Mahasiswa saat ini dihadapkan dengan berbagai tantangan yang dapat memengaruhi moral dan eksistensi mereka. Bagi mahasiswa yang tergabung dalam organisasi islam besar seperti Muhammadiyah, tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek akademik, tetapi juga nilai-nilai spiritual dan sosial yang mendasari gerakan Muhammadiyah itu sendiri.
Dalam konteks ini, mahasiswa Muhammadiyah, yang diharapkan menjadi agen perubahan, sering kali mengalami dilema moral yang mencerminkan pergeseran nilai dalam masyarakat modern. Søren Kierkegaard, filsuf eksistensialis asal Denmark, memberikan perspektif filosofis yang relevan untuk menilai kondisi moral mahasiswa berkemajuan Muhammadiyah.
Kierkegaard menekankan pentingnya pemahaman eksistensial mengenai diri, kebebasan, dan hubungan dengan Tuhan, yang berhubungan erat dengan konsep moralitas individu.
Mahasiswa Berkemajuan
Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang berkomitmen pada kemajuan umat menempatkan mahasiswa sebagai garda terdepan dalam pencapaian visi tersebut. Sebagai mahasiswa berkemajuan, mereka diharapkan memiliki komitmen terhadap ilmu pengetahuan dan amal sosial yang berlandaskan pada ajaran Islam.
Gerakan ini tidak hanya menekankan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang berintegritas, berbudi pekerti luhur, dan peduli terhadap kesejahteraan umat. Namun, dalam kenyataannya, ada penurunan dalam moralitas sebagian mahasiswa Muhammadiyah. Faktor-faktor seperti materialisme, hedonisme, individualisme, serta ketergantungan pada teknologi digital mengarah pada pengabaian nilai-nilai dasar yang seharusnya menjadi pegangan mereka.
Moralitas mahasiswa yang semakin longgar ini dapat dilihat dari kurangnya kepedulian terhadap sesama, keterbukaan terhadap perubahan nilai-nilai agama, serta kecenderungan untuk memilih jalan praktis yang lebih menguntungkan secara duniawi, meski sering kali bertentangan dengan prinsip-prinsip agama.
Moralitas Eksistensial
Søren Kierkegaard menawarkan pandangan filosofis yang mendalam tentang moralitas dan eksistensi manusia. Dalam karya-karyanya, seperti Fear and Trembling dan Either/Or, Kierkegaard menyatakan bahwa moralitas sejati datang dari pemahaman diri yang mendalam dan pengakuan akan ketergantungan manusia pada Tuhan.
Menurut Kierkegaard, manusia harus mengatasi rasa takut, kecemasan, dan keraguan dalam mencari makna hidupnya. Ia berpendapat bahwa untuk mencapai pemahaman yang autentik tentang diri, individu harus berani menghadapi keterbatasannya dan bertanggung jawab atas pilihan moralnya.
Kierkegaard memandang ada tiga tahap perkembangan eksistensial yang harus dilalui oleh setiap individu:
1.Tahap Estetika: Pada tahap ini, individu cenderung mengejar kenikmatan hidup dan kepuasan sesaat. Mereka berfokus pada pencapaian duniawi dan pengalaman sensoris, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap diri dan orang lain.
2.Tahap Etika: Di sini, individu mulai memahami pentingnya nilai moral dan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. Mereka mengejar kebajikan, moralitas, dan keadilan sebagai landasan dalam menjalani hidup.
3.Tahap Religius: Pada tahap ini, individu mengakui keterbatasan manusia dan ketergantungannya pada Tuhan. Dalam konteks ini, individu tidak hanya mencari kebenaran secara intelektual, tetapi juga merasakan kedalaman spiritual yang hanya dapat ditemukan melalui hubungan dengan Tuhan.
Merosotnya Eksistensi Mahasiswa Berkemajuan
Jika diterapkan pada kondisi mahasiswa berkemajuan Muhammadiyah, merosotnya moralitas dapat dianalisis dengan mengacu pada tahap-tahap eksistensial Kierkegaard. Banyak mahasiswa yang, dalam pencarian hidup mereka, terjebak dalam tahap estetika.
Mereka lebih fokus pada pencapaian materi, kesenangan, dan kenikmatan duniawi yang sering kali bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan kesederhanaan dan pengorbanan untuk kebaikan umat.
Pengaruh budaya populer, media sosial, dan konsumerisme yang kuat mendorong mahasiswa untuk mengejar tujuan-tujuan yang bersifat duniawi, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap moralitas mereka. Sebagai contoh, meningkatnya kasus plagiarisme, penyalahgunaan teknologi, dan kebebasan yang tidak terkendali di kalangan mahasiswa menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya memasuki tahap etika.
Dalam tahap ini, mahasiswa seharusnya menyadari pentingnya tanggung jawab moral dan sosial, namun kenyataannya mereka lebih sering terjebak dalam cara hidup yang cenderung egois, tidak peduli dengan sesama, dan mengabaikan nilai-nilai kebenaran yang diajarkan dalam Islam. Lebih jauh lagi, banyak mahasiswa yang merasa kehilangan arah dalam pencarian makna hidup mereka, sehingga tidak mampu mengembangkan tahap religius dalam hidup mereka.
Mereka menganggap pendidikan hanya sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan dan kesejahteraan materi, tanpa mengaitkan pencapaian tersebut dengan hubungan spiritual yang lebih dalam dengan Tuhan. Hal ini menggambarkan kegagalan mahasiswa dalam memahami eksistensi mereka sebagai makhluk yang diciptakan dengan tujuan spiritual.
Relevansi Kierkegaard dalam Mengatasi Krisis Moral
Søren Kierkegaard menawarkan solusi yang relevan dalam menghadapi krisis moral ini. Ia mengajarkan pentingnya introspeksi dan kesadaran diri untuk memahami tujuan hidup yang lebih besar. Mahasiswa Muhammadiyah perlu diajak untuk merenung dan menemukan kembali esensi hidup mereka dalam kerangka spiritual, bukan hanya duniawi.
Pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai moral dan spiritual Islam dapat menjadi jalan keluar untuk mengembalikan mahasiswa kepada jalan yang benar. Selain itu, mahasiswa perlu diberikan ruang untuk berkembang secara etis dan religius, dengan menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab moral mereka terhadap diri sendiri dan masyarakat.
Pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai agama akan membantu mahasiswa menemukan keseimbangan antara pencapaian duniawi dan spiritual. Merosotnya moral eksistensi mahasiswa berkemajuan dapat dianalisis melalui perspektif eksistensial Søren Kierkegaard, yang mengajak individu untuk memahami eksistensi mereka dalam relasi dengan Tuhan dan tanggung jawab moral terhadap sesama.
Dalam era yang dipenuhi oleh tantangan materialisme dan hedonisme, mahasiswa Muhammadiyah perlu menumbuhkan kesadaran eksistensial yang lebih mendalam, serta kembali pada nilai-nilai Islam yang mengutamakan keseimbangan antara ilmu dan amal. Dengan pendekatan ini, mahasiswa dapat menemukan kembali makna hidup mereka dalam kerangka spiritual dan moral yang sejati.
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...






