Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

IMM Solo dalam Kemacetan Kesadaran

Mohammad Fernanda Wahdani, Editor: Sholahuddin
Selasa, 27 Mei 2025 13:09 WIB
IMM Solo dalam Kemacetan Kesadaran
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Mohammad Fernanda Wahdani (Dok. pribadi).

Surakarta, atau yang lebih sering kita sebut Solo, dulu adalah kota perlawanan. Kota yang melahirkan cikal bakal organisasi paling berpengaruh bagi kemerdekaan Indonesia. Banyak tokoh yang terlahir dari kota ini, mulai dari Samanhudi, Haji Misbah sampai Wiji tukul yang kesemuanya menarasikan hal yang sama: perlawanan! Gang-gang di jalanan kota ini menjadi saksi bagaimana buruh mogok kerja, mahasiswa yang turun ke jalan, dan rakyat kecil yang menolak digusur. Tapi itu dulu. Kini kota ini dibungkus dalam plastik mewah bernama oligarki.

Manahan tidak lagi hanya tentang stadion. Ia adalah simbol: bagaimana ruang rakyat dikepung proyek mercusuar. Di sebelahnya, Paragon menjulang tempat kelas menengah baru menenangkan diri dari inflasi dengan diskon dan AC. Tapi yang paling sunyi justru mereka yang mengaku intlektual organik. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Solo, organisasi kader yang konon diwarisi oleh semangat Kiai Ahmad Dahlan dan tafsir sosial Al Ma’un, kini seperti kehilangan daya dan suara. Di tengah kota yang sesak oleh ketimpangan, mereka berjalan seolah kota ini baik-baik saja. IMM Solo sedang tersesat. Bukan karena tidak tahu jalan pulang, tapi karena terlalu nyaman di perempatan.

Kosmetik Identitas

Dalam banyak forum, IMM Solo masih bicara soal ideologi, kaderisasi, dan integrasi trilogi. Tapi di lapangan, mereka lebih tampak seperti manajemen event daripada gerakan mahasiswa.  Kaderisasi diselenggarakan dengan baik, rapi, bahkan megah. Tapi pertanyaannya bukan seberapa bagus spanduk dan rundown acara, melainkan  apa yang diperjuangkan setelah itu?  Apakah mereka bergerak setelah Darurat Sampah di Putri Cempo? Setelah warga Kentingan Baru digusur oleh aparat? Setelah rakyat Palestina dibombardir Israel dan Indonesia membeli senjata dari negara yang sama?

Atau IMM Solo cukup puas dengan sikap-sikap normatif yang dibacakan di atas mimbar, direkam dalam Instagram Story, lalu dilupakan esok paginya?  Di saat bobotoh menjadikan Persib sebagai identitas sekaligus senjata sosial, IMM Solo masih sibuk membenahi kosmetik identitasnya sendiri.

Ada semacam kekosongan dalam tubuh IMM Solo hari ini, kekosongan yang anehnya sangat riuh. Grup Whatsapp ramai, kegiatan banyak, konten sosial media aktif. Tapi substansi sering kali nihil.  Ini bukan tentang membenci kegiatan internal. Ini tentang bagaimana kegiatan itu gagal membentuk posisi sosial. Kita bukan kekurangan acara. Kita kekurangan sikap keberpihakan.

Sebagian kader sibuk merapikan surat-menyurat, mencetak sertifikat, menulis laporan pertanggungjawaban. Padahal di luar sana, rakyat menulis laporan kehilangan atas tanah, udara, dan hak hidupnya.

Muhammadiyah dulu hadir sebagai gerakan pembebasan: melawan kolonialisme, kebodohan, dan ketimpangan. IMM lahir untuk mewarisi itu: agar kaum muda tidak hanya menjadi ahli tafsir teks, tapi juga ahli tafsir realitas.  Namun kini, IMM Solo tampak lebih dekat ke protokol administratif daripada semangat pembebasan. Lebih sibuk bernegosiasi dengan birokrasi daripada menantang hegemoni.

Kita mengutip Kiai Ahmad Dahlan dan Buya Syafii Maarif, tapi lebih sering menyerah pada ketakutan yang kita bangun sendiri: takut pada konflik, takut pada organisasi, takut pada opini. Tafsir Al Ma’un seolah hanya jadi kutipan pembuka. Padahal mestinya jadi langkah pertama.  Tentu belum semuanya hilang. Masih ada kader-kader yang gelisah. Yang merasa muak dengan rutinitas tanpa tujuan. Yang bertanya, “Apakah kita hanya dilatih untuk jadi pengurus rapat dan panitia event?”

Kepada mereka tulisan ini diarahkan. IMM Solo masih berpeluang berubah. Tapi perubahan hanya mungkin jika ada yang mengguncang. Dan kritik adalah bagian dari cinta yang mengguncang itu.  Jika IMM ingin relevan, ia harus lebih dari sekadar organisasi. Ia harus kembali jadi belati: memotong kepalsuan, merobek kemunafikan, dan menusuk pusat ketidakadilan sosial di kota ini.

Kita tidak kekurangan kader dan forum. Yang kita butuhkan api keberanian untuk melawan status quo hingga IMM Solo sadar bahwa kota ini membutuhkan lebih dari sekadar seminar dan podcast.

Sampai saat itu tiba kita hanya akan terus berjalan di tempat, dengan seragam merah marun yang semakin memudar oleh waktu.

Penulis adalah kader IMM Kota Solo

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment