Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Soleh Amini Yahman, Editor: Sholahuddin
Kamis, 19 Maret 2026 11:25 WIB
Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Soleh Amini Yahman [Dok. pribadi].

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang dengan lebih sungguh, dan hati diam-diam bertanya: akankah aku dipertemukan lagi dengan Ramadan berikutnya ? Di ambang perpisahan itulah, Idulfitri perlahan mendekat membawa kabar tentang harapan, ampunan, dan kemenangan.

Idulfitri 1447 Hijriah bukan sekadar perayaan tahunan yang datang dan pergi. Ia adalah momentum rohani, sebuah titik temu antara perjalanan panjang menahan diri dan harapan untuk kembali kepada kesucian. Selama sebulan penuh, umat Islam ditempa dalam madrasah Ramadan menahan lapar dan dahaga, mengendalikan amarah, menjaga lisan, serta memperbanyak ibadah. Semua itu bukan tujuan akhir, melainkan jalan untuk menata ulang hati agar lebih dekat kepada Allah Swt.

Kemenangan yang kita sambut di hari raya ini bukanlah kemenangan yang tampak di permukaan. Ia tidak diukur dari gemerlap pakaian baru atau hidangan yang tersaji di meja. Kemenangan sejati adalah ketika hati menjadi lebih lembut, jiwa lebih tenang, dan langkah hidup lebih terarah. Ia hadir saat seseorang mampu menundukkan egonya, memaafkan dengan tulus, dan menahan diri dari hal-hal yang dulu begitu mudah dilakukan.

Pagi Idulfitri adalah saksi dari perubahan itu. Takbir berkumandang, menggema dari masjid ke masjid, dari rumah ke rumah, menggetarkan ruang batin setiap insan beriman. Kalimat   Allahu Akbar bukan sekadar lantunan, tetapi pengakuan bahwa di atas segala kesibukan dunia, ada kebesaran Allah yang seharusnya menjadi pusat hidup kita. Di saat itulah, manusia diajak untuk merendah menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Sang Pencipta.

Di hari yang fitri, tangan-tangan saling berjabat. Kata maaf diucapkan, bukan sekadar formalitas, melainkan sebagai upaya membersihkan hati dari segala prasangka dan luka. Idulfitri mengajarkan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan, tetapi memilih untuk tidak lagi membiarkan luka menguasai jiwa. Dalam keikhlasan itulah, hubungan yang sempat renggang dapat kembali terjalin, dan persaudaraan menemukan maknanya yang sejati.

Tidak hanya itu, Idulfitri juga mengingatkan kita pada pentingnya berbagi. Zakat fitrah yang ditunaikan sebelum hari raya menjadi simbol bahwa kebahagiaan tidak boleh dinikmati sendiri. Ada saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan, yang menanti senyum di hari kemenangan. Dalam setiap butir beras yang diberikan, tersimpan doa dan harapan agar semua dapat merasakan kebahagiaan yang sama.

Lebih dalam lagi, Idulfitri adalah tentang kembali kepada fitrah. Dalam ajaran Islam, manusia dilahirkan dalam keadaan suci, membawa potensi kebaikan yang murni. Namun,  perjalanan hidup sering kali menjauhkan kita dari kesucian itu. Dosa, kesalahan, dan kelalaian perlahan menumpuk, mengaburkan cahaya hati. Ramadan hadir sebagai proses pembersihan, dan Idulfitri menjadi tanda bahwa pintu kembali itu selalu terbuka.

Rasulullah Saw. mengingatkan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka Idulfitri adalah kesempatan untuk kembali menjadi diri yang lebih jujur, lebih bersih, dan lebih dekat kepada Allah. Ia bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari komitmen baru untuk menjaga apa yang telah diperoleh selama Ramadan.

Pertanyaannya kemudian, apakah nilai-nilai itu akan kita bawa setelah hari raya usai? Ataukah ia hanya menjadi kenangan musiman yang perlahan memudar? Kesabaran yang dilatih selama berpuasa, keikhlasan dalam beribadah, dan kepedulian terhadap sesama seharusnya tidak berhenti di penghujung Ramadan. Justru di situlah ujian sebenarnya dimulai, bagaimana kita menjaga konsistensi dalam kehidupan sehari-hari.

Idulfitri mengajarkan keseimbangan: antara kebahagiaan dan kesederhanaan, antara perayaan dan perenungan. Kita dianjurkan untuk mengenakan pakaian terbaik, tetapi tetap menjaga kerendahan hati. Kita merayakan dengan suka cita, tetapi tidak berlebihan. Semua itu mengarah pada satu tujuan: agar hari raya tetap menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan justru menjauhkan.

Kini, saat Idulfitri 1447 Hijriah benar-benar di depan mata, marilah kita menyambutnya dengan hati yang lapang. Bukan hanya dengan persiapan lahiriah, tetapi juga dengan kesiapan batin. Kita songsong hari kemenangan ini dengan syukur, dengan harapan, dan dengan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga kita termasuk orang-orang yang benar-benar kembali kepada fitrah, kembali kepada kebaikan, dan kembali kepada Allah dengan hati yang bersih.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat menyambut Idulfitri 1447 Hijriah. Semoga kemenangan ini menjadi awal bagi kehidupan yang lebih bermakna.

Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi UMS, Pengurus Majelis Pustaka Informasi PDM Surakarta.

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka

Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...

Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)

Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...

Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain

Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...

Dingin…

Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...

Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas

Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...

Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...

Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...

Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan

Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....

Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah

Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...

Peta Mutu Pendidikan Kota Solo

Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....

Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing

Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...

Politeisme Politik Indonesia

Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...