Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Kekacauan antara Intelektualisme dan Aktivisme di IMM Solo

IMMawan Albi Almahdy, Editor: Sholahuddin
Senin, 9 September 2024 14:36 WIB
Kekacauan antara Intelektualisme dan Aktivisme di IMM Solo
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - IMMawan Albi Almahdy (istimewa)

Suatu ketika dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh seluruh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah) menyampaikan sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan. Pertanyaannya, Siapakah orang-orang di Muhammadiyah itu? Beliau memnjawab, “Kita adalah masyarakat kelas sosial menengah!”

Ternyata beliau mengutip perspektif sosiologi Imam Alghazali. Menurutnya, dalam konteks pengetahuan, masyarakat terbagi menjadi tiga klasifikasi; masyarakat awam, khawas, dan khawas bil khawas. Masyarakat awam adalah orang-orang yang ucapan maupun tindakannya tidak berlandaskan pada ilmu, sedangkan masyarakat khawas adalah kaum terpelajar yang mengedepankan dasar ilmu atas setiap ucapan, perbuatan, tindakan, pilihan, keputusan, dan cara pandangnya. Inilah yang dimaksud oleh Ayahanda Abdul Mu’ti sebagai masyarakat kelas sosial menengah, mereka adalah para ulama, intelektual, ilmuwan, kaum terpelajar. Dalam konteks Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), acapkali digaungkan sebagai cendekiawan.

Allah berfirman:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra’: 36)

Setelah membaca dan merenungkan keresahan yang dituliskan oleh adinda IMMawan Rezza Pahlevi yang berjudul “Menanyakan Letak Intelektual IMM Solo” ditambah dengan gagasan melankolis yang dibawakan oleh IMMawati Fajry Annur dalam tulisannya yang berjudul “Bukan Cendekiawan”, barangkali ini ada juga kaitannya dengan beberapa polemik yang terjadi antara kader-kader komisariat dengan pimpinan cabang, mulai dari forum-forum besar semisal Musyawarah Cabang  (musyda) IMM Solo tempo lalu ataupun rapat konsolidasi musyda oleh pimpinan cabang beberapa waktu lalu, sampai dengan forum-forum kecil di WhatsApp group yang berisi sindiran dan kritikan keras oleh kader komisariat atas persoalan yang ada.

Saya merasa perlu adanya refleksi ulang tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan IMM Solo hari ini? Mengapa ada narasi cacat intelektual? Darimana isu-isu bahwa di tataran cabang hanyalah elit-elit pejabat? Tentu saja, ketika ada pihak yang melontarkan berbagai pernyataan yang demikian, memang demikianlah apa adanya. Bukankah komisariat merupakan cerminan daripada pimpinan cabangnya?

Melalui pembacaan saya sejauh ini, salah satu persoalan utama di IMM Solo adalah pemisahan antara dimensi intelektualisme dan aktivisme (umumnya kader ikatan lebih familier dengan istilah perkaderan dan pergerakan). Tidak sinkronnya antara kedua hal ini menyebabkan eksistensi IMM Solo tidak jelas dan konsisten akan kemana orientasinya (missoriented). Lebih parahnya lagi bahkan pada lingkup masing-masingnya justru mengalami kekacauan. Bagaimana tidak, ketika IMM Solo disebut unggul dalam gerakan sosial, lantas berapa puluh kader yang turun di lapangan aksi? Atau seberapa besar kontribusinya untuk masyarakat Kota Solo per-hari ini?

Lucunya, kebanyakan kader IMM hari ini memaknai “pergerakan” sebagai segala aktivitas yang berhubungan dengan politik. Artinya setiap pergerakan berorientasi pada upaya mendapatkan kepentingan tertentu secara politis dan pragmatis. Akhirnya banyak dari mereka terjerumus dan melupakan identitas gerakan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah. Tentu saja tidak ada yang salah dengan interpretasi tersebut, tetapi rasanya pergerakan tidak sesempit itu pula ruang lingkup pemaknaannya.

Selain itu, fokus kader ikatan pada aktivisme atau pergerakan, membuat mereka lupa akan intelektualisme yang mesti diasah, dalam hal ini adalah perkaderan yang ditinggalkan tanggungjawabnya. Minimnya diskusi-diskusi keilmuan menjadi sebab utama berhentinya nafas intelektual di IMM Solo, tetapi jika dikatakan mati, enggan pula! Pertanyaannya, bagaimana kita berjuang di garis muka, kalau di belakangnya masih haus asupan pencerdasan? Apa pula yang hendak diperjuangkan, sedangkan yang disuruh berjuang adalah kader-kader kosongan?

Upaya pencerdasan untuk melepaskan belenggu kebodohan di IMM Solo rupanya masih nihil, baik pelatihan maupun kegiatan yang diselenggarakannya selama ini hanyalah bersifat seremonial dan eksistensial belaka. Implikasi daripada compang-campingnya perkaderan oleh Cabang IMM Solo adalah terjadinya polarisasi. Dampaknya selain merenggangkan kepercayaan dan kedekatan secara emosional dengan komisariat, juga berpotensi memecah cara pandang umum secara ideologis, pada akhirnya malah memunculkan berbagai sentimen buruk dimana-mana.

Cendekiawan tidak Dikotomis

Selayaknya, cara pandang kaum cendekiawan adalah tidak dikotomis. Dalam hal ini perkaderan adalah ruh daripada pergerakan. Pun sebaliknya tanpa pergerakan, IMM akan kering dan mati di masyarakat. Keduanya adalah satu-kesatuan yang integratif dan harus seimbang, tidak timpang sebelah. Bukankah di dalam enam penegasan IMM poin 5 menegaskan, ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah? Kalaulah kader ikatan masih dikotomis dalam memandang kedua hal ini (intelektualisme dan aktivisme), maka ingatlah firman Allah:

Dan tidak sepatutnya orang-orang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

Kritik memang harus disampaikan, meskipun pahit. Titik temu yang paling solutif adalah menyadari kekurangan IMM Solo selama ini, lebih-lebih kesadaran untuk membenahi apa yang sudah terjadi. Pelibatan komisariat merupakan proses perkaderan itu sendiri dan tentu tidak boleh diabaikan oleh pimpinan cabang, baik melibatkan mereka dalam wacana-wacana keilmuan progresif maupun pergerakan yang lebih luas secara terbuka. Basis IMM adalah komisariat (buttom-up) yang berarti setiap gagasan di atas harus berdasar pada kebutuhan dan aspirasi dari akar rumput di bawah.

IMM mengajarkan untuk amar ma’ruf nahi munkar, sebagai pimpinan cabang yang harus dilakukan adalah berketeladanan. Kalau yang diteladankan oleh pimpinan cabang adalah sikap arogan, kolot, eksklusif, antikritik, provokatif, dll, maka begitupun dengan kader-kader komisariat yang akan bersikap sama. Sekali lagi, bukankah komisariat adalah representasi daripada pimpinan cabangnya? Mari hidupkan budaya rasional, mentalitas argumentatif, orientasi gerakan yang adil, serta saling korektif dengan bijaksana.

Tentu seluruhnya kita niatkan sebagai proses perkaderan dalam melibatkan akar rumput, jika IMM Solo tidak mau berbenah untuk masa depan, maka sekali lagi ingatlah firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (masa depan); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat!

Abadi Perjuangan!

Penulis adalah Ketua Bidang Tabligh PC IMM Kota Surakarta

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment