Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) saat ini berada di persimpangan jalan. Organisasi ini harus memutuskan arah langkahnya. Apakah akan tetap stagnan, atau melangkah maju dengan penuh keberanian untuk mengambil peran yang berdampak bagi masa depan? Pendapat yang disampaikan dalam tulisan ini bukan sekadar refleksi, melainkan sebuah ajakan untuk mengambil peran.
Segala sesuatu yang lahir pasti mengundang suatu harapan, sama halnya dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang lahir dengan harapan dan ambisi untuk menciptakan kader intelektual yang berorientasi pada perubahan sosial. IMM diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam bidang ilmu pengetahuan dan gerakan sosial yang berlandaskan Islam. Itulah pandangan saya tentang tujuan IMM saat pertama kali mendaftar sebagai kader IMM. Namun, ketika menyelam sebagai kader, muncul pertanyaan yang sulit untuk diabaikan, yaitu, apakah IMM sekarang masih di jalur yang benar, atau justru hanyut dalam arus euforia internal yang tak jelas kemana arahnya?
Sebagai bagian dari kader IMM, memang benar bahwa IMM dikenal aktif dalam mengadakan berbagai kegiatan yang layak diapresiasi, salah satunya adalah diskusi. Diskusi merupakan bagian penting dalam proses berpikir kritis. Namun, sayangnya, seringkali diskusi-diskusi tersebut hanya berakhir dengan catatan yang tersimpan tanpa adanya tindakan nyata untuk mewujudkan ide-ide yang dihasilkan. Gagasan tanpa aksi hanya akan terhenti di atas kertas, tanpa menjadi perubahan yang nyata di masyarakat!
Di samping itu, kita sedang dihadapkan dengan era digital, di mana dokumentasi kegiatan menjadi hal yang sangat lumrah. Jika diperhatikan, foto bersama setelah diskusi sudah menjadi simbol eksistensi dalam organisasi. Namun, jika IMM hanya terlihat dalam foto-foto resmi dengan gestur formal dan mengepalkan tangan tanpa adanya dampak konkret, apakah itu layak disebut sebagai pergerakan? Sama halnya seperti penulis yang sibuk memilih kata-kata dan lupa untuk mencari maknanya. IMM harus lebih dari sekadar tampil dalam foto-foto resmi. Eksistensi harus diukur dari kontribusi dan dampak yang dihasilkan, bukan hanya dari seberapa sering kegiatan yang dipublikasikan.
Jurang Kesenjangan Informasi
Dengan banyaknya kader IMM yang tersebar di seluruh Indonesia, IMM memegang peranan penting dalam menghadapi berbagai isu sosial di negara ini. Sebagai refleksi, kita dapat melihat salah satu contoh gerakan yang sukses di Kota Solo, yaitu gerakan literasi. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa gerakan literasi ini masih bersifat tersebar, sehingga kurang maksimal dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat di Solo. Kondisi ini semakin memperlebar jurang kesenjangan informasi dan pengetahuan yang menghambat perkembangan sosial. Oleh karena itu, harapan saya sebagai kader IMM ke depannya adalah agar IMM dapat menegaskan kembali posisinya sebagai agen perubahan sosial yang konkret. IMM dapat mengambil peran sentral dalam mengoordinasikan upaya-upaya literasi, mengembangkan program-program literasi yang inklusif, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi. Dengan demikian, IMM tidak hanya menjadi lingkaran diskusi, tetapi juga menjadi kekuatan nyata dalam mewujudkan perubahan sosial di Solo.
Oleh karena itu, IMM perlu memperkuat budaya intelektualnya dengan pendekatan yang lebih berorientasi pada solusi. Misalnya, ketika membahas isu pendidikan, IMM harus bergerak lebih jauh dengan tindakan nyata, seperti mendampingi anak-anak marginal atau mengadvokasi kebijakan pendidikan yang lebih baik. Begitu pula dalam isu lingkungan, IMM dapat berperan sebagai pelopor gerakan kampus hijau atau meningkatkan kesadaran ekologis di kalangan mahasiswa. Intinya, gagasan harus diterjemahkan dalam bentuk gerakan nyata, bukan hanya menjadi bahan diskusi semata.
Kolaborasi dalam membangun hubungan dengan berbagai pihak juga sangat penting dan tidak bisa diabaikan. IMM harus memperluas jaringan dengan komunitas sosial, lembaga advokasi, dan sektor industri agar dapat membuka ruang kontribusi yang lebih besar. Di era modern yang serba cepat ini, tidaklah mudah bagi IMM untuk bergerak sendiri. Kunci agar IMM tetap relevan di masa depan dan memberikan dampak yang luas bagi masyarakat adalah melalui kolaborasi.
Saat ini, platform digital seperti media sosial bukan hanya tempat untuk dokumentasi, tetapi juga sebagai alat perjuangan yang sangat ampuh untuk menyebarluaskan edukasi, membangun opini publik, dan memperkuat jaringan aktivisme. Di era ini, IMM diharapkan dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan strategi baru dalam berdakwah serta memperjuangkan nilai-nilai yang diusungnya, bukan sekadar mempertahankan nilai-nilai dengan pola lama saja.
Dalam jalannya refleksi ini, IMM perlu menengok kembali ke belakang dan merenungkan alasan kelahiran dan tujuan awal pendiriannya. IMM bertujuan untuk menciptakan kader-kader yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa. Jika IMM ingin tetap relevan dan memberikan dampak signifikan bagi umat, IMM harus terus maju dan berkembang.
Untuk menjalankan peran IMM sebagai agen perubahan sosial, IMM harus menyadari bahwa perubahan datang dari keberanian untuk memulai dan bertindak. IMM perlu memastikan bahwa setiap forum yang diselenggarakan menghasilkan gerakan yang nyata, dan setiap dokumentasi harus lebih dari sekadar formalitas. Setiap kader harus merasa bangga dengan dampak yang telah mereka capai, karena pada kenyataannya, IMM bukan tentang seberapa sering mengadakan acara diskusi, seminar, kajian Islami, dan sebagainya, tetapi seberapa besar ia mampu membawa perubahan yang berdampak bagi umat masyarakat.
Pada akhirnya, penggalan-penggalan kalimat ini bukan hanya refleksi, melainkan seruan untuk bergerak dan menciptakan perubahan yang nyata. IMM perlu menegaskan kembali perannya sebagai agen perubahan sosial. Ke depan, IMM diharapkan tidak hanya menjadi organisasi yang fokus pada diskusi atau kegiatan formal lainnya, tetapi juga mampu mengubah gagasan dan teori yang dibahas menjadi aksi nyata yang memberikan dampak bagi masyarakat.
Kita harus meyakini bahwa dengan semangat dan tindakan nyata, IMM dapat menjadi pelopor perubahan, membawa cahaya kemajuan bagi umat dan bangsa. Mari kita wujudkan IMM yang tidak hanya besar dalam sejarah, tetapi juga mencetak akademisi yang cendekiawan dan gemilang dalam tindakan nyata di masa depan.
Fastabiqul Khairat!
Penulis adalah peserta Lomba Menulis Opini Milad ke-61 IMM yang diselenggarakan IMM Sukoharjo.
Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?
Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...






