Surakarta, atau yang lebih sering kita sebut Solo, dulu adalah kota perlawanan. Kota yang melahirkan cikal bakal organisasi paling berpengaruh bagi kemerdekaan Indonesia. Banyak tokoh yang terlahir dari kota ini, mulai dari Samanhudi, Haji Misbah sampai Wiji tukul yang kesemuanya menarasikan hal yang sama: perlawanan! Gang-gang di jalanan kota ini menjadi saksi bagaimana buruh mogok kerja, mahasiswa yang turun ke jalan, dan rakyat kecil yang menolak digusur. Tapi itu dulu. Kini kota ini dibungkus dalam plastik mewah bernama oligarki.
Manahan tidak lagi hanya tentang stadion. Ia adalah simbol: bagaimana ruang rakyat dikepung proyek mercusuar. Di sebelahnya, Paragon menjulang tempat kelas menengah baru menenangkan diri dari inflasi dengan diskon dan AC. Tapi yang paling sunyi justru mereka yang mengaku intlektual organik. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Solo, organisasi kader yang konon diwarisi oleh semangat Kiai Ahmad Dahlan dan tafsir sosial Al Ma’un, kini seperti kehilangan daya dan suara. Di tengah kota yang sesak oleh ketimpangan, mereka berjalan seolah kota ini baik-baik saja. IMM Solo sedang tersesat. Bukan karena tidak tahu jalan pulang, tapi karena terlalu nyaman di perempatan.
Kosmetik Identitas
Dalam banyak forum, IMM Solo masih bicara soal ideologi, kaderisasi, dan integrasi trilogi. Tapi di lapangan, mereka lebih tampak seperti manajemen event daripada gerakan mahasiswa. Kaderisasi diselenggarakan dengan baik, rapi, bahkan megah. Tapi pertanyaannya bukan seberapa bagus spanduk dan rundown acara, melainkan apa yang diperjuangkan setelah itu? Apakah mereka bergerak setelah Darurat Sampah di Putri Cempo? Setelah warga Kentingan Baru digusur oleh aparat? Setelah rakyat Palestina dibombardir Israel dan Indonesia membeli senjata dari negara yang sama?
Atau IMM Solo cukup puas dengan sikap-sikap normatif yang dibacakan di atas mimbar, direkam dalam Instagram Story, lalu dilupakan esok paginya? Di saat bobotoh menjadikan Persib sebagai identitas sekaligus senjata sosial, IMM Solo masih sibuk membenahi kosmetik identitasnya sendiri.
Ada semacam kekosongan dalam tubuh IMM Solo hari ini, kekosongan yang anehnya sangat riuh. Grup Whatsapp ramai, kegiatan banyak, konten sosial media aktif. Tapi substansi sering kali nihil. Ini bukan tentang membenci kegiatan internal. Ini tentang bagaimana kegiatan itu gagal membentuk posisi sosial. Kita bukan kekurangan acara. Kita kekurangan sikap keberpihakan.
Sebagian kader sibuk merapikan surat-menyurat, mencetak sertifikat, menulis laporan pertanggungjawaban. Padahal di luar sana, rakyat menulis laporan kehilangan atas tanah, udara, dan hak hidupnya.
Muhammadiyah dulu hadir sebagai gerakan pembebasan: melawan kolonialisme, kebodohan, dan ketimpangan. IMM lahir untuk mewarisi itu: agar kaum muda tidak hanya menjadi ahli tafsir teks, tapi juga ahli tafsir realitas. Namun kini, IMM Solo tampak lebih dekat ke protokol administratif daripada semangat pembebasan. Lebih sibuk bernegosiasi dengan birokrasi daripada menantang hegemoni.
Kita mengutip Kiai Ahmad Dahlan dan Buya Syafii Maarif, tapi lebih sering menyerah pada ketakutan yang kita bangun sendiri: takut pada konflik, takut pada organisasi, takut pada opini. Tafsir Al Ma’un seolah hanya jadi kutipan pembuka. Padahal mestinya jadi langkah pertama. Tentu belum semuanya hilang. Masih ada kader-kader yang gelisah. Yang merasa muak dengan rutinitas tanpa tujuan. Yang bertanya, “Apakah kita hanya dilatih untuk jadi pengurus rapat dan panitia event?”
Kepada mereka tulisan ini diarahkan. IMM Solo masih berpeluang berubah. Tapi perubahan hanya mungkin jika ada yang mengguncang. Dan kritik adalah bagian dari cinta yang mengguncang itu. Jika IMM ingin relevan, ia harus lebih dari sekadar organisasi. Ia harus kembali jadi belati: memotong kepalsuan, merobek kemunafikan, dan menusuk pusat ketidakadilan sosial di kota ini.
Kita tidak kekurangan kader dan forum. Yang kita butuhkan api keberanian untuk melawan status quo hingga IMM Solo sadar bahwa kota ini membutuhkan lebih dari sekadar seminar dan podcast.
Sampai saat itu tiba kita hanya akan terus berjalan di tempat, dengan seragam merah marun yang semakin memudar oleh waktu.
Penulis adalah kader IMM Kota Solo
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...






