Tulisan ini untuk orang-orang yang berkeinginan maju, untuk belajar, untuk menjadi part of international agent, untuk Muhammadiyah, dan yang paling spesial untuk kader-kader muda Muhammadiyah. Untuk itu saya ingin membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian.
1.Kebutuhan Dunia dan Islam
Jika melihat tren dunia, Islam menjadi agama samawi yang ajarannya dinilai yang paling rasional dan membawa kebahagiaan dan keuntungan baik untuk dunia maupun untuk akhirat. Dunia sekarang ini kekurangan seorang yang faqih dalam keilmuan islam untuk memahamkan Islam bagi orang orang yang notabenenya adalah bisa dikatakan dengan negara barat.
Maka dari itu, harus ada orang-orang yang mengisinya dan bukan hanya mengisi dengan skala kecil tapi harus dengan sistematika yang jelas dengan parameter yang jelas dan dengan tujuan yang jelas. Muhammadiyah adalah sebuah organisasi modern Islam yang sukses membawa narasi Islam dan modern di indonesia menjadi organisasi yang memiliki kekuatan ekonomi dan kesehatan yang besar.
Bahkan sudah mulai tampak di politik sekarang karena sekarang banyak kader Muhammadiyah yang menjadi menteri. Maka Muhammadiyah harus segera untuk mulai bergerak dengan skala besar ke sana.
2.Lalu Apa yang Dibutuhkan untuk Pergi ke Luar Sana?
Tentu sebuah modal dasar untuk bisa ke sebuah daerah yang baru dikenal adalah dengan menguasai bahasanya, dan peluang untuk menguasai bahasa sekarang sudah terbilang mudah. Banyak sekali kursus yang memang punya kredibilitas tinggi untuk membuat orang yang awalnya tidak paham akan bahasa Inggris sama sekali menjadi seorang native speaker di bahasa Inggris.
Setelah menguasai bahasa, tentu saja yang dibutuhkan adalah keilmuan agama islam yang memadai. Sebuah keilmuan yang tidak hanya didapatkan dengan membaca dalil dan hadis kemudian ditafsirkan dengan opini, tetapi memang keilmuwan yang dihasilkan dari sebuah metode disiplin ilmu Islam yang menghasilkan seorang ulama atau seorang pakar dalam hukum Islam.
Ada sebuah analogi kecil yang lucu tapi serius yang sering disampaikan ustaz kami yaitu “jika seorang dokter salah saat melakukan operasi, yang hilang hanya satu nyawa. Akan tetapi jika seorang ulama yang salah saat berfatwa maka yang masuk neraka adalah semua yang mendengar dan melakukannya.”
Itu adalah ibarat betapa pentingnya seorang pakar dalam keilmuan islam di zaman yang semakin maju ini. Ada juga tambahan yang pastinya dimiliki seluruh kader Muhammadiyah yaitu kecakapan dalam memimpin dan berorganisasi. Hal itu menjadi modal kita sebagai kader Muhammadiyah untuk menjadi tenar dan mensyiarkan islam di kancah internasional
3.Give and Take
Selanjutnya adalah give. Alasan untuk meletakkan kata give terlebih dahulu adalah karena saat kita sudah berada di luar, tugas kita yang sebenarnya adalah memberi bukan lagi meminta dan mengambil sesuatu.
Bahwasanya kita harus memberikan keilmuan kita, memperlihatkan mana yang benar dan mana yang salah dalam kacamata Islam, dan memberikan sebuah pemahaman bahwa Islam adalah agama terakhir yang sempurna dan yang membawanya adalah Nabi Muhammad SAW.
Jadi yang perlu diubah sekarang adalah mindset kita yang masih merasa harus mengambil sesuatu di luar sana, padahal di Indonesia ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi bekal kita dalam melanglang buana di daratan Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika. Pastinya kita tetap akan mendapat sesuatu bukan jika bersiap untuk melanjutkan perjalanan hidup di daerah yang asing bagi kita. Tetapi ingat kita juga harus totalitas untuk melakukan itu.
4.Muhammadiyah Sekarang
Muhammadiyah sekarang sudah sangat mapan dalam skala nasional. Tidak perlu disebut banyaknya perguruan tinggi dan rumah sakit yang sudah dibangun. Masalahnya, kita sudah sangat disibukkan dengan hal itu. Sehingga tidak ada cukup waktu untuk memikirkan bahwa Muhammadiyah benar-benar mengirimkan kader-kader utamanya ke negara-negara maju yang masih hitam akan indahnya Islam.
Karena, salah satu tujuan Muhammadiyah adalah berkorelasi dengan tujuan Islam yaitu menyebarkan cahaya islam di dunia. Jika dirasa tugas di negara kita sudah cukup dalam pondasinya dan tinggal membangun atasnya maka biarlah itu berlaku dan berjalan, lalu tugas kita sekarang adalah internasionalisasi kader kader muda Muhammadiyah.
Karena kita adalah Muhammadiyah, kader Kyai Haji Ahmad Dahlan, Kader Kyai Haji Djazman Al Kindi yang namanya menjadi edutorium di UMS. Hidup kita adalah semangat untuk memajukkan Islam dan memperindahnya agar dunia semakin penuh dengan indahnya Islam.
TKA, Wajah Asli Pendidikan Kita Yang Tak Rupawan
Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi bahan refleksi penting dalam diskursus pendidikan nasional. Di tengah euforia reformasi kurikulum dan perubahan sistem evaluasi, TKA hadir bukan...
Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat
Ustaz Muhammad Jazir, tokoh Masjid Jogokariyan, adalah sosok inspiratif yang menunjukkan aksi dan peran nyata dalam dakwah dan gerakan umat. Beliau memberi pelajaran penting bahwa...
Ironi di Penghujung November: Perayaan Ekologis Namun Membiarkan Bencana
Penghujung November seharusnya menjadi momentum ekologis penting bagi umat manusia. Dua peringatan besar—Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28...
Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global
Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja? Penandatanganan MoU...
Teknologi Bisa Mengajar, tapi Hanya Guru yang Bisa Menyentuh Hati
Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kita semakin akrab dengan kelas daring, robot tutor, kecerdasan buatan, hingga platform belajar yang menyediakan ribuan video pembelajaran. Banyak yang...
Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah
Fenomena “gus-gusan” dalam dakwah digital semakin ramai dibicarakan. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh potongan video seorang “Gus” yang mengaitkan rokok merek Sampoerna dengan konsep...
Jangan Korbankan Lawu untuk Keserampangan Energi Hijau
Rencana pemanfaatan panas bumi di Jenawi, lereng Gunung Lawu, bukan sekadar urusan teknis energi. Ia adalah soal keselamatan ekologis, keberlanjutan ekonomi warga, dan kewarasan negara...
Menemukan Tenang di Tengah Badai: Spiritualitas sebagai Kunci Ketahanan Mental
Dalam menjalani kehidupan pasti manusia akan merasakan berbagai macam tekanan pada setiap aspek yang dia jalani. Misalnya, tekanan pada pekerjaan, seperti deadline yang ketat, tuntutan...
Latte Papa: Ayah, Kopi, dan Revolusi Sunyi
Fenomena Latte Papa atau Latte Dad di Swedia sering dianggap sepele: sekumpulan ayah muda yang terlihat mendorong stroller sambil menyesap segelas caffe latte di kafe-kafe...
Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan
Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe, berdiri sebuah madrasah kecil yang menyimpan harapan besar: Madrasah Aliyah Muhammadiyah Petta. Meski letaknya jauh dari pusat-pusat...
Negeri yang Dijajah Tanpa Senapan
Daftar IsiGelar Tak Lagi SaktiKetika Data Menjadi Emas BaruSekolah untuk Dunia yang Sudah MatiTeknologi: Pembebasan atau Panggung Pencitraan?Budaya Terlupa, Akar DicabutSaatnya Sadar, Bangun, dan MelawanDi...
The Power of Al-Ma’tsurat: Penghancur Jin dalam Tubuh dan Tameng Spiritual yang Terlupakan
Bayangkan seseorang yang hidupnya terasa berat tanpa sebab yang jelas. Ia bangun pagi dengan tubuh lesu, pikirannya kacau, sering mimpi buruk, mudah marah, gelisah tanpa...






