
Di malam yang sunyi, ketika cahaya lampu minyak hanya menyisakan bayangan di dinding joglo, suara sindhen merayap pelan mengikuti denting gamelan. Nada-nada itu seolah bukan sekadar hiburan. Ada sesuatu yang lebih dalam, seolah ada tangan tak terlihat yang menulis perjalanan manusia dari awal hingga akhir.
Di antara suara gong, kendang, dan lantunan sinden, tembang Jawa seolah menyimpan pertanyaan yang sejak dahulu menghantui manusia: dari mana kita datang, untuk apa kita hidup, dan ke mana akhirnya kita akan kembali? Salah satu warisan yang menarik untuk direnungkan dalam konteks tersebut adalah tembang macapat.
Tembang macapat adalah warisan luhur yang merangkum seluruh siklus kehidupan manusia. Macapat bukan sekadar seni suara yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia memiliki aturan, karakter, dan filosofi yang membuatnya menjadi salah satu bentuk penting dalam kebudayaan Jawa.
Dalam berbagai tradisi penafsiran, sejumlah tembang macapat sering dikaitkan dengan perjalanan kehidupan manusia, mulai dari kelahiran, masa muda, pencarian cinta dan kematangan hidup, hingga kematian. Karena itu, macapat sebenarnya tidak hanya mengajak orang mendengar, tetapi juga mengajak manusia membaca dirinya sendiri.
Tidak seperti puisi modern yang bebas, macapat terikat pada aturan guru lagu dan guru wilangan yang ketat. Setiap pupuh memiliki watak dan makna filosofis. Maskumambang menggambarkan bayi yang masih mengambang di dalam rahim, penuh ketidakpastian dan ketergantungan.
Mijil menandai kelahiran, saat manusia “keluar” ke dunia dengan tangis pertama. Sinom penuh semangat muda, Asmaradana diliputi rindu dan gejolak hati, Dhandhanggula membawa keindahan dan kebijaksanaan, Pangkur fase usia senja yang mulai menyingkirkan hawa nafsu, sementara Megatruh, dan Pocung menghampiri akhir perjalanan menuju kematian.
Orang Jawa lama tidak sekadar menyanyikan tembang-tembang ini. Mereka menjadikannya media eling lan waspada atau mengingat dan waspada. Dalam setiap lantunan, tersirat ajaran bahwa hidup ini memiliki stasiun-stasiun yang harus dilalui dengan sikap nrima, bukan pemberontakan.
Hidup Seperti Tembang yang Memiliki Bait
Dalam tradisi Jawa, macapat dikenal melalui sejumlah bentuk tembang seperti Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanthi, Asmaradana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pocung. Hubungan setiap tembang dengan tahapan kehidupan manusia merupakan bagian dari penafsiran filosofis yang berkembang dalam kebudayaan Jawa dan tidak selalu memiliki satu versi yang seragam.
Namun, sebagai refleksi budaya, gagasan tersebut memberikan gambaran yang indah tentang kehidupan manusia sebagai perjalanan yang memiliki awal, proses, dan akhir. Di sinilah menariknya ketika warisan budaya tersebut dibaca berdampingan dengan ajaran Islam.
Bukan berarti macapat adalah ajaran Islam, apalagi setiap makna dalam macapat harus dianggap berasal dari wahyu. Macapat tetap merupakan produk kebudayaan manusia dengan sejarah dan perkembangan yang kompleks. Namun, nilai filosofis yang dikandungnya dapat menjadi ruang dialog dengan ajaran Islam tentang kehidupan, keterbatasan manusia, takdir, ikhtiar, dan kepulangan kepada Allah.
Keterkaitan dengan Lauhul Mahfudz
Dalam Islam kita mengenal Lauhul Mahfuz, yang kita tahu bahwa Lembaran yang terpelihara di sisi Allah yang di situ segala ketentuan, takdir, dan catatan peristiwa sudah tertulis sebelum alam semesta ada. Al-Qur’an menyebutnya dengan jelas:
“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuz.”
(QS. Al-Buruj: 21-22)
Konsep Lauhul Mahfuzh berada dalam wilayah perkara gaib yang tidak seluruh hakikatnya dapat dijangkau manusia. Karena itu, kita tidak boleh menyederhanakannya menjadi seolah-olah manusia dapat membaca seluruh “naskah kehidupan” yang berada di sisi Allah. Yang dapat kita pahami adalah bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, sedangkan pengetahuan manusia sangat terbatas.
Ayat itu menegaskan bahwa wahyu dan ketentuan Ilahi tersimpan abadi. Pena sendiri jadi simbol kekuasaan menulis milik Allah:“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis.”
(QS. Al-Qalam: 1)
Pena dalam ayat tersebut memiliki makna yang berkaitan dengan kebesaran dan kekuasaan Allah atas ilmu dan wahyu. Maka, ketika berbicara tentang “Pena Ilahi”, kita sedang berbicara dalam wilayah simbolik tentang keluasan ilmu dan ketetapan Allah, bukan tentang pena sebagai benda yang dapat dibandingkan begitu saja dengan alat tulis manusia.
Pena Ilahi bukan benda biasa, ia adalah kekuasaan mutlak yang menetapkan segalanya. Tidak ada yang terjadi di langit atau bumi kecuali sudah tercatat di Lauhul Mahfuz. Kita diberi ruang untuk berusaha, tapi hasil akhirnya tetap dalam kerangka yang sudah ditentukan.
Nah, di sinilah titik temunya terasa menarik. Macapat seolah jadi cara orang Jawa “membaca” tulisan Ilahi itu. Bayangkan ibu yang menembangkan Mijil di samping bayi yang baru lahir. Seolah ia sedang membuka lembaran pertama dari catatan takdir. Atau kakek yang merapalkan Pangkur di usia tua, seolah membaca halaman-halaman yang hampir habis. Gending Jawa tidak mengubah ketentuan di Lauhul Mahfuz.
Ia justru mengajari kita menyelaraskan langkah dengan apa yang sudah ditulis. Sikap nrima ing pandum dalam tembang itu sangat dekat dengan iman kepada qadha dan qadar. Kita berusaha, berdoa, berjalan, tapi hasil akhir diserahkan kepada Yang Maha Menulis.
Ada yang bilang ini cuma romantisasi berlebihan, Tapi coba perhatikan lebih teliti. Dalam Tembang Asmaradana, rasa rindu dan sakit hati tidak dilawan dengan marah atau putus asa. Ia diolah jadi kesadaran. Dalam Megatruh, kematian tidak ditakuti berlebihan.
Diterima sebagai kepastian yang sudah tertulis. Mirip sekali dengan sikap orang beriman yang percaya ajal, rezeki, dan jodoh sudah ditetapkan, tapi tetap harus berikhtiar. Macapat tidak mengajarkan pasrah begitu saja. Ia mengajarkan kesadaran aktif yaitu ingat bahwa hidup ini sementara, waspada terhadap godaan, dan tetap jalan dengan hati tenang.
Takdir Bukan Alasan untuk Berhenti Berusaha
Di sinilah hubungan antara macapat dan iman kepada takdir menjadi menarik. Ada kecenderungan manusia menggunakan takdir sebagai alasan untuk berhenti berusaha: “Kalau memang sudah ditakdirkan, buat apa bekerja?” Padahal Islam tidak mengajarkan manusia menjadi penonton dalam hidupnya sendiri. Keimanan kepada qadha dan qadar berjalan bersama kewajiban untuk berikhtiar, berdoa, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan perbuatan.
Dalam bahasa sederhana, manusia tidak mengetahui seluruh halaman kehidupannya, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan pada halaman yang sedang ia jalani. Kita tidak tahu apa yang terjadi besok, tetapi kita tahu bahwa hari ini kita harus bekerja dengan jujur. Kita tidak mengetahui kapan ajal datang, tetapi kita mengetahui bahwa hidup harus digunakan untuk kebaikan.
Zaman sekarang serba cepat. Kita sering merasa bisa mengatur segalanya dengan teknologi dan rencana matang. Di situ tembang macapat dan kesadaran Lauhul Mahfuz jadi pengingat yang relevan. Kita bikin target, susun strategi, kejar impian, tapi sering lupa ada tulisan yang lebih besar dari rencana kita.
Ketika gagal, kehilangan, atau tiba-tiba bahagia, tembang ini mengajari kita tidak larut terlalu dalam. Semua sudah ada catatannya. Tugas kita hanya mengisi dengan tinta terbaik: ikhtiar sungguh-sungguh, doa yang khusyuk, dan sikap yang eling.
Gending yang Mengajarkan Kita untuk Eling
Jadi, “Pena Ilahi dalam Gending Jawa” bukan sekadar judul bagus. Ia ajakan untuk melihat warisan budaya dengan kacamata yang lebih luas. Macapat bukan barang kuno yang hanya pantas dipentaskan atau disimpan di museum. Ia masih bisa bicara hari ini. Dunia modern sering bikin kita merasa sendirian menentukan nasib.
Tembang macapat dan kesadaran Lauhul Mahfuz mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian. Ada yang menulis, ada yang menjaga, ada yang menuntun. Pada akhirnya, setiap kali tembang macapat dilantunkan di rumah, di ruang sakral, atau di panggung, kita diajak diam sejenak. Dengarkan lebih dari sekadar nada. Dengarkan gema pena yang menulis di Lauhul Mahfuz.
Di antara gending Jawa dan ayat-ayat langit tersimpan kebenaran sederhana yaitu segala sesuatu sudah dituliskan. Kita hanya diminta menyanyikannya dengan indah, dengan kesadaran, dan dengan hati yang berserah. Hidup ini tembang panjang yang sudah punya notasi. Tugas kita hanya menyanyikannya sebaik mungkin, sampai halaman terakhir ditutup dengan tenang.
Ketika Baju Adat Lebih Penting daripada Harga Diri Siswa: Pelajaran Pahit dari SMPN 18 Malang
Ada ironi besar dalam pendidikan ketika sebuah pakaian yang seharusnya menjadi simbol budaya justru berakhir menjadi sumber luka bagi seorang anak. Dugaan kekerasan di SMP...
Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka
Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...
Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)
Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...
Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain
Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...
Dingin…
Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...
Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas
Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...
Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...
Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...






