Pergantian kurikulum pada setiap kali perubahan Menteri Pendidikan merupakan fenomena yang terus berulang di Indonesia. Hal ini pun akan segera terjadi di Indonesia, seiring terjadinya pergantain Menteri Pendidikan pada Kabinet Merah Putih di bawah komando Presiden Prabowo Subianto. Tentu saja gonta ganti kurikulum ini sangat menjadi perhatian publik, khususnya bagi para pendidik, siswa, dan orang tua. Kebijakan “ganti menteri, ganti kurikulum” telah memicu pertanyaan besar: Sejauh mana kebijakan tersebut mampu membawa perubahan dan perbaikan yang konsisten dalam kualitas pendidikan?
Setiap menteri tentu memiliki pandangan dan visi dan kebijakan yang berbeda tentang kantong besar pendidikan. Kebijakan dan pola pikir sang menteri tentu dipengaruhi oleh tidak saja pengalamannya di dunia pendidikan, tetapi juga selera sang menteri terhadap rasa atau afektifness-nya pendidikan. Hal inilah yang mendorong terjadinya perubahan kebijakan kurikulum pendidikan yang kadang kadang jauh melebihi ekspektasi dan experience dari pelaku pelaku pendidikan yang akan mengejawantahkan kurikulum tersebut dalam perilaku pendidikan dalam sistem pendidikan yang dijalankan. Namun sayangnya, sering kali perubahan besar dalam kurikulum itu justru membingungkan dan membebani pihak yang terlibat dalam pendidikan. Kurikulum yang terus berubah menuntut guru dan sekolah beradaptasi dalam waktu singkat, sehingga banyak yang merasa belum cukup waktu untuk memahami satu sistem ketika harus berganti ke sistem yang baru.
Dampak dari kebijakan ini adalah pendidikan yang kurang stabil, kurang fokus, dan kurang konsisten. Membangun kurikulum baru di Indonesia bukan sekadar merancang daftar mata pelajaran dan materi pembelajaran, melainkan upaya untuk menciptakan sistem pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, perkembangan teknologi, dan tuntutan global. Mengingat keberagaman wilayah, sosial-ekonomi, dan budaya di Indonesia, menciptakan kurikulum yang relevan dan inklusif adalah tantangan yang kompleks. Idealnya, kurikulum harus bersifat jangka panjang, mengacu pada dasar kebutuhan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan bangsa. Bukan mengacu kepada selera dan experiences (pengalaman) sang menteri. Keputusan untuk mengganti atau memperbarui kurikulum sebaiknya dilandasi oleh penelitian yang mendalam, bukan sekadar mengikuti visi seorang menteri. Pemerintah perlu merancang sistem pendidikan yang lebih konsisten, memberikan ruang evaluasi menyeluruh, dan mendukung tenaga pengajar agar mampu menerapkan kurikulum secara optimal.
Tidak Hanya Eksperimen
Kebijakan “ganti menteri, ganti kurikulum” harus dipertimbangkan ulang. Reformasi pendidikan yang stabil dan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak agar sistem pendidikan di Indonesia tidak hanya menjadi eksperimen kebijakan, tetapi menjadi proses pembelajaran yang membangun generasi penerus bangsa. Kurikulum yang baik harus didasari oleh riset yang mendalam mengenai kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Melalui survei, wawancara, dan studi kasus dari berbagai daerah, pemerintah dapat memahami keterampilan yang paling dibutuhkan di masa depan. Riset ini juga harus mencakup evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya untuk mengetahui kekurangan yang perlu diperbaiki,
Di era digital ini, kurikulum harus responsif terhadap kemajuan teknologi. Pembelajaran berbasis teknologi, keterampilan digital, dan literasi media perlu menjadi bagian dari kurikulum. Selain itu, penggunaan platform digital dalam pembelajaran, seperti e-learning dan aplikasi edukasi, harus diintegrasikan, sehingga siswa dapat belajar secara mandiri dan lebih fleksibel. Selain fokus pada aspek akademik, pendidikan karakter harus menjadi salah satu pilar utama dalam kurikulum. Nilai-nilai seperti integritas, tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian sosial harus dikembangkan sejak dini. Pendidikan karakter akan membentuk siswa yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki moral dan empati yang tinggi. Selamat menjalankan laku pendidikan dengan kurikulum deep learning dan full meaning.
Turun ke Bawah, Rangkul Anak Muda
Proses pengaderan Persyarikatan di arus bawah, di Cabang dan Ranting, masih menjadi persoalan serius, khususnya di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Umumnya, pengurus...
Jangan Antikritik
Pesan jangan antikritik ini sampaikan Pak Marpuji Ali saat acara “Silaturahim dan Buka Bersama” yang diikuti oleh seluru GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) Perguruan Muhammadiyah...
Kompak Menyongsong Kemajuan
Memasuki abad kedua perjalanannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa-masa awal kelahirannya. Pada era Kiai Haji Ahmad Dahlan tantangan utamanya adalah kebodohan, kemiskinan, dan...
Selamat Datang SMP Muhammadiyah PKBS Kota Solo
Dalam AD/ART Persyarikatan Muhammadiyah tentang identitas organisasi disebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan...
Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah
Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis hasil riset perihal ketertarikan kaum muda, generasi Z dan milenial, terhadap gerakan Muhammadiyah. Riset bertajuk...
Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah
Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...
Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi
Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...
Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot
Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...
Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan
Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...
Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif
Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...
Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul
Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...
Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia
Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...







