Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Haji Mabrur Sepanjang Hayat

Thontowi Jauhari, Editor: Sholahuddin
Jumat, 19 Juli 2024 20:00 WIB
Haji Mabrur Sepanjang Hayat
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Thontowi Jauhari

Kata yang paling banyak disebut selama prosesi haji, apalagi setelahnya, saat pulang haji, adalah kata mabrur.  Saat bertemu saudara, teman atau siapun, saat berkomunikasi melalui media sosial, mereka mendoakan, “Semoga menjadi haji mabrur.” Kata mabrur itu seolah menjadi inflasi penyebutan pada awal dan seiring dengan perjalanan waktu, orang atau bahkan jemaah sendiri, sudah lupa dengan kemabrurannya itu.

Menjadi haji mabrur itu, bisa dipastikan menjadi dambaan setiap jemaah haji. Apalagi ada hadis, bahwa menjadi haji mabrur itu balasannya adalah surga. Untuk menjadi mabrur itu gampang diucapkan, tapi tidak gampang meraihnya. Untuk memperoleh predikat mambur dalam hajinya, butuh proses usaha, kerja keras dan perjuangan, yakni proses becoming (menjadi) sepanjang hayat. Haji mabrur itu bukan hanya persoalan sah-tidaknya ibadah haji dengan memenuhi rukun, kewajiban dan sunah. Namun, bagaimana kita memaknai haji dalam kehidupan riil yang kita hadapi.

Bertakwalah di manapun dan dalam posisi apapun engkau berada. Di lingkup keluarga, masyarakat, di jalan, di tempat kerja, di Istana, di parlemen dan sebagainya. Karena itu, parameter mabrur itu tidak pada saat prosesi haji, namun justru setelahnya. Tidak hanya sesaat, namun selamanya. Selama hayat masih di kandung badan.

Lantas, apa itu haji mabrur? Dari sisi etimologis, mabrur (isim maf’ul) berasal dari kata barroyabarrubarron, yang berarti menaati. Akar kata mabrur adalah birrun, yang berarti kebaikan atau kebajikan secara umum.  Baik kebaikan yang berhubungan dengan Allah (vertikal) atau pun hubungan dengan makhluk lainnya (horisontal). Untuk mengungkapakan konsep kebaikan, al-Qur’an menggunakan beberapa istilah yaitu ihsan, birr, khair, ma’ruf, husnul, hasan, toyyib, jayyid. Esai ini tentu tidak akan mengurai perbedaan istilah kebaikan dalam Al-Qur’an itu. Menurut Quraish Shihab, definisi haji mabrur itu “menepati janji”. Shihab menjelaskan, kata mabrur berasal dari kata barra-yabarru, artinya tunduk, taat, atau menaati. Dengan demikian, definisi haji mabrur diperuntukkan bagi orang-orang yang mampu menepati janji.

“Kita melaksanakan ibadah (haji) ini bagaikan berjanji kepada Allah. Itu tersurat dalam kalimat talbiyah labbaikallahumma labbaik,” jelas Quraish Sihab dalam tayangan video di kanal YouTube Narasi TV. Sehingga, mabrur atau diterimanya ibadah haji seorang muslim bukan sekadar sah dari sisi pelaksanaannya saja. Misal, melempar jumrah (batu) yang artinya jemaah berjanji, sejak saat ini akan menjadikan setan sebagai musuhnya, baik setan yang berwujud jin atau manusia.

“Kalau Anda menepati janji, maka haji Anda mabrur. Bukan sekadar sah saat pelaksanaanya di sana. Haji mabrur ditentukan setelah kembali dari Mekkah. Dan ingat, Anda berjanji pada Tuhan, bukan pada manusia,” kata Quraish Shihab

Rasulullah pernah ditanya sahabat tentang haji mabrur:

قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ؟ قال: “إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

Artinya, “Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur? Rasulullah menjawab, memberikan makanan dan menebarkan kedamaian”.

Dalam hadits lain berbunyi:

سئل النبي ما بر الحج قال إطعام الطعام وطيب الكلام وقال صحيح الإسناد ولم يخرجاه

Artinya, “Rasulullah saw ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah kemudian berkata, ‘Memberikan makanan dan santun dalam berkata.’ Al-Hakim berkata bahwa hadits ini sahih sanadnya tetapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.”

Mendasarkan dua hadis tersebut, dapat disimpulkan, terdapat tiga ciri-ciri orang yang hajinya mabrur:

  1. Santun dalam bertutur kata (thayyibul kalam)
  2. Menebarkan kedamaian (ifsya’us salam)
  3. Memiliki kepedulian sosial yaitu mengenyangkan orang lapar (ith’amut tha’am)

Kesalehan Sosial

Tentu makna haji mabrur dalam Hadist tersebut harus diletakkan dalam konteks yang luas. Tidak hanya dalam konteks kehidupan pribadi, namun juga dalam kehidupan bersama. Bahkan, tiga ciri-ciri tersebut seluruhnya bermakna kesalehan sosial, baik ia bersifat pribadi atau saat diamanahi posisi strategis, yakni sebagai pejabat publik.

Saatnya dalam memahami ritualisme haji (juga ritual lain), kita tidak hanya mendekati secara fikih. Saya sering mengatakan, syari’ah (Islam) itu satu tapi kalau sudah wilayah fikih akan beragam. Keberagaman fikih ini sering menimbulkan gesekan sosial. Kita butuh pendekatan yang bersifat hikmah (baca: filsafat). Dengan pendekatan hikmah, itu lebih menyatukan karena yang dibicarakan bukan sah tidak sah, namun nilai apa yang bisa ditransformasikan dalam kehidupan bersama. Dus, pendekatan hikmah itu lebih fokus membangun kesalehan sosial.

Selama ini, kita terlena pendekatan fikih. Risikonya, selain mengundang friksi, juga lebih fokus membangun kesalehan pribadi. Pribadinya bagus dan ahli ibadah, namun hanya dirinya. Masjid ada di mana-mana, antrean haji sampai 40 tahun, pejabat negaranya sudah haji semuanya, namun kita masih rakus, tamak dan suka mementingkan diri kita sendiri, mementingkan keluarga (baca: dinasti politik dalam berbagai variannya), dan mementingkan kelompok.

Baca juga: Gelar Haji dan Hajjah, Perlukah?

Ada paradoks dalam kehidupan bersama kita. Kekayaan alam kita itu luar biasa banyak, namun rata-rata rakyat masih miskin. Income perkapita kita, masih berputar sekitar 4000 dolar AS, meski negara ini sudah merdeka selama 79 tahun. Saya sering membuat perbandingan dengan Korea Selatan. Merdeka 15 hari lebih awal dari negara kita (2 Agustus 1945), namun Korea Selatan sudah melesat jauh. Rakyatnya jauh lebih sejahtera dengan income perkapita 35.000 dolar AS. Padahal, kekayaan alamnya, tidak sekadar negeri kita.

Saya mengandaikan, tafsir ritualisme haji diterjemahkan dalam makna yang lebih praksis dalam kehidupan bersama, efek sosialnya akan luar biasa. Jika saja ritual thowaf, sa’i, wukuf di Arofah, mabit di Mudzalifah dan lempar jumroh diterjemahkan dalam kehidupan nyata, dengan meneladani Nabi Ibrahim dan keluarganya, nilai-nilainya dihidupkan dalam proses bersama dalam bermasyarakat, bernegara dan bernegara. Alangkah hebatnya negeri ini.

Kembali ke masalah haji mabrur. Untuk bisa memperoleh predikat haji mabrur itu tidak taken for granted, atau langsung ada. Itu adalah proses yang harus dibentuk secara terus menerus. Saat melakukan manasik itu adalah starting point-nya, dan kemabruran itu akan mewujud dalam dunia nyata kita masing-masing. Di lingkungan kita masing-masing pula.

Menurut Abdul Mukti, mabrur itu artinya terbentuk atau dibentuk agar senantiasa berbuat baik, sehingga menjadi karakter. Nah, itu semua itu butuh proses waktu untuk proses “menjadi” itu. Karena itu proses haji mabrur adalah sepanjang hayat.  Semoga kita semua tergolong haji mabrur.

Kita dituntun oleh Allah SWT menjadi orang yang bertransformasi menjadi lebih baik, secara individu dan sosial. Sepanjang hayat. Apakah haji kita mabrur? Hanya Allah yang pirso. Waallahu a’lam.

Ditulis saat perjalanan Madinah-Solo, 19 Juli 2024.

Penulis adalah kader Muhammadiyah Boyolali

Berita Terbaru

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...