Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kita semakin akrab dengan kelas daring, robot tutor, kecerdasan buatan, hingga platform belajar yang menyediakan ribuan video pembelajaran. Banyak yang mulai mempertanyakan, “Masih pentingkah guru ketika teknologi sudah mampu mengajarkan apa saja?”
Pertanyaan itu mengemuka di banyak forum pendidikan, tetapi selalu ada satu hal mendasar yang luput disadari: mengajar tidak sama dengan mendidik. Mengajarkan materi bisa dilakukan oleh mesin; tetapi mendidik manusia hanya bisa dilakukan oleh manusia guru.
Saya telah menghabiskan lebih dari tiga dekade bekerja bersama guru-guru di berbagai penjuru negeri. Dari ruang kelas di kota besar hingga sekolah dasar kecil yang berdiri di pinggiran hutan. Di mana pun saya berada, saya melihat pola yang sama: guru tidak hanya mengajarkan rumus dan definisi, tetapi mengikatkan diri mereka dengan kehidupan murid-muridnya. Koneksi inilah yang tak bisa digantikan oleh algoritma yang paling canggih sekalipun.
Kisah Bu Rini dan Gawai Pinjaman
Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke sebuah sekolah dasar di pinggiran kota. Di sana saya bertemu seorang guru bernama Bu Rini (bukan nama sebenarnya), wali kelas V yang mengajar 32 murid. Sekolahnya sudah go digital, platform belajar tersedia, grup Whatsapp orang tua aktif, dan materi video dapat diakses kapan saja.
Namun, dari 32 murid itu, hanya 14 yang memiliki gawai sendiri. Sisanya bergantung pada ponsel orang tua yang pulang malam hari. Di atas kertas, sekolah itu terlihat modern; dalam kenyataan, kesenjangan masih tajam. Suatu ketika, seorang murid bernama Bayu beberapa kali tidak mengumpulkan tugas daring. Sistem mencatatnya sebagai murid “tidak aktif”. Jika hanya melihat data, Bayu bisa dengan mudah dianggap malas. Tetapi Bu Rini memilih mendatangi rumahnya. Ia menemukan bahwa Bayu harus menunggu ayahnya pulang larut malam untuk bisa meminjam ponsel sebentar sering kali tidak berhasil karena ayahnya kelelahan bekerja.
Sejak itu, Bu Rini menyisihkan waktu setiap hari setelah jam pelajaran untuk mendampingi murid-murid seperti Bayu mengerjakan tugas secara langsung. Upaya tambahan itu tidak tercatat dalam sistem. Tidak ada algoritma yang bisa menangkap empati itu. Platform digital menganggap Bayu pasif, sementara gurunya melihat seorang anak yang sedang berjuang. Di situlah letak keunggulan guru. Teknologi mengolah data; guru membaca kehidupan.
AI Mengajar, Guru Membentuk Manusia
Kecerdasan buatan mampu menyajikan materi pembelajaran secara runtut dan personal. Ketika seorang murid salah menjawab, AI bisa memberi koreksi dan rekomendasi latihan. Namun AI tidak bisa membaca kegelisahan yang bersembunyi dalam diam seorang anak, tidak bisa memahami helaan napas ragu, tidak bisa meraba luka batin yang dibawa dari rumah.
Itulah perbedaan paling mendasar antara mesin dan manusia. Teknologi menjangkau pikiran, tetapi guru menyentuh hati. Di ruang kelas, guru tidak hanya melihat siswa sebagai penerima materi, melainkan sebagai manusia yang membawa cerita, kecemasan, potensi, dan harapan. Kita sering lupa bahwa keberhasilan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh kecakapan akademis, tetapi juga oleh rasa aman, kepercayaan diri, dan motivasi. Nilai-nilai itulah yang tumbuh dari hubungan hangat antara guru dan murid sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh algoritma.
Penelitian-penelitian pendidikan mutakhir justru menegaskan kembali bahwa teknologi hanyalah alat, sementara guru tetap menjadi faktor penentu. Studi internasional menunjukkan bahwa kualitas interaksi guru murid berhubungan langsung dengan motivasi belajar, keterlibatan di kelas, dan ketahanan murid menghadapi kesulitan. Sementara penggunaan teknologi tanpa pendampingan pedagogis yang tepat sering hanya menghasilkan “pindah medium”: tugas yang semula di kertas berpindah ke layar, tetapi cara berpikir siswa tidak berkembang.
Survei lain memperlihatkan fakta yang sering terlupakan: banyak guru mengalami kelelahan emosional, tekanan administrasi yang berlapis, dan tuntutan untuk terus mengikuti perubahan kurikulum tanpa pelatihan yang cukup. Teknologi datang membawa janji efisiensi, tetapi sistem sering kali membebani guru dengan tanggung jawab baru yang tidak sebanding dengan dukungan yang diberikan.
Dalam kondisi seperti itu, sangat tidak adil jika kita hanya menuntut guru untuk menjadi inovatif, melek teknologi, kreatif, sekaligus mampu merangkul murid dalam kondisi apa pun. Kita sering lupa menanyakan apakah guru memiliki ruang, waktu, dan tenaga untuk terus berkembang.
Kesejahteraan Guru, Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Usai
Setiap tahun kita merayakan Hari Guru dengan penuh hormat. Namun, antara penghargaan dan realitas masih ada jurang yang lebar. Banyak guru honorer di Indonesia masih menerima penghasilan yang jauh dari layak. Banyak pula guru yang bekerja dengan jam panjang, beban administrasi tinggi, dan tekanan publik yang tidak selalu adil. Jika guru adalah garda terdepan masa depan bangsa, memperkuat mereka adalah langkah paling logis yang bisa dilakukan negara. Negara-negara yang berhasil memperbaiki kualitas pendidikannya tidak memulai dengan teknologi, tetapi dengan memuliakan guru. Hanya guru yang dihargai dan didukung yang dapat menjalankan peran strategis dalam membentuk generasi masa depan.
Solusi: Mengembalikan Guru ke Pusat Pendidikan
Upaya memperbaiki pendidikan tidak akan berhasil jika guru tidak ditempatkan sebagai inti perubahan. Penguatan pendidikan harus dimulai dari keberanian untuk menata ulang pendekatan kita terhadap guru.
Pertama, kebijakan pendidikan sebaiknya dirancang dari pengalaman nyata di kelas. Guru perlu dilibatkan bukan sebagai pelaksana kebijakan, tetapi sebagai pemikir yang mengetahui dinamika murid secara langsung. Suara mereka di lapangan harus menjadi dasar desain kurikulum dan program digital. Kedua, kesejahteraan guru perlu diperbaiki secara nyata dan berkelanjutan. Guru yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi sulit diminta mengajar dengan penuh kreativitas dan empati. Kesejahteraan bukan hadiah; ia adalah syarat. Ketiga, pelatihan berkelanjutan untuk guru tidak boleh berhenti pada teori. Guru membutuhkan program yang relevan dengan tantangan harian: bagaimana mengelola kelas campuran, bagaimana mendampingi murid yang kesulitan emosional, bagaimana menggunakan AI secara etis dan efektif.
Keempat, beban administrasi yang tidak esensial perlu dikurangi. Digitalisasi seharusnya meringankan pekerjaan guru, bukan menambah lapisan pekerjaan baru yang memakan waktu. Kelima, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan komunitas harus diperkuat. Pendidikan tidak mungkin ditanggung guru sendirian. Lingkungan sekitar harus menjadi ruang tumbuh bersama bagi anak-anak.
Semua langkah itu memiliki satu tujuan: memastikan bahwa guru dapat kembali menjalankan peran utamanya sebagai pendidik, bukan sekadar pelaksana prosedur.
Guru Masih Menjadi Pelita di Zaman yang Serba Cepat
Teknologi akan semakin canggih, AI akan semakin pintar, dan dunia akan bergerak lebih cepat daripada langkah manusia. Namun, selama pendidikan masih berbicara tentang hati, empati, dan hubungan antarmanusia, guru akan tetap berdiri sebagai sosok paling penting dalam perjalanan hidup anak-anak kita.
Di setiap kelas, selalu ada satu momen yang tidak bisa diciptakan teknologi: tatapan penuh yakin seorang guru ketika seorang anak akhirnya memahami pelajaran setelah berbulan-bulan berjuang. Ada pelukan spontan murid kelas satu SD yang berkata, “Bu, saya rindu sekolah.” Ada senyum bangga guru ketika muridnya lulus, memenangkan perlombaan, atau sekadar berani berdiri di depan kelas untuk pertama kalinya.
Itulah alasan guru tidak akan pernah tergantikan. Hari Guru adalah pengingat bahwa bangsa ini tidak akan pernah maju tanpa guru yang dihargai, didukung, dan dimanusiakan.
Selamat Hari Guru.
Untuk para guru yang tidak hanya mengajar, tetapi membentuk manusia, terima kasih.
Saat ini, detik ini ketika saya menulis opini ini saya meneteskan air mata akan jasa – jasa Guru terhadap saya, kita dan semuanya. Jasa – jasamu akan terus terkenang dan kenangan aku dan guruku tidak akan pernah padam.
Penulis adalah dosen Prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang
TKA, Wajah Asli Pendidikan Kita Yang Tak Rupawan
Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi bahan refleksi penting dalam diskursus pendidikan nasional. Di tengah euforia reformasi kurikulum dan perubahan sistem evaluasi, TKA hadir bukan...
Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat
Ustaz Muhammad Jazir, tokoh Masjid Jogokariyan, adalah sosok inspiratif yang menunjukkan aksi dan peran nyata dalam dakwah dan gerakan umat. Beliau memberi pelajaran penting bahwa...
Ironi di Penghujung November: Perayaan Ekologis Namun Membiarkan Bencana
Penghujung November seharusnya menjadi momentum ekologis penting bagi umat manusia. Dua peringatan besar—Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28...
Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global
Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja? Penandatanganan MoU...
Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah
Fenomena “gus-gusan” dalam dakwah digital semakin ramai dibicarakan. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh potongan video seorang “Gus” yang mengaitkan rokok merek Sampoerna dengan konsep...
Jangan Korbankan Lawu untuk Keserampangan Energi Hijau
Rencana pemanfaatan panas bumi di Jenawi, lereng Gunung Lawu, bukan sekadar urusan teknis energi. Ia adalah soal keselamatan ekologis, keberlanjutan ekonomi warga, dan kewarasan negara...
Menemukan Tenang di Tengah Badai: Spiritualitas sebagai Kunci Ketahanan Mental
Dalam menjalani kehidupan pasti manusia akan merasakan berbagai macam tekanan pada setiap aspek yang dia jalani. Misalnya, tekanan pada pekerjaan, seperti deadline yang ketat, tuntutan...
Latte Papa: Ayah, Kopi, dan Revolusi Sunyi
Fenomena Latte Papa atau Latte Dad di Swedia sering dianggap sepele: sekumpulan ayah muda yang terlihat mendorong stroller sambil menyesap segelas caffe latte di kafe-kafe...
Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan
Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe, berdiri sebuah madrasah kecil yang menyimpan harapan besar: Madrasah Aliyah Muhammadiyah Petta. Meski letaknya jauh dari pusat-pusat...
Negeri yang Dijajah Tanpa Senapan
Daftar IsiGelar Tak Lagi SaktiKetika Data Menjadi Emas BaruSekolah untuk Dunia yang Sudah MatiTeknologi: Pembebasan atau Panggung Pencitraan?Budaya Terlupa, Akar DicabutSaatnya Sadar, Bangun, dan MelawanDi...
The Power of Al-Ma’tsurat: Penghancur Jin dalam Tubuh dan Tameng Spiritual yang Terlupakan
Bayangkan seseorang yang hidupnya terasa berat tanpa sebab yang jelas. Ia bangun pagi dengan tubuh lesu, pikirannya kacau, sering mimpi buruk, mudah marah, gelisah tanpa...
Mengungkap Dua Al-Masih: Isa sang Penyelamat, Dajjal sang Pendusta
Salah satu istilah yang menarik perhatian dalam diskursus keislaman adalah penggunaan kata “al-Masih” yang disematkan pada dua sosok yang sangat bertolak belakang: al-Masih Isa putra...






