Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perspektif

Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat

Pujiono, Editor: Sholahuddin
Rabu, 24 Desember 2025 14:16 WIB
Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Pujiono [Dok. pribadi].

Ustaz Muhammad Jazir, tokoh  Masjid Jogokariyan, adalah sosok inspiratif yang menunjukkan aksi dan peran nyata dalam dakwah dan gerakan umat. Beliau memberi pelajaran penting bahwa besarnya kontribusi tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya struktur, melainkan oleh keikhlasan, keberanian berinovasi, dan kesungguhan melayani umat.

Meski secara struktural beliau “hanya” berada di level Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jogokariyan, namun tidak berlebihan bila disampaikan bahwa kiprah dan pengaruhnya melampaui banyak nama yang tercatat di jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Wilayah, maupun Daerah. Ustaz Jazir membuktikan bahwa level struktural bukanlah batasan pengabdian, dan bahwa Ranting pun dapat menjadi pusat peradaban bila dikelola dengan visi yang benar.

Melalui Masjid Jogokariyan, Ustaz Jazir tampil sebagai penggerak pemakmuran dan manajemen masjid modern di Indonesia. Masjid tidak dibiarkan sekadar ramai pada waktu salat, tetapi dihidupkan sebagai ruang solusi umat. Program-program sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat digerakkan dengan pendekatan yang rapi, terukur, dan menyentuh kebutuhan jamaah.

Sebagaimana dicatat Republika Online, beliau dikenal memperluas fungsi masjid, tidak hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi sebagai pusat pemberdayaan masyarakat dan peradaban. Masjid menjadi tempat tumbuhnya kepedulian sosial, penguatan ekonomi jemaah, serta ruang pembinaan generasi. Kiprah tersebut menjadikan Masjid Jogokariyan menjadi masjid rujukan nasional bahkan internasional, dan Ustaz Jazir pun dikenang sebagai teladan dalam pengelolaan masjid oleh banyak komunitas di dalam maupun luar negeri.

Ustaz Muhammad Jazir. [Medkom PP Muhammadiyah].

Warisan terbesar Ustaz Jazir bukan semata bangunan atau program, melainkan cara berpikir dan cara bergerak. Ia mengajarkan bahwa bekerja di Ranting tidak boleh minder, bahwa dakwah harus solutif, dan bahwa jika dilakukan dengan ikhlas serta inovatif, Allah mampu mengangkat pengaruh seseorang melampaui struktur yang ada.

Bayangkan seandainya Muhammadiyah memiliki banyak PRM berkelas Jogokariyan. Ranting-Ranting yang hidup, masjid-masjid yang makmur bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara fungsi dan dampak. Ranting yang tidak sekadar mengurus administrasi dan kegiatan rutin, melainkan menjadi pusat solusi umat di lingkungannya masing-masing.

Jika setiap PRM mampu membaca kebutuhan jemaah sebagaimana yang dicontohkan Ustaz Jazir—menggerakkan ekonomi warga, menguatkan kepedulian sosial, mendampingi pendidikan anak-anak, serta menjadikan masjid sebagai rumah besar umat—maka kekuatan Muhammadiyah akan berlapis dan mengakar kuat dari bawah. Tidak bertumpu semata pada kebijakan pusat, tetapi tumbuh dari kesadaran dan kreativitas Ranting.

PRM berkelas Jogokariyan akan melahirkan masjid yang hidup, jemaah yang merasa dimiliki dan dilayani, serta kader-kader yang tumbuh dari praktik nyata, bukan sekadar teori. Di titik inilah, Ranting bukan lagi objek pembinaan, melainkan subjek perubahan.

Ustaz Jazir telah memberi contoh bahwa kemajuan persyarikatan tidak selalu dimulai dari atas, tetapi justru sering lahir dari Ranting yang dikelola dengan keikhlasan, inovasi, dan keberanian mengambil peran. Jika model ini direplikasi dan diperbanyak, maka Muhammadiyah tidak hanya besar secara struktur, tetapi kuat secara peradaban.

Dari Jogokariyan, beliau menegaskan satu pesan penting:  berkhidmat di level mana pun, jika Allah menghendaki, nilainya bisa setara—bahkan melebihi—pimpinan di level pusat.

Semoga Allah menerima seluruh amal beliau, melapangkan kuburnya, dan menjadikan keteladanan Ustaz Muhammad Jazir sebagai cahaya bagi para penggerak dakwah dan Persyarikatan di seluruh negeri. Aamiin.

Penulis adalah anggota Majelis Tabligh Pimpinan Muhammadiyah Wilayah (PWM) Jawa Tengah

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

TKA, Wajah Asli Pendidikan Kita Yang Tak Rupawan

Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi bahan refleksi penting dalam diskursus pendidikan nasional. Di tengah euforia reformasi kurikulum dan perubahan sistem evaluasi, TKA hadir bukan...

Ironi di Penghujung November: Perayaan Ekologis Namun Membiarkan Bencana

Penghujung November seharusnya menjadi momentum ekologis penting bagi umat manusia. Dua peringatan besar—Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28...

Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global

Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja? Penandatanganan MoU...

Teknologi Bisa Mengajar, tapi Hanya Guru yang Bisa Menyentuh Hati

Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kita semakin akrab dengan kelas daring, robot tutor, kecerdasan buatan, hingga platform belajar yang menyediakan ribuan video pembelajaran. Banyak yang...

Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah

Fenomena “gus-gusan” dalam dakwah digital semakin ramai dibicarakan. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh potongan video seorang “Gus” yang mengaitkan rokok merek Sampoerna dengan konsep...

Jangan Korbankan Lawu untuk Keserampangan Energi Hijau

Rencana pemanfaatan panas bumi di Jenawi, lereng Gunung Lawu, bukan sekadar urusan teknis energi. Ia adalah soal keselamatan ekologis, keberlanjutan ekonomi warga, dan kewarasan negara...

Menemukan Tenang di Tengah Badai: Spiritualitas sebagai Kunci Ketahanan Mental

Dalam menjalani kehidupan pasti manusia akan merasakan berbagai macam tekanan pada setiap aspek yang dia jalani. Misalnya, tekanan pada pekerjaan, seperti deadline yang ketat, tuntutan...

Latte Papa: Ayah, Kopi, dan Revolusi Sunyi

Fenomena Latte Papa atau Latte Dad di Swedia sering dianggap sepele: sekumpulan ayah muda yang terlihat mendorong stroller sambil menyesap segelas caffe latte di kafe-kafe...

Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan

Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe, berdiri sebuah madrasah kecil yang menyimpan harapan besar: Madrasah Aliyah Muhammadiyah Petta. Meski letaknya jauh dari pusat-pusat...

Negeri yang Dijajah Tanpa Senapan

Daftar IsiGelar Tak Lagi SaktiKetika Data Menjadi Emas BaruSekolah untuk Dunia yang Sudah MatiTeknologi: Pembebasan atau Panggung Pencitraan?Budaya Terlupa, Akar DicabutSaatnya Sadar, Bangun, dan MelawanDi...

The Power of Al-Ma’tsurat: Penghancur Jin dalam Tubuh dan Tameng Spiritual yang Terlupakan

Bayangkan seseorang yang hidupnya terasa berat tanpa sebab yang jelas. Ia bangun pagi dengan tubuh lesu, pikirannya kacau, sering mimpi buruk, mudah marah, gelisah tanpa...

Mengungkap Dua Al-Masih: Isa sang Penyelamat, Dajjal sang Pendusta

Salah satu istilah yang menarik perhatian dalam diskursus keislaman adalah penggunaan kata “al-Masih” yang disematkan pada dua sosok yang sangat bertolak belakang: al-Masih Isa putra...