Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kesehatan

Mengapa Serangan Jantung Sering Meningkat Setelah Iduladha?

Prima Trisna Aji, Editor: Sholahuddin
Jumat, 29 Mei 2026 14:38 WIB
Mengapa Serangan Jantung Sering Meningkat Setelah Iduladha?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Prima Trisna Aji (Dok. pribadi).

Asap sate mulai mengepul sejak Rabu (27/5/2026) pagi. Aroma gulai dan tongseng memenuhi sudut-sudut kampung. Di banyak rumah, Iduladha selalu identik dengan pesta makan bersama keluarga. Daging kurban diolah menjadi beragam hidangan menggoda yang disantap tanpa banyak batas. Grup media sosial dipenuhi foto bakaran sate, tengkleng, hingga gulai kambing yang tampak menggugah selera.

Namun,  di balik suasana hangat tersebut, ruang instalasi gawat darurat rumah sakit sering menyimpan cerita berbeda. Tidak sedikit pasien datang dengan keluhan nyeri dada mendadak, sesak napas, tekanan darah melonjak, bahkan serangan jantung akut beberapa hari setelah perayaan Iduladha. Fenomena ini terus berulang hampir setiap tahun dan menjadi alarm serius bagi kesehatan masyarakat modern.

Beberapa waktu lalu, seorang pria berusia 44 tahun datang ke instalasi gawat darurat dengan kondisi nyeri dada hebat yang menjalar ke lengan kiri. Dua hari sebelumnya, ia menghadiri beberapa acara bakar sate bersama keluarga dan rekan kerja. Selama perayaan, ia mengaku mengonsumsi sate kambing, gulai, jeroan, dan minuman manis hampir tanpa kontrol. Ia juga memiliki riwayat hipertensi, tetapi jarang meminum obat secara rutin karena merasa tubuhnya masih kuat bekerja.

Awalnya ia mengira nyeri tersebut hanya masuk angin biasa. Namun,  hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyumbatan pembuluh darah koroner yang memicu serangan jantung akut. Kondisi seperti ini bukan cerita langka di dunia medis. Banyak pasien baru menyadari dirinya memiliki penyakit kardiovaskular setelah tubuh mengalami kondisi kegawatdaruratan.

Masalah utamanya sebenarnya bukan terletak pada daging kurban. Daging tetap merupakan sumber protein yang bermanfaat bagi tubuh jika dikonsumsi secara wajar. Persoalan muncul ketika budaya konsumsi berlebihan bertemu dengan gaya hidup modern yang tidak sehat. Masyarakat saat ini hidup dalam tekanan pekerjaan tinggi, kurang olahraga, minim istirahat, stres berkepanjangan, dan pola makan yang semakin tidak terkendali. Ketika Iduladha datang, tubuh yang sebenarnya sudah “kelelahan metabolik” dipaksa menerima lonjakan lemak, kolesterol, garam, dan kalori secara mendadak.

Menyerang Usia Muda

Penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa penyakit jantung kini semakin banyak menyerang usia produktif. Studi yang dipublikasikan dalam World Health Organization menyebutkan bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Faktor risiko terbesar berasal dari hipertensi, pola makan tinggi lemak jenuh, obesitas, kurang aktivitas fisik, dan stres kronis.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology juga menunjukkan bahwa konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan natrium dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko inflamasi pembuluh darah, lonjakan tekanan darah, serta ketidakstabilan plak aterosklerosis yang berujung pada serangan jantung akut, terutama pada individu dengan faktor risiko tersembunyi.

Ironisnya, banyak masyarakat merasa dirinya sehat hanya karena masih mampu bekerja dan beraktivitas setiap hari. Padahal hipertensi dikenal sebagai silent killer (pembunuh diam-diam) karena sering tidak menimbulkan gejala jelas. Kolesterol tinggi pun kerap berkembang tanpa keluhan berarti. Ketika pola konsumsi ekstrem terjadi pada momen tertentu seperti Iduladha, tubuh yang selama ini tampak baik-baik saja dapat tiba-tiba mengalami kegagalan sistem kardiovaskular.

Fenomena ini diperparah oleh budaya sosial masyarakat modern. Makanan kini tidak lagi sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga simbol kebahagiaan dan kemeriahan. Semakin banyak daging tersaji, semakin dianggap lengkap sebuah perayaan. Media sosial bahkan ikut memperkuat budaya tersebut. Banyak orang berlomba menampilkan hidangan mewah tanpa sadar bahwa tubuh memiliki batas kemampuan metabolik.

Padahal, esensi Iduladha sejatinya bukanlah tentang pesta makan tanpa kendali. Hari raya ini mengajarkan pengorbanan, kesederhanaan, kepedulian sosial, dan kemampuan mengendalikan diri. Sangat ironis apabila momentum spiritual justru berubah menjadi pemicu meningkatnya penyakit degeneratif akibat pola hidup yang tidak sehat.

Karena itu, sudah saatnya masyarakat memaknai Iduladha secara lebih bijaksana. Mengonsumsi daging tentu bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi perlu dilakukan dengan cara yang sehat dan proporsional. Pengolahan makanan rendah santan dan rendah garam perlu mulai dibiasakan. Konsumsi jeroan sebaiknya dibatasi, terutama pada individu dengan hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi. Aktivitas fisik ringan setelah makan, memperbanyak konsumsi air putih, sayur, dan buah juga menjadi langkah sederhana yang sangat penting.

Selain itu, kesadaran melakukan pemeriksaan kesehatan rutin harus ditingkatkan. Banyak orang baru memeriksa tekanan darah, gula darah, atau kolesterol setelah jatuh sakit. Padahal deteksi dini dapat mencegah komplikasi yang jauh lebih berat. Pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh agama, dan media massa perlu bersama-sama memperkuat edukasi kesehatan menjelang hari raya keagamaan agar masyarakat tidak hanya memahami makna spiritual Iduladha, tetapi juga mampu menjalani perayaan secara sehat.

Pada akhirnya, ancaman terbesar kesehatan modern bukanlah sate atau gulai itu sendiri, melainkan ketidakmampuan manusia mengendalikan pola hidupnya. Sebab, perayaan yang paling bermakna bukan hanya tentang meja makan yang penuh, tetapi juga tentang tubuh yang tetap sehat untuk menikmati kebersamaan bersama keluarga dalam waktu yang lebih panjang.

 Penulis adalah dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

RS PKU Muhammadiyah Surakarta Tebar Daging Kurban untuk Warga hingga PKL

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — RS PKU Muhammadiyah Surakarta melaksanakan penyembelihan hewan kurban Iduladha 1447 Hijriah di Taman Parkir Karyawan RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Kamis (28/5/2026). Kegiatan...

Tiga Kali Beruntun Raih Platinum, RS PKU Muhammadiyah Surakarta Jadi Role Model P2HIV/AIDS Nasional

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — RS PKU Muhammadiyah Surakarta meraih penghargaan kategori Platinum dari Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia dalam Program Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS (P2HIV/AIDS) di tempat...

Teliti Risiko Jatuh Pasien Diabetes, Dosen UMS Raih Penghargaan di IPTRS Bangkok

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dosen Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dwi Rosella Komala Sari, meraih penghargaan Outstanding Oral Presentation dalam International Physiotherapy Research Symposium...

Startup Karya Alumni UMS Ini Ingin Ubah Cara Ahli Gizi Indonesia Bekerja

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – NutriAI Pro, platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk profesi ahli gizi, resmi diluncurkan melalui webinar bertajuk “Resolusi Gizi Berbasis...

MDMC dan Aisyiyah Joyotakan Bersinergi, Bawa Layanan Kesehatan ke Permukiman Pascabanjir

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Sepekan setelah banjir melanda wilayah Solo dan sekitarnya pada 15/4/2026, sejumlah lembaga Muhammadiyah bersinergi memberikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak. Pemeriksaan kesehatan...

Hari Kartini, RS PKU Muhammadiyah Surakarta Edukasi Ibu soal Perawatan Bayi

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – RS PKU Muhammadiyah Surakarta menggelar edukasi kesehatan interaktif “Smart Mom: Panduan Aman Perawatan Bayi 0–1 Tahun” bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Sabtu...

Hangatnya Syawalan Istri Pegawai RS PKU Muhammadiyah Surakarta

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Suasana hangat dan penuh keakraban terasa di Aula RS PKU Muhammadiyah Surakarta pada Selasa, (14/4/2026). Dalam momentum Syawal, sebanyak 32 istri dokter dan pejabat...

RS PKU Muhammadiyah Surakarta Gelar Sosialisasi Anti Fraud Pelayanan Kesehatan

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—RS PKU Muhammadiyah Surakarta bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surakarta dan BPJS Kesehatan Cabang Surakarta menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Anti Fraud dalam Pelayanan Kesehatan,...

Komunitas Grup Sehat dan Semangat RS PKU Muhammadiyah Surakarta Rayakan HUT Kelima

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Komunitas Grup Sehat dan Semangat (GSS) RS PKU Muhammadiyah Surakarta menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-5 yang dirangkaikan dengan kegiatan halal bihalal serta...

Lewat Workshop, RS PKU Muhammadiyah Surakarta Tingkatkan Mutu dan Keselamatan Pasien

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—RS PKU Muhammadiyah Surakarta menyelenggarakan Workshop Implementasi Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP), Rabu–Kamis, (1-2/4/2026) di Aula RS. Kegiatan ini dibuka Direktur RS PKU...

RS PKU Muhammadiyah Surakarta Semarakkan Ramadan lewat Kegiatan Sosial dan Keagamaan

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—RS PKU Muhammadiyah Surakarta menyemarakkan bulan suci Ramadan dengan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang melibatkan direksi, civitas rumah sakit, serta masyarakat sekitar. Salah...

UMS Lantik 30 Dokter Baru, Siap Layani Pasien dengan Senyum dan Sabar

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Program Profesi Dokter (PPD) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS) menggelar upacara pelantikan dan pengambilan sumpah profesi dokter ke-57, Rabu (4/3/2026), di Hotel...