Inovasi sekolah secara sederhana dapat dipahami sebagai proses perubahan yang dilakukan secara terencana dan sistematis(by design) dalam rangka memperbaiki kinerja dan kualitas layanan sekolah. Proses inovasi berjalan karena adanya penemuan hal-hal baru baik dalam dalam bentuk gagasan, metode ataupun alat yang diperkenalkan dan diterapkan dalam proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Eksistensi sekolah akan terus terjaga, bahkan dapat semakin kuat apabila kepala sekolah sebagai pengelola dan pimpinan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) sebagai penyelenggara pendidikan di Muhammadiyah memiliki kesatuan pandangan (satu visi) bahwa inovasi sekolah bukan suatu pilihan yang sifatnya opsional; inovasi atau stagnasi, tetapi merupakan suatu keniscayaan, suatu keharusan. Sekolah yang memilih jalan stagnasi, sekadar mempertahankan tradisi dan kebiasaan yang telah ada, cepat atau lambat akan ditinggalkan oleh pelanggan, ditolak warga masyarakat.
Mengapa inovasi sekolah menjadi suatu keniscayaan? Penemuan baru dalam lapangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak pada percepatan perubahan pandangan masyarakat dalam menentukan pilihan pendidikan dan dalam memilih sekolah untuk putra-putrinya. Secara sosiologis, sekolah merupakan cerminan dari aspirasi warga masyarakat. Oleh karena itu, eksistensi sekolah akan menurun bahkan menghilang apabila kehadiran sekolah tidak mampu menyahuti aspirasi warga masyarakat yang terus berubah.
Inovasi Tanpa Biaya
Di kalangan praktisi pendidikan, tidak terkecuali di lingkungan Muhammadiyah, belakangan ini menyeruak suatu arus pemikiran yang menolak inovasi. Para penolak inovasi beralasan bahwa inovasi memerlukan modal (uang) besar, inovasi berkaitan dengan pembelian perkakas pendidikan tercanggih, inovasi berkaitan dengan pembangunan gedung megah, inovasi berjalan bila gaji guru sudah besar di atas UMR, inovasi memerlukan dukungan stakeholder dan sederat alasan bisa ditambahkan untuk alasan menolak inovasi.
Demikian rangkaian alasan yang dikemukan oleh pihak-pihak yang menolak adanya inovasi sekolah. Ringkasnya, mereka menolak inovasi karena tidak ada (mempunyai) uang. Orang yang berpandangan demikian ketika tersedia uang sekalipun mereka tidak akan menggunakan untuk membiayai inovasi sekolah, tetapi untuk hal-hal lain yang tidak terkait dengan pengembangan sekolah. Mengapa? Karena ketiadaan uang hanya alasan saja untuk mengelak berinovasi.
Sebagaimana dijelaskan di awal, inovasi berkaitan dengan penemuan hal-hal baru bisa dalam bentuk gagasan, metode ataupun alat yang diperkenalkan dan diterapkan dalam proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Inovasi dalam bentuk perubahan dan penemuan idea-idea baru tidak memerlukan uang serupiah-pun.
Modal pertama dan utama proses inovasi pada hakikatnya adalah perubahan gagasan, perubahan cara berpikir, perubahan cara bersikap, dan perubahan dalam bertindak yang dalam implementasi tidak memerlukan biaya. Dalam teori pengembangan sekolah (school development), inovasi demikian disebut dengan perubahan budaya sekolah.
Inovasi sekolah yang menjadikan perubahan budaya sebagai titik awal dan sasaran utama perubahan sangat tepat dan bernilai strategis. Mengapa?. Karena pada umumnya sekolah yang kualitas layanan pendidikan rendah pada umumnya memilki budaya yang tidak kondusif, seperti tidak ada rasa saling percaya antarguru dengan guru lain, antara kepala sekolah dengan guru, demikian pula sebaliknya, yang berkembang adalah budaya saling menyalahkan dan cuci tangan tidak berbuat salah.
Kondisi sekolah yang demikian tidak memerlukan inovasi alat/fisik dengan pembangunan gedung megah yang memerlukan anggaran tidak kecil. Yang sangat dibutuhkan adalah seorang pimpinan sekolah yang mampu mengubah budaya sekolah dan perubahan itu dimulai dari dirinya sendiri, dimulai dari satu atau dua guru yang memiliki perhatian/visi yang sama.
Mengubah cara berpikir, bersikap, dan bertindak bahwa kehadiran kepala sekolah untuk melayani guru seoptimal sehingga guru-guru mampu melayani para siswa dengan sepenuh hati dan totalitas. Dengan begitu kepala sekolah harus terbuka dan mengajak guru untuk berbicara bahkan mengkritik dirinya. Alasannya jelas, seorang pelayan harus memahami dengan harapan dari yang akan dilayani.
Kepala sekolah sebagai pelayan guru-guru di sekolah harus berempati dengan kebutuhan dan aspirasi guru. Dengan cara demikian akan tercipta suasana demokratis di sekolah, semua warga sekolah merasa ikut memiliki sekolah sehingga sesuai dengan tanggung jawab dan tupoksi akan menjaga eksistensi dan nama baik sekolah. Seorang pimpinan sekolah demikian juga pimpinan Majelis Dikdasmen berlatih mendengar, bukan hanya berbicara, suara-suara dari warga yang dipimpin
Studi Tiru Tepat Sasaran
Belakangan aktivitas studi tiru atau kadangkala disebut ATM (amati, tiru, modifikasi) sangat marak. Umumnya yang dijadikan objek studi tiru adalah adalah sekolah-sekolah yang telah baik, sekolah yang sudah mapan, sekolah yang telah melampau kriteria minimal delapan (8) Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Sementara itu, sekolah yang melakukan studi tiru pada umumnya adalah sekolah yang dalam proses pengembangan, sekolah dalam proses perintisan baik dari sisi sarana prasarana maupun gaji guru masih terbatas, masih minimalis. Dengan begitu memunculkan jurang yang terlalu jauh antara sekolah yang berstudi tiru dengan sekolah yang dijadikan objek studi tiru.
Baca juga: Makna Milad Sekolah
Jurang yang terlalu jauh antara objek studi tiru, sekolah yang dikunjungi, dengan sekolah yang melakukan studi tiru seringkali memunculkan sikap negatif sebagai suatu mekanisme pertahanan diri untuk tidak berinovasi. Setelah selesai kunjungan, bukannya memacu diri berinovasi malah semakin tenggelam dalam keterbelakangan, tenggelam dalam stagnasi.
“Mereka menjadi sekolah unggul karena gaji guru tinggi, sementara di sekolah kita gaji guru sangat rendah,” celetuk seorang guru. Guru lain berkata, “Gedungnya megah dan mewah dengan sarana sangat lengkap, sementara sekolah kita?” Ungkapan-ungkapan demikian mencerminkan sikap yang tidak bersahabat dengan inovasi.
Untuk mengatasi dan mengantisipasi permasalahan tersebut, maka setelah berlangsung studi tiru harus dilakukan evaluasi dan dialog bersama warga sekolah sisi mana yang bisa di tiru dari sekolah yang dikunjungi. Sebenarnya sekolah yang dikunjungi tidak perlu jauh-jauh, sesuaikan saja dengan hal-hal apa yang menjadi masalah sekolah yang akan diperbaiki.
Pilihan studi tiru tidak harus jauh, perlu disesuaikan dengan kebutuhan inovasi apa yang diperlukan sekolah. Berangkat dari kebutuhan itu, maka dipilihlah sekolah yang dijadikan objek tiru, sesuai dengan kebutuhan sekolah, bukan sekadar keinginan kepala sekolah atau guru-guru. Dengan demikian, studi tiru tidak harus mengeluarkan biaya banyak tetapi tepat sasaran.
Perlu ditegaskan bahwa inovasi sekolah harus dilakukan secara terencana dan sistematis (by design) sehingga kinerja dan kualitas layanan pendidikan benar-benar berkualitas. Perubahan budaya sekolah harus menjadi perhatian pertama dan utama karena di situ terletak jantung perubahan sekolah. Dengan demikian inovasi sekolah dapat dilakukan siapa pun dan kapan pun di bawah kepemimpinan sekolah yang visioner dan berpandangan holistik.
Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Solo
Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026
Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...
Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan
Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...
Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah
Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...
Puasa Sepanjang Tahun
Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...
Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka
Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....
Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka
Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...
Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih
Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...
Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”
Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...
Muhammadiyah dan Rokok…
Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...






