisasi begitu saja, tidak. Seorang pemimpin pastinya punya banyak jalur pemikiran atau pun cara dalam membuat suatu hal besar di kemudian hari berdasarkan pengalaman yang telah dilalui, dan kader punya hak untuk berpendapat bahkan berkarya dalam konteks pemikiran yang lebih luas.

Ikatan antara kader dan pemimpin bukan sekadar ikatan kenal mengenal seperti yang sering kita jumpai dalam konteks “jika tak kenal maka ta’aruf”.  Tidak cukup seperti itu, tapi ikatan yang erat hingga terjalinnya kontrak saling membutuhkan satu sama lain. Pemimpin punya kesadaran bahwa begitu banyak kader yang menemani jalannya, begitu pun dengan kader punya kesadaran bahwa pemimpin tidak dapat melakukan semuanya dengan sendiri.

Memimpin itu adalah seni dan kader adalah kuas bertinta yang siap menopangnya untuk ciptakan sebuah karya. itulah mengapa jalan yang diciptakan oleh pemimpin berperan sangat penting untuk sukses ke depannya. Bukan sekadar patung dengan papan nama, dan peran anggota untuk tidak hanya patuh mendengarkan tapi dengan menuangkan gagasan serta wawasannya untuk organisasi.     

Di sisi lain, kader IMM saat ini sering kali menjalankan peran secara mekanis, sekadar hadir dalam kegiatan tanpa keingintahuan yang mendalam, atau sekadar menjalankan tugas tanpa refleksi kritis. Diskusi dihadiri tanpa eksplorasi gagasan, kepanitiaan dijalankan tanpa memahami substansi acara yang ditangani. Kurangnya kesadaran individual ini berpotensi melahirkan kader yang bergerak tanpa roh perjuangan dan visi yang jelas.

Kader Tanpa Sadar

Dengan begitu kader tanpa sadar membatasi pemikirannya yang sebenarnya dapat berkembang ke tahap yang lebih maju. Tidak ada batasan untuk pemikiran, setiap individu bebas untuk terus bereksplorasi sesukanya tentu diselingi dengan kesadaran yang mampu menyeimbangi. Itulah kenapa kesadaran dan pemikiran itu terikat erat. Dengan pemikiran yang luas terciptalah berbagai macam gagasan yang bermanfaat dan untuk menyampaikan serta merealisasikannya diperlukan kesadaran individual yang kuat.

Jika IMM ingin tetap relevan sebagai lokomotif gerakan mahasiswa Islam, maka revitalisasi kaderisasi menjadi keharusan. Konsep Risalah Islam yang menegaskan kemandirian dan keberpihakan terhadap kaum tertindas tidak hanya harus dipahami sebagai sebuah ide, tetapi juga sebagai etika dalam berorganisasi. Kesadaran individual bukan hanya tanggung jawab masing-masing kader, tetapi juga tugas kolektif untuk membangun lingkungan yang mendorong rasa memiliki, keberanian bertanya, serta inisiatif dalam berkarya.

Dalam rangka milad ke-61, IMM harus melihat tantangan ini sebagai bagian dari transformasi yang lebih besar. Organisasi ini tidak boleh sekadar eksis dalam ruang akademik dan sosial, tetapi juga harus membentuk karakter kepemimpinan yang tangkas dan gerakan yang benar-benar maju. Kesadaran individual harus dikembalikan sebagai fondasi utama gerakan, agar IMM tidak hanya menjadi organisasi yang besar secara struktur, tetapi juga kuat dalam mentalitas perjuangan.

IMM menatap masa depan dengan harapan menjadi organisasi yang lebih progresif, transformatif, dan berdaya saing dalam berbagai aspek. Kesadaran individual dan kolektif menjadi fondasi utama yang ingin diperkuat, di mana setiap kader tidak hanya sekadar hadir dalam forum-forum diskusi atau kepanitiaan, tetapi juga memiliki rasa ingin tahu, inisiatif, serta tanggung jawab terhadap peran yang diembannya. Dari sisi kepemimpinan, IMM menginginkan para pemimpin yang tidak hanya menduduki jabatan secara formal, tetapi juga memahami dan menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Egosentrisme yang sering kali menjadi pemantik permasalahan dalam kepemimpinan harus diubah menjadi semangat kolektif yang berorientasi pada perubahan dan pengabdian.

Sebagai organisasi yang berbasis keilmuan dan keumatan, IMM ingin membangun gerakan yang tidak hanya sebatas retorika, tetapi juga berdampak nyata. Dengan pilar-pilar gerakan yang telah dirumuskan, IMM menegaskan komitmennya dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam yang berkemajuan, mengembangkan kapasitas intelektual, serta membangun ekonomi yang mandiri dan inklusif. IMM juga menyadari bahwa dinamika zaman menuntut perubahan, sehingga transformasi organisasi menjadi lebih adaptif dan digitalisasi gerakan harus terus diperkuat agar mampu menjangkau lebih luas serta meningkatkan daya tawar di berbagai ruang strategis.

Dalam semangat Seutuhnya Indonesia, IMM bercita-cita untuk tidak hanya menjadi organisasi mahasiswa yang eksis, tetapi juga sebagai kekuatan utama dalam membentuk peradaban bangsa yang lebih adil dan berkeadaban. Harapan besar ini diwujudkan melalui kaderisasi yang kuat, kepemimpinan yang bertanggung jawab, serta gerakan intelektual dan sosial yang progresif. Dengan mengusung nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, IMM berupaya menjadi lokomotif perubahan yang mengantarkan Indonesia menuju tatanan sosial yang ideal dan berorientasi pada masa depan, sebagaimana konsep baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...