Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

TKA Bukan Momok

Andi Arfianto, Editor: Alan Aliarcham
Minggu, 8 Maret 2026 14:13 WIB
TKA Bukan Momok
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sebanyak 54 murid kelas VI SD Muhamadiyah Program Khusus(PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan uji coba Tes Kemampuan Akademik (TKA) di ruang laboratorium komputer sekolah setempat, Selasa (16/9/2025). (Humas)

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for learning sebagai landasan perbaikan proses pembelajaran, serta assessment as learning yang menjadi bagian dari sistem penilaian pendidikan secara menyeluruh.

Lebih lanjut bahwa hasil TKA tidak digunakan sebagai penentu kelulusan, namun dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebijakan, termasuk sebagai salah satu indikator pada jalur seleksi masuk perguruan tinggi berbasis prestasi. Pada Selasa, 23 Desember lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi merilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2025 bagi peserta SMA, SMK, MA, dan Paket C.

Penyampaian hasil TKA dilakukan melalui mekanisme berjenjang untuk memastikan keakuratan data, akuntabilitas, serta ketertiban administrasi dalam pendistribusian informasi kepada satuan pendidikan dan murid. Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) akan disalurkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kepada Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta Kantor Wilayah Kementerian Agama untuk melalui proses verifikasi kelengkapan dan kesesuaian data sebelum diteruskan ke satuan pendidikan.

Skema ini diberlakukan guna memastikan bahwa informasi hasil TKA yang diterima sekolah dan murid berasal dari data resmi serta terhindar dari kekeliruan administratif. Satuan pendidikan dapat mengakses Daftar Kolektif Hasil TKA (DKHTKA) melalui laman resmi tka.kemendikdasmen.go.id.

Dokumen tersebut berisi data identitas serta nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) setiap peserta yang terdaftar . Laman tersebut juga memuat informasi capaian nasional maupun provinsi hasil TKA 2025 untuk setiap mata pelajaran.

Hasil pelaksanaan TKA pertama untuk jenjang SMA, SMK, MA dan Paket C dikatakan sukses. Dari total lebih dari 3,56 juta murid sasaran, sebanyak 97,94 persen mengikuti ujian pada jadwal utama, sementara sisanya mengikuti ujian susulan akibat alasan penting atau kendala teknis tertentu. Namun, hasil rata-rata secara nasional masih perlu ditingkatkan agar nilainya meningkat ditahun depan. Rata-rata nasional menunjukkan nilai Bahasa Indonesia 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris 26,71.

Optimistis Sukses

Pelaksanaan TKA di tahun 2026 akan diintegrasikan dengan AN. Selain matematika dan bahasa indonesia, materi survei karakter dan survei lingkungan belajar juga diujikan. Kebijakan tersebut telah disosialisasikan pada kegiatan webinar sosialisasi kebijakan dan implementasi TKA Jenjang SD awal bulan Februari lalu melalui kanal yotube dengan link https://youtube.com/live/uIR4Febrn-Y?feature=share.

Selanjutnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerbitkan Peraturan Mendikdasmen Nomor 9 Tahun 2026 terkait Asesmen Nasional (AN). Permendikdasmen ini menggantikan Permendikbudristek Nomor 17 Tahun 2021 tentang Asesmen Nasional. Terdapat beberapa ketentuan yang diubah melalui Permendikdasmen tersebut.

Sementara, mulai tahun ini pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) akan digabung dengan AN. Implementasinya akan dimulai dengan TKA SD dan SMP. Adapun rangkaian kegiatan yang akan dilakukan diantaranya: 1) pendaftaran TKA, 2) kegiatan simulasi, 3) kegiatan gladi bersih, 4) TKA utama, 5) kegiatan susulan, dan 6) pengumuman hasil.

Meski demikian, tentunya semua satuan pendidikan sudah mereposisi diri untuk menyongsong kegiatan tersebut. Satuan pendidikan sudah mendapatkan sosialisasi dari dinas tingkat kota/kabupaten hingga dari tingkat korwil.

Kegiatan seperti sosialisasi pendaftaran, bedah kisi-kisi dan pembuatan soal TKA juga sudah diikuti oleh para guru dan proktor. Selain itu, tidak sedikit lembaga pendidikan sudah menggelar kegiatan try out TKA dan diikuti oleh siswa secara online. Kegiatan pendampingan untuk persiapan khusus pun juga dilakukan oleh setiap satuan pendidikan.

Menambah jam pelajaran hingga drill soal menjadi aktivitas rutin yang biasa dilakukan di jenjang kelas VI maupun kelas IX. Penggunaan buku pendamping TKA menjadi suplemen utama untuk menyongsong sukses TKA. Penggunaan smart phone sebagai untuk latihan pengerjaan secara online pun juga diajarkan.

Upaya sekolah dalam mencapai target maksimal hasil dari TKA yang perdana ini, selain dari kegiatan guru maka perlu adanya kemitraan dengan murid maupun dengan orang tua murid. Sekolah harus benar-benar fokus dan serius dalam mengelola kegiatan yang efektif. Seperti halnya yang rancang dan dilakukan di SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat untuk menyongsong sukses di TKA.

Pertama, adanya program refleksi bersama orang tua atau dengan istilah RBO. RBO ini berupa paket suplemen TKA yang berisi latihan soal untuk memperluas dan memperdalam sesuai kisi-kisi. Yang terdiri dari soal Bahasa Indonesai dan Matematika yang masing-masing berjumlah 30 butir soal.

Dilengkapi kunci jawaban dan lembar penilaian. Bertujuan memperkaya pengalaman belajar murid dengan pendampingan dan arahan dari orang tua. Orang tua sebagai mitra untuk melakukan kolaborasi bersama. RBO ini diberikan kepada murid setiap sepekan sekali. Orang tua dirumah mendampingi, mengoreksi sekaligus menilai pada lembar penilaian yang sudah diberikan. Hasil penilaian setiap murid kemudian dikumpulkan ke sekolah pada guru kelas.

Selanjutnya, murid akan dibagi lagi RBO dengan kode berbeda yang akan menjadi tugas untuk sepekan kedepan. Dengan demikian, orang tua akan mengetahui perkembangan anaknya secara periodik melalui RBO. Bentuk kemitraan seperti ini menjadi lebih efektif dan terukur. Kegiatan di sekolah maupun di rumah menjadi relatif terarah dan relevan. Pelaksanaan RBO ini sudah dimulai sejak awal bulan Januari atau di semester 2. RBO rencananya akan dilaksanakan hingga menjelang pelaksanaan TKA.

Kurang lebih ada 15 paket RBO yang dilakukan yaitu kode 01 hingga kode 15. Setelah semua kegiatan RBO selesai dilaksanakan, rencananya orang tua akan dibagi hasil rekapan nilai yang sudah diselesaikan murid selama menyelesaikan kode 01 hingga 15. Hasil ini menjadi data yag bisa digunakan sebagai analisis kesiapan dalam sukses TKA mendatang.

Kedua, adanya kegiatan kemitraan dengan murid dalam berkolaborasi. Kegiataan ini dinamakan tutor sebaya. Tutor sebanya ini dilakukan antar murid yang berbeda rombel (rombongan belajar). Murid yang berjumlah 54 yang terdiri dari 2 rombel akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok putra dengan putra dan putri dengan putri yang terpisah. Maksimal anggota dalam kelompok ada 3 murid. Diharapkan dengan meminimalkan anggota dalam setiap kelompok akan menjadi lebih efektif dan mandiri.

Setiap kelompok diberi tugas untuk menyelesaikan soal latihan TKA bahasa Indonesai dan matematika masing-masing terdiri dari 10 butir soal. Soal soal tersebut dibuat sesuai indikator pada kisi-kisi TKA. Setiap kelompok menyelesaikan dalam waktu 60 menit. Kegiatan ini bisa berlangsung di jam pagi atau siang menyesuaikan alokasi waktu.

Guru bertugas menjadi fasilotator dalam kegiatan tersebut. Menyiapkan soal dan merespon kelompok yang memerlukan informasi serta penyelesaian. Dalam setiap kelompok terdiri dari murid dengan kemampuan tinggi, sedang dan rendah.

Murid dengan kemampuan tinggi, memiliki tugas menjelaskan kepada murid yang belum paham atau belum bisa menyelesaikan soal (sebagai mentor). Selanjutnya, murid yang dimentori menjelaskan secara ulang cara penyelesainnya kepada teman satu kelompoknya. Dengan demikian terjadi interaksi yang bermakna antar teman satu kelompok.

Tutor sebaya merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang melibatkan mjrid dengan pemahaman lebih baik untuk membimbing teman sebayanya. Melalui interaksi yang lebih santai, strategi ini membantu meningkatkan pemahaman materi, mendorong keaktifan belajar, serta mengembangkan rasa percaya diri dan keterampilan sosial.

Metode ini dinilai efektif karena murid yang berperan sebagai tutor semakin memahami materi saat menjelaskan, sementara murid lain lebih leluasa dan nyaman dalam mengajukan pertanyaan. Upaya sekolah yang dilakukan dalam mencapai target maksimal hasil dari TKA seperti kegiatan diatas, merupakan bentuk optimisme sekolah.

Mendapat nilai yang bagus menjadi tujuan yang harapkan oleh murid, sekolah mapun orang tua. Bentuk – bentuk program yang dirancang sekolah tersebut menjadi bekal untuk murid dalam kesiapan mengikuti TKA dengan penuh optimisme, jujur dan bergembira. Sehingga TKA bukan menjadi momok bagi murid yang akan melaksanakannya. Selain bukan sebagai penentu kelulusan, persiapan bekal yang diberikan oleh sekolah untuk murid sangatlah cukup dan maksimal.

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...