Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Menjadikan Literasi sebagai Elan Vital Kehidupan

Hendro Susilo, Editor: Sholahuddin
Jumat, 9 Februari 2024 16:59 WIB
Menjadikan Literasi sebagai Elan Vital Kehidupan

Perintah iqro’ (bacalah) dalam surat Al Alaq sebagai wahyu pertama dalam Al-Qur’an, mengandung pesan ihwal dunia literasi. Perintah membaca, mencari serta mempelajari ilmu pengetahuan oleh Allah SWT kepada manusia dimaksudkan agar manusia terhindar dari kebodohan. Kebodohan dari tidak mengenal Sang Pencipta sampai kebodohan dalam pengelolaan alam semesta yang berakibat kerusakan. Fungsi manusia sebagai khalifah yang mengelola alam semesta harus memiliki ilmu pengetahuan yang baik agar alam semesta ini lestari.

Mengelola kehidupan dan sumber daya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia memerlukan ilmu. Di era teknologi yang canggih sekarang, ilmu pengetahuan terus berkembang. Dalam hal teknik pengelolaan sumber daya alam juga berkembang maju. Namun, kerusakan alam dan lingkungan pun terjadi. Eksplorasi alam akibat ulah tangan manusia tampak nyata kerusakannya. Menarik apa yang diungkapkan oleh Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Haedar mengatakan tantangan besar manusia saat ini adalah krisis lingkungan dan krisis kemanusiaan. Krisis ekosistem dan kemanusiaan muncul karena paradigma antroposentrisme yang kapitalistik sekuler serta menihilkan Tuhan, agama dan nilai etika. Antroposentrisme adalah pandangan filsafat yang mengatakan kehidupan itu berpusat pada manusia dengan mengabaikan peran Tuhan.

Di tengah era disrupsi teknologi informasi serta maraknya penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence) ini, tantangan hidup manusia pun semakin kompleks. Konflik mudah tersulut diakibatkan narasi-narasi hasutan ataupun hoax yang tersebar di media sosial. Obesitas informasi terjadi yang bisa menyebabkan kebohongan terjadi secara sistematis. Apabila kebohongan sitematis ini dibiarkan, maka masyarakat akan terkotak-kotak. Ingat, Joseph Goebbels, seorang loyalis Hitler di Jerman, pernah mengatakan, kebohongan yang tersistematis ini ketika diulang-ulang niscaya akan menjadi kebenaran publik.

Secara normatif, teknologi informasi memiliki dampak positif dan negatif. Individu yang bisa memilah dan mengolah informasi dengan baik, ia akan mendapatkan keuntungan. Kesadaran dalam menerima dan mengolah informasi penting dimiliki kader muda generasi penerus. Jangan sampai generasi muda lemah dalam literasi dan tidak mampu mengolah informasi. Jika ini terjadi, maka akan berujung pada rusaknya sendi-sendi kehidupan kemanusiaan akibat obesitas informasi yang tak mampu diolah.

Melek Literasi

Termasuk tentang kerusakan dan krisis lingkungan. Ini juga perlu bagi generasi muda untuk melek literasi dalam hal lingkungan dan hidup berkelanjutan. Pendidikan hidup berkelanjutan perlu mendapat perhatian serius agar bisa membudaya dalam gaya hidup berkelanjutan. Sebuah gaya hidup dengan kesadaran penuh akan lingkungan dan menyadari konsekuensi atas semua pilihan yang dibuat sehingga akan membuat pilihan yang paling sedikit potensi negatifnya. Generasi mendatang berhak atas kehidupan yang sejahtera dan tidak membahayakan bagi kehidupannya. Literasi yang kuat tentang lingkungan akan membangun kesadaran generasi muda untuk menyelamatkan lingkungan dengan sikap-sikap dan tindakan yang menjaga kelestarian alam.

Merefleksikan perintah iqro’ dalam ayat pertama yang turun, membaca bukan sekadar secara teknis melihat huruf dan kalimat, tetapi membaca dengan menyerap arti dan konteks sehingga menemukan korelasi untuk memahami secara komprehensif. Dan, manakala dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan saat membaca, ini akan membuka kesadaran sesungguhnya ilmu-ilmu itu berasal dari Allah SWT. Maka literasi berbasis at-taqqaddum al-islamiyy (jalan menuju kemajuan) perlu dikembangkan dan dibudayakan oleh generasi muda.

Kekhawatiran Prof. Haedar Nashir tentang rusaknya lingkungan akibat cara pandang yang antroposentrisme, yang sekaligus menawarkan solusi yakni cara pandang yang teo-antroposentrik. Cara pandang teo-antroposentrik adalah cara pandang secara seimbang (antara manusia dan Tuhan-red) akan terwujud bila budaya literasi dengan menyertakan Tuhan dalam membaca ini akan membudaya. Jadi, penguatan kemampuan membaca informasi digital maupun membaca literasi lingkungan menjadi salah satu agenda strategis persyarikatan.

Generasi muda perlu paham dan mengerti, di tengah krisis global warming dan krisis kemanusiaan, perlu upaya menyelamatkan kehidupan dari ancaman krisis besar yang dihadapi umat manusia saat ini. Upaya preventif dilakukan dengan pendidikan literasi digital dan lingkungan. Sedangkan, upaya represif dilakukan dengan membudayakan gaya hidup berkelanjutan dari sekarang juga. Sekali lagi, mari selamatkan lingkungan dengan mengubah paradigma berpikir dari sekarang.

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Leave a comment