Penghujung November seharusnya menjadi momentum ekologis penting bagi umat manusia. Dua peringatan besar—Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28 November—mengajak kita kembali menyadari bahwa pohon bukan sekadar makhluk hidup yang tumbuh berdiri tegak, tetapi fondasi kehidupan yang menopang seluruh ekosistem di bumi.
Pohon menyediakan oksigen, mengatur siklus air, menjaga tanah tetap subur, melindungi keanekaragaman hayati, hingga menstabilkan iklim global (FAO, 2020). Di tingkat lokal, pohon menjadi penyangga alam yang melindungi manusia dari ancaman banjir, longsor, kekeringan, serta menjaga keberlangsungan sumber pangan dan obat-obatan bagi masyarakat.
Namun, ironinya begitu terasa tahun ini. Ketika kalender mengingatkan kita untuk merayakan pentingnya pohon, Indonesia justru tengah berduka. Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara baru saja dilanda banjir besar, tanah longsor, meluapnya sungai, dan kerusakan kawasan permukiman.
Ribuan warga kehilangan rumah, lahan pertanian tertimbun lumpur, anak-anak berhenti sekolah sementara, dan infrastruktur vital tidak bisa digunakan. Aliran sungai yang dulu stabil kini berubah menjadi arus deras yang menghancurkan apa saja di lintasannya. Momen yang seharusnya menjadi selebrasi justru dirayakan dalam suasana penuh kecemasan.
Bencana ini bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba. Curah hujan yang tinggi memang menjadi pemicu, tetapi bukan penyebab utama. Akar masalahnya jauh lebih serius dan bersifat structural, yakni kerusakan ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS), lemahnya pengelolaan lingkungan, dan hilangnya tutupan hutan secara masif.
Lereng-lereng yang dulu teduh oleh pepohonan kini gundul akibat pembalakan, perkebunan monokultur, dan ekspansi tambang. Tanpa akar yang mencengkeram tanah, setiap tetes hujan berubah menjadi ancaman. Sungai yang kehilangan vegetasi penyangga tidak mampu lagi mengolah air hujan secara alami sehingga mudah meluap.
Ironi semakin terasa ketika setiap tahun kita merayakan Hari Pohon, namun angka deforestasi tetap meningkat. Kita menanam pohon dalam kegiatan seremoni, tetapi membiarkan pohon-pohon dewasa ditebang tanpa kendali.
Kita sibuk membuat slogan penyelamatan lingkungan, namun tidak memastikan pengawasan nyata di lapangan. Seremoni tanam pohon berubah menjadi ritual simbolik semata—lengkap dengan dokumentasi, namun rapuh tanpa pemeliharaan. Padahal penanaman pohon bukanlah “kegiatan satu hari”, tetapi komitmen puluhan tahun.
Kesalahan paradigma semakin terlihat ketika banyak pihak menganggap bahwa tanaman selain pohon dapat menggantikan fungsi hutan. Area hutan yang telah rusak lalu diisi dengan tanaman hortikultura cepat tumbuh atau monokultur yang secara ekologis tidak mampu menahan erosi, tidak menyimpan karbon dengan efektif, dan tidak menyediakan habitat bagi satwa liar.
Hutan dianggap dapat diganti dengan “yang penting hijau”, padahal tidak semua tanaman dapat membentuk ekosistem layaknya hutan alami (Margono et al., 2014). Ekosistem DAS merupakan sistem kompleks yang memerlukan interaksi antara pohon, semak, mikroorganisme tanah, serangga polinator, fauna hutan, hingga aliran air. Ketika kompleksitas ini diabaikan, kerusakan ekologis menjadi tak terhindarkan (Sihombing, 2016).
Komoditas Ekonomi
Di sisi lain, masyarakat dan sebagian pemangku kepentingan masih memandang hutan semata sebagai komoditas ekonomi, bukan sebagai sistem kehidupan. Keserakahan manusia mendorong ekspansi perkebunan besar, pembukaan hutan untuk lahan komersial, proyek pangan skala masif, hingga pembangunan permukiman tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan.
Ekosistem yang membutuhkan ratusan tahun untuk terbentuk bisa hancur hanya dalam hitungan bulan. Kerusakan ini diperparah oleh aktivitas pertambangan, yang kerap dipromosikan sebagai jalan pintas menuju kesejahteraan.
Narasi bahwa tambang menghadirkan lapangan pekerjaan dan pembangunan sering kali menutupi kerusakan yang ditinggalkannya: tanah rusak permanen, hilangnya tutupan pohon, penurunan muka air tanah, sedimentasi sungai, hingga pencemaran air dan tanah yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat (Sembiring et al., 2024).
Tidak sedikit wilayah di Aceh dan Sumatera yang terdampak bencana fisik berada dekat kawasan tambang atau bekas tambang yang tidak direstorasi. Semua kasus tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak dapat dicapai bila pengelolaan sumber daya alam hanya didorong oleh keuntungan ekonomi jangka pendek.
Pembangunan yang mengabaikan ekosistem pada akhirnya menciptakan biaya sosial dan ekologis yang jauh lebih besar dibanding manfaat sesaat yang diperoleh (Gonzalez-Redin et al., 2023). Karena itu, penghujung November ini harus menjadi titik balik. Momentum ini harus digunakan untuk memperkuat pemulihan ekologis, terutama melalui rehabilitasi DAS dan reforestasi berkelanjutan.
Program pemulihan tidak boleh hanya proyek tahunan yang berhenti ketika anggaran habis, tetapi harus menjadi program jangka panjang yang terencana, berbasis riset, dan melibatkan pemantauan ekologis berkala. Penegakan hukum terhadap pembalakan liar, perusakan hutan, dan tambang ilegal harus diperketat.
Tanpa ketegasan hukum, kerusakan selalu lebih cepat daripada pemulihan. Namun, keberhasilan pemulihan tidak akan tercapai tanpa kolaborasi. Masyarakat harus diberdayakan sebagai penjaga ekologis pertama. Akademisi menyediakan riset dan panduan ilmiah. Pemerintah daerah memiliki otoritas pengawasan. Sementara sektor swasta wajib bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkannya (Fisher et al., 2023).
Terakhir, kita harus menata ulang paradigma penanaman pohon. Penanaman harus berbasis spesies lokal, sesuai kondisi biofisik, dan disertai perawatan jangka panjang. Pohon bukan hanya objek yang ditanam, tetapi makhluk hidup yang membutuhkan pemeliharaan dan perlindungan (Chacón, 2024).
Pada akhirnya, peringatan Hari Pohon Sedunia dan Hari Menanam Pohon Indonesia hanya akan bermakna bila mengubah cara kita memperlakukan alam. Bukan hanya menanam, tetapi menjaga. Bukan hanya memperingati, tetapi memulihkan. Bukan hanya berfoto, tetapi bertindak.
TKA, Wajah Asli Pendidikan Kita Yang Tak Rupawan
Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi bahan refleksi penting dalam diskursus pendidikan nasional. Di tengah euforia reformasi kurikulum dan perubahan sistem evaluasi, TKA hadir bukan...
Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat
Ustaz Muhammad Jazir, tokoh Masjid Jogokariyan, adalah sosok inspiratif yang menunjukkan aksi dan peran nyata dalam dakwah dan gerakan umat. Beliau memberi pelajaran penting bahwa...
Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global
Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja? Penandatanganan MoU...
Teknologi Bisa Mengajar, tapi Hanya Guru yang Bisa Menyentuh Hati
Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kita semakin akrab dengan kelas daring, robot tutor, kecerdasan buatan, hingga platform belajar yang menyediakan ribuan video pembelajaran. Banyak yang...
Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah
Fenomena “gus-gusan” dalam dakwah digital semakin ramai dibicarakan. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh potongan video seorang “Gus” yang mengaitkan rokok merek Sampoerna dengan konsep...
Jangan Korbankan Lawu untuk Keserampangan Energi Hijau
Rencana pemanfaatan panas bumi di Jenawi, lereng Gunung Lawu, bukan sekadar urusan teknis energi. Ia adalah soal keselamatan ekologis, keberlanjutan ekonomi warga, dan kewarasan negara...
Menemukan Tenang di Tengah Badai: Spiritualitas sebagai Kunci Ketahanan Mental
Dalam menjalani kehidupan pasti manusia akan merasakan berbagai macam tekanan pada setiap aspek yang dia jalani. Misalnya, tekanan pada pekerjaan, seperti deadline yang ketat, tuntutan...
Latte Papa: Ayah, Kopi, dan Revolusi Sunyi
Fenomena Latte Papa atau Latte Dad di Swedia sering dianggap sepele: sekumpulan ayah muda yang terlihat mendorong stroller sambil menyesap segelas caffe latte di kafe-kafe...
Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan
Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe, berdiri sebuah madrasah kecil yang menyimpan harapan besar: Madrasah Aliyah Muhammadiyah Petta. Meski letaknya jauh dari pusat-pusat...
Negeri yang Dijajah Tanpa Senapan
Daftar IsiGelar Tak Lagi SaktiKetika Data Menjadi Emas BaruSekolah untuk Dunia yang Sudah MatiTeknologi: Pembebasan atau Panggung Pencitraan?Budaya Terlupa, Akar DicabutSaatnya Sadar, Bangun, dan MelawanDi...
The Power of Al-Ma’tsurat: Penghancur Jin dalam Tubuh dan Tameng Spiritual yang Terlupakan
Bayangkan seseorang yang hidupnya terasa berat tanpa sebab yang jelas. Ia bangun pagi dengan tubuh lesu, pikirannya kacau, sering mimpi buruk, mudah marah, gelisah tanpa...
Mengungkap Dua Al-Masih: Isa sang Penyelamat, Dajjal sang Pendusta
Salah satu istilah yang menarik perhatian dalam diskursus keislaman adalah penggunaan kata “al-Masih” yang disematkan pada dua sosok yang sangat bertolak belakang: al-Masih Isa putra...






