Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Tenda Mina, Tanazul dan Kuota Haji

Thontowi Jauhari, Editor: Sholahuddin
Minggu, 23 Juni 2024 08:52 WIB
Tenda Mina, Tanazul dan Kuota Haji
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Thontowi Jauhari

Ketua Tim Pengawas (Timwas) haji DPR, Muhaimin Iskandar, bermaksud membentuk pansus (Panitia Khusus), guna menindaklanjuti temuan-temuannya saat sidak (Sidang Mendadak) pengawasan pelaksanaan haji untuk mencari solusi terbaik sehingga terwujud pelayanan haji yang lebih baik pada masa akan datang.

Di antara temuan-temuan tersebut, adalah kondisi tenda Mina yang memprihatinkan. Tenda yang over capasity, AC banyak yang tidak berfungsi (Menurutku, itu sebenarnya bukan AC. Lebih tepatnya blower kelembaban. Disebut dalam blower itu: breez-air), antrean toilet dan sempitnya kasur. “Luas kasur hanya 0.80 M”, kata Cak Imin, panggilan akrab Muhaimin Iskandar.  Saya kira, sebagai salah jemaah haji, hasil temuan-temuan itu adalah benar adanya. Tentang over capasity, jumlah kasur lebih sedikit dari jumlah jemaah.

Di tenda Kloter SOC 92, dengan jumlah 352 jemaah, hanya ada 320 kasur. Masih kurang 32. Jadinya, saat masuk tenda terjadi (maaf) sedikit berebut. Yang tidak kebagian, akhirnya tinggal dan tidur di lorong-lorong dengan alas seadanya.  Luas ukuran kasur itu memang hanya sekitar 0.80 M. Tepatnya, lebar 50 cm panjang 170 cm. Jadi, persisnya hanya:  0.85 M.

Kasur dijejer tanpa sela. Berdempet-dempet. Kalau tidur hanya cukup seukuran badan, tidak bisa gerak. Atau, kalau gerak nyenggol yang lain. Maka benar kata Cak Imin, jemaah haji ini, kalau tidur seperti bandeng.  Kita sebenarnya mau protes, tapi takut dosa. Takut hukum haji kita gugur (tidak sah), karena protes termasuk ditafsirkan sebagai jidal. Jadinya, kami lebih memilih “menikmati” dan ikhlas. Jemaah haji memang harus senantiasa sabar, ikhlas dan rida. Termasuk menghadapi suasana tenda Mina itu.

Tentang over capasity itu, saya melihat sudah diprediksi sebelumnya. Sebelum kami berangkat, sudah ada sosialisasi agar jemaah ada yang mengambil posisi tanazul. Yang dimaksud tanazul disini adalah tanazul Mina. Yakni setelah lempar jumroh aqobah, jemaah tidak pulang ke tenda Mina, namun Mabit ke Hotel Makkah.

Konsultan Ibadah Haji Dakker Makkah 2024, telah membuat sosialisasi melalui PPT, salah satu latar bermasalahnya adalah potensi Kepadatan jemaah haji di Mina sebagai dampak tidak digunakannya maktab 1-9 di Mina Jadid.

Bahkan, dalam PPT itu juga dijelaskan hukum Mabit di Mina. Menurut jumhur ulama, yakni Malikiyah, Syafi’iyah dan qoul yang masyhur dalam mazhab Hambali, Mabit di Mina itu hukumnya wajib. Jika jemaah tidak mabit di Mina pada seluruh hari tasyriq, dia wajib membayar dam seekor kambing.

Baca Juga: Pramugari Haji Pembersih Toilet

Pendapat lainnya, mabit di Mina itu hukumnya sunnah. Pendapat ini mendasarkan pada mazhab Hanafiyah, qoul jadid Imam Syafi’i dan Ibnu Hazm. Jemaah yang meninggalkan mabit di Mina tidak dikenakan dam.  Proses tanazul itu, seluruh nya tidak difasilitasi panitia, saat pulang dari Mina tidak ada fasilitas kendaraan ke hotel, dan saat di hotel juga tidak ada fasilitas makan. Mereka makan sendiri-sendiri dengan membeli makan di warung sekitar hotel.  Karena itu, panitia tidak bisa memaksa, hanya imbauan. Meski demikian, di Kloter SOC 92, ada sekitar 40 jemaah.

Paradoks

Yang menjadi paradoks, pemerintah sebenarnya mengerti tempat mabit di tenda Mina terbatas, namun mengapa presiden Jokowi melobi pemerintahan Arab Saudi untuk menambah kuota?

Seperti kita ketahui, kuota Indonesia itu hanya 221.000 jemaah. Setelah dilobi secara politik ada tambahan 20.000 jemaah.   Penambahan kuota tersebut diberikan usai Presiden Joko Widodo bertemu pangeran Mohammed bin Salman al-Saud di Istana Al-Yamamah, Riyadh, Kamis (19/10/2023).

“Saat bertemu dengan PM Mohammed bin Salman saya menyampaikan apa adanya bahwa antrean haji di Indonesia sangat panjang. Bahkan ada yang harus menunggu 47 tahun sehingga Indonesia membutuhkan tambahan kuota haji,” ujar Jokowi dalam keterangannya melalui YouTube Sekretariat Presiden.

Tentu, bagi publik, keberhasilan lobi itu membuahkan persepsi positif. Presiden Jokowi hebat. Tapi, bagi jemaah haji, itu hanya menambah deretan masalah, untuk tidak menyebut nambah derita.  Jika dihitung secara persentase, 20.000 itu sekitar 10 persen tambahan. Jika menggunakan hitungan tenda Kloter SOC 92, 10 persen itu pas dengan hitungan kekurangan kasur. Artinya, jika tidak ada penambahan kuota, skema tanazul Mina mestinya tidak perlu dilakukan. Atau jumlah kasur menjadi pas jumlahnya, meski masih berdesak-desakan.

Persoalan tenda Mina itu, kata Kemenag, Yaqut Cholil Qoumas masalah klasik. “Mina dari dulu seperti itu. Sejak kuota kembali normal pada 2017, isunya selalu soal kepadatan. Sehingga, menerima tambahan kuota selalu menjadi berkah sekaligus tantangan,” ujar Yaqut.

Kalau hal itu menjadi masalah sejak dulu, mengapa masalah yang sama tidak diselesaikan? Maka, benar kata Cak Imin, harus ada revolusi total penyelenggaraan haji!

Makkah, 22 Juni 2024

Penulis adalah jemaah haji 2024 asal Boyolali

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...