
…Setiap warga Muhammadiyah baik dalam menciptakan maupun menikmati seni dan budaya selain dapat menumbuhkan perasaan halus dan keindahan juga menjadikan seni dan budaya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai media atau sarana da’wah untuk membangun kehidupan yang berkeadaban…
Cuplikan tulisan diatas diambil dari Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) bidang kehidupan seni budaya. Berbicara tentang kehidupan kesenian dan kebudayaan, secara konsep Muhammadiyah sesungguhnya telah selesai. Namun, dalam tataran praktis dinamika Muhammadiyah dalam hubungannya dengan seni budaya menarik untuk dicermati.
Dalam catatan sejarah perintisan Muhammadiyah, kita lihat bagaimana Ahmad Dahlan mengenalkan agama dengan bermain biola yang mengajarkan makna bahwa agama itu indah. Pun, bagaimana kiprah Pasukan Genderang Terompet dan Seruling (PGTS) yang dimiliki Muhammadiyah memberikan warna nuansa yang berbeda. Pilihan yang diambil di tengah tantangan pandangan masyarakat waktu itu yang beranggapan alat musik haram selain rebana, apalagi seruling yang diidentikkan dengan alat tiupan setan pada zaman tersebut, nampaknya Muhammadiyah memilih seni modern.
Pilihan seni modern pada waktu itu menarik perhatian anak-anak muda untuk mengenal dan masuk di Muhammadiyah. Bahkan, para perintis Muhammadiyah sampai membentuk kelompok-kelompok kesenian untuk memfasilitasi para pemuda berekspresi dan membantu mereka menemukan jati diri. Mereka membuat gelanggang bersama dan ruang ekspresi sehingga Muhammadiyah menjadi tempat menunjukkan kreasi yang akhirnya mereka merasa bagian dari Muhammadiyah.
Memfasilitasi dan Menguatkan
Muhammadiyah turut mengapresiasi ekspresi-ekspresi kesenian. Memang, secara konsep dengan adanya rumusan dakwah kultural, Muhammadiyah telah menunjukkan sikap dalam apresiasi kesenian. Dalam dakwah pun, kita harus bisa menyinergikan dengan ekspresi-ekspresi kesenian. Mengapa? karena seni bisa menjadi media yang menciptakan ikatan emosional yang kuat.
Tantangannya sekarang, bagaimana mendesain dakwah melalui seni budaya yang menarik bagi generasi muda (digital native) saat ini? Setidaknya, kita bisa petik hikmah dari kisah sejarah awal perintisan yang menggunakan seni budaya sebagai media dengan memberikan gelanggang pada mereka melalui kelompok seni yang dibuat.
Komunitas seni bisa menjadi alternatif menumbuhkan ekosistem seni untuk kepentingan dakwah. Seperti yang kita tahu, seni adalah sarana media yang memiliki nilai filosofis dan pendidikan. Adanya komunitas bisa membantu menumbuhkan ekosistem seni. Saya pernah berdiskusi dengan teman-teman guru seni budaya di lingkup Perguruan Muhammadiyah Kottabarat, Kota Solo (perguruan terdiri dari jenjang TK, SD, SMP, SMA) terkait fenomena seni budaya sebagai media pendidikan. Dari obrolan itu, akhirnya tercetuslah ide untuk membentuk komunitas Seni Kottabarat.
Komunitas seni yang terdiri dari lintas jenjang di perguruan Muhammadiyah Kottabarat berkeinginan sebagai wadah untuk memfasilitasi warga sekolah baik guru maupun siswa di bidang seni. Bidang seni yang meliputi seni tari, seni suara, seni musik, seni rupa maupun keterampilan bisa tumbuh dan menjadi media ekspresi dalam kerangka dakwah Muhammadiyah. Guru seni budaya sebagai lokomotif tumbuhnya kehidupan seni memiliki peran sentral, maka dengan adanya sebuah komunitas seni yang diprakarsai oleh guru seni budaya di perguruan Muhammadiyah Kottabarat bisa saling menguatkan dalam membuat gelanggang.
Contoh hal yang saling menguatkan yang terjadi di Perguruan Muhammadiyah Kottabarat adalah ketika ada program gelanggang seni di jenjang SD, misalnya, maka potensi seni warga perguruan bisa turut ambil peran serta. Pun termasuk siswa dari tiap jenjang bisa ikut partisipasi.
Dengan adanya komunitas seni ini, peluang untuk menghadirkan gelanggang seni budaya keluarga besar Perguruan Muhammadiyah Kottabarat bisa diwujudkan. Inilah sekiranya yang saya tangkap dari harapan Ketua Komunitas Seni Kottabarat, Fachruddin, saat berdiskusi dengan saya terkait ekosistem seni budaya baru-baru ini.
Penulis adalah Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Solo.
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...





