Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perspektif

Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah

Hanif Syairafi, Editor: Sholahuddin
Sabtu, 8 November 2025 18:53 WIB
Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Hanif Syairafi Wiratama (dok.pribadi).

Fenomena “gus-gusan” dalam dakwah digital semakin ramai dibicarakan. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh potongan video seorang “Gus” yang mengaitkan rokok merek Sampoerna dengan konsep tauhid. Ia menyebut, “Rokok Sampoerna itu melambangkan kesempurnaan Allah, karena kata Sampoerna artinya sempurna. Jadi kalau orang merokok Sampoerna, dia sedang mengingat kesempurnaan Allah.” Pernyataan ini sontak memantik gelombang kritik dan tawa warganet sekaligus membuka kembali perdebatan tentang batas antara dakwah yang kreatif dan dakwah yang ngawur.

Fenomena seperti ini menunjukkan bagaimana agama diperlakukan sebagai bahan konten, bukan lagi ruang refleksi dan pencerahan. Dakwah menjadi panggung performative di mana popularitas dan keunikan gaya berbicara lebih penting daripada ketepatan makna dan substansi pesan. Padahal, Islam adalah agama ilmu. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan memahamkannya dalam urusan agama.” (H.R. Bukhari dan Muslim).  Artinya, pemahaman agama menuntut kedalaman, bukan sekadar kata-kata manis yang viral.

Cocoklogi atau confirmation bias (bias konfirmasi) dalam konteks dakwah adalah upaya mencocok-cocokkan simbol atau benda duniawi dengan makna teologis tanpa dasar ilmiah maupun dalil yang kuat. Dalam kasus “rokok dan tauhid” ini, analogi yang digunakan bukan hanya lemah, tetapi juga menyesatkan.

Rokok, dalam berbagai fatwa dan kajian fikih kontemporer, bahkan banyak disebut sebagai perbuatan yang makruh hingga haram karena mudaratnya bagi kesehatan. Maka, menghubungkan rokok dengan ketauhidan justru berpotensi mengaburkan nilai-nilai moral Islam itu sendiri.

Dalam teori etika dakwah Islam yang dijelaskan oleh Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, seorang dai harus menjaga kejujuran epistemik: menyampaikan kebenaran berdasarkan ilmu, bukan sekadar analogi lucu yang mengundang tepuk tangan jemaah. Al-Ghazali menegaskan bahwa “orang yang berbicara tentang agama tanpa ilmu adalah termasuk golongan yang menyesatkan.”

Fenomena “gus-gusan” hari ini memperlihatkan apa yang oleh Moeslim Abdurrahman sebut sebagai “agama yang kehilangan roh sosialnya”, agama yang tidak lagi membebaskan, tetapi menjadi komoditas hiburan.

Dari Dakwah Substantif ke Dakwah Sensasional

Fenomena ini dapat dibaca dari kacamata sosiologi komunikasi Islam. Menurut Syed Hussein Alatas, masyarakat yang kehilangan tradisi intelektual, akan mudah terjebak dalam budaya simbolis di mana sesuatu dianggap benar karena populer, bukan karena benar secara epistemik. Dalam konteks ini, banyak “Gus” atau ustaz muda yang bertransformasi menjadi influencer spiritual, mengandalkan sensasi, metafora aneh, dan gaya humoris agar viral. Mereka menganggap popularitas di media sosial sebagai ukuran keberhasilan dakwah. Padahal, Islam mengajarkan ikhlas lillahi ta’ala, bukan ikhlas demi views dan subscriber.

Sebagaimana dikatakan Paulo Freire dalam teori Pedagogi Kaum Tertindas, pendidikan (termasuk dakwah) seharusnya membebaskan kesadaran manusia dari kebodohan dan penindasan, bukan meninabobokkan dengan cocoklogi dangkal. Dakwah yang baik harusnya menumbuhkan kesadaran kritis (critical consciousness), bukan menciptakan jemaah yang tertawa tapi tidak tercerahkan.

Ketika cocoklogi seperti ini dibiarkan, kita sebenarnya sedang menghadapi pendangkalan teologis yang serius. Konsep tauhid, yang menjadi inti ajaran Islam, direduksi menjadi sekadar kata sempurna yang ditempelkan pada bungkus rokok. Padahal, tauhid adalah kesadaran eksistensial bahwa hanya Allah Yang Esa, tanpa sekutu dan tanpa keserupaan.

Muhammad Iqbal, dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam, menegaskan bahwa tauhid adalah basis kebebasan dan kemanusiaan. Ia bukan simbol atau nama benda, melainkan kesadaran batin yang menuntun manusia untuk hidup adil dan bertanggung jawab. Menyederhanakan konsep setinggi itu menjadi “rokok Sampoerna = kesempurnaan Allah” adalah bentuk profanisasi ajaran suci.

Analogi ini salah kaprah bukan karena melarang penggunaan simbol dalam dakwah, tetapi karena menyalahgunakan simbol untuk legitimasi perilaku duniawi yang bermasalah. Sama halnya jika seseorang berkata “minum kopi itu ibadah karena Nabi suka hal yang pahit”—padahal konteksnya tidak nyambung sama sekali.

Dalam tradisi dakwah Muhammadiyah dan para pemikir Islam progresif seperti A. Malik Fadjar atau Haedar Nashir, dakwah dipahami sebagai gerakan pencerahan (tanwir), bukan sekadar orasi. Dakwah yang mencerahkan mengajak umat berpikir kritis, memahami nilai Islam secara kontekstual, dan menegakkan kebenaran dengan ilmu. Dakwah bukanlah panggung stand-up comedy yang harus selalu lucu, melainkan ruang edukasi rohani dan sosial. Ketika seorang dai berbicara, ia memikul tanggung jawab moral dan intelektual. Karena setiap kata yang keluar dari mulut seorang pendakwah bisa menjadi petunjuk atau justru kesesatan bagi umat.

Maka, fenomena “gus-gusan cocoklogi” perlu dilihat bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan gejala krisis intelektual keagamaan. Krisis ini lahir karena banyak yang ingin jadi “penceramah” tanpa menjadi “pencari ilmu.” Sudah saatnya umat Islam kembali menata arah dakwah. Kita membutuhkan lebih banyak ulama intelektual, bukan seleb agama. Kita butuh dakwah yang mengajarkan logika dan cinta ilmu, bukan yang mengaburkan antara rokok dan tauhid.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” Ayat ini jelas menegaskan bahwa hikmah (kebijaksanaan dan ilmu) adalah fondasi dakwah. Hikmah tidak lahir dari cocoklogi, melainkan dari perenungan, pembelajaran, dan kejujuran berpikir.

Fenomena “gus” yang mengaitkan rokok dengan tauhid seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Di era digital ini, agama bisa disalahgunakan untuk konten, jika masyarakat tidak kritis dan para dai tidak berilmu. Cocoklogi semacam ini bukan bentuk kreativitas, melainkan salah kaprah epistemik yang berbahaya.

Rokok tetaplah rokok. Ia tidak akan menjadi “sarana zikir” hanya karena diberi nama “Sampoerna”. Tauhid adalah kesempurnaan yang tak bisa disamakan dengan apa pun apalagi dengan asap yang menyesakkan paru dan akal sehat.  Dakwah bukan tentang siapa yang paling lucu, paling viral, atau paling nyentrik, tapi tentang siapa yang paling jujur dalam menyampaikan kebenaran. Karena pada akhirnya, tauhid sejati bukan di bungkus rokok, tapi di kedalaman hati dan akal yang tercerahkan.

Penulis adalah kader Muhammadiyah

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

TKA, Wajah Asli Pendidikan Kita Yang Tak Rupawan

Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi bahan refleksi penting dalam diskursus pendidikan nasional. Di tengah euforia reformasi kurikulum dan perubahan sistem evaluasi, TKA hadir bukan...

Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat

Ustaz Muhammad Jazir, tokoh  Masjid Jogokariyan, adalah sosok inspiratif yang menunjukkan aksi dan peran nyata dalam dakwah dan gerakan umat. Beliau memberi pelajaran penting bahwa...

Ironi di Penghujung November: Perayaan Ekologis Namun Membiarkan Bencana

Penghujung November seharusnya menjadi momentum ekologis penting bagi umat manusia. Dua peringatan besar—Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28...

Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global

Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja? Penandatanganan MoU...

Teknologi Bisa Mengajar, tapi Hanya Guru yang Bisa Menyentuh Hati

Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kita semakin akrab dengan kelas daring, robot tutor, kecerdasan buatan, hingga platform belajar yang menyediakan ribuan video pembelajaran. Banyak yang...

Jangan Korbankan Lawu untuk Keserampangan Energi Hijau

Rencana pemanfaatan panas bumi di Jenawi, lereng Gunung Lawu, bukan sekadar urusan teknis energi. Ia adalah soal keselamatan ekologis, keberlanjutan ekonomi warga, dan kewarasan negara...

Menemukan Tenang di Tengah Badai: Spiritualitas sebagai Kunci Ketahanan Mental

Dalam menjalani kehidupan pasti manusia akan merasakan berbagai macam tekanan pada setiap aspek yang dia jalani. Misalnya, tekanan pada pekerjaan, seperti deadline yang ketat, tuntutan...

Latte Papa: Ayah, Kopi, dan Revolusi Sunyi

Fenomena Latte Papa atau Latte Dad di Swedia sering dianggap sepele: sekumpulan ayah muda yang terlihat mendorong stroller sambil menyesap segelas caffe latte di kafe-kafe...

Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan

Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe, berdiri sebuah madrasah kecil yang menyimpan harapan besar: Madrasah Aliyah Muhammadiyah Petta. Meski letaknya jauh dari pusat-pusat...

Negeri yang Dijajah Tanpa Senapan

Daftar IsiGelar Tak Lagi SaktiKetika Data Menjadi Emas BaruSekolah untuk Dunia yang Sudah MatiTeknologi: Pembebasan atau Panggung Pencitraan?Budaya Terlupa, Akar DicabutSaatnya Sadar, Bangun, dan MelawanDi...

The Power of Al-Ma’tsurat: Penghancur Jin dalam Tubuh dan Tameng Spiritual yang Terlupakan

Bayangkan seseorang yang hidupnya terasa berat tanpa sebab yang jelas. Ia bangun pagi dengan tubuh lesu, pikirannya kacau, sering mimpi buruk, mudah marah, gelisah tanpa...

Mengungkap Dua Al-Masih: Isa sang Penyelamat, Dajjal sang Pendusta

Salah satu istilah yang menarik perhatian dalam diskursus keislaman adalah penggunaan kata “al-Masih” yang disematkan pada dua sosok yang sangat bertolak belakang: al-Masih Isa putra...

Leave a comment