Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tarjih & Tajdid

Implementasi Pembelajaran Merdeka Belajar

Andi Arfianto, M.Pd. (Guru SD Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta), Editor: Yusuf R. Yanuri
Selasa, 8 November 2022 06:26 WIB
Implementasi Pembelajaran Merdeka Belajar

Hakikat kemerdekaan dan kebebasan berpikir harus dimulai oleh guru terlebih dahulu sebelum kemudian diajarkan kepada murid. Sistem pengajaran harus berubah dari yang sebelumnya dilakukan selalu di dalam kelas menjadi dilakukan di luar kelas.

Murid harus dapat berdiskusi lebih dalam dengan guru, belajar dengan di luar kelas, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru saja. Perlu adanya asesmen diagnostik yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Asesmen diagnostik non kognitif maupun kognitif.

Tujuan dari asesmen diagnostik adalah untuk mendiagnosis kemampuan dasar murid dan mengetahui kondisi awal murid. Selain itu,  perubahanan dalam pengajaran yang berkaitan dengan terbentuknya karakter murid yang berani, mandiri, terampil dalam berkomunikasi, berkarakter, literat, dan berkompetensi.

Karena hakikatnya setiap anak mempunyai kecerdasan dan bakat dalam bidang tertentu. Perubahan yang lain adalah adanya pengelolaan pembelajaran untuk memastikan setiap murid di kelas mereka sukses dalam proses pembelajaran. 

Seorang guru atau pendidik dapat diistilahkan sebagai petani. Sedangkan murid bisa disitilahkan sebagai bibitnya. Aktifitas seorang petani yaitu merawat, memberi air, menyiangi gulma dan memberi pupuk. Agar hasil dari tanaman tersebut dapat berbuah dengan kualitas baik dan berbuah banyak.

Ada bibit yang dirawat dengan cara sama, pemberian air yang sama, pemberian pupuk yang sama dan juga tempat atau media yang sama. Ternyata bibit-bibit tersebut tumbuh dengan capaian atau hasil yang berbeda-beda.

Maka guru harus memahami bahwa setiap murid itu unik dan beragam. Tentunya kita harus tau cara menanganinya, dan cara menyelesaikan masalahnya dengan solusi yang tepat untuk menuntun mereka.

Namun, perlu disadari bahwa petani tidak mungkin dapat mengubah bibit durian menjadi apel. Begitu juga sebaliknya. Karena itu merupakan bagian dari kodrat alam dan dasar yang harus diperhatikan dalam pendidikan. Pendidikan yang diberikan harus menghamba pada murid. Kita tidak bisa serta merata memaksakan kehendak yang kita inginkan.

Guru adalah pemimpin dalam pembelajaran dan anak adalah sang pemeran utama yang merupakan subjek bukan objek. Guru dan murid harus bisa berkolaborasi bersama untuk menggali, mengembangkan potensi yang dimilikinya dan dapat mengakomodasi karakteristik masing-masing agar dapat tercapai keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Implementasi Pembelajaran Merdeka Belajar

Nah, apakah bisa model pembelajaran project based learning (PBL) dapat dikatakan merdeka belajar bagi murid? Merdeka belajar sangat berkaitan dengan model pembelajaran PBL. Menurut Glazer (2001), PBL merupakan suatu strategi pengajaran dimana murid secara aktif dihadapkan pada masalah kompleks dalam situasi yang nyata.

Project based learning adalah model pembelajaran yang berbasis proyek nyata dalam pembelajaran untuk memastikan soft skills, hard skills, dan karakter yang kuat. Dengan PBL,  murid menjadi terbuka dalam pola pikirnya, diberikan pemantik satu pertanyaan bisa menjawab dua sampai empat jawaban dengan pola pikir yang berbeda-beda. Dan dengan PBL murid berperan aktif dalam berinteraksi mendiskusikan tentang pola pikirnya dengan murid lain.

Mengacu pada program merdeka belajar, pada kondisi PTM (pembelajaran tatap muka) penulis mencoba menerapkan model pembelajaran PBL atau pembelajaran berbasis masalah pada pembelajaran matematika kelas V materi penyajian data di SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta.

Pada model PBL terdapat sintak atau urutan langkah-langkah dalam proses pembelajaran. Pada tahap awal, guru melakukan asesmen diagnostik non kognitif maupun kognitif. Untuk pertanyaan pemantik dalam kegiatan diagnostik non kognitif, guru menyanyakan terkait kesiapan belajar matematika. Pertanyaan pemantik dalam diagnostik kognitif, guru memberikan pertanyaan pemantik terkait pemahaman murid terhadap materi pengolahan data. 

Langkah pada pembelajaran inti model PBL ada enam.  Pertama, Orientasi murid pada masalah. Dalam kegiatan ini guru memberikan kesempatan kepada murid untuk mengamati gambar yang berkaitan dengan penyajian data yang dibagikan kepada murid. Selanjutnya murid mengidentifikasi dan mencari informasi. Murid bisa mengkomunikasikan kepada guru terkait temuan dari gambar tersebut. 

Kedua, mengorganisir murid dalam belajar. Guru membagi murid ke dalam kelompok-kelompok kerja secara variatif. Murid dibagi ke dalam kelompok dengan anggota 3 – 4 murid. Guru menginstuksikan bahwa setiap kelompok melakukan diskusi untuk menentukan ketua (leader), presenter (penyaji), dan pencatat (penulis). 

Ketiga, membimbing penyelidikan murid secara mandiri maupun kelompok. Pada langkah ini, guru membimbing murid mencari data secara berkelompok sesuai petunjuk pada lember kerja peserta didik (LKPD) dengan praktik di luar kelas. Murid secara berkelompok mengumpulkan data dengan mencatat secara langsung kendaraan bermotor yang melaju di jalan Dr Muwardi Surakarta.

Secara letak, SD Muhammadiyah PK Kottabarat berada di jalan Dr Muwardi no 24 Surakarta. Sehingga untuk pengumpulan data bisa memanfaatkan jalan di sekitar sekolah.

Ada dua jalur yang digunakan untuk mencatat data, yaitu jalur yang menuju ke selatan (arah dari over pas Manahan menuju perempatan Gendengan) dan jalur yang menuju ke utara (arah dari perempatan Gendengan menuju over pas Manahan). Waktu yang diberikan untuk melakukan pencatatan selama 15 menit dan jenis kendaraan antara lain sepeda motor, mobil pribadi, mobil box, mobil pickup, angkot dan bus.

Keempat, mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Pada langkah ini, secara berkelompok murid menyajikan data dari hasil yang diperoleh ke dalam bentuk tabel dan diagram. Data yang sudah dicatat saat pengamatan, disajikan oleh murid yang sudah ditunjutk/dipilih oleh kelompok masing-masing.

Setelah selesai disajikan, maka selanjutnya hasilnya dipresentasikan oleh murid yang bertugas mewakili kelompok untuk mempresentasikan hasil kelompok. Dari hasil yang sudah dipresentasikan, selanjutnya semua kelompok menempel dipapan yang sudah disiapkan.

Terakhir, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Pada langkah ini, setiap kelompok melakukan kegiatan kunjung hasil karya dan memberikan tanggapan terhadap hasil karya kelompok lain secara lisan dan secara bergantian.

Kemudian, guru memberikan apresiasi kepada semua kelompok, atas kegiatan pembelajaran yang sudah terlaksana dan saling bekerjasama serta berperan aktif dalam setiap langkah kegiatan pembelajaran. 

Peran dalam kegaitan kelompok, dapat memberikan kebebasan kepada murid untuk memilih peran yang mereka kehendaki, dengan tujuan agar murid mampu mengeksplorasi dan berkreasi serta belajar sesuai dengan minat yang ada pada murid.

Sehingga murid merasa lebih bersemangat untuk menyelesaikan tugasnya secara berkelompok karena mereka lebih merasa nyaman dan percaya diri dengan peran yang mereka pilih sendiri atau ditunjuk oleh kelompoknya. Di akhir kegiantan pembelajaran, dilakukan kegiatan refleksi. Refleksi terbagi 2 yaitu refleksi yang dilakukan oleh murid dan refleksi yang dilakukan oleh guru. 

Dalam kegiatan refleksi yang dilakukan murid, guru memberikan pertanyaan dan murid menuliskannya pada buku tulis. Pertanyaan yang diberikan oleh guru di antaranya:

“Apakah kebaikan yang sudah dilakukan pada kegiatan pembelajaran matematika hari ini, materi terkait apa yang berusan dipelajari? apakah ada yang masih mengalami kesulitan, dan nilai-nila kebabaikan yang akan dilakukan pada pembelajaran selanjutnya?”

Kemudian kegiatan refleksi oleh guru diantaranya: mengevaluasi apakah langkah-langkah pembelajaran yang sudah dilakukan semua sudah bisa berjalan dengan yang diharpakan.

Model pembelajaran PBL merupakan salah satu pembelajaran yang mencerminkan merdeka belajar, sehingga PBL menjadi salah satu alternative yang bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas.

Tidak hanya pada pembelajaran matematika, melainkan pembelajaran yang lainnya. Pembelajaran bisa didesain di luar kelas, sehingga suasana menjadi berbeda dari biasanya dan murid bisa berexplorasi secara maksimal baik secara individu maupun kelompok.

Berita Terbaru

Dari GWO Sriwedari, Belajar Jadi Manusia Seutuhnya

Dua kali saya menyaksikan tampilan seni budaya dalam bentuk drama dan pagelaran seni daerah nusantara persembahan dari siswa SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Gelaran...

Membangun Amal Usaha Muhammadiyah Unggulan

Muhammadiyah adalah sebuah organisasi yang bergerak atas semangat al-Ma’un dan Al-Ashr (dari etos ke spirit peradaban) dan berkhidmat untuk membangun kemanusiaan, keumatan, kebangsaan, dan internasional...

Apa yang Bisa Dilakukan oleh Pimpinan Muhammadiyah dalam Menghadapi Penurunan Jumlah Warganya?

SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pernyataan Denny JA mengenai penurunan yang signifikan dalam jumlah warga Muhammadiyah dalam 20 tahun terakhir merupakan isu yang perlu dipertimbangkan dengan serius...

Historical Walking, Ikhtiar Pembumian Nilai Kemuhammadiyahan

Sepanjang yang saya ketahui, ada dua buku yang mengupas perjalanan Sejarah Muhammadiyah kota Surakarta. Pertama, Matahari Terbit di Kota Bengawan yang ditulis oleh Dr Mohamad...

Mindful Learning dalam Pembelajaran Kimia

Materi kimia sangatlah menarik. Bila seorang guru mampu membangkitkan minat dan motivasi siswa, materi kimia bisa menjadi sarana berpikir kritis, kreatif, membentuk karakter ilmiah dan...

STEM and Digitalisation (3): Manpower Development, Coaching Students, and Reflective Thinking

Diskusi dan sharing pengelolaan pendidikan bersama akademisi Nanyang Polytechnic Singapura berlanjut sampai hari ke -10. Tema Pengembangan sumber daya manusia untuk pertumbuhan ekonomi, membangun cara...

Melekat Kelas Baru

Di awal tahun pelajaran baru, satuan pendidikan menyiapkan awal tahun pelajaran. Kegiatan awal tahun ditandai adanya berbagai kegiatan. Salah satunya adalah masa pengenalan lingkungan sekolah...

STEM and Digitalisation (2): Menciptakan Iklim dan Ekosistem Inovasi

Baca seri pertama dari artikel ini di sini Hari ke-2, 3, dan 4 pelatihan, kami berdialog dan sharing dengan Mr Yoon Eng Tong dalam forum...

Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)

RESENSI BUKU Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan) Judul Buku : Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)...

STEM And Digitalisation (1): Refleksi Teachers Course di Nanyang Polytechnic Singapura

Hari ini, Senin 17 Juli 2023 saya berkesempatan untuk belajar secara langsung bersama Dr Judy Emily dari Nanyang Polytechnic (NYP) Singapore untuk mendalami model pendidikan...

Romansa Guru Penggerak

Program guru penggerak merupakan bagian dari program merdeka belajar episode ke lima yang digagas oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Program guru pengerak adalah...

Buku Merawat Intelektualisme Muhammadiyah Telah Terbit

Kabar gembira bagi para aktivis dan kader Muhammadiyah di kota Solo. Pasalnya, buku karya Dr Mohamad Ali yang merupakan catatan–catatan sejarah pergerakan Muhammadiyah di kota...

Leave a comment