Suatu ketika dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh seluruh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah) menyampaikan sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan. Pertanyaannya, Siapakah orang-orang di Muhammadiyah itu? Beliau memnjawab, “Kita adalah masyarakat kelas sosial menengah!”
Ternyata beliau mengutip perspektif sosiologi Imam Alghazali. Menurutnya, dalam konteks pengetahuan, masyarakat terbagi menjadi tiga klasifikasi; masyarakat awam, khawas, dan khawas bil khawas. Masyarakat awam adalah orang-orang yang ucapan maupun tindakannya tidak berlandaskan pada ilmu, sedangkan masyarakat khawas adalah kaum terpelajar yang mengedepankan dasar ilmu atas setiap ucapan, perbuatan, tindakan, pilihan, keputusan, dan cara pandangnya. Inilah yang dimaksud oleh Ayahanda Abdul Mu’ti sebagai masyarakat kelas sosial menengah, mereka adalah para ulama, intelektual, ilmuwan, kaum terpelajar. Dalam konteks Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), acapkali digaungkan sebagai cendekiawan.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra’: 36)
Setelah membaca dan merenungkan keresahan yang dituliskan oleh adinda IMMawan Rezza Pahlevi yang berjudul “Menanyakan Letak Intelektual IMM Solo” ditambah dengan gagasan melankolis yang dibawakan oleh IMMawati Fajry Annur dalam tulisannya yang berjudul “Bukan Cendekiawan”, barangkali ini ada juga kaitannya dengan beberapa polemik yang terjadi antara kader-kader komisariat dengan pimpinan cabang, mulai dari forum-forum besar semisal Musyawarah Cabang (musyda) IMM Solo tempo lalu ataupun rapat konsolidasi musyda oleh pimpinan cabang beberapa waktu lalu, sampai dengan forum-forum kecil di WhatsApp group yang berisi sindiran dan kritikan keras oleh kader komisariat atas persoalan yang ada.
Saya merasa perlu adanya refleksi ulang tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan IMM Solo hari ini? Mengapa ada narasi cacat intelektual? Darimana isu-isu bahwa di tataran cabang hanyalah elit-elit pejabat? Tentu saja, ketika ada pihak yang melontarkan berbagai pernyataan yang demikian, memang demikianlah apa adanya. Bukankah komisariat merupakan cerminan daripada pimpinan cabangnya?
Melalui pembacaan saya sejauh ini, salah satu persoalan utama di IMM Solo adalah pemisahan antara dimensi intelektualisme dan aktivisme (umumnya kader ikatan lebih familier dengan istilah perkaderan dan pergerakan). Tidak sinkronnya antara kedua hal ini menyebabkan eksistensi IMM Solo tidak jelas dan konsisten akan kemana orientasinya (miss–oriented). Lebih parahnya lagi bahkan pada lingkup masing-masingnya justru mengalami kekacauan. Bagaimana tidak, ketika IMM Solo disebut unggul dalam gerakan sosial, lantas berapa puluh kader yang turun di lapangan aksi? Atau seberapa besar kontribusinya untuk masyarakat Kota Solo per-hari ini?
Lucunya, kebanyakan kader IMM hari ini memaknai “pergerakan” sebagai segala aktivitas yang berhubungan dengan politik. Artinya setiap pergerakan berorientasi pada upaya mendapatkan kepentingan tertentu secara politis dan pragmatis. Akhirnya banyak dari mereka terjerumus dan melupakan identitas gerakan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah. Tentu saja tidak ada yang salah dengan interpretasi tersebut, tetapi rasanya pergerakan tidak sesempit itu pula ruang lingkup pemaknaannya.
Selain itu, fokus kader ikatan pada aktivisme atau pergerakan, membuat mereka lupa akan intelektualisme yang mesti diasah, dalam hal ini adalah perkaderan yang ditinggalkan tanggungjawabnya. Minimnya diskusi-diskusi keilmuan menjadi sebab utama berhentinya nafas intelektual di IMM Solo, tetapi jika dikatakan mati, enggan pula! Pertanyaannya, bagaimana kita berjuang di garis muka, kalau di belakangnya masih haus asupan pencerdasan? Apa pula yang hendak diperjuangkan, sedangkan yang disuruh berjuang adalah kader-kader kosongan?
Upaya pencerdasan untuk melepaskan belenggu kebodohan di IMM Solo rupanya masih nihil, baik pelatihan maupun kegiatan yang diselenggarakannya selama ini hanyalah bersifat seremonial dan eksistensial belaka. Implikasi daripada compang-campingnya perkaderan oleh Cabang IMM Solo adalah terjadinya polarisasi. Dampaknya selain merenggangkan kepercayaan dan kedekatan secara emosional dengan komisariat, juga berpotensi memecah cara pandang umum secara ideologis, pada akhirnya malah memunculkan berbagai sentimen buruk dimana-mana.
Cendekiawan tidak Dikotomis
Selayaknya, cara pandang kaum cendekiawan adalah tidak dikotomis. Dalam hal ini perkaderan adalah ruh daripada pergerakan. Pun sebaliknya tanpa pergerakan, IMM akan kering dan mati di masyarakat. Keduanya adalah satu-kesatuan yang integratif dan harus seimbang, tidak timpang sebelah. Bukankah di dalam enam penegasan IMM poin 5 menegaskan, ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah? Kalaulah kader ikatan masih dikotomis dalam memandang kedua hal ini (intelektualisme dan aktivisme), maka ingatlah firman Allah:
“Dan tidak sepatutnya orang-orang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)
Kritik memang harus disampaikan, meskipun pahit. Titik temu yang paling solutif adalah menyadari kekurangan IMM Solo selama ini, lebih-lebih kesadaran untuk membenahi apa yang sudah terjadi. Pelibatan komisariat merupakan proses perkaderan itu sendiri dan tentu tidak boleh diabaikan oleh pimpinan cabang, baik melibatkan mereka dalam wacana-wacana keilmuan progresif maupun pergerakan yang lebih luas secara terbuka. Basis IMM adalah komisariat (buttom-up) yang berarti setiap gagasan di atas harus berdasar pada kebutuhan dan aspirasi dari akar rumput di bawah.
IMM mengajarkan untuk amar ma’ruf nahi munkar, sebagai pimpinan cabang yang harus dilakukan adalah berketeladanan. Kalau yang diteladankan oleh pimpinan cabang adalah sikap arogan, kolot, eksklusif, antikritik, provokatif, dll, maka begitupun dengan kader-kader komisariat yang akan bersikap sama. Sekali lagi, bukankah komisariat adalah representasi daripada pimpinan cabangnya? Mari hidupkan budaya rasional, mentalitas argumentatif, orientasi gerakan yang adil, serta saling korektif dengan bijaksana.
Tentu seluruhnya kita niatkan sebagai proses perkaderan dalam melibatkan akar rumput, jika IMM Solo tidak mau berbenah untuk masa depan, maka sekali lagi ingatlah firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (masa depan); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).
Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat!
Abadi Perjuangan!
Penulis adalah Ketua Bidang Tabligh PC IMM Kota Surakarta
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...






