Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Artikel

Warga Muhammadiyah Rindu Berpolitik?

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Jumat, 17 November 2023 10:35 WIB
Warga Muhammadiyah Rindu Berpolitik?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Screenshot Buletin Tajdid Pendidikan MPI PDM Kota Solo edisi 16 Tahun 2023

Saya menangkap suasana psikologis berupa kerinduan warga persyarikatan terlibat dalam politik praktis. Tentu tidak dalam konteks organisasi, melainkan bagaimana kader Muhammadiyah bisa mewarnai isu-isu politik yang ini kian hangat. Secara organisasi Muhammadiyah tidak bisa terlibat dalam politik praktis.

Saya memahami kerinduan itu. Selama ini (seolah-olah) Muhammadiyah tidak diperhitungkan dalam konstestasi politik di pemilihan umum, baik di pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres) maupun pemilihan legislatif. Tidak ada tokoh persyarikatan yang masuk radar partai politik atau setidaknya menjadi wacana publik.  Sementara, kader organisasi lain—dalam hal ini Nahdlatul Ulama (NU)—menjadi “rebutan” karena dianggap menjadi penentu kemenangan. Dari tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden,  ada dua tokoh NU yang masuk jadi cawapres, masing-masing Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD.

Terus di mana posisi kader Muhammadiyah? Ini yang membuat warga Muhammadiyah baper. Preferensi politik di Indonesia umumnya dipengaruhi oleh hubungan primordial antara kandidat dan para pemilihnya. Seperti ada yang kurang jika kita memilih calon yang tidak ada hubungan batin. Situasi ini yang membuat warga Muhammadiyah merasa tidak terwakili ikatan primordialnya dengan para kandidat pada pemilu mendatang.

Dalam pandangan saya, kebaperan itu sebenarnya emosi sesaat yang muncul menjelang pemilu saja. Setelah itu akan hilang. Memang, andai warga Muhammadiyah jadi “rebutan” partai politik, itu bisa memenuhi dahaga psikologis sesaat. Namun, kalau kita pikirkan lebih jauh, akan ada risiko yang mesti kita tanggung.  Siklus politik lima tahunan tersebut akan membuat orang Muhammadiyah sibuk kasak-kusuk.  Tentu ini akan mengganggu konsentrasi Muhammadiyah dalam mengurusi ribuan amal usaha yang sudah menjadi trademark-nya.  Mengurus amal usaha butuh ketekunan, kesabaran, ketenangan, dan keikhlasan yang tiada batas. Hiruk pikuk politik pasti mengganggu “kekhusukan” Muhammadiyah mengurusi umat melalui amal usaha. Belum lagi kalau ada konflik di internal Muhammadiyah karena intrik-intrik politik. Bahaya bukan?

Tahan Godaan

Kita tengok sejarah sejenak. Khittah Ujung Pandang hasil Muktamar Muhammadiyah ke-38 pada 21-26 September 1971, mengevaluasi keterlibatannya dalam politik praktis. Salah satu keputusannya, posisi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam yang tidak memiliki hubungan organisatoris dengan parpol dan tidak merupakan afiliasi dari parpol ataupun organisasi mana pun. Keputusan itu sebagai koreksi atas dukungan Muhammadiyah kepada Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) sebagai “kendaraan” politik bagi kader-kader persyarikatan. Hasilnya Parmusi hanya memperoleh suara 6 persen suara sah atau memperoleh 24 kursi pada Pemilu 1971.  Pengalaman histori ini tentu menjadi pelajaran penting agar tidak terulang kembali.

Problemnya, saat ini, Muhammadiyah juga berkepentingan agar kadernya bisa menempati posisi-posisi penting baik di eksekutif maupun legislatif. Posisi ini selain berfungsi secara pragmatis bagi organisasi, jugaa bisa menjadi saluran nilai-nilai berkemajuan dalam berpolitik. Tidak heran bila Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mendorong agar kadernya yang punya potensi untuk bisa berkompetisi sehat untuk masuk ke pos-pos tersebut asalkan tidak membawa nama Muhammadiyah. Syarat lainnya, menurut saya, kader yang akan menempati pos penting itu merupakan kader yang bisa membawa politik berkemajuan untuk Indonesia. Dan tahan godaan tentunya.

Dalam forum Dialog Ideologi, Politik, dan Organisasi (Ideopolitor) yang digelar Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PDM Kota Solo Sabtu-Minggu (4-5/11/2023) di Asrama Haji Donohudan, Boyolali juga terungkap tentang program Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PWM Jawa Tengah yang menargetkan satu dapil (daerah pemilihan) satu kader Muhammadiyah bisa terpilih pada pemilu legislatif mendatang. Sebagai strategi memberi ruang kader mengimplementasikan politik berkemajuan, ya boleh-boleh saja. Tapi ini harus dilakukan secara hati-hati. Kita tahu habitus politik kita begitu buruk. Pragmatisme politik di Indonesia sangat kuat. Nilai keagungan politik seperti berada di tong sampah.

Pada satu sisi, situasi ini menjadi tugas Muhammadiyah untuk memperbaiki keadaan. Pada kondisi lain,habitus politik yang bobrok ini malah bisa menyeret pandangan dan perilaku politik kader untuk ikut arus. Ini yang berbahaya. Karena itu, dalam tulisan di ruang ini sebelumnya, saya mengusulkan adanya Sekolah Politik Berkemajuan bagi kader persyarikatan yang akan ikut kontestasi politik.  Sekolah sebagai ikhtiar serius menyiapkan kader persyarikatan tahan banting masuk dalam belantara politik yang liar. Kalau saya memodifikasi pesan K.H. Ahmad Dahlan, kira-kira begini, “Hidup-hidupilah dunia politik, jangan mencari penghidupan di dunia politik.”

Kalau gagal menyiapkan kader, alih-alih bisa membanggakan.  Yang terjadi mereka akan menjadi beban persyarikatan.

Ah, betapa malunya kita….

Penulis adalah pengurus Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Kota Solo

Sumber : Buletin Tajdid Pendidikan MPI Kota Solo edisi 16 Tahun 2023

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...