Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Membangun Kecerdasan Spiritual Bangsa

Soleh Amini Yahman, Editor: Sholahuddin
Jumat, 8 Desember 2023 20:10 WIB
Membangun Kecerdasan Spiritual Bangsa
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Foto Buletin Tajdid Pendidikan MPI PDM Kota Solo edisi 18 Tahun 2023. (Foto : istimewa).

Apakah kehidupan berbangsa dan bernegara selama 78 tahun sejak memerdekakan diri dari belenggu penjajahan telah memberikan arti bagi kehormatan, harga diri dan martabat sebagai sebuah Bangsa?. Sudah benar-benar bangkitkah bangsa Indonesia dari keterjajahan dan mampu berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah lebih dahulu menemukan kesadaran dirinya sebagai sebuah bangsa?. Sudah benar-benar lepaskah bangsa Indonesia dari cengkraman penjajahan bangsa lain?.

Pertanyaan-pertanyaan ini selalu terulang dan terulang setiap kali memperingati hari kebangkitan nasional dan maupun hari kemerdekaan RI. Selama itu pula kita selalu ragu menjawab yang pasti. Selalu ada keraguan dalam sanubari untuk mengatakan bahwa bangsa kita telah bangkit dan lepas dari cengkraman penjajahan. Keraguan ini timbul karena realita kehidupan masyarakat bangsa Indonesia masih menujukkan banyaknya ketergantungan terhadap negara maju dan bahkan kehidupan bangsa ini masih banyak diatur dan ditentukan oleh kebijakan-kebijakan negara lain. Maka yang terjadi pada bangsa ini adalah menjadi objek eksperimentasi politik, sosial, ekonomi dan bahkan budaya oleh negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Tiongkok.

Dengan menggunakan keunggulan teknologi yang dimilikinya, mereka memindahkan ribuan ton kekayaan alam Indonesia ke negara mereka. Dengan kekuatan ekonominya mereka mengatur bagaimana tatanan sosial ekonomi negeri ini harus dijalankan. Pencabutan subsidi bahan bakar minyak sebagai salah satu contohnya. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 di negara-negera Asia Tenggara telah menimbulkan efek domino yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi indonesia. Bila negara-negara lain, seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura, Philipina, Korea Selatan telah sembuh dan bangkit dari krisis ekonomi, tidak demikian dengan Indonesia. Bahkan lebih parahnya lagi krisis yang mula-mula berbasis pada sektor ekonomi justru berkembang menjadi krisis yang multidemensional, di antaranya krisis politik, kultural dan sosial.

Sejalan dengan merebaknya krisis multidemensional itu, cobaan dan ujian bangsa Indonesia tidak juga mereda. Berbagai musibah, huru hara dan bencana alam melanda negeri. Hempasan gelombang tsunami, gempa bumi, tanah longsor, erupsi gunung berapi, kasus-kasus white color crime seperti korupsi, kolusi dan nepotisme, benar-benar membuat bangsa Indonesia mengalami shock. Belum lagi gangguan terorisme dan merebaknya berbagai penyakit menular yang mematikan.

Pertanyaan yang timbul dari rentetan kasus-kasus itu adalah dosa apa yang telah diperbuat bangsa ini sehingga Tuhan begitu murka? Benarkan itu semua sekadar ujian atau cobaan? Ataukah ini semua merupakan buah dari kekufuran kita terhadap kenikmatan yang telah  dilimpahkan Tuhan kepada bangsa kita ? Jawaban yang pasti atas rentetan pertanyaan tersebut memang sulit dijawabnya mengingat kompleksitas etiologi (sebab musabab) yang menyebabkan timbulnya aneka permasalahan yang membelit kehidupan bangsa Indonesia. Namun demikian bangsa Indonesia akan bisa mengurai dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut bila kita mau melakukan evaluasi diri untuk kemudian menemukan kesadaran diri sebagai bangsa yang berwibawa dan patut dihormati oleh bangsa-bangsa lain termasuk negara adidaya.

Kecerdasan Emosional & Spiritual

 Dalam menghadapi berbagai permasalahan yang bersifat multidimensi diperlukan adanya ketajaman pikir dan nurani yang tinggi sehingga mampu melihat permasalahan tidak secara parsial dan perifer (pinggiran) saja. Permasalahan bangsa harus dilihat secara menyeluruh sehingga akan terungkap keterkaitan antara satu permasalahan dengan permasalahan lainnya. Untuk mencapai tahapan tersebut hanya dimungkinkan bila bangsa Indonesia memiliki tingkat kecerdasan emosional (emotional intelegence) dan kecerdasan spiritual (spiritual intelegence) yang tinggi.

Dengan kecerdasan emosional dan kecerdsan spiritual ini manusia akan berorientasi secara postif dan konstruktif dalam menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan kehidupan. Orientasi pemecahan persoalan dengan model pendekatan kecerdasan emosional-spritual tidak hanya pada landasan logika semata, karena memang tidak semua permasalahan dapat dianalisa secara logika intelektual. Banyak sisi-sisi persoalan kehidupan bangsa yang harus diselesaikan dengan pendekatan logika nurani dan spiritual. Menurut Daniel Goldman (1998) kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang sebesar 20%  atas kepiawsian seseorang dalam menyelesaikan persoalan kehidupan, 80 % lainnya disumbangkan oleh faktor kecerdasan emosi dan spiritual, dengan demikian maka keunggulan hati (heart) selangkah lebih cerdas daripada keunggulan kepala (head) dalam meratifikasi persoalan-persoalan kehidupan bangsa.

Kecerdasan emosional mencakup aspek kontrol diri, semangat dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi diri agar menjadi  lebih baik. Kecerdasan emosional  adalah kemampuan untuk merasakan, memahami dan secara ktif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi merupakan persyaratan dasar untuk dapat menggunakan intelegensi secara efektif. Kecerdasan emosional akan menuntun kita untuk berfikir asosiatif yang terbentuk oleh kebiasaan dan memampukan seseorang dapat mengenali pola-pola emosi. Sedangkan kecerdasan spiritual memungkinkan seseorang untuk berpikir secara kreatif, berwawasan jauh dan bahkan akan menuntun seseorang untuk berani mengubah aturan yang dianggap telah keluar dari nilai-nilai illahiyah dan nilai-nilai humanitas.

Danah Zohar dan Ian Marshal (1999) memberikan batasan tentang kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan yang terkait dengan persoalan makna dan nilai. Apabila dikaitkan dengan teori chaos, maka saat ini bangsa Indonesia sedang berada pada titik ”ujung”, yaitu titik pertemuan antara tatanan dan kekacauan. Antara yang diketahui dan yang tidak diketahui. Untuk itulah diharapkan kita memiliki kemampuan untuk dapat membaca makna dan nilai yang terkandung dalam setiap persoalan bangsa. Untuk mencapai pada tataran kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi maka keterampilan emosional dan spiritual tersebut harus dilatihkan pada generasi kita  sejak usia dini dengan cara memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengaktualisasikan potensi intelektual yang telah dimiliki anak secara genetis, baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan natural.

Kecerdasan spiritual tidak mempunyai hubungan yang linier dengan masalah kehidupan beragama. Kecerdasan spiritual tidak sama dengan kualitas kehidupan beragama dan tidak harus dihubung-hubungkan dengan masalah perilaku keagamaan. Namun demikian penguasaan dan kualitas yang baik dalam kehidupan beragama akan sangat membantu dalam mempermudah meningkatkan kecerdasan spiritual, sehingga individu dapat menangkap makna dan nilai kehidupan dengan lebih baik.

Tanda-tanda kecerdasan emosional-spiritual yang telah berkembang dengan baik di antaranya adanya kemampuan bersikap fleksibel dan tidak panik dalam menghadapi kegentingan dan kegawatdaruratan. Mampu memanfaatkan penderitaan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, terbentuknya kualitas hidup yang dililhami oleh visi dan nilai, mampu melihat keterkaitan pada berbagai persoalan dan memiliki kemampuan untuk bekerja mandiri. Memiliki kecenderungan bertanya “mengapa atau “bagaimana jika ’ dalam mencari jawaban pada hal-hal yang sifatnya mendasar.

Semoga kesadaran ini dapat menjadi titik awal pembangunan karakter bangsa yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual sehingga kita tidak tergopoh-gopoh dan panik ketika harus menghadapi rentetan persoalan kehidupan. Bangkit dan raih kembali kejayaan bangsa kita ayo kita bisa!. Wallahua’lam bissawab.

 

Penulis adalah psikolog, dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Anggota Dewan Pendidikan Kota Solo.

Sumber : Buletin Tajdid Pendidikan MPI PDM Kota Solo, edisi 18 Tahun 2023.

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment