
Rencana pemanfaatan panas bumi di Jenawi, lereng Gunung Lawu, bukan sekadar urusan teknis energi. Ia adalah soal keselamatan ekologis, keberlanjutan ekonomi warga, dan kewarasan negara dalam merancang transisi energi.
Masyarakat Solo-Raya layak menolak proyek geothermal ini bukan karena anti-kemajuan, tetapi karena bukti menunjukkan bahwa banyak proyek serupa meninggalkan kerusakan yang jauh lebih mahal daripada listrik yang dijanjikan.
Pertama-tama, mari berhenti memperlakukan geothermal sebagai energi yang suci dari risiko. Laporan CELIOS-WALHI 2024 mencatat pola berulang di banyak wilayah: pencemaran mata-air, rusaknya kesuburan tanah, hilangnya biodiversitas endemik, hingga insiden kebocoran gas beracun yang menewaskan warga.
Klaim “nol emisi” pun retak. Dalam fase konstruksi dan eksplorasi, emisi gas rumah kaca PLTP bisa setara dengan PLTU batubara, sebuah fakta yang tidak pernah muncul dalam brosur investor. Jika risiko itu terjadi di tempat lain, mengapa kita meyakini Lawu akan menjadi pengecualian?
Data lain menunjukkan pola serupa. Kajian A.M. Yanis (2019) mencatat bahwa proyek panas bumi di beberapa daerah menyebabkan pencemaran sumber air yang memengaruhi akses warga terhadap air bersih.
Sementara laporan jurnalisme Project Multatuli (2021) memperlihatkan bagaimana pembangunan geothermal di Jawa Barat diikuti menurunnya hasil panen, keruhnya mata-air, dan turunnya kualitas tanah. Di Sibayak, Sumatra Utara, studi tahun 2020 menunjukkan bahwa pendapatan warga justru turun karena banjir dan gangguan lingkungan setelah eksplorasi panas bumi berjalan.
Bagi Solo-Raya, data ini seharusnya cukup menyalakan alarm. Hampir semua kebutuhan hidup seperti, irigasi, pertanian, pariwisata, dan air minum bergantung pada stabilitas hidrologis Lawu. Gangguan kecil di hulu akan menjadi bencana di hilir. Tidak ada cadangan gunung lain yang bisa menggantikan peran ekologis Lawu.
Kedua, pembangunan PLTP bukan proyek tanpa ongkos sosial-ekonomi. Dalam kajian di Wae Sano, Sakoria, dan Ulumbu, kerugian pendapatan petani mencapai Rp470 miliar pada tahap pembangunan. Tahun berikutnya, output ekonomi masyarakat anjlok Rp1,09 triliun, dan lebih dari 50 ribu pekerjaan hilang. Angka ini menggambarkan satu hal: proyek panas bumi seringkali menghancurkan fondasi ekonomi agraris lebih cepat daripada ia menyediakan listrik.
Ekonomi Karanganyar dan wilayah pendukung Solo-Raya bertopang pada pertanian hortikultura, sayuran dataran tinggi, kopi, teh, dan wisata alam. Apa jadinya jika debit air turun? Dalam kasus geothermal lain di Indonesia, penurunan debit mata-air bukan spekulasi, tetapi fakta.
Pada akhirnya, investor tetap mendapat profitnya. Negara mendapat klaim “energi hijau”. Warga? Kehilangan air, lahan, dan penghasilan. Hal itu mengemuka dalam diskusi bersama para warga terdampak proyek geothermal di Ciremai, Dieng, dan perwakilan dari JagaLawu di Pendopo Panti ‘Aisyiyah Karanganyar, Kamis, (6/11/2025).
Catatan Panjang Konflik
Ketiga, proyek geothermal di Indonesia punya catatan panjang soal konflik sosial dan cacat partisipasi publik. IESR mencatat bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, proyek panas bumi hampir selalu memicu sengketa lahan dan ketidakpuasan warga karena pendekatan yang top-down. Sosialisasi biasanya dilakukan setelah keputusan besar diambil, bukan sebelum.
Jika proses yang sama diterapkan di Jenawi, maka konflik adalah konsekuensi, bukan kemungkinan. Kita juga tidak boleh lupa: Bank Dunia mundur dari proyek Wae Sano pada 2023 karena menilai risikonya terlalu besar bagi warga. Jika lembaga pembiayaan global yang dikenal ramah industri saja menganggap proyek geothermal berbahaya, mengapa kita mendadak begitu percaya diri?
Keempat, jalur hukum yang membuka keran eksploitasi panas bumi justru semakin memperkecil ruang hidup ekologis. UU 21/2014 menghapus status pertambangan dari panas bumi, sehingga kegiatan geothermal diperbolehkan masuk ke kawasan konservasi dan hutan lindung. Di Lawu, yang sebagian besar area hulu airnya berada di zona lindung, kebijakan ini adalah ancaman langsung.
Alih-alih memperketat perlindungan hutan, negara membuka pagar demi mengejar target megawatt. Kita belum pernah mendengar kawasan konservasi bertambah akibat transisi energi. Yang terjadi justru sebaliknya: hutan dibelah, tanah dibor, air dipertaruhkan.
Kelima, persoalan utang dan keuntungan juga tak bisa diabaikan. Banyak proyek geothermal, seperti PLTP Rantau Dedap yang dibiayai lebih dari US$540 juta oleh ADB dan JBIC, adalah proyek berbasis utang jangka panjang. Bila produksi tidak mencapai target atau terjadi kerusakan lingkungan, beban finansial tidak ditanggung investor, tetapi negara, dan akhirnya masyarakat.
Transisi energi macam apa yang membebankan risiko paling besar kepada yang paling kecil suaranya? Karena itu, menolak geothermal di Jenawi bukanlah soal menolak teknologi. Ini soal melindungi hulu air Solo-Raya, melindungi ekonomi petani, dan melindungi masa depan kota yang bergantung pada keseimbangan ekologis pegunungan.
Jika risiko-risiko itu terjadi di wilayah lain, tidak ada jaminan bahwa Lawu akan berbeda. Bahkan, karena fungsi ekologisnya yang kritis, dampaknya bisa lebih serius. Gunung Lawu bukan sekadar lanskap. Ia adalah sistem penopang kehidupan yang rumit, rapuh, dan tidak tergantikan. Ia menyimpan air untuk ratusan ribu orang. Ia menciptakan iklim mikro yang membuat sayuran Tawangmangu tumbuh.
Ia menjadi ruang spiritual yang menjaga tradisi, budaya, dan rasa keterhubungan warga dengan alam. Pengeboran panas bumi di Lawu berarti menempatkan seluruh struktur itu dalam perjudian teknologi yang belum pernah benar-benar aman.
Dengan rekam jejak kerusakan yang terus berulang di berbagai tempat, proyek geothermal di Jenawi terlalu berisiko untuk dianggap solusi. Solo-Raya berhak memilih masa depannya. Dan pilihan itu tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan gunung yang selama ini memberi tanpa meminta imbalan.
Warga pantas berkata: cukup. Karena transisi energi tidak boleh dibangun dari reruntuhan ekologisnya sendiri. Gunung Lawu harus tetap utuh, bukan sebagai monumen nostalgia, tetapi sebagai penyangga hidup yang paling nyata bagi masa kini dan generasi yang akan datang.
TKA, Wajah Asli Pendidikan Kita Yang Tak Rupawan
Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi bahan refleksi penting dalam diskursus pendidikan nasional. Di tengah euforia reformasi kurikulum dan perubahan sistem evaluasi, TKA hadir bukan...
Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat
Ustaz Muhammad Jazir, tokoh Masjid Jogokariyan, adalah sosok inspiratif yang menunjukkan aksi dan peran nyata dalam dakwah dan gerakan umat. Beliau memberi pelajaran penting bahwa...
Ironi di Penghujung November: Perayaan Ekologis Namun Membiarkan Bencana
Penghujung November seharusnya menjadi momentum ekologis penting bagi umat manusia. Dua peringatan besar—Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28...
Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global
Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja? Penandatanganan MoU...
Teknologi Bisa Mengajar, tapi Hanya Guru yang Bisa Menyentuh Hati
Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kita semakin akrab dengan kelas daring, robot tutor, kecerdasan buatan, hingga platform belajar yang menyediakan ribuan video pembelajaran. Banyak yang...
Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah
Fenomena “gus-gusan” dalam dakwah digital semakin ramai dibicarakan. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh potongan video seorang “Gus” yang mengaitkan rokok merek Sampoerna dengan konsep...
Menemukan Tenang di Tengah Badai: Spiritualitas sebagai Kunci Ketahanan Mental
Dalam menjalani kehidupan pasti manusia akan merasakan berbagai macam tekanan pada setiap aspek yang dia jalani. Misalnya, tekanan pada pekerjaan, seperti deadline yang ketat, tuntutan...
Latte Papa: Ayah, Kopi, dan Revolusi Sunyi
Fenomena Latte Papa atau Latte Dad di Swedia sering dianggap sepele: sekumpulan ayah muda yang terlihat mendorong stroller sambil menyesap segelas caffe latte di kafe-kafe...
Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan
Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe, berdiri sebuah madrasah kecil yang menyimpan harapan besar: Madrasah Aliyah Muhammadiyah Petta. Meski letaknya jauh dari pusat-pusat...
Negeri yang Dijajah Tanpa Senapan
Daftar IsiGelar Tak Lagi SaktiKetika Data Menjadi Emas BaruSekolah untuk Dunia yang Sudah MatiTeknologi: Pembebasan atau Panggung Pencitraan?Budaya Terlupa, Akar DicabutSaatnya Sadar, Bangun, dan MelawanDi...
The Power of Al-Ma’tsurat: Penghancur Jin dalam Tubuh dan Tameng Spiritual yang Terlupakan
Bayangkan seseorang yang hidupnya terasa berat tanpa sebab yang jelas. Ia bangun pagi dengan tubuh lesu, pikirannya kacau, sering mimpi buruk, mudah marah, gelisah tanpa...
Mengungkap Dua Al-Masih: Isa sang Penyelamat, Dajjal sang Pendusta
Salah satu istilah yang menarik perhatian dalam diskursus keislaman adalah penggunaan kata “al-Masih” yang disematkan pada dua sosok yang sangat bertolak belakang: al-Masih Isa putra...





