Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Merosotnya Eksistensi Mahasiswa Berkemajuan dalam Perspektif Kierkegaard

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Alan Aliarcham
Jumat, 24 Januari 2025 16:58 WIB
Merosotnya Eksistensi Mahasiswa Berkemajuan dalam Perspektif Kierkegaard
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Hanif Syairafi Wiratama

Mahasiswa saat ini dihadapkan dengan berbagai tantangan yang dapat memengaruhi moral dan eksistensi mereka. Bagi mahasiswa yang tergabung dalam organisasi islam besar seperti Muhammadiyah, tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek akademik, tetapi juga nilai-nilai spiritual dan sosial yang mendasari gerakan Muhammadiyah itu sendiri.

Dalam konteks ini, mahasiswa Muhammadiyah, yang diharapkan menjadi agen perubahan, sering kali mengalami dilema moral yang mencerminkan pergeseran nilai dalam masyarakat modern. Søren Kierkegaard, filsuf eksistensialis asal Denmark, memberikan perspektif filosofis yang relevan untuk menilai kondisi moral mahasiswa berkemajuan Muhammadiyah.

Kierkegaard menekankan pentingnya pemahaman eksistensial mengenai diri, kebebasan, dan hubungan dengan Tuhan, yang berhubungan erat dengan konsep moralitas individu.

Mahasiswa Berkemajuan

Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang berkomitmen pada kemajuan umat menempatkan mahasiswa sebagai garda terdepan dalam pencapaian visi tersebut. Sebagai mahasiswa berkemajuan, mereka diharapkan memiliki komitmen terhadap ilmu pengetahuan dan amal sosial yang berlandaskan pada ajaran Islam.

Gerakan ini tidak hanya menekankan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang berintegritas, berbudi pekerti luhur, dan peduli terhadap kesejahteraan umat. Namun, dalam kenyataannya, ada penurunan dalam moralitas sebagian mahasiswa Muhammadiyah. Faktor-faktor seperti materialisme, hedonisme, individualisme, serta ketergantungan pada teknologi digital mengarah pada pengabaian nilai-nilai dasar yang seharusnya menjadi pegangan mereka.

Moralitas mahasiswa yang semakin longgar ini dapat dilihat dari kurangnya kepedulian terhadap sesama, keterbukaan terhadap perubahan nilai-nilai agama, serta kecenderungan untuk memilih jalan praktis yang lebih menguntungkan secara duniawi, meski sering kali bertentangan dengan prinsip-prinsip agama.

Moralitas Eksistensial

Søren Kierkegaard menawarkan pandangan filosofis yang mendalam tentang moralitas dan eksistensi manusia. Dalam karya-karyanya, seperti Fear and Trembling dan Either/Or, Kierkegaard menyatakan bahwa moralitas sejati datang dari pemahaman diri yang mendalam dan pengakuan akan ketergantungan manusia pada Tuhan.

Menurut Kierkegaard, manusia harus mengatasi rasa takut, kecemasan, dan keraguan dalam mencari makna hidupnya. Ia berpendapat bahwa untuk mencapai pemahaman yang autentik tentang diri, individu harus berani menghadapi keterbatasannya dan bertanggung jawab atas pilihan moralnya.

Kierkegaard memandang ada tiga tahap perkembangan eksistensial yang harus dilalui oleh setiap individu:

1.Tahap Estetika: Pada tahap ini, individu cenderung mengejar kenikmatan hidup dan kepuasan sesaat. Mereka berfokus pada pencapaian duniawi dan pengalaman sensoris, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap diri dan orang lain.

2.Tahap Etika: Di sini, individu mulai memahami pentingnya nilai moral dan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. Mereka mengejar kebajikan, moralitas, dan keadilan sebagai landasan dalam menjalani hidup.

3.Tahap Religius: Pada tahap ini, individu mengakui keterbatasan manusia dan ketergantungannya pada Tuhan. Dalam konteks ini, individu tidak hanya mencari kebenaran secara intelektual, tetapi juga merasakan kedalaman spiritual yang hanya dapat ditemukan melalui hubungan dengan Tuhan.

Merosotnya Eksistensi Mahasiswa Berkemajuan

Jika diterapkan pada kondisi mahasiswa berkemajuan Muhammadiyah, merosotnya moralitas dapat dianalisis dengan mengacu pada tahap-tahap eksistensial Kierkegaard. Banyak mahasiswa yang, dalam pencarian hidup mereka, terjebak dalam tahap estetika.

Mereka lebih fokus pada pencapaian materi, kesenangan, dan kenikmatan duniawi yang sering kali bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan kesederhanaan dan pengorbanan untuk kebaikan umat.

Pengaruh budaya populer, media sosial, dan konsumerisme yang kuat mendorong mahasiswa untuk mengejar tujuan-tujuan yang bersifat duniawi, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap moralitas mereka. Sebagai contoh, meningkatnya kasus plagiarisme, penyalahgunaan teknologi, dan kebebasan yang tidak terkendali di kalangan mahasiswa menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya memasuki tahap etika.

Dalam tahap ini, mahasiswa seharusnya menyadari pentingnya tanggung jawab moral dan sosial, namun kenyataannya mereka lebih sering terjebak dalam cara hidup yang cenderung egois, tidak peduli dengan sesama, dan mengabaikan nilai-nilai kebenaran yang diajarkan dalam Islam. Lebih jauh lagi, banyak mahasiswa yang merasa kehilangan arah dalam pencarian makna hidup mereka, sehingga tidak mampu mengembangkan tahap religius dalam hidup mereka.

Mereka menganggap pendidikan hanya sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan dan kesejahteraan materi, tanpa mengaitkan pencapaian tersebut dengan hubungan spiritual yang lebih dalam dengan Tuhan. Hal ini menggambarkan kegagalan mahasiswa dalam memahami eksistensi mereka sebagai makhluk yang diciptakan dengan tujuan spiritual.

Relevansi Kierkegaard dalam Mengatasi Krisis Moral

Søren Kierkegaard menawarkan solusi yang relevan dalam menghadapi krisis moral ini. Ia mengajarkan pentingnya introspeksi dan kesadaran diri untuk memahami tujuan hidup yang lebih besar. Mahasiswa Muhammadiyah perlu diajak untuk merenung dan menemukan kembali esensi hidup mereka dalam kerangka spiritual, bukan hanya duniawi.

Pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai moral dan spiritual Islam dapat menjadi jalan keluar untuk mengembalikan mahasiswa kepada jalan yang benar. Selain itu, mahasiswa perlu diberikan ruang untuk berkembang secara etis dan religius, dengan menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab moral mereka terhadap diri sendiri dan masyarakat.

Pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai agama akan membantu mahasiswa menemukan keseimbangan antara pencapaian duniawi dan spiritual. Merosotnya moral eksistensi mahasiswa berkemajuan dapat dianalisis melalui perspektif eksistensial Søren Kierkegaard, yang mengajak individu untuk memahami eksistensi mereka dalam relasi dengan Tuhan dan tanggung jawab moral terhadap sesama.

Dalam era yang dipenuhi oleh tantangan materialisme dan hedonisme, mahasiswa Muhammadiyah perlu menumbuhkan kesadaran eksistensial yang lebih mendalam, serta kembali pada nilai-nilai Islam yang mengutamakan keseimbangan antara ilmu dan amal. Dengan pendekatan ini, mahasiswa dapat menemukan kembali makna hidup mereka dalam kerangka spiritual dan moral yang sejati.

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment