Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perspektif

Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Alan Aliarcham
Jumat, 18 Juli 2025 07:56 WIB
Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Logo Muhammadiyah.

Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe, berdiri sebuah madrasah kecil yang menyimpan harapan besar: Madrasah Aliyah Muhammadiyah Petta. Meski letaknya jauh dari pusat-pusat kota, semangat para guru dan murid di madrasah ini tak kalah membara.

Namun belakangan, bara itu seperti mulai meredup. Bukan karena kurangnya fasilitas, bukan pula karena minimnya tenaga pengajar, melainkan karena satu hal yang sangat mendasar akhlak siswa yang kian memprihatinkan.

Sebagai lembaga pendidikan Islam, MA Muhammadiyah Petta tentu memiliki harapan besar terhadap karakter siswanya. Tapi realitas di lapangan berkata lain. Guru kerap menerima laporan tentang siswa yang berbohong, membantah nasihat, hingga mulai abai terhadap ibadah.

Bahkan ada yang lebih hafal lirik lagu viral daripada doa harian. Bagi para pendidik di sana, ini bukan lagi sekadar tantangan, tapi peringatan bahwa ada yang harus segera dibenahi. Melihat fenomena ini, pihak sekolah sadar bahwa pendekatan lama tak lagi cukup.

Ceramah tiap Jumat belum tentu menyentuh hati siswa. Pelajaran agama pun sering dianggap sebatas teori yang harus dihafal untuk ujian. Maka muncullah gagasan untuk membangun sebuah gerakan baru bukan hanya sekadar program tambahan, tapi sebuah ikhtiar yang menyentuh inti pendidikan Islam itu sendiri: Gerakan Pelajar Profetik.

Sebuah Gerakan, Bukan Sekadar Program

Gerakan Pelajar Profetik di MA Muhammadiyah Petta bukan gerakan seremonial. Ia lahir dari kesadaran bersama bahwa akhlak tak cukup dibentuk lewat nasihat dan hukuman. Akhlak perlu ditanam, disirami, dan ditumbuhkan secara perlahan namun konsisten.

Maka, seluruh aktivitas madrasah pun mulai diarahkan untuk menciptakan budaya yang mendukung pembentukan karakter. Gerakan ini mengambil inspirasi dari sifat-sifat utama Nabi Muhammad SAW: shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathonah (cerdas dan bijaksana).

Nilai-nilai profetik inilah yang menjadi fondasi utama. Namun bukan hanya disampaikan dalam bentuk ceramah, melainkan ditanamkan melalui keteladanan guru, kebiasaan sehari-hari siswa, dan suasana madrasah secara keseluruhan.

Datangnya Sang Da’i

Perubahan besar itu semakin nyata ketika hadir seorang da’i muda dari LDK PP Muhammadiyah (Lembaga Dakwah Komunitas) bernama Hanif. Dengan semangat dakwah berkemajuan yang menyala, Hanif datang bukan hanya sebagai pengisi kajian atau penceramah musiman.

Ia hadir sebagai sahabat bagi siswa, pendamping bagi guru, dan pelopor gerakan akhlak yang segar. Hanif memperkenalkan dua program inti yang langsung menyentuh kebutuhan siswa zaman sekarang: tahfidzul Qur’an dan seni bela diri Tapak Suci.

Bukan tanpa alas an tahfidzul Qur’an menjadi ruang untuk menenangkan hati dan membentuk spiritualitas yang kokoh. Di saat yang sama, Tapak Suci memberi wadah bagi energi muda siswa, menyalurkan semangat mereka dalam latihan fisik yang disiplin, penuh etika, dan tentu saja bernuansa dakwah.

Setiap pagi, lantunan hafalan Al-Qur’an terdengar dari lorong kelas. Siswa mulai mencintai ayat-ayat yang dulu terasa asing. Di sore hari, halaman madrasah berubah menjadi arena Latihan bukan untuk tawuran, tapi untuk membentuk raga yang kuat dan jiwa yang tertata.

Hanif tidak hanya mengajar, tapi hidup bersama para siswa. Ia membimbing mereka, mendengarkan keresahan mereka, bahkan ikut makan bersama di warung terdekat. Kehadirannya menjadi inspirasi. Bagi siswa, ia adalah contoh nyata bahwa menjadi religius bukan berarti kaku atau membosankan.

Bagi guru, ia adalah semangat baru yang mempertegas bahwa dakwah tak harus menunggu panggung besar; cukup dengan niat ikhlas dan kesediaan hadir di tengah mereka yang butuh bimbingan.

Muhammadiyah dan Akar Profetik

Gerakan ini sejatinya menyatu dengan semangat Muhammadiyah. Sejak KH Ahmad Dahlan memulai dakwahnya di lorong Kauman, Muhammadiyah sudah membawa gagasan Islam yang membumi dan memajukan. Pendidikan adalah instrumen dakwah, dan dakwah adalah jalan menuju pembentukan masyarakat berakhlak.

Konsep profetik sendiri yang dipopulerkan oleh Kuntowijoyo menekankan bahwa Islam bukan hanya untuk ibadah personal, tetapi juga untuk membangun peradaban. Dan peradaban tidak lahir dari manusia yang pintar saja, tapi dari manusia yang jujur, amanah, komunikatif, dan bijaksana.

MA Muhammadiyah Petta melalui Gerakan Pelajar Profetik sedang melaksanakan hal itu, bahkan dari daerah yang jauh dari sorotan nasional.

Tumbuh Perlahan, Menuju Harapan Besar

Gerakan ini memang belum sempurna. Masih ada siswa yang berkelit, guru yang kelelahan, atau orang tua yang belum sepenuhnya terlibat. Tapi seperti menanam benih di tanah keras, perubahan butuh kesabaran. Dan sejauh ini, tunas-tunas harapan mulai tumbuh.

Siswa yang dulunya pemalas mulai rajin salat. Yang dulu sinis terhadap guru, kini mulai menyapa lebih ramah. Ada yang dengan bangga menghafal satu halaman Qur’an dalam seminggu. Bahkan, beberapa siswa mulai bercita-cita menjadi guru atau da’i seperti Hanif.

Gerakan Pelajar Profetik bukan sekadar proyek tahunan. Ia adalah proses Panjang sebuah napas pendidikan Islam yang menekankan bahwa mendidik adalah menanam, bukan memetik. Dari tanah perbatasan seperti Sangihe, gerakan ini membuktikan bahwa pendidikan Islam berkemajuan tetap bisa tumbuh, berkembang, dan menerangi negeri.

Berita Terbaru

TKA, Wajah Asli Pendidikan Kita Yang Tak Rupawan

Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi bahan refleksi penting dalam diskursus pendidikan nasional. Di tengah euforia reformasi kurikulum dan perubahan sistem evaluasi, TKA hadir bukan...

Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat

Ustaz Muhammad Jazir, tokoh  Masjid Jogokariyan, adalah sosok inspiratif yang menunjukkan aksi dan peran nyata dalam dakwah dan gerakan umat. Beliau memberi pelajaran penting bahwa...

Ironi di Penghujung November: Perayaan Ekologis Namun Membiarkan Bencana

Penghujung November seharusnya menjadi momentum ekologis penting bagi umat manusia. Dua peringatan besar—Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28...

Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global

Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja? Penandatanganan MoU...

Teknologi Bisa Mengajar, tapi Hanya Guru yang Bisa Menyentuh Hati

Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kita semakin akrab dengan kelas daring, robot tutor, kecerdasan buatan, hingga platform belajar yang menyediakan ribuan video pembelajaran. Banyak yang...

Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah

Fenomena “gus-gusan” dalam dakwah digital semakin ramai dibicarakan. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh potongan video seorang “Gus” yang mengaitkan rokok merek Sampoerna dengan konsep...

Jangan Korbankan Lawu untuk Keserampangan Energi Hijau

Rencana pemanfaatan panas bumi di Jenawi, lereng Gunung Lawu, bukan sekadar urusan teknis energi. Ia adalah soal keselamatan ekologis, keberlanjutan ekonomi warga, dan kewarasan negara...

Menemukan Tenang di Tengah Badai: Spiritualitas sebagai Kunci Ketahanan Mental

Dalam menjalani kehidupan pasti manusia akan merasakan berbagai macam tekanan pada setiap aspek yang dia jalani. Misalnya, tekanan pada pekerjaan, seperti deadline yang ketat, tuntutan...

Latte Papa: Ayah, Kopi, dan Revolusi Sunyi

Fenomena Latte Papa atau Latte Dad di Swedia sering dianggap sepele: sekumpulan ayah muda yang terlihat mendorong stroller sambil menyesap segelas caffe latte di kafe-kafe...

Negeri yang Dijajah Tanpa Senapan

Daftar IsiGelar Tak Lagi SaktiKetika Data Menjadi Emas BaruSekolah untuk Dunia yang Sudah MatiTeknologi: Pembebasan atau Panggung Pencitraan?Budaya Terlupa, Akar DicabutSaatnya Sadar, Bangun, dan MelawanDi...

The Power of Al-Ma’tsurat: Penghancur Jin dalam Tubuh dan Tameng Spiritual yang Terlupakan

Bayangkan seseorang yang hidupnya terasa berat tanpa sebab yang jelas. Ia bangun pagi dengan tubuh lesu, pikirannya kacau, sering mimpi buruk, mudah marah, gelisah tanpa...

Mengungkap Dua Al-Masih: Isa sang Penyelamat, Dajjal sang Pendusta

Salah satu istilah yang menarik perhatian dalam diskursus keislaman adalah penggunaan kata “al-Masih” yang disematkan pada dua sosok yang sangat bertolak belakang: al-Masih Isa putra...

Leave a comment