Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Sekolah

Diskursus Sekolah Premium dan (Sekolah Penggerak) Muhammadiyah

hendro susilo, Editor: Muhammad Isnan
Selasa, 16 Februari 2021 10:56 WIB
Diskursus Sekolah Premium dan (Sekolah Penggerak)  Muhammadiyah

Oleh : Hendro Susilo

Aktivis Pemuda Muhammadiyah

Daerah & Cabang Kottabarat Surakarta

Menarik bagi saya untuk membuka kembali diskursus di tahun 2016 terkait pengembangan sekolah “Premium” di persyarikatan Muhammadiyah. Saya mulai dari tulisan Prof. Dr H Haedar Nashir,M.Si, dimana saya kutip dari Majalah Suara Muhammadiyah edisi 05/101 1-15 Maret 2016 “ Muhammadiyah belum terlambat untuk melakukan recovery atau revitalisasi lembaga pendidikan yang dimilikinya dari tingkat dasar hingga menengah dan perguruan tinggi. Muhammadiyah manakala lengah tentu selain akan tertinggal, tidak tertutup kemungkinan pada suatu saat akan jenuh dan akhirnya mati. Tentu hal buruk seperti itu tidak diinginkan, sebaliknya harapan terbaik ialah lembaga pendidikan Muhammadiyah makin tumbuh kembang dengan pesat yang berkualitas premium dan berkeunggulan.”

Masih menurut Haedar, sekolah-sekolah dan pondok pesantren Muhammadiyah tidak cukup bertahan dengan yang ada selama ini. Jangan merasa puas dengan lembaga pendidikan yang masih mampu bertahan, tanpa pengembangan dan melakukan pembaruan. Sementara “Pihak Lain” makin tumbuh dan berkembang lembaga pendidikannya, mereka bahkan melakukan ekspansi yang luar biasa. Bahkan para konglomerat tertentu merambah mendirikan lembaga pendidikan dengan mengembangkan sekolah berkualitas unggul karena memiliki modal, akses, dan jaringan yang luar biasa. Itulah tantangan terbesar Muhammadiyah di dunia pendidikan saat ini.

Kini, memang dituntut pengembangan sekolah Muhammadiyah berkualitas premium agar masyarakat tidak lari dari lembaga pendidikan Muhammadiyah ke tempat lain dan agar lembaga pendidikan Muhammadiyah juga tidak tertinggal dari lembaga pendidikan negeri atau swasta lain yang tumbuh dengan kualitas unggul dan menjadi buruan masyarakat kelas menengah ke atas. Haedar pun mengatakan, dengan mengembangkan sekolah “premium” Muhammadiyah memang tampak elitis. Namun, jika tidak mengambil bagian maka “pihak lain” akan mengambil peran ini yang sangat strategis. “ Sembari mengembangkan sekolah “premium”, tentu saja Muhammadiyah juga jangan mengabaikan pengembangan sekolah medium kebawah. Dengan model subsidi silang, maka Muhammadiyah mampu mengembangkan sekolah “premium” sekaligus mengembangkan sekolah medium ke bawah, pungkasnya.”

Pendidikan merupakan sebuah strategi rancang bangun peradaban yang strategis. Maka sudah sewajarnya Muhammadiyah menaruh perhatian besar pada bidang yang satu ini dan sekaligus memiliki kepentingan dalam rangka membangun SDM unggul untuk bangsa berkemajuan. Pun, termasuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program sekolah penggerak. Baru-baru ini, (Senin, 1/2/2021) Kemendikbud meluncurkan secara resmi program sekolah penggerak yang tujuan dan harapannya untuk membangun SDM berkualitas. Aspek-aspek yang menjadi perbaikan bagi sekolah penggerak antara lain hasil belajar, lingkungan belajar, proses pembelajaran, refleksi diri sekolah dan perimbasan. Kunci penentu keberhasilan sekolah penggerak ini terletak pada komitmen dan kolaborasi antara kemendikbud dengan pemerintah daerah.

Pendidikan Progresif Muhammadiyah

Muhammadiyah sejak awal berdiri mengusung kredo “Islam Berkemajuan” yang memberikan dampak signifikan bagi perkembangan bangsa. KH Ahmad Dahlan berhasil meng-elaborasi Islam Berkemajuan dan Pendidikan sehingga sampai  saat ini telah tercatat  ribuan lembaga pendidikan yang telah didirikan mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi oleh Muhammadiyah.

Pendidikan Muhammadiyah yang dijiwai dan disemangati ruh Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bersifat reflektif, transmitif dan progresif. Berfikir reflektif dan kreatif menjadi nafas gerakan Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan telah memberikan contoh teladan bagaimana beliau berfikir kritis-reflektif terhadap realitas masyarakat pada saat itu, komunikatif dalam mentransmisikan konsep yang diformulasikan secara kognitif, afektif dan konatif pada orang lain sehingga melahirkan lompatan gerakan-gerakan perubahan kearah kemajuan (progresif).

(Alm) Malik Fadjar pernah mengatakan bahwa pendidikan Muhammadiyah kedepan  dengan paradigma pembaruan, harus terus menerus mengembangkan kemampuan mengantisipasi, memahami dan mengatasi, mengakomodasi, me-reorientasi terhadap tantangan dan perubahan masa depan. Hal ini menjadi  tantangan bagi para pengelola pendidikan Muhammadiyah. Termasuk wacana “sekolah premium” yang digulirkan Persyarikatan Muhammadiyah, patut kita refleksikan dan tentu dapat diimplementasikan gagasan tersebut.

Abad ini merupakan era disruptif dan bidang pendidikan pun terdampak. Dunia pendidikan harus peka dengan perkembangan dan dinamika perubahan sosial kemasyarakatan. Era disruptif membawa perubahan dan bagi seorang pendidik. Beberapa prinsip-prinsip yang harus dipegang pendidik antara lain berani keluar dari zona nyaman, bekerja dengan capaian yang jelas, fokus memberikan aktivitas yang bermakna/berdampak, menerima/memberikan feedback berkualitas dan membentuk mental model seorang expert. Inilah beberapa prinsip dalam mengelola kegiatan pembelajaran di era disruptif.

Pernyataan Haedar Nashir dan (Alm) Malik Fadjar terkait Pendidikan Muhammadiyah yang harus terus menerus melakukan pembaruan menjadi kunci eksistensi sekolah Muhammadiyah. Sekolah “premium” merupakan hasil reflektif pemikiran yang memiliki nilai strategis. Saya tidak sependapat dengan adanya penilaian bahwa sekolah premium itu elitis, justru ini merupakan sebuah strategi membaca perkembangan masyarakat. Muhammadiyah harus mengubah rule dakwah bidang pendidikan dengan konteks kekinian tanpa kehilangan idealisme ruh pendidikan Muhammadiyah.

Mungkin ada pandangan kekhawatiran bahwasannya jangan sampai Muhammadiyah terseret arus “kapitalisme” amal usaha yang tidak berpihak pada golongan terpinggirkan dan hanya mengedepan kepentingan pasar semata. Dengan adanya pandangan tersebut, justru menjadi tantangan bagi Muhammadiyah untuk menemukan formula baru dari “ruh Islam yang berkemajuan” khususnya di bidang pendidikan. Dan wacana sekolah “premium” bisa menjadi formula ruh Islam berkemajuan tersebut. Tulisan Haedar Nashir sudah sangat jelas, bahwasannya dengan subsidi silang dan saling berbagi untuk penguatan lembaga pendidikan Muhammadiyah harus dilakukan. Maka, tidak perlu diragukan lagi bagaimana keberpihakkan Muhammadiyah pada semua segmentasi lapisan masyarakat.

Sekolah (Penggerak) Muhammadiyah.

Mencermati wacana sekolah penggerak, aspek-aspek yang terkandung dalam program sekolah penggerak kemendikbud sesungguhnya dimiliki juga oleh Muhammadiyah. Dalam aspek kerjasama, Muhammadiyah yang besifat kolektif kolegial telah terbiasa membangun jejaring dan kerjasama dari pusat hingga daerah antar lembaga pendidikan. Bahkan, guru-guru di Muhammadiyah tergabung dalam sebuah wadah/forum guru Muhammadiyah (FGM) dari tingkat pusat sampai daerah. Adanya FGM ini menjadi sarana peningkatan dan penguatan SDM sekolah Muhammadiyah melalui pelatihan dan pendampingan sekolah.

Dalam aspek pembelajaran, kurikulum al-Islam Ke-Muhammadiyahan menjadi ruh dalam ikhtiar menyiapkan SDM yang unggul dan berkarakter. Dengan ciri kurikulum yang holistik-integratif, Sekolah Muhammadiyah akan menjadi tempat/habitat yang baik dalam memumpuk karakter dan menciptakan profil pelajar yang religius dan berkemajuan. Aspek pembelajaran ini menjadi kunci penting dalam membangun generasi “intelektual plus” di Muhammadiyah. Penciptaan iklim dan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, menyenangkan serta sesuai kebutuhan dan pengembangan siswa akan menciptakan hasil belajar yang bermutu di sekolah Muhammadiyah. Dan dalam era teknologi informasi saat ini, Muhammadiyah dalam hal penggunaan digitalisasi (aplikasi) pendidikan pun tidak asing lagi, bahkan sudah menciptakan layanan aplikasi pendidikan seperti Edumu contohnya.

Budaya berpikir reflektif  di Muhammadiyah sudah terbangun relatif baik. Adanya Muktamar, Munas, Musywil, Musda, Muscab sampai Musran menggambarkan adanya budaya tersebut. Termasuk dalam pendidikan Muhammadiyah, budaya refleksi diri sekolah sepanjang yang saya ketahui, terus menerus dilakukan. Banyak forum strategis yang bisa menjadi wadah refleksi diri sekolah seperti IKSD (Ikatan Kepala Sekolah SD Muhammadiyah),  IKSM (Ikatan Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah), BKSM (Badan Kerjasama Sekolah Muhammadiyah tingkat SMA/SMK/MA) serta MGMP Mata Pelajaran di sekolah Muhammadiyah. Antar sekolah Muhammadiyah terjadi saling sinergi yang akan mengimbas dan berdampak positif pada sekolah lainnya.

Melihat profil pergerakan Muhammadiyah dalam pendidikan, maka sesungguhnya sekolah Muhammadiyah sudah menjadi “sekolah penggerak” jauh sebelum kemendikbud mengeluarkan program ini. Tanpa embel-embel “Sekolah Penggerak” pun, Sekolah Muhammadiyah telah menerapkan prinsip-prinsip untuk menjadi sekolah “pembelajar” yang terus bergerak mengikuti perkembangan tanpa harus kehilangan identitas ruh pendidikan Muhammadiyah. Di akhir tulisan ini, saya berharap wacana sekolah “Premium” di tiap daerah bisa menjadi kebijakan persyarikatan untuk mewujudkan pendidikan Islam yang bermartabat dan berkemajuan.

Berita Terbaru

MTs Muhammadiyah Surakarta Gelar Matsmuka CORE dan Ujian Tahfidz di Masjid Zayed

SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — MTs Muhammadiyah Surakarta menggelar kegiatan Matsmuka Class Outing for Religious Enrichment (Matsmuka CORE) di Masjid Raya Sheikh Zayed Surakarta, Senin (15/6/2026), sebagai...

Cetak Dai Muda, PonpesMu Manafi’ul ‘Ulum Luncurkan Modul Khitobah

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pondok Pesantren Muhammadiyah (PonpesMu) Manafi’ul ‘Ulum menggelar Haflah Akhirussanah Tahun Ajaran 2025/2026 yang dirangkaikan dengan wisuda santri SMP dan SMA serta peluncuran...

Nilai TKA SD Muhammadiyah PK Kottabarat Melampaui Rata-Rata Nasional

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Sebanyak 54 murid kelas VI SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat, Kota Solo, mengikuti kegiatan akhirusanah di The Sunan Hotel Solo, Sabtu (13/6/2026). Dari...

SMA Muhammadiyah PK Kottabarat Gelar PK Fest 2026, Ajang Kreativitas dan Inovasi Siswa

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-SMA Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat, Surakarta menggelar PK Fest 2026, Sabtu (13/6/2026), di kompleks sekolah. PK Fest menghadirkan beragam kegiatan mulai dari perlombaan...

Tanam Pohon Jadi Penutup Supercamp PPL-2 SD Muhammadiyah PK Banyudono

KLATEN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Program Penguatan Leadership (PPL)-2 SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono resmi ditutup di kawasan Refresh River Tubing Janti, Polanharjo, Klaten, Kamis (11/6/2026)....

Tingkatkan Kompetensi Pendidik, Guru Bahasa Inggris SMP Imam Syuhodo Lulus S2

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo Sukoharjo terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan kompetensi tenaga pendidik. Komitmen tersebut kembali membuahkan hasil...

Atasi Sampah Sekolah, Tim UMS Ciptakan Sistem Digital Berbasis IoT untuk Siswa SD

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan inovasi berbasis Internet of Things (IoT) bernama Smart Monitoring Green Action (SMOGRA) untuk mendorong terbentuknya...

AI Ubah Pembelajaran Matematika, Akademisi UMS Tekankan Peran Baru Guru

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar webinar bertajuk Pembelajaran Matematika Era AI: Peluang,...

Jeda PSAT, Murid SD Muhammadiyah PK Solo Belajar Beragam Profesi

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Suasana berbeda tampak di SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo, Selasa (9/6/2026). Sebanyak 167 murid kelas I dan II mengikuti pelatihan...

Menuju Satu Dekade, SMA Muhammadiyah PK Solo Hadirkan PK Fest 2026

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — SMA Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo menyiapkan gelaran PK Fest 2026 sebagai ajang pameran inovasi, kreativitas, dan inspirasi siswa. Kegiatan yang...

MTs Muhammadiyah Surakarta Lepas 43 Lulusan, Hafalan Tertinggi Capai 25 Juz

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — MTs Muhammadiyah Surakarta melepas 43 siswa lulusan tahun ajaran 2025/2026 dalam kegiatan Haflah Wada’ dan Wisuda Tahfidz. Kegiatan tersebut menjadi ajang apresiasi...

Mahasiswa Kesmas UMS Edukasi Pilah Sampah dan CTPS di TK Aisyiyah Sindon

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dua mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), An Afida Atsna dan Rara Vera Nathania, menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di...