Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Mahasiswa vs Mahasewa

Hanif Syairafi, Editor: Alan Aliarcham
Senin, 24 Februari 2025 15:25 WIB
Mahasiswa vs Mahasewa
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi aksi mahasiswa. (satukanindonesia.com)

Dalam dinamika sosial dan politik Indonesia, mahasiswa selalu memiliki peran strategis sebagai penggerak perubahan. Sejarah telah mencatat bagaimana mahasiswa menjadi motor penggerak reformasi, mulai dari gerakan 1966 yang menumbangkan Orde Lama, gerakan 1998 yang mengakhiri Orde Baru, hingga berbagai aksi demonstrasi dalam merespons kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.

Namun, di era modern ini, muncul fenomena menarik: istilah “mahasiswa” dan “mahasewa.” Mahasiswa, dalam arti klasiknya, adalah agen perubahan, individu yang berpikir kritis, serta memiliki kesadaran intelektual dan moral untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Sebaliknya, istilah “mahasewa” sering digunakan sebagai sindiran bagi mereka yang hanya mengejar gelar akademik tanpa memiliki kesadaran sosial, lebih sibuk menikmati kehidupan kampus daripada menyelami peran sebagai kaum intelektual.

Dikotomi ini kemudian menimbulkan pertanyaan: bagaimana seharusnya mahasiswa menyikapi perseteruan dan tantangan bangsa? Apakah mahasiswa masih memegang peran historisnya sebagai kekuatan moral, atau justru semakin kehilangan identitasnya di tengah pragmatisme zaman?

Mahasiswa: Pilar Perubahan Sosial dan Politik

Sejarah gerakan mahasiswa menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar kelompok akademik, melainkan bagian dari kekuatan sosial yang mampu menggoyahkan sistem politik yang mapan. Antonio Gramsci, dalam konsep intellectual organic, menyebut bahwa intelektual sejati adalah mereka yang tidak hanya memahami teori tetapi juga terlibat aktif dalam perjuangan masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral sebagai “kaum intelektual organik” yang seharusnya berdiri di garis depan dalam menghadapi ketidakadilan dan krisis sosial. Namun, menjadi mahasiswa yang kritis tidak berarti sekadar turun ke jalan dalam demonstrasi.

Ada banyak cara bagi mahasiswa untuk berkontribusi, mulai dari melakukan kajian ilmiah yang berbasis data, menciptakan solusi berbasis teknologi dan inovasi, hingga mengawal kebijakan publik melalui keterlibatan dalam organisasi sosial dan politik.

Ketika bangsa menghadapi perseteruan akibat perbedaan ideologi, agama, atau politik, mahasiswa seharusnya menjadi jembatan dialog yang mencerahkan, bukan justru ikut larut dalam polarisasi. Mahasiswa ideal adalah mereka yang mampu memahami kompleksitas permasalahan dan menawarkan solusi berdasarkan analisis rasional, bukan sekadar ikut arus opini yang tidak berdasar.

Fenomena “Mahasewa”: Simbol Apatisme dan Pragmatisme

Di sisi lain, istilah “mahasewa” sering muncul sebagai kritik terhadap mahasiswa yang dianggap tidak peduli terhadap realitas sosial. Fenomena ini bisa dikaitkan dengan konsep alienasi yang dikemukakan Karl Marx dalam Economic and Philosophic Manuscripts (1844).

Marx menjelaskan bahwa dalam masyarakat kapitalis, individu cenderung mengalami keterasingan (alienation) dari realitas sosial akibat dominasi sistem ekonomi yang menuntut mereka untuk lebih fokus pada aspek pragmatis kehidupan.

Dalam konteks mahasiswa, alienasi ini terlihat ketika banyak yang hanya fokus mengejar IPK tinggi dan persiapan karier tanpa memikirkan kondisi sosial di sekitarnya. Mahasiswa tipe ini lebih sibuk berburu sertifikat, mencari relasi demi jenjang karier, dan enggan terlibat dalam diskusi kritis atau gerakan sosial.

Sikap ini mencerminkan pragmatisme era modern, di mana individu lebih memilih jalur yang aman dan menguntungkan secara pribadi daripada terlibat dalam perjuangan kolektif yang penuh risiko. Fenomena ini diperparah oleh perkembangan media sosial, yang membuat banyak mahasiswa lebih tertarik pada pencitraan diri daripada pengembangan intelektual.

Diskusi yang dulunya dilakukan di ruang-ruang kajian kini sering digantikan dengan debat di media sosial yang cenderung dangkal dan penuh emosi. Mahasiswa yang seharusnya menjadi motor perubahan malah terjebak dalam budaya instan yang lebih mengutamakan popularitas dibandingkan substansi pemikiran.

Peran Mahasiswa yang Sejati

Di tengah polarisasi politik dan konflik sosial yang semakin tajam, mahasiswa tidak boleh kehilangan perannya sebagai pilar kebangsaan. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar mahasiswa tidak terjebak dalam pragmatisme ala “mahasewa” tetapi tetap relevan sebagai agen perubahan:

1.Memperkuat Tradisi Intelektual

Mahasiswa harus kembali kepada tradisi akademik yang sejati, yakni berpikir kritis dan analitis berdasarkan data serta kajian ilmiah. Seorang mahasiswa yang baik tidak hanya menerima informasi mentah dari media sosial, tetapi juga memiliki kemampuan menyaring dan mengevaluasi berita dengan pendekatan ilmiah.

2.Menjaga Independensi dalam Berpikir

Mahasiswa harus berani bersikap kritis tanpa terjebak dalam kepentingan politik praktis. Seperti yang dikatakan oleh filsuf Jean-Paul Sartre, kebebasan berpikir adalah esensi dari eksistensi manusia. Dalam dunia yang penuh propaganda, mahasiswa harus mampu menjaga independensinya agar tidak mudah diperalat oleh kelompok tertentu.

Di era digital, mahasiswa memiliki keuntungan dalam akses informasi dan komunikasi. Gerakan mahasiswa tidak harus selalu berbentuk aksi jalanan, tetapi bisa dikembangkan dalam bentuk kampanye digital, platform edukasi, atau inovasi berbasis teknologi yang menawarkan solusi konkret bagi permasalahan sosial.

3.Berperan sebagai Jembatan Dialog

Ketika bangsa dilanda konflik politik dan sosial, mahasiswa harus menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai pihak dengan pendekatan akademik dan intelektual. Seorang mahasiswa yang matang tidak akan mudah terpancing emosi, tetapi mampu menjadi mediator yang menyatukan perbedaan.

Mahasiswa yang ideal bukan hanya mereka yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial. Hal ini bisa dilakukan dengan aktif dalam organisasi, komunitas sosial, atau inisiatif yang membantu masyarakat secara langsung.

Dikotomi antara “mahasiswa” dan “mahasewa” mencerminkan pergeseran paradigma dalam dunia akademik. Mahasiswa yang sejati adalah mereka yang tetap memegang teguh peran historisnya sebagai agen perubahan, sementara mahasewa adalah simbol pragmatisme yang lebih fokus pada keuntungan pribadi.

Di tengah perseteruan bangsa yang semakin kompleks, mahasiswa harus kembali kepada peran utamanya sebagai intelektual organik yang mampu menawarkan solusi berbasis kajian ilmiah. Hanya dengan mempertahankan tradisi berpikir kritis, menjaga independensi, serta memanfaatkan teknologi dan kepemimpinan sosial, mahasiswa dapat tetap relevan dalam membangun bangsa yang lebih baik.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Soe Hok Gie, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.” Dalam dunia yang penuh kepentingan dan manipulasi, mahasiswa harus tetap menjadi suara kebenaran yang berani melawan arus demi perubahan yang lebih baik.

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...