Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perguruan Tinggi

Dosen UMS Riset Tanaman Adat Banyuwangi

Fika Annisa Sholikhah, Editor: Alan Aliarcham
Kamis, 2 April 2026 11:41 WIB
Dosen UMS Riset Tanaman Adat Banyuwangi
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal kembali dihadirkan oleh akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dosen Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS. Paramitha Cahyani, mengembangkan riset tumbuhan adat yang digunakan dalam ritual masyarakat Desa Adat Olehsari, Banyuwangi. (Humas)

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal kembali dihadirkan oleh akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dosen Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS. Paramitha Cahyani, mengembangkan riset tumbuhan adat yang digunakan dalam ritual masyarakat Desa Adat Olehsari, Banyuwangi.

Ini sebagai upaya menghadirkan pembelajaran biologi yang lebih kontekstual dan bermakna. Penelitian ini berangkat dari keresahan terhadap pembelajaran biologi yang kerap dianggap sulit oleh siswa. Menurut Paramitha, selama ini biologi dikenal sebagai science of life, tetapi dalam praktiknya masih banyak dipahami sebatas hafalan tanpa keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

“Biologi sering diidentikkan sebagai ilmu kehidupan, tetapi justru dianggap sulit karena masih ada gap antara teori dengan realitas sehari-hari. Dari situlah saya memulai riset ini, sejak disertasi saya, dengan mengembangkan praktikum biologi berbasis lokal,” ungkapnya saat dimintai keterangan, Kamis, (2/4/2026).

Ia menambahkan, potensi kearifan lokal di Banyuwangi, khususnya di Desa Olehsari, menjadi peluang besar untuk menjembatani ilmu pengetahuan dengan praktik budaya masyarakat terlebih Desa Olehsari masih kental dengan tradisi adat.

“Masalahnya, masyarakat sudah sangat akrab dengan tanaman-tanaman itu dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa kita sebagai akademisi tidak menjadikannya sebagai jembatan antara pengetahuan lokal dengan ilmu biologi? Ini bisa menjadi win-win solution,” jelasnya.

Riset yang Paramitha lakukan berfokus pada identifikasi dan analisis berbagai jenis tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat masyarakat setempat, khususnya dalam tradisi Seblang di Desa Olehsari. Tumbuhan-tumbuhan tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga relevan dengan berbagai materi biologi, seperti keanekaragaman hayati, ekologi, embriologi tumbuhan, hingga pemanfaatan tumbuhan sebagai obat.

Inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal kembali dihadirkan oleh akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dosen Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS. Paramitha Cahyani, mengembangkan riset tumbuhan adat yang digunakan dalam ritual masyarakat Desa Adat Olehsari, Banyuwangi.

Inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal kembali dihadirkan oleh akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dosen Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS. Paramitha Cahyani, mengembangkan riset tumbuhan adat yang digunakan dalam ritual masyarakat Desa Adat Olehsari, Banyuwangi. (Humas)

Paramitha menjelaskan, keunikan tumbuhan adat tidak selalu terletak pada jenis tanamannya, melainkan pada nilai filosofis yang menyertainya. Seperti bunga mawar atau kembang sepatu, yang memiliki makna khusus dalam tradisi setempat meskipun umum dijumpai di tempat lain. “Yang membuat unik itu bukan semata tanamannya, tetapi filosofinya. Tanaman yang sehari-hari kita lihat bisa memiliki makna mendalam karena kepercayaan masyarakat,” tuturnya.

Salah satu contoh yang ia temukan adalah penggunaan daun pisang muda dalam atribut ritual. Masyarakat secara spesifik memilih jenis pisang raja karena memiliki filosofi sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. “Sebagai biolog, kita mungkin melihatnya hanya sebagai pohon pisang. Tapi masyarakat bisa membedakan jenisnya dan memahami maknanya. Pisang raja dipilih karena melambangkan sosok yang memiliki kuasa dan kearifan, sehingga dianggap layak sebagai bagian dari persembahan adat,” jelas Paramitha.

Pengetahuan terkait tumbuhan adat ini, lanjutnya, diwariskan secara turun-temurun bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Namun, dokumentasi ilmiah terhadap pengetahuan lokal tersebut masih sangat terbatas. “Ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Selama ini pengetahuan masyarakat jarang terdokumentasi secara ilmiah. Padahal, gap ini sangat besar dan bisa menjadi ruang riset bagi akademisi, termasuk di UMS,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini kajian terkait tumbuhan adat lebih banyak dilakukan dari perspektif antropologi, sementara kajian biologis seperti klasifikasi, fungsi, dan potensi ilmiahnya masih minim. “Padahal dalam biologi, satu jenis tanaman saja bisa berbeda klasifikasi dan manfaatnya. Ini yang masih jarang dikaji. Ke depan, saya ingin membangun roadmap riset berbasis kekayaan lokal, tidak hanya terbatas pada tumbuhan adat,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa pendekatan ini dapat menjadi jembatan bagi siswa untuk memahami konsep biologi secara lebih konkret. Dengan melihat langsung praktik penggunaan tumbuhan dalam kehidupan masyarakat adat, siswa diharapkan mampu mengaitkan teori dengan realitas di lapangan. “Ketika siswa belajar dari sumber lokal, mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga belajar menghargai budaya dan lingkungan sekitar. Ini yang menjadi kekuatan pembelajaran biologi kontekstual,” jelasnya.

Lebih jauh, riset ini diharapkan dapat berkontribusi pada upaya konservasi biodiversitas berbasis masyarakat. Dengan meningkatkan kesadaran terhadap nilai ilmiah dan budaya dari tumbuhan lokal, masyarakat diharapkan turut berperan dalam menjaga kelestariannya. “Pada akhirnya, riset ini bermuara pada konservasi. Kita ingin biodiversitas kita dijaga oleh masyarakat kita sendiri, sebelum diambil dan diteliti oleh pihak luar,” pungkasnya.

Dosen UMS itu menegaskan riset dapat mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan dan budaya lokal mampu membuka peluang baru dalam dunia pendidikan. Di tengah tuntutan pembelajaran abad ke-21, pendekatan berbasis kearifan lokal dinilai mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan, inklusif, dan berkelanjutan.

Berita Terbaru

Mahasiswa UMS Gagas Gerakan Udara Bersih untuk Pelajar lewat GerakDampak Academy

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Abi Umaroh, mahasiswa Magister Ilmu Hukum (MIH) Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP)...

UMS Nilai Penguatan Literasi Harus Jadi Prioritas Pembangunan Nasional

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 2026 dinilai berpotensi menghambat upaya peningkatan budaya literasi di Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan...

Mahasiswa Geografi UMS Gagas Program Mengajar Desa di Karanganyar

KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Mahasiswa Program Studi Geografi Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggagas program Pengabdian Mengajar Desa di Desa Segorogunung, Kabupaten Karanganyar. Kegiatan yang...

Mahasiswa UMS Bentuk Lembaga Ibu Sigap, Dorong Desa Blimbing Mandiri Cegah Stunting

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Pengembangan Prestasi dan Riset Mahasiswa (PRISMA) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membentuk Lembaga Ibu Sigap di...

UMS Kenalkan Teknologi Tepat Guna, Dongrak Produktivitas Batik Desa Wisata Jarum

KLATEN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus mendorong penguatan industri kreatif berbasis masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna bagi perajin batik di Desa Wisata...

UMS Perkuat Kesejahteraan Pegawai lewat BPJS, Dakes, dan Layanan Konseling

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat layanan bagi dosen dan tenaga kependidikan melalui peningkatan program kesejahteraan, layanan kesehatan, hingga dukungan kesehatan mental....

UMS Dampingi Desa Wisata Jarum Kembangkan Produk Ecoprint Berdaya Saing

KLATEN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Salah satunya diwujudkan lewat pelatihan kewirausahaan, penamaan...

Pendaftar PMB UMS 2026 Meningkat, Persaingan Masuk Kampus Kian Ketat

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Minat masyarakat melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus meningkat. Hingga Senin (27/7/2026) pukul 14.00 WIB, jumlah pendaftar Penerimaan Mahasiswa Baru...

FT UMS Kenalkan Industri Batik Ramah Lingkungan kepada Mahasiswa Internasional

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada mahasiswa internasional melalui kegiatan field study membatik di Batik MY,...

Dosen PAI UMS Raih Penghargaan Publikasi Internasional Terbaik di AICIRE 2026

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas academica Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) UMS,...

Atlet UMS Sumbang Emas untuk Indonesia di Kejuaraan Asia Pencak Silat 2026

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Atlet Tapak Suci UMS, Kirana Tias Savira, berhasil mempersembahkan medali emas...

Lantik 79 Dokter Baru, FK UMS Tekankan Profesionalisme dan Pengabdian

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melantik dan mengambil sumpah 79 dokter baru Angkatan LIX Tahun 2026 dalam prosesi di...