“Sudah disentor toiletnya Pak?”. Demikian tanya pramugari Pesawat Garuda, sesaat saya keluar dari toilet untuk buang air kecil. “Yaa sudahlah, mosok belum, ” jawabku agak ketus. Wah, pramugari ini, mengira saya tidak berpengalaman naik pesawat. Seketika, saya agak mendongkol. Pramugari itu telah “men-downgrade” saya.
Namun, setelah saya perhatikan gerak gerik pramugari yang senantiasa memastikan toilet tidak bau pesing itu, saya agak menyesal menjawab pramugari itu dengan agak ketus. Iya, beberapa pramugari itu senantiasa membersihkan toilet setelah digunakan para penumpang pesawat calon haji. Wajah cantik, bau wangi, dan pakaian muslimah rapi itu, tidak menghalangi dia untuk senantiasa bertindak sebagai pembersih toilet.
Para pramugari itu senantiasa memantau siapa yang ke toilet, dan ia terjun langsung membersihkan kondisi toilet. Terlihat mereka sibuk mengambil serbet (mungkin tisu tebal) digunakan untuk mengelap lantai toilet. Setelah itu, diambil semprot-semprot wewangian agar toilet tidak pesing.
Dari raut wajahnya, saya melihat berat melakukan itu, tapi karena tuntutan profesionalitas, ia lakukan. Tampak, pramugari itu, meski berat tapi tetap ikhlas. Saya meyakini, para pramugari itu telah dilatih secara khusus melayani para tamu Allah, jemaah haji. Termasuk dalam menjaga toilet tetap bersih.
Baca juga: Membangun Kecerdasan Spiritual Bangsa
Maklum, para jemaah haji itu banyak yang berasal dari desa. Sudah sepuh dan tidak paham penggunaan toilet pesawat. Konon, pernah terjadi, karena jemaah haji tidak paham penggunaan toilet, ia melakukan buang air besar di lantai toilet, bukan di closet. Tentu, berat banget tugas pramugari pesawat pengangkut jemaah haji. Bisa membayangin, bagaimana sulitnya menimpal kotoran manusia dalam pesawat.
Tentu saat pramugari nanya saya, sudah menyentor atau belum, itu berdasarkan kebiasaan yang terjadi karena ada calon jemaah haji yang telah menggunakan toilet dan tidak atau belum menyentornya. Dalam alam bawah sadar pramugari terekam, seolah semua calon jamaah haji tidak bisa penggunaan toilet pesawat, termasuk saya. Akhirnya saya dapat memaklumi, pertanyaan “Sudah disentor Pak” tadi. Pertanyaan itu muncul karena tanggungjawabnya.
Kelakuan Pejabat
Dari kisah pramugari itu, saya teringat, di tengah-tengah kita sering dipertontonkan kelakuan pejabat negeri yang tidak bertanggung jawab. Tidak punya rasa empati terhadap rakyat, berkelakuan semau gue, bahkan merusak tatanan bernegara. Saya kemudian dipertontonkan seorang pramugari yang bertanggungjawab atas tugasnya. Pada zaman now ini, kita semakin sulit menemukan orang yang bertanggungjawab dan tulus. Negeri yang sepi dari rasa tanggung jawab dan sikap tulus pejabatnya. Ibarat kita menanam pohon, sekaligus menanami benalu pada batang dan ranting-rantingnya.
Maka saya mengharuskan diri untuk menghapus seluruh rasa mendongkol dan rasa “di-downgrade” tadi. Bahkan saya justru bersimpati. Calon jemaah haji itu adalah tamu-tamu Allah. Labbaika Allahumma Labbaika. Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah.
Tamu Allah itu tentu harus dihormati. Kalau kita kedatangan tamu, kita wajib menghormati tamu tersebut. Bahkan ada Hadist, menghormati tamu itu bagian dari iman. Apalagi, ini, tamu Allah. Semoga para pramugari pembersih toilet itu memperoleh balasan kebaikan dari Allah.
Semoga diluaskan rizkinya. Senantiasa memperoleh anugerah Allah dalam banyak aspek.
Ditulis di Pesawat Garuda, 6 Juni 2024, jam 18.50 WIB.
Penulis adalah Kader Muhammadiyah Boyolali
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...
Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah
Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...
Belajar Bernapas di Tengah Sesak
Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...
TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba
Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...
Sang Pencari Makna
“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...
Menolak Politeisme Politik
Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...
Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta
Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...
Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku
“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...







