Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Sosok

Gibran Maheswara dari SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta

Yusuf, Editor: Yusuf R. Yanuri
Selasa, 4 Oktober 2022 20:59 WIB
Gibran Maheswara dari SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta

Namanya Gibran. Dari Solo. Tapi bukan Gibran yang itu. Ini Gibran kecil. Masih kelas 5 SD. Saat orang tuanya menikah, mereka mengundang penampilan wayang kulit. Saat itu Gibran belum lahir. Tapi pertunjukan wayang itu begitu berpengaruh dalam kehidupannya. Hingga hari ini.

Gibran sebenarnya tidak benar-benar dari Solo. Ia dari Jaten, Karanganyar. Tapi, orang Karanganyar lebih senang mengaku sebagai orang Solo. Sebagaimana orang Cimahi lebih senang mengaku sebagai orang Bandung dan orang Bantul lebih senang mengaku orang Jogja.

Nama lengkapnya Gibran Maheswara Javas Setyawan. Ia lahir di Kota Karanganyar tepatnya tanggal 10 Juni 2011. Saat berusia tiga tahun, ia melihat rekaman pernikahan orang tuanya, Agus Setyawan dan Handayani. Itulah pertama kali Gibran melihat wayang. Ketika rekamannya selesai, Gibran menangis. Ia tidak mau berhenti. Ingin memutar tayangan itu terus-menerus. Rupanya, Gibran suka wayang sejak dalam pikiran.

Setelah itu, Gibran dimasukkan ke sanggar seni oleh orang tuanya. Ia belajar wayang. Menjadi dalang cilik. Akhirnya, usaha itu menemui hasil dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Di tahun 2018, ia mendapatkan juara pertama lomba Dalang Cilik tingkat Kabupaten Karanganyar. Tahun berikutnya, ia juara pertama tingkat Eks Karesidenan Surakarta. Meliputi enam kabupaten dan satu kota. Tak puas di Solo, ia melaju ke provinsi. Berhasil, Gibran juara 2. Di tingkat nasional, ia juara 3. Sejak saat itu, ia sangat layak disebut dalang cilik.

Gibran bahkan pernah diundang di salah satu stasiun TV. Dimoderatori oleh Cak Lontong. Saat itu ia baru lima tahun. Masih begitu kecil. Saat itu ia sudah wasis bicara di depan ratusan penonton dengan banyak kamera.

Gibran dilatih oleh Mujiyono Skar di Sanggar Sarotama Karanganyar. Mujiyono tak hanya berhasil menjadi gurunya, tapi juga menjadi idolanya. Memang seperti itulah tugas seorang guru. Mengajari sekaligus menginspirasi.

Gibran sekolah di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta. Rupanya, SD Muhammadiyah favorit di Solo itu sangat berpengaruh dalam karir Gibran sebagai dalang junior. SD Muhammadiyah 1 Ketelan begitu maju. Sekolah itu memiliki 30 ekstrakurikuler. Salah satunya adalah ekstrakurikuler seni budaya. Mengajarkan wayang dan gamelan. Ekstrakurikuler ini turut membesarkan nama Gibran.

Di sekolah itu, dalang ciliknya tidak hanya Gibran. Ada dalang lain bernama Brama Kesawa. Brama Kesawa adalah anak dari dalang dewasa, Ki Cahyo Kuntadi Suksesi. Kakeknya juga dalang. Namanya Ki Sukron Suwanda. Selain dalang, Ki Sukron juga dai kondang dari Blitar, Jawa Timur. Brama kelahiran tahun 2013. Dua tahun lebih muda dari Gibran.

Sekolah itu memang punya guru yang dalang. Atau dalang yang guru. Namanya Agung Sudarwanto. Karir Agung Sudarwanto ditiru oleh dua anak didiknya tersebut. Ia telah mendalang juga sejak SD. Ia adalah lulusan Sarjana Seni (SSn) Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. Kampus itu sekarang berubah menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Di sekolah itu, pembelajaran dimulai dengan berdoa, tadarus, dan menyanyikan lagu wajib atau lagu nasional. Di hari kamis, kegiatan dimulai dengan membaca buku. Buku telah disediakan di setiap sudut kelas.

Usia SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta begitu tua. Sekolah itu lahir pada tahun 1935. Lebih tua dari NKRI. Terletak di Jl. Kartini No. 1 RT.01/RW.09 Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta.

Tak hanya unggul soal budaya, soal IT sekolah itu juga maju. Setiap siswa diberikan kartu pembayaran non-tunai untuk bertransaksi. Baik di kantin dan di tempat lain. Kantinnya pun kantin sehat. Menjadi percontohan di tingkat nasional.

Yang menarik dari Gibran adalah kepercayaan diri. Ia begitu percaya diri tampil di berbagai kegiatan. Termasuk di TV dan beberapa webinar. Gibran yang masih begitu kecil itu bisa bicara tentang wayang dengan begitu wasis di depan banyak orang dan di depan kamera. Was wes wos. Fasih sekali. Sudah seperti orang dewasa saja.

Di sebuah webinar yang digelar belum lama ini, ia memberikan tutorial kepada pemirsa tentang bagaimana cara lima jari memegang wayang kulit. Rupanya sulit sekali. Tidak seperti memegang tongkat biasa. Ada tips dan trik yang perlu dipelajari dalam waktu yang lama. Dan itu dikuasai dengan begitu baik oleh Gibran. Kelak, selain jadi dalang yang hebat, Gibran juga akan menjadi guru seni yang pilih tanding. Anda yang akan membuka kelas seni harap camkan ini baik-baik.

Gibran Maheswara mengidolakan Anoman. Si Ketek Putih itu, kata Gibran, berani membela kebenaran. Gibran ingin mewarisi sifat itu. Sikap seorang ksatria. Ia juga mengidolakan Werkudoro. “Werkudoro itu kuat, hebat, sakti, ganteng kaya saya,” kata Gibran saat berusia lima tahun di salah satu stasiun televisi.

“Kalau Cak Lontong mirip Bagong,” guyon Gibran.

Rupanya, Gibran Maheswara juga punya bakat komedi. Bahkan sejak usia lima tahun.

Berita Terbaru

RS PKU Muhammadiyah Surakarta Raih Penghargaan Perhumasri Award 2026

JAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-RS PKU Muhammadiyah Surakarta meraih penghargaan tingkat nasional The Best Hospital Public Relation Program (Pemenang Kesatu Program Kehumasan Rumah Sakit Terbaik) dalam ajang PERHUMASRI...

Calista Atha Yumna Raih Dua Penghargaan Internasional pada Inovasi Digital Kesehatan

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Situasi darurat dapat terjadi kapan saja dan membutuhkan respons penanganan yang cepat dan tepat. Pengetahuan mengenai pertolongan pertama dapat menjadi bekal penting sebelum tenaga...

Guru Besar UMS Bahas AI dalam Forensik di Konferensi Uzbekistan

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Guru Besar hukum tata negara Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Aidul Fitriciada Azhari, menjadi pembicara dalam konferensi internasional yang diselenggarakan Kementerian Kehakiman Republik...

Mahasiswa UMS Raih Most Inspiring Participant Future Leader Summit

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jody Julian Putra Caesar, meraih penghargaan Most Inspiring Participant dalam Future Leader...

Jody Julian Putra Caesar Kembali Raih Prestasi Tingkat Nasional

JAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Jody Julian Putra Caesar, mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Jody dinobatkan...

Haedar Nashir Kenang Pengabdian Prof. Chamamah Soeratno

YOGYAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan duka cita atas wafatnya Prof. Chamamah Soeratno, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah periode 2000–2005...

Dari Soloraya ke AS, Alumni UMS Ini Buktikan Perempuan Muhammadiyah Bisa Memimpin

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Semangat Kartini tak pernah benar-benar usai. Ia hidup dalam denyut gerakan perempuan masa kini, salah satunya tercermin dalam sosok Ninin Karlina, alumni...

Faeyza Bayanaka Kusuma, Ungkap Rahasia Raih Seabrek Prestasi

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah. Faeyza Bayanaka Kusuma, siswa kelas III, menunjukkan konsistensi gemilang dalam prestasi bidang akademik maupun...

Mengenal Nur Subekti, Pelatih PON yang Berdedikasi di Kampus UMS

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Konsistensi, disiplin, dan keberanian dalam mengambil keputusan besar menjadi benang merah perjalanan hidup Nur Subekti. Sosok kader Muhammadiyah ini menapaki jalan panjang dari arena...

Alumnus UMS Asri Hartanti Buktikan Bahasa Inggris Bisa Dipelajari dari Aktivitas Harian

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menghadirkan kisah inspiratif alumninya melalui program UMS Talk Podcast. Kali ini, podcast menghadirkan Asri Hartanti, alumnus Pendidikan Bahasa Inggris...

Ketua IPM Solo Lempar Analisis Fiskal di Future Leader Camp Kemendiktisaintek

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM– Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui keaktifan mahasiswanya di kancah nasional. Jody Julian Putra Caesar, mahasiswa dari Fakultas Hukum dan...

Dari Tikar Sederhana hingga Lapak Tetap: Perjalanan Hidup Sularti di Pasar Gede

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Di antara hiruk-pikuk suara tawar-menawar dan aroma buah segar yang memenuhi udara pagi di Pasar Gede, tepatnya di Jl. Suryopranoto, Kota Solo, seorang perempuan...