Fenomena Latte Papa atau Latte Dad di Swedia sering dianggap sepele: sekumpulan ayah muda yang terlihat mendorong stroller sambil menyesap segelas caffe latte di kafe-kafe urban. Namun jika ditelusuri lebih dalam, “latte papa” adalah simbol dari sebuah revolusi sunyi, pergeseran besar dalam cara masyarakat memandang peran ayah.
Di Swedia, istilah ini lahir karena kebijakan parental leave yang progresif. Negara memberikan total 480 hari cuti orang tua yang bisa dibagi antara ibu dan ayah, dengan 90 hari khusus wajib diambil oleh sang ayah. Tujuannya jelas: memutus stigma bahwa mengasuh anak adalah domain eksklusif ibu.
Dari sinilah wajah baru ayah modern terbentuk, ayah yang bukan hanya pencari nafkah, melainkan juga caregiver aktif. Sebagian orang mencibir latte papa sebagai tren kelas menengah urban: ayah-ayah dengan ekonomi mapan yang bisa menghabiskan waktu di kafe mahal sambil menunaikan peran pengasuhan.
Kritik ini ada benarnya. Fenomena ini memang lebih terlihat di kota besar seperti Stockholm dibandingkan pedesaan. Namun terlepas dari bias kelas sosial, latte papa tetap penting sebagai representasi bahwa maskulinitas bisa tampil dalam bentuk yang lembut, penuh kasih, dan hadir nyata bagi anak.
Yang menarik, latte papa bukan sekadar urusan domestik, melainkan strategi pembangunan bangsa. Dengan keterlibatan ayah sejak dini, kualitas hubungan emosional anak meningkat, kesehatan mental ibu lebih terjaga, dan partisipasi kerja perempuan tetap tinggi.
Jangka panjangnya, masyarakat lebih setara, ekonomi lebih stabil, dan generasi muda tumbuh dengan teladan bahwa menjadi ayah berarti ada, secara fisik maupun emosional.
Latte Papa Indonesia?
Indonesia jelas masih jauh dari tahap ini. Cuti ayah hanya dua hari, budaya kerja masih keras, dan norma gender masih menempatkan ibu sebagai pusat pengasuhan. Realitas ini menimbulkan ketimpangan beban: ibu harus menanggung kelelahan fisik sekaligus tekanan emosional, sementara ayah kerap merasa sudah cukup dengan peran mencari nafkah.
Padahal, pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama, bukan monopoli satu pihak. Menolak belajar dari Swedia berarti menutup mata terhadap peluang membangun keluarga yang lebih seimbang dan peradaban yang lebih adil.
Apakah adil jika seorang ibu menanggung seluruh beban awal kehidupan seorang anak, sementara ayah berlindung di balik dalih “tugasnya mencari rezeki”? Bagi saya, latte papa adalah simbol keberanian. Keberanian untuk keluar dari bayang-bayang patriarki yang mengekang peran ayah.
Keberanian untuk mendefinisikan ulang tanggung jawab keluarga, bahwa cinta, perhatian, dan waktu bersama anak sama berharganya dengan uang yang dibawa pulang ke rumah. Dan keberanian untuk merayakan ayah yang tidak hanya duduk di kursi kantor, tetapi juga di bangku taman dengan anaknya.
Lebih dari itu, latte papa adalah ajakan untuk menumbuhkan wajah baru maskulinitas. Ayah yang lembut tidak berarti lemah, justru ia kuat karena mampu hadir di dua dunia sekaligus: dunia kerja dan dunia pengasuhan.
Ayah yang menggendong anak, menyuapi, atau sekadar menemani tidur bukanlah sosok yang kehilangan wibawa, melainkan sosok yang tengah membangun fondasi kasih sayang dalam keluarga. Ketika kasih sayang itu kuat, keluarga menjadi benteng yang kokoh, masyarakat pun tumbuh lebih sehat.
Sang Teladan Sejati
Menariknya, apa yang Swedia gaungkan melalui fenomena latte papa ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing bagi umat Islam. Empat belas abad sebelum masyarakat modern berbicara tentang pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan, Rasulullah sudah lebih dulu memberikan teladan.
Beliau menunjukkan seorang ayah sejati bukan hanya sosok penyedia nafkah, melainkan juga pengasuh penuh cinta, sahabat bermain bagi anak-anaknya, dan teladan moral yang hadir dalam keseharian. Riwayat-riwayat hadis penuh dengan kisah kelembutan Rasulullah kepada cucu-cucunya, Hasan dan Husain.
Beliau menggendong keduanya, menciumnya, bahkan membiarkan mereka menaiki punggungnya ketika beliau sedang sujud dalam shalat. Alih-alih marah atau terganggu, Nabi justru memperlama sujudnya hingga cucunya puas bermain.
Inilah potret keintiman seorang kakek sekaligus ayah yang menegaskan bahwa kasih sayang adalah bagian dari ibadah. Rasulullah pun tidak segan membantu pekerjaan rumah, menjahit bajunya sendiri, dan menambal sandalnya, sikap yang menumbangkan anggapan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah tugas eksklusif seorang ibu.
Para sahabat Nabi juga meneladani hal ini. Umar bin Khattab, yang kerap dikenal tegas dan keras dalam menegakkan kebenaran, ternyata memiliki sisi lembut yang luar biasa kepada anak-anak. Ketika melihat seorang gubernur enggan bercanda dengan putranya, Umar menegur keras: “Barang siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.”
Begitu pula Ali bin Abi Thalib, yang tidak hanya dikenal sebagai panglima perang, tetapi juga ayah yang penuh kasih dalam mendidik Hasan dan Husain. Bahkan dalam Al-Qur’an, kita menemukan potret ideal seorang ayah dalam sosok Luqman al-Hakim, yang mendidik anaknya dengan nasihat bijak: menjaga tauhid, melaksanakan shalat, sabar, dan berakhlak mulia (QS. Luqman: 13–19).
Kesamaan nilai ini menunjukkan bahwa latte papa sejatinya bukan sekadar proyek sosial negara modern yang lahir dari tuntutan kesetaraan gender. Ia adalah nilai universal yang sejak lama ditanamkan Islam: bahwa ayah adalah pendidik, pengasuh, dan penuntun spiritual bagi anak-anaknya.
Bedanya, Swedia menegakkan peran ayah melalui regulasi negara, sementara Islam menegakkannya melalui iman, akhlak, dan kesadaran bahwa pengasuhan anak adalah amanah langsung dari Allah. Dengan demikian, fenomena latte papa bisa menjadi cermin bagi kita.
Jika bangsa lain berjuang keras mengubah paradigma ayah melalui kebijakan publik, umat Islam sejatinya hanya perlu kembali kepada teladan Nabi dan para sahabat. Ayah yang hadir bukan sekadar dalam urusan materi, tetapi juga dalam pelukan, perhatian, doa, dan nasihat. Ayah yang bukan hanya kepala rumah tangga, tetapi juga kepala hati anak-anaknya.
Maka, setiap kali kita mendengar istilah latte papa, jangan terburu-buru menganggapnya sebagai tren asing dari Barat. Justru itu bisa menjadi momentum bagi umat Islam untuk menyadari bahwa kita telah memiliki warisan luhur tentang peran ayah dalam pengasuhan, warisan yang tidak sekadar membentuk keluarga harmonis, tetapi juga peradaban yang penuh kasih dan seimbang.
Refleksi
Mungkin kita belum bisa meniru Swedia sepenuhnya. Namun langkah kecil, seperti memperpanjang cuti ayah, mengkampanyekan kesetaraan pengasuhan, hingga menyediakan ruang publik ramah keluarga, adalah awal menuju Indonesia yang lebih adil bagi ibu, ayah, dan anak. Sebab sesungguhnya, menjadi ayah yang hadir bukanlah budaya asing, tetapi sunnah yang sudah diwariskan Nabi sejak 14 abad silam.
Mungkin suatu hari nanti, di kafe-kafe Surakarta atau Yogyakarta, kita juga akan terbiasa melihat pemandangan seorang ayah dengan stroller di satu tangan, dan segelas kopi susu di tangan lain sambil murojaah hafalan, seorang latte papa Indonesia.
TKA, Wajah Asli Pendidikan Kita Yang Tak Rupawan
Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi bahan refleksi penting dalam diskursus pendidikan nasional. Di tengah euforia reformasi kurikulum dan perubahan sistem evaluasi, TKA hadir bukan...
Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat
Ustaz Muhammad Jazir, tokoh Masjid Jogokariyan, adalah sosok inspiratif yang menunjukkan aksi dan peran nyata dalam dakwah dan gerakan umat. Beliau memberi pelajaran penting bahwa...
Ironi di Penghujung November: Perayaan Ekologis Namun Membiarkan Bencana
Penghujung November seharusnya menjadi momentum ekologis penting bagi umat manusia. Dua peringatan besar—Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28...
Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global
Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja? Penandatanganan MoU...
Teknologi Bisa Mengajar, tapi Hanya Guru yang Bisa Menyentuh Hati
Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kita semakin akrab dengan kelas daring, robot tutor, kecerdasan buatan, hingga platform belajar yang menyediakan ribuan video pembelajaran. Banyak yang...
Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah
Fenomena “gus-gusan” dalam dakwah digital semakin ramai dibicarakan. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh potongan video seorang “Gus” yang mengaitkan rokok merek Sampoerna dengan konsep...
Jangan Korbankan Lawu untuk Keserampangan Energi Hijau
Rencana pemanfaatan panas bumi di Jenawi, lereng Gunung Lawu, bukan sekadar urusan teknis energi. Ia adalah soal keselamatan ekologis, keberlanjutan ekonomi warga, dan kewarasan negara...
Menemukan Tenang di Tengah Badai: Spiritualitas sebagai Kunci Ketahanan Mental
Dalam menjalani kehidupan pasti manusia akan merasakan berbagai macam tekanan pada setiap aspek yang dia jalani. Misalnya, tekanan pada pekerjaan, seperti deadline yang ketat, tuntutan...
Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan
Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe, berdiri sebuah madrasah kecil yang menyimpan harapan besar: Madrasah Aliyah Muhammadiyah Petta. Meski letaknya jauh dari pusat-pusat...
Negeri yang Dijajah Tanpa Senapan
Daftar IsiGelar Tak Lagi SaktiKetika Data Menjadi Emas BaruSekolah untuk Dunia yang Sudah MatiTeknologi: Pembebasan atau Panggung Pencitraan?Budaya Terlupa, Akar DicabutSaatnya Sadar, Bangun, dan MelawanDi...
The Power of Al-Ma’tsurat: Penghancur Jin dalam Tubuh dan Tameng Spiritual yang Terlupakan
Bayangkan seseorang yang hidupnya terasa berat tanpa sebab yang jelas. Ia bangun pagi dengan tubuh lesu, pikirannya kacau, sering mimpi buruk, mudah marah, gelisah tanpa...
Mengungkap Dua Al-Masih: Isa sang Penyelamat, Dajjal sang Pendusta
Salah satu istilah yang menarik perhatian dalam diskursus keislaman adalah penggunaan kata “al-Masih” yang disematkan pada dua sosok yang sangat bertolak belakang: al-Masih Isa putra...






