Memperkuat Daya Nalar, Mengubah Metode Pembelajaran

Kondisi pendidikan saat ini masih begitu buruk. Proses pembelajaran dilakukan dengan dangkal. Lembaga pendidikan tidak lagi mampu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya sebagaimana tujuan pendidikan nasional. Untuk itu, perlu transformasi secara serius yang dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan. Pembelajaran yang mendalam dan berorientasi pada kompetensi dan karakter menjadi kebutuhan penguasaan keterampilan abad 21 ini.

Upaya mewujudkan keterampilan abad 21 ini masih terkendala akibat rendahnya nalar berpikir siswa. Suasana kelas yang “irit bicara” bisa menjadi sinyalemen awal rendahnya daya nalar siswa. Jika nalar masih rendah, jangan harap kemampuan berpikir kritis (critical thinking), kreatif (creativity), kolaboratif (collaboration), dan komunikatif (communication) sebagai kemampuan penting abad 21 ini bisa dimiliki oleh anak didik.

Makna cerdas saat ini sudah berbeda dengan zaman dulu. Dulu, cerdas dilihat berdasarkan perolehan nilai. Sementara itu, saat ini cerdas adalah memiliki nalar yang tinggi, bukan semata-mata dilihat pada nilai.

Naskah akademik terkait kebijakan seleksi masuk perguruan tinggi negeri telah beredar. Kini, seleksi masuk perguruan tinggi negeri menggunakan tes skolastik. Tes tersebut menekankan kemampuan penalaran dan pemecahan masalah. Kebijakan baru tes skolastik akan mulai diterapkan sejak tahun 2023.