Silih berganti perubahan di dunia pendidikan dan pembaruan kurikulum terus berlangsung dan berebut untuk mengisi ruang kebijakan politik maupun ruang kesadaran publik. Ketika Kurikulum Merdeka masih existing dengan tekanan pada Profil Pelajar Pancasila, baru-baru ini diperkenalkan wacana baru, lebih tepatnya kebijakan baru, deep learning. Sementara itu, sejak dua dekade lalu, di kalangan pendidik juga bergulir diskursus kompetensi abad ke-21 yang dikenal 4 C (critical thinking, creativity, collaboration, dan communication).
Di tengah gelombang perubahan besar pendidikan yang demikian massif, tidak sedikit pelaku pendidikan yang kebingungan memosisikan diri dan lembaganya, tidak terkecuali pelaku pendidikan Muhammadiyah. Kebingungan itu segera memperoleh pegangan apabila kita bersedia membuka lembaran sejarah perjalanan pergumulan pendidikan Muhammadiyah.
Deep learning atau pembelajaran mendalam akan menjadi arah baru dalam pengembangan pendidikan di Indonesia lima tahun mendatang. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tengah memasak dan mengolah berbagai teori deep learning dari berbagai pakar di seluruh dunia ke dalam alam pendidikan Indonesia. Dengan kata lain, deep learning perlu dikontekstualisasikan sesuai dengan falsafah negara (Pancasila) dan budaya Indonesia yang bercorak multikulturalisme dan religius.
Muhammadiyah merupakan organisasi Islam lahir di bumi Indonesia yang memiliki perhatian tinggi terhadap kemajuan pendidikan. Dalam pandangan Muhammadiyah, pendidikan bukan sekadar wahana untuk mengawetkan tradisi, tetapi sebagai instrumen kemajuan peradaban dan mencerdaskan anak-anak bangsa. Ringkasnya, Muhammadiyah sebagai salah satu tulang punggung pendidikan nasional terus berusaha berpartisipasi aktif dalam pengembangan pendidikan nasional.
Esai ini berupaya melihat aktualisasi dan titik temu antara dasar-dasar pendidikan Muhammadiyah dan profil pelajar yang dirumuskan oleh Micahel Fullan et.al (2018), Deep learning: Engage the Change the World, sebuah buku yang menjadi rujukan utama konseptor deep learning. Sebagai tambahan referensi, kedua konsep tersebut juga akan ditampilkan secara bersamaan dengan kompetensi abad ke-21 dan Profil Pelajar Pancasila sebagai produk Kurikulum Merdeka yang saat ini berjalan.
Berkaca pada Sejarah
Kelemahan mendasar pelaku pendidikan Muhammadiyah, baik pengelola (kepala sekolah dan guru) maupun penyelenggara, yaitu pimpinan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah dan Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen-PNF) adalah tercerabutnya dari mata rantai tradisinya sendiri. Hal ini terjadi karena kesadaran sejarah sangat rendah sehingga tumbuh menjadi pelaku pendidikan yang tuna historis. Kondisi demikian sangat fatal, karena kita akan mudah terombang ambing oleh situasi sesaat tanpa memiliki pegangan yang jelas. Ambyar!
Sekadar membuka ingatan sejarah, mari kita berjalan ke belakang sejenak untuk memahami proses perumusan dasar-dasar pendidikan Muhammadiyah. Jauh sebelum Profil Pelajar Pancasila dirumuskan maupun kompetensi abad ke-21 dibuat, tokoh-tokoh pendidikan Muhammadiyah pada tahun 1960-an telah memikirkan dan berusaha merumuskan dasar-dasar pendidikan Muhammadiyah, yang dalam bahasan sekarang, bisa disebut sebagai profil atau kompetensi pelajar Muhammadiyah.
Pada tahun 1960-an pimpinan Muhammadiyah menyadari perlunya reorientasi pendidikan Muhammadiyah. Kala awal berdiri, orientasi pendidikan Muhammadiyah pada perjuangan meraih kemerdekaan dengan menanamkan benih-benih: (a) kesadaran nasionalisme dalam bahasa Islam, (b) ideologi Islam reformis, dan (c) pengetahuan praktis di bidang sains modern (Nakamura, 2017: 107). Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, orientasi pendidikan Muhammadiyah bukan lagi alat perlawanan terhadap pemerintah, tetapi menjadi kekuatan yang memelopori pembangunan bangsa. Perubahan orientasi politik pendidikan ini lah yang mendorong pelaku pendidikan Muhammadiyah saat itu untuk merumuskan kembali dasar-dasar pendidikan agar relevan dengan kondisi sosial maupun politik.
Menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-35 tahun 1962, diundang dua narasumber yaitu Amir Hamzah Wirjosukarto, seorang pengkaji pendidikan Muhammadiyah, dan Zubaidi Badjuri, Sekretaris Majelis Pengajaran. Setelah itu seksi pengajaran menghasilkan rumusan yang salah satunya tentang prinsip-prinsip pendidikan Muhammadiyah yang menjelaskan azas, tujuan, dan dasar-dasar pendidikan.
Untuk memberi gambaran yang lebih rinci ketiga hal itu perlu saya kutip di sini. Azas: Pendidikan Muhammadiyah berazaskan Islam berpedoman Al-Quran dan Hadis. Tujuan: Membentuk manusia Muslim, berakhlak mulia, cakap, percaya kepada diri sendiri dan berguna bagi masyarakat. Tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai dengan dasar-dasar pendidikan berikut: kemasyarakatan, tajdid, aktivitas, daya cipta, dan optimisme (Amir Hamzah Wirjosukarto, 1965: 72).
Selama hampir satu dekade rumusan itu disosialisaskan kepada para pelaku pendidikan Muhammadiyah untuk memperoleh masukan maupun kritik. Tema tersebut terus diperbincangkan dalam berbagai forum ilmiah. Baru pada Muktamar Muhammadiyah ke-38 tahun 1971 konsep tersebut diterima oleh muktamirin dengan rumusan konsep “Pedoman Pokok Pendidikan Muhammadiyah”. Terkait dasar-dasar pendidikan Muhammadiyah tidak ada penambahan ataupun pengurangan dengan perumusan awal tahun 1960-an, tetap berjumlah lima. Ada sedikit perubahan pada susunan atau urut-urutan dan pemberian definisi yang lebih komperehensif, yaitu: tajdid, kemasyarakatan, aktivitas, kreativitas, dan optimisme.
Profil Pelajar Berkemajuan dalam Perspektif
Berkaca dari sejarah di atas, dapat ditarik benang merah, Muhammadiyah telah memikirkan kebutuhan adanya kompetensi/profil pelajar jauh sebelum istilah-istilah itu mengemuka belakangan ini. Mengapa pelaku pendidikan Muhammadiyah terkesan gagap menangkap gagasan atau kebijakan baru? Jawabnya jelas, keengganan membaca sejarah sehingga terputus dari mata rantai (sanad) keilmuan para pendahulunya.
Bila kita baca tabel 1 di bawah ini dapat dilihat dengan jelas irisan ataupun titik-titik persamaan konsep-konsep tersebut. Empat kompetensi abad ke-21, yaitu berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas tercakup dalam konsep Fullan et.al., Kurikulum Merdeka, dan pelajar berkemajuan. Fullan menambahkan kewargaan dan karakter, pelajar berkemajuan menambahkan optimisme, dan Kurikulum Merdeka ada frase Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Frase ini merupakan penerapan dari sila pertama Pancasila.
Tabel 1.
Profil Pelajar Berkemajuan dalam Perspektif
| No. | Profil Pelajar Abad 21 | Profil Pelajar M. Fullan et.al | Profil Pelajar Pancasila | Profil Pelajar Berkemjuan |
| 1. | Berpikir kritis | Berpikir kritis | Bernalar Kritis | Tajdid
|
| 2. | Kolaborasi | Kewargaan (2) Kolaborasi (3) | Bergotong royong (2), Kebinekaan global (3) | Kemasyarakatan |
| 3 | Komunikasi | Komunikasi | Mandiri | Aktivitas |
| 4 | Kreatifitas | Kreativitas | Kreatif | Daya cipta |
| 5 | Karakter | Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia | Optimisme |
Sumber: Diolah penulis dari berbagai berbagai referensi.
Menurut Kiai Sahlan Rosyidi (1983:77), mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, ayah Siti Fadilah Supari (mantan Menteri Kesehatan era Presiden SBY), rumusan lima kompetensi/profil/dasar-dasar itu berdasarkan pembacaan atas Al-Quran Surat Ar Ra’du ayat 11 yang artinya kurang lebih: ‘Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada suatu kaum, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri-diri mereka sendiri’. Catatan: garis miring berasal dari terjemahan beliau untuk memberi penekanan pada kata-kata kunci.
Dari penjelasan Kiai Sahlan Rosyidi di atas dapat kita tangkap bahwa perumusan dasar-dasar pendidikan/profil/kompetensi berasal dari pembacaan secara cerdas atas Al-Qur’an, yang ditangkap sebagai etos atau inspirasi kemajuan. Apabila lima kompetensi, yaitu: tajdid, kemasyarakatan, aktivitas, daya cipta, dan optimisme sudah dipahami, dihayati, dan diamalkan sebagai etika hidup sehari-hari maka kemajuan itu akan datang dengan sendirinya.
Lima kompetensi ini harus menjadi jiwa dan roh para pelaku pendidikan Muhammadiyah apabila mereka ingin menjadikan sekolah/madrasah/pesantren/perguruan tingginya mengalami kemajuan. Bila seluruh warga sekolah mampu menciptakan iklim sekolah yang digerakkan dengan lima kompetensi tersebut, pada urutannya akan lebih mudah menghasilkan profil pelajar berkemajuan.
Penulis adalah Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah.
Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka
Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...
Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)
Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...
Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain
Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...
Dingin…
Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...
Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas
Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...
Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...
Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...







