Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di satu atap. Tak saling sapa kini menjadi norma baru.
Ruang-ruang publik menjadi lebih sepi. Tak ada riuh rendah tawa dan cerita. Di sudut-sudut ruang tunggu rumah sakit, orang tua yang tidak akrab dengan gawai kehilangan teman bicaranya. Anak-anak yang mengantar atau menjaga sibuk menunduk. Sebagian lengkap dengan alat yang menempel di telinga. Memisahkan dirinya dari realitas. Sementara pasien yang sudah paruh baya merana. Ingin bicara tapi entah dengan siapa.
Lihatlah transportasi publik hari ini. Ketika pandemi covid-19 2020 silam, di KRL, ada larangan untuk bicara di dalam gerbong. Menabalkan budaya tidak bicara dengan orang asing. Membuat kecurigaan dan ketakutan pada sesama semakin meningkat.
Seorang kawan pernah bercerita. Setiap naik taksi online, ia akan mengirim lokasinya secara real-time kepada orang-orang terdekat. Lengkap dengan informasi nama sopir dan plat nomor mobil. Dengan alasan keamanan, itu adalah hal yang bagus. Jika terjadi apa-apa, orang lain akan dengan sigap membantu.
Namun, jauh lebih dalam dari itu, ada alam bawah sadar kita yang mulai kehilangan kepercayaan terhadap orang lain. Yang selalu menaruh perasaan was-was. Seolah membenarkan apa yang masyhur dikenal dengan homo homini lupus, manusia sebagai serigala bagi manusia yang lain. Sambil meragukan kepercayaan bahwa manusia itu pada dasarnya baik.
Tidak. Bersikap hati-hati sangat tidak salah. Malah harus. Di bandara, seorang kawan bercerita bahwa ia enggan dimintai tolong untuk membawakan barang orang lain yang kelebihan bagasi. Ia takut ternyata barang yang dititipkan adalah barang terlarang. Membawanya pada konsekuensi hukum yang lebih jauh. Sikap itu tentu benar. Namun, yang saya lihat adalah, selain pada perasaan tidak percaya terhadap orang lain, juga adanya anggapan bahwa hidup harus diselesaikan secara masing-masing. Bahwa apa yang menjadi masalahmu, bukanlah masalahku sama sekali. Bahwa orang sekarang enggan untuk sekadar bertanya, meskipun sekadar basa-basi.
Ketinggalan Zaman
Kohesi sosial dan guyup rukun kini dianggap sebagai budaya yang ketinggalan zaman. Di kampung, anak-anak tak lagi bermain di luar rumah bersama kawan-kawannya. Bermain di luar membuat orang tua repot. Harus mengawasi dan memastikan pulang di waktu yang tepat. Maka ada jalan pintas yang tampak sudah menjadi candu: gadjet. Orang tua lebih suka memberi anak HP. Lebih praktis, diam, tidak rewel, dan tidak perlu diawasi setiap saat. TikTok adalah mainan baru yang ampuh.
Anak-anak muda sekarang, yang tidak bermain HP sejak kecil saja, mengalami perubahan yang cukup mendasar karena media sosial. Apalagi anak-anak yang lahir setelah tahun 2010, di mana smartphone sudah menjadi barang wajib setiap orang.
Maka ke depan, dunia kita akan semakin terfragmentasi. Orang akan semakin mudah cemas, tidak percaya diri, dan merasa kesepian. Orang tidak akan mudah untuk membangun hubungan sosial—berlawanan dengan fungsi semu media sosial. Media sosial sebenarnya lebih layak disebut dengan “media anti-sosial”. Untuk meringkas, kita punya beberapa persoalan akut yang harus segera ditangani. Yaitu masyarakat yang semakin individualistis yang melahirkan pandemi kesepian. Hal ini disebabkan oleh masifnya penggunaan smartphone secara berlebihan.
Dalam konteks Muhammadiyah, organisasi ini bisa masuk ke isu ini supaya membuat Muhammadiyah tampak semakin dekat dengan anak muda. Sependek yang saya lihat, Muhammadiyah lebih banyak dikenal oleh kelompok orang dewasa. Sementara, di kalangan anak muda, Muhammadiyah tampak sebagai sesuatu yang jauh dan tak tersentuh. Mereka tidak punya urusan apa pun dengan Muhammadiyah.
Padahal anak-anak muda inilah yang menentukan nasib kemanusiaan di masa depan.
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...
Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…
Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...
Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah
Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...
Inovasi atau Mati
Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...
Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam
SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...
Berharap kepada JIMM…
Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Soloraya, Selasa (28/10/2025), menyelenggarakan diskusi bertema “Rancang Bangun Tafsir At-Tanwir: Pandangan Orang Dalam”. Acara yang berlangsung di ruang Siti Baroroh...






