Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Dekadensi Moral Remaja: Krisis Nilai di Tengah Arus Modernitas

Dwi Kurniadi, Editor: Sholahuddin
Rabu, 7 Mei 2025 18:40 WIB
Dekadensi Moral Remaja: Krisis Nilai di Tengah Arus Modernitas
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dwi Kurniadi (Dok. pribadi).

Perubahan zaman ibarat gelombang besar yang tak bisa dihindari. Di balik segala kemajuan yang ditawarkan oleh era digital dan globalisasi, terselip tantangan besar yang mengintai fondasi kehidupan manusia, terutama dalam hal moral dan nilai. Salah satu dampak paling mencolok dari era ini terlihat pada generasi muda, khususnya remaja. Di berbagai sudut kehidupan, kita menyaksikan fenomena dekadensi moral atau kemerosotan akhlak remaja yang kian mencemaskan. Fenomena ini bukan hanya menjadi topik perbincangan di lingkungan sosial, tetapi telah menjadi persoalan nasional yang menuntut perhatian serius dari berbagai pihak.

Dekadensi moral secara umum merujuk pada penurunan nilai-nilai etika dan akhlak dalam kehidupan seseorang atau kelompok. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dekadensi  berarti kemerosotan atau kemunduran (khususnya dalam hal moral). Sementara itu, dalam kajian psikologi perkembangan, masa remaja adalah fase kritis dalam pembentukan identitas, termasuk identitas moral. Ketika nilai-nilai moral tidak ditanamkan dan dijaga dengan baik, maka remaja mudah terpengaruh oleh lingkungan luar yang cenderung permisif terhadap penyimpangan perilaku.

Kenyataan yang kita hadapi saat ini menunjukkan, krisis moral di kalangan remaja semakin menguat. Berdasarkan laporan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2022, angka kekerasan yang dilakukan oleh dan terhadap remaja terus meningkat, termasuk kasus perundungan, kekerasan seksual, hingga tindak kriminal. Komnas Perlindungan Anak juga mencatat, akses remaja terhadap konten pornografi dan perjudian online menjadi perhatian utama, terlebih di masa pandemi yang membuat aktivitas digital meningkat drastis.

Fenomena seperti tawuran antarpelajar, geng motor, penyalahgunaan narkoba, hingga konten negatif yang disebar melalui media sosial menjadi bukti nyata dari dekadensi tersebut. Bahkan, dalam survei yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2021, sebanyak 37% remaja mengaku pernah melakukan tindakan menyimpang secara daring, seperti menyebar hoaks, ujaran kebencian, atau terlibat dalam diskusi provokatif yang tidak sehat.

Penyebab Dekadensi Moral

Fenomena ini tentu tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai faktor internal dan eksternal. Salah satu penyebab utama adalah krisis keteladanan dalam lingkungan keluarga. Dalam banyak kasus, orang tua terlalu sibuk mengejar karier atau aktivitas pribadi hingga abai dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Padahal, keluarga adalah sekolah pertama dan utama dalam kehidupan seorang anak. Sebagaimana ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara, “Setiap rumah adalah sekolah, dan setiap orang tua adalah guru.”

Pendidikan formal pun tak luput dari sorotan. Sistem pendidikan nasional masih cenderung fokus pada pencapaian akademis semata. Pendidikan karakter seringkali hanya menjadi pelengkap kurikulum, bukan sebagai roh dari pendidikan. Kurangnya ruang dialog, minimnya pendekatan personal dari guru, serta pembelajaran yang kaku menyebabkan nilai-nilai moral tidak tertanam kuat dalam sanubari peserta didik. Menurut Prof. Komaruddin Hidayat, pendidikan kita terlalu menekankan aspek kognitif dan melupakan pembentukan jiwa serta kepribadian siswa.

Media sosial dan teknologi juga menjadi faktor dominan. Akses internet yang tak terbatas telah membuka gerbang besar bagi remaja untuk mengonsumsi berbagai konten, baik positif maupun negatif. Sayangnya, dalam banyak kasus, mereka lebih tertarik pada konten yang bersifat sensasional, hedonistik, dan destruktif. Budaya selebgram, flexing, dan popularitas instan di Tiktok menciptakan pola pikir semu bahwa hidup adalah soal pencitraan, bukan integritas. Dalam jurnal “Digital Culture and Youth Morality”, disebutkan bahwa 63% remaja lebih terpengaruh oleh tokoh media sosial dibanding tokoh masyarakat atau agama.

Tekanan teman sebaya atau peer pressure juga menjadi sumber yang tak bisa diabaikan. Ketika remaja berada dalam lingkungan yang permisif terhadap kenakalan, maka potensi untuk ikut terlibat sangat besar. Mereka merasa penyimpangan adalah cara untuk mendapatkan pengakuan sosial. Dalam teori psikososial Erik Erikson, masa remaja adalah tahap pencarian identitas. Peran kelompok sangat kuat dalam membentuk arah perkembangan kepribadian.

Melihat begitu kompleksnya akar permasalahan ini, tentu pendekatan yang dibutuhkan pun harus bersifat multidimensional dan kolaboratif. Tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak, melainkan seluruh elemen masyarakat harus terlibat aktif dalam upaya penyelamatan moral generasi muda.

Pertama, keluarga harus kembali memerankan fungsinya sebagai pusat pendidikan moral. Komunikasi intensif, perhatian emosional, dan pembinaan spiritual di rumah sangat penting. Orang tua harus menjadi teladan, bukan hanya dalam hal kata-kata, tapi juga dalam tindakan nyata.

Kedua, institusi pendidikan harus menata ulang prioritas kurikulumnya. Pendidikan karakter harus menjadi bagian integral dari proses belajar, bukan hanya dalam pelajaran agama, tetapi terintegrasi dalam semua mata pelajaran dan kegiatan sekolah. Pelatihan guru dalam membina moral peserta didik juga harus ditingkatkan, karena guru adalah figur yang sangat berpengaruh dalam kehidupan remaja.

Ketiga, negara dan pembuat kebijakan perlu memperkuat regulasi terhadap konten-konten digital yang merusak moral. Literasi digital harus dijadikan kurikulum wajib agar remaja tidak hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam menggunakannya. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dapat mengambil langkah-langkah lebih tegas dalam menindak penyebaran konten negatif yang menyasar generasi muda.

Keempat, tokoh agama, budayawan, dan influencer media sosial juga bisa memainkan peran strategis. Mereka memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk opini dan perilaku remaja. Sudah saatnya para tokoh ini lebih aktif memproduksi konten positif yang menyentuh kehidupan sehari-hari anak muda, dengan bahasa yang relevan dan dekat dengan keseharian mereka.

Meski tantangan yang dihadapi besar, bukan berarti kita harus pesimistis. Banyak pula contoh remaja yang menjadi agen perubahan positif di lingkungannya. Mereka aktif dalam kegiatan sosial, kampanye lingkungan, gerakan literasi, hingga dakwah digital yang menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Ini membuktikan remaja bukan generasi yang gagal, melainkan generasi yang sedang mencari arah. Tugas kita adalah menjadi kompas moral yang membantu mereka menemukan jalan yang benar.

Sebagaimana dikatakan oleh Buya Syafii Maarif, “Bangsa ini tidak akan maju jika tidak memiliki anak muda yang jujur, berani, dan berakhlak.” Ucapan tersebut harus menjadi pengingat bahwa investasi terbaik bangsa ini adalah pada moralitas generasi mudanya.

Penulis adalah kader Ikatan Mahaiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Shabran UMS

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...