Proses pembelajaran di tahun ajaran 2022/2023 sudah berjalan hampir empat bulan. Penerapan kurikulum merdeka juga sudah memasuki jilid ke-2 yaitu untuk kelas II (fase A) dan kelas V (fase C) bagi sekolah penggerak. Sekolah jalur mandiri baru menerapkan untuk kelas I dan kelas IV.
Pemberlakuan implementasi kurikulum merdeka pada tahun ajaran 2022/2023 tertuang dalam keputusan Meteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 56/M/2022.
Selain penerapan kurikulum merdeka, kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) juga baru terlaksana secara normal pada tahun ajaran ini. Adaptasi dalam proses pembelajaran baik murid maupun guru juga menjadi penting dalam pengelolaannya.
Kerjasama yang optimal tentunya akan menjadi hal yang penting demi terwujudnya pembelajaran yang berpihak pada murid. Murid dapat mengikuti pembelajaran dengan gembira dan termotivasi. Guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat menuntun murid sesuai dengan kodratnya. Hal tersebut sesuai dengan cita-cita pada kurikulum merdeka.
Penting dilakukan refleksi bersama antara guru dan murid untuk mengevaluasi mengetahui sejauh mana keberhasilan pembelajan yang sudah terlaksana selama empat bulan ini. Refleksi bersama perlu melibatkan murid, tidak semata dilakukan oleh guru saja.
Refleksi adalah kegiatan pemberian umpan balik atau penilaian dari murid terhadap guru setelah mengikuti serangkaian proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu. Tujuan pemberian refleksi adalah untuk mengekspresikan kesan konstruktif, pesan, harapan, dan kritik terhadap pembelajaran yang telah diterima murid kepada guru dengan perasaan jujur dan tanpa tekanan.
Refleksi merupakan elemen kunci untuk menggali nilai diri sendiri secara kritis mulai dari kekuatan dan kelemahan atau kekurangan. Dengan demikian murid bersama guru akan mengetahui dan merenungi proses kegiatan pembelajaran.
Refleksi terbimbing akan menjadi media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalamana serta praktik baik yang telah selesai dilakukan. Murid dan guru akan terdorong untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri.
Pada awalnya mungkin tidak mudah untuk melakkukan kegiatan refleksi terbimbing, karena belum pernah dilakukan. Sama halnya dengan keterampilan lain, menulis refleksi secara terbimbing perlu latihan dan pembiasaan. Dengan terbisa dilakukan, murid akan dapat menungkan gagasannya dengan tulisan yang bagus sesuai dengan bahasa mereka dan sesuai dengan apa yang mereka alami dan rasakan.
Praktik Kegiatan Refleksi Terbimbing
Model refleksi yang bisa digunakan untuk melakukan kegiatan refleksi terbimbing yaitu model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). Model tersebut dapat memandu dalam mencurahkan isi pikiran dan perasaan secara tertulis. Seperti halnya yang sudah dilakukan di SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta secara terbimbing murid melakukan refleksi bersama.
Kegiatan refleksi terbimbing diterapkan di kelas IV. Kegiatan tersebut diagendakan setiap pekan sekali yaitu pada hari Jumat. Model refleksi yang digunakan atau yang dipilih yaitu model 4F.
4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P yaitu Facts atau Peristiwa, Feelings atau Perasaan, Findings atau Pembelajaran, dan Future atau Penerapan.
Secara terbimbing, murid diminta untuk menuliskan refleksi yang dimulai dari tahap peristiwa (Facts). Murid menuliskan pengalaman atau peristiwa penting saat mengikuti pembelajaran selama sepekan. Terkait hambatan atau permasalahan yang dialami saat mengikuti pembelajaran, dan solusi untuk mengatasinya.
Langkah yang ke dua yaitu perasaan (Feelings), murid menulisakan perasaan yang dirasakan saat mengikuti kegiatan pembelajaran dan alasannya berdasarkan pengalaman yang dilakukan. Selanjutnya untuk langkah yang ketiga yaitu pembelajaran (Findings), murid menuliskan pemahaman terkait materi pembelajaran yang sudah didapatkan. Apakah bisa memahami secara utuh atau hanya sebagian saja.
Langkah terakhir atau keempat yaitu penerapan (Future), murid menuliskan rencana tindakan untuk perbaikan setelah belajar dari peristiwa atau pengalaman yang sudah didapatkan.
Berikut saya mengutip hasil refleksi terbimbing dari salah satu murid kelas IV. Pertama (Peristiwa):
“Pada hari kamis aku mengikuti pelajaran IPAS. Saat itu belajar panca indra hidung, telinga, mata dan lidah. Fungsinya banyak sekali. Lalu saat pelajaran IPAS memainkan bagian panca indra dengan seru!!! IPAS juga menyenangkan jika ada permainan bercerita.”
Kedua (Perasaan):
“Perasaanku sangat senang disbanding hari selain pelajaran IPAS. Karena aku memahami pelajarannya dan aku bisa menjawab semua pertanyaan IPAS.”
Ketiga (Pembelajaran):
“Seperti yang dijelaskan perama tadi. IPAs dijelaskan tentang panca indra mata, telinga, hidung, dan lidah. Aku paling senang belajar saat berkelompok.”
Keempat (Penerapan):
“ Minggu depan saya akan lebih fokus, serius dan lebih bersungguh-sungguh. Semoga minggu depan aku lebih bersemangat dan senang.”
Menuliskan refleksi secara terbimbing, jika dilakukan secara rutin, akan memberikan manfaat baik bagi murid maupun guru. Manfaat bagi murid diantaranya; 1) ruang bagi murid untuk berfikir apakah pembelajaran selama yang diikuti dapat dilakukan secara maksimal. Sehingga murid dapat memikirkan langkah-langkah selanjutnya untuk meningkatkan prestasinya.
2) sebagai ruang ekspresi positif peserta didik terhadap guru mengenai proses belajar mengajar. 3) dapat melatih dan mengasah keterampilan murid menulis dan menyampaikan gagasan reflektif. 4) sebagai aktualisasi murid sebagai profil pelajara Pancasila yaitu bernalar kritis.
Demikian juga manfaat bagi guru diantaranya: 1) mendapatkan informasi positif yang berguna untuk mengetahui sejauh mana capaian hasil proses belajar mengajar. 2) menjalin komunikasi yang positif dan bersifat membangun. 3) meningkatkan layanan kepada murid dalam pembelajaran baik.
Refletif menjadi salah satu nilai guru yang harus terpatri dalam jiwa. Refleksi menjadi bagian yang penting dan perlu dilaksanakan secara periodik. Refleksi membangun keterbukaan terhadap guru bersama murid untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.
Dalam kegiatan refleksi seperti ini jika guru juga melakukannya, maka akan menjadi lebih lengkap hasil refleksi yang dilakukan. Murid secara terbimbing dan periodik melakkan kegiatan refleksi serta guru pun juga melakukan kegiatan yang sama, maka secara bertahap dan optimis akan merubah proses dalam kegaitan pembelajaran yang terjadi di dalam kelas yang berpihak pada murid tentunya.
Dari GWO Sriwedari, Belajar Jadi Manusia Seutuhnya
Dua kali saya menyaksikan tampilan seni budaya dalam bentuk drama dan pagelaran seni daerah nusantara persembahan dari siswa SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Gelaran...
Membangun Amal Usaha Muhammadiyah Unggulan
Muhammadiyah adalah sebuah organisasi yang bergerak atas semangat al-Ma’un dan Al-Ashr (dari etos ke spirit peradaban) dan berkhidmat untuk membangun kemanusiaan, keumatan, kebangsaan, dan internasional...
Apa yang Bisa Dilakukan oleh Pimpinan Muhammadiyah dalam Menghadapi Penurunan Jumlah Warganya?
SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pernyataan Denny JA mengenai penurunan yang signifikan dalam jumlah warga Muhammadiyah dalam 20 tahun terakhir merupakan isu yang perlu dipertimbangkan dengan serius...
Historical Walking, Ikhtiar Pembumian Nilai Kemuhammadiyahan
Sepanjang yang saya ketahui, ada dua buku yang mengupas perjalanan Sejarah Muhammadiyah kota Surakarta. Pertama, Matahari Terbit di Kota Bengawan yang ditulis oleh Dr Mohamad...
Mindful Learning dalam Pembelajaran Kimia
Materi kimia sangatlah menarik. Bila seorang guru mampu membangkitkan minat dan motivasi siswa, materi kimia bisa menjadi sarana berpikir kritis, kreatif, membentuk karakter ilmiah dan...
STEM and Digitalisation (3): Manpower Development, Coaching Students, and Reflective Thinking
Diskusi dan sharing pengelolaan pendidikan bersama akademisi Nanyang Polytechnic Singapura berlanjut sampai hari ke -10. Tema Pengembangan sumber daya manusia untuk pertumbuhan ekonomi, membangun cara...
Melekat Kelas Baru
Di awal tahun pelajaran baru, satuan pendidikan menyiapkan awal tahun pelajaran. Kegiatan awal tahun ditandai adanya berbagai kegiatan. Salah satunya adalah masa pengenalan lingkungan sekolah...
STEM and Digitalisation (2): Menciptakan Iklim dan Ekosistem Inovasi
Baca seri pertama dari artikel ini di sini Hari ke-2, 3, dan 4 pelatihan, kami berdialog dan sharing dengan Mr Yoon Eng Tong dalam forum...
Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)
RESENSI BUKU Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan) Judul Buku : Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)...
STEM And Digitalisation (1): Refleksi Teachers Course di Nanyang Polytechnic Singapura
Hari ini, Senin 17 Juli 2023 saya berkesempatan untuk belajar secara langsung bersama Dr Judy Emily dari Nanyang Polytechnic (NYP) Singapore untuk mendalami model pendidikan...
Romansa Guru Penggerak
Program guru penggerak merupakan bagian dari program merdeka belajar episode ke lima yang digagas oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Program guru pengerak adalah...
Buku Merawat Intelektualisme Muhammadiyah Telah Terbit
Kabar gembira bagi para aktivis dan kader Muhammadiyah di kota Solo. Pasalnya, buku karya Dr Mohamad Ali yang merupakan catatan–catatan sejarah pergerakan Muhammadiyah di kota...






