Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Wisuda dengan Kebanggaan, Bekerja dengan Kebingungan: Momen Reflektif untuk Lulusan Hari Ini

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Alan Aliarcham
Kamis, 3 Juli 2025 16:42 WIB
Wisuda dengan Kebanggaan, Bekerja dengan Kebingungan: Momen Reflektif untuk Lulusan Hari Ini
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sebanyak 2.389 lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) diwisuda Rektor UMS Prof. Sofyan Anif, di Edutorium KH Ahmad Dahlan, Jumat (11/4/2025). (Humas)

Di tengah gemuruh tepuk tangan dan senyum bahagia, seorang mahasiswa berdiri di atas panggung wisuda. Toga hitam berkibar, ijazah di tangan, dan kilatan kamera mengabadikan momen yang selama ini dinanti. Tapi ketika semua perayaan mereda, dan kesendirian di kamar kembali menyapa, muncul pertanyaan sederhana tapi menghantam begitu dalam: “Lalu, aku mau jadi apa?”

Wisuda memang menjadi simbol keberhasilan akademik. Tapi tidak sedikit yang menyadari bahwa setelah itu, justru kebingungan dimulai. Ada rasa bangga, iya. Tapi ada juga kegamangan. Dulu masuk kuliah dengan impian besar—ingin jadi orang hebat, ingin ilmunya bermanfaat.

Tapi kampus ternyata bukan sekadar ruang kelas. Di sana ada dinamika sosial, cinta pertama, konflik batin, pesta-pesta, dan segala distraksi yang tak jarang membuat tujuan awal mengabur perlahan. Kini, gelar sudah didapat. Tapi apakah cukup?

Antara Ijazah dan Keterampilan

Di dunia nyata, ijazah hanyalah tiket masuk. Ia bukan jaminan, apalagi garansi sukses. Banyak lulusan yang gagap menghadapi dunia kerja karena tidak memiliki keterampilan praktis. Bahkan sebagian tak tahu harus menyodorkan ijazahnya ke mana. Ini bukan semata soal lapangan kerja yang sempit, tapi juga tentang kesiapan mental dan kemampuan beradaptasi.

Psikolog modern seperti Daniel Goleman menekankan pentingnya Emotional Intelligence (EQ) kemampuan mengenali emosi, mengelola stres, berkomunikasi efektif, dan membangun relasi. Sayangnya, keterampilan ini tidak diajarkan secara formal di kampus. Maka wajar jika banyak lulusan yang merasa limbung saat menghadapi realitas dunia kerja yang penuh tuntutan dan kompetisi.

Lebih jauh lagi, filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre pernah menyatakan, “Manusia dikutuk untuk bebas.” Artinya, manusia bebas memilih jalan hidupnya, tetapi kebebasan itu membawa beban: tanggung jawab atas keputusan sendiri. Maka, ketika kampus tak lagi menentukan arah, seseorang harus berani menyusun peta hidupnya sendiri. Di sinilah banyak yang kebingungan, karena selama ini hanya menjalani, bukan menyelami.

Mengapa Bisa Bingung Setelah Wisuda?

1.Kuliah Tanpa Refleksi Tujuan

Banyak mahasiswa menjalani perkuliahan seperti rutinitas: datang, duduk, mencatat, lalu pulang. Jarang ada waktu untuk merenung, “Apa sebenarnya tujuan saya kuliah? Apa saya hanya ingin lulus, atau ingin benar-benar paham dan berkembang?” Ketika refleksi ini absen, maka wisuda hanya menjadi ritual seremonial, bukan tonggak pertumbuhan.

2.Kampus yang Terlalu Akademis, Dunia Kerja yang Terlalu Dinamis

Sebagian besar kampus masih fokus pada teori. Mahasiswa dicekoki silabus, ujian, dan tugas, tapi jarang diberi proyek nyata yang melatih kreativitas dan problem solving. Ketika masuk dunia kerja, keterampilan inilah yang dicari.

3.Ilusi Kesuksesan Instan

Media sosial menciptakan citra bahwa kesuksesan itu cepat dan gemerlap. Padahal kenyataannya, butuh waktu, kegagalan, dan jatuh-bangun untuk menemukan jalan hidup. Mahasiswa yang tidak siap mental bisa patah semangat lebih awal saat kenyataan tidak sesuai ekspektasi.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

  1. Refleksi Diri: Tanyakan Lagi “Untuk Apa Aku Kuliah?”

Mengutip Socrates, “Hidup yang tidak direnungkan tidak layak dijalani.” Maka, penting bagi lulusan untuk duduk sejenak dan bertanya: Apa potensi yang saya miliki? Di bidang apa saya ingin berkontribusi? Jika perlu, tulis jurnal atau buat peta pikiran untuk menelusuri kembali nilai-nilai pribadi.

  1. Bangun Keterampilan, Bukan Hanya Gelar

Mulailah belajar hal-hal yang aplikatif: komunikasi, manajemen waktu, berpikir kritis, penggunaan teknologi digital, dan kerja tim. Banyak platform daring menyediakan pelatihan gratis atau murah. Gelar memang penting, tapi skill-lah yang menentukan siapa yang bertahan.

  1. Perluas Jaringan dan Lingkungan Bertumbuh

Koneksi membuka banyak jalan. Terlibatlah dalam komunitas, forum profesional, atau organisasi. Lingkungan yang suportif dan inspiratif dapat menumbuhkan motivasi, bahkan membuka peluang karier yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

  1. Redefinisi Sukses

Filsuf Albert Camus mengatakan bahwa hidup tidak selalu memiliki makna yang pasti, tetapi kita bisa memberi makna padanya. Maka, jangan terpaku pada definisi sukses orang lain. Sukses bisa berarti bermanfaat bagi orang tua, mengembangkan desa, atau menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Kuliah untuk Kenangan atau Masa Depan?

Pertanyaan ini penting, dan jawabannya tak sesederhana hitam-putih. Kuliah memang menciptakan kenangan indah, tapi ia seharusnya juga jadi bekal untuk masa depan. Jangan biarkan momen wisuda berhenti di foto-foto Instagram. Jadikan itu sebagai permulaan, bukan puncak.

Bekerja memang bisa membingungkan di awal, tapi dengan kesadaran diri, keterampilan yang dibangun, dan nilai hidup yang kuat, kita akan menemukan arah. Sebab pada akhirnya, dunia ini bukan menunggu siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling siap. Wisuda adalah pintu. Ke mana kita melangkah setelahnya, itulah kisah yang akan menentukan siapa kita sesungguhnya.

Berita Terbaru

Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka

Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...

Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)

Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...

Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain

Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...

Dingin…

Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...

Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas

Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...

Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...

Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...

Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan

Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....

Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah

Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...

Peta Mutu Pendidikan Kota Solo

Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....

Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing

Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...

Politeisme Politik Indonesia

Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...