Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Pramugari Pembersih Toilet

Thontowi Jauhari, Editor: Sholahuddin
Sabtu, 8 Juni 2024 11:09 WIB
Pramugari Pembersih Toilet
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Thontowi Jauhari

“Sudah disentor toiletnya Pak?”. Demikian tanya pramugari Pesawat Garuda, sesaat saya keluar dari toilet untuk buang air kecil. “Yaa sudahlah, mosok belum, ” jawabku agak ketus. Wah, pramugari ini, mengira saya tidak berpengalaman naik pesawat. Seketika, saya agak mendongkol. Pramugari itu telah “men-downgrade” saya.

Namun, setelah saya perhatikan gerak gerik pramugari yang senantiasa memastikan toilet tidak bau pesing itu, saya agak menyesal menjawab pramugari itu dengan agak ketus. Iya, beberapa pramugari itu senantiasa membersihkan toilet setelah digunakan para penumpang pesawat calon haji. Wajah cantik, bau wangi, dan pakaian muslimah rapi itu, tidak menghalangi dia untuk senantiasa bertindak sebagai pembersih toilet.

Para pramugari itu senantiasa memantau siapa yang ke toilet, dan ia terjun langsung membersihkan kondisi toilet. Terlihat mereka sibuk mengambil serbet (mungkin tisu tebal) digunakan untuk mengelap lantai toilet. Setelah itu, diambil semprot-semprot wewangian agar toilet tidak pesing.

Dari raut wajahnya, saya melihat berat melakukan itu, tapi karena tuntutan profesionalitas, ia lakukan. Tampak, pramugari itu, meski berat tapi tetap ikhlas. Saya meyakini, para pramugari itu telah dilatih secara khusus melayani para tamu Allah, jemaah haji. Termasuk dalam menjaga toilet tetap bersih.

Baca juga: Membangun Kecerdasan Spiritual Bangsa

Maklum, para jemaah haji itu banyak yang berasal dari desa. Sudah sepuh dan tidak paham penggunaan toilet pesawat. Konon, pernah terjadi, karena jemaah haji tidak paham penggunaan toilet, ia melakukan buang air besar di lantai toilet, bukan di closet. Tentu, berat banget tugas pramugari pesawat pengangkut jemaah haji. Bisa membayangin, bagaimana sulitnya menimpal kotoran manusia dalam pesawat.

Tentu saat pramugari nanya saya, sudah menyentor atau belum, itu berdasarkan kebiasaan yang terjadi karena ada calon jemaah haji yang telah menggunakan toilet dan tidak atau belum menyentornya. Dalam alam bawah sadar pramugari terekam,  seolah semua calon jamaah haji tidak bisa penggunaan toilet pesawat, termasuk saya. Akhirnya saya dapat memaklumi, pertanyaan “Sudah disentor Pak” tadi. Pertanyaan itu muncul karena tanggungjawabnya.

Kelakuan Pejabat

Dari kisah pramugari itu, saya teringat, di tengah-tengah kita sering dipertontonkan kelakuan pejabat negeri yang tidak bertanggung jawab. Tidak punya rasa empati terhadap rakyat, berkelakuan semau gue, bahkan merusak tatanan bernegara. Saya kemudian dipertontonkan seorang pramugari yang bertanggungjawab atas tugasnya. Pada zaman now ini, kita semakin sulit menemukan orang yang bertanggungjawab dan tulus. Negeri yang sepi dari rasa tanggung jawab dan sikap tulus pejabatnya.  Ibarat kita menanam pohon, sekaligus menanami benalu pada batang dan ranting-rantingnya.

Maka saya mengharuskan diri untuk menghapus seluruh rasa mendongkol dan rasa “di-downgrade” tadi. Bahkan saya justru bersimpati. Calon jemaah haji itu adalah tamu-tamu Allah. Labbaika Allahumma Labbaika. Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah.

Tamu Allah itu tentu harus dihormati. Kalau kita kedatangan tamu, kita wajib menghormati tamu tersebut.  Bahkan ada Hadist, menghormati tamu itu bagian dari iman. Apalagi, ini, tamu Allah. Semoga para pramugari pembersih toilet itu memperoleh balasan kebaikan dari Allah.

Semoga diluaskan rizkinya. Senantiasa memperoleh anugerah Allah dalam banyak aspek.

Ditulis di Pesawat Garuda, 6 Juni 2024, jam 18.50 WIB.

Penulis adalah Kader Muhammadiyah Boyolali

Berita Terbaru

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...