Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tarjih & Tajdid

Dia Satu-satunya dan Tak Terhingga

Ayudya Dimas Rizky Utama (Siswa SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta), Editor: Yusuf R. Yanuri
Senin, 15 Agustus 2022 06:00 WIB
Dia Satu-satunya dan Tak Terhingga

“Dia satu-satunya dan tak terhingga. Tidak salah kalau kamu menyebutnya Tuhan. Apa lagi namanya kalau bukan itu?” -Thanos (“The Thanos Quest”, Marvel Comic 1990)

Simetri – Sempurna

“Cantik bukan? Seimbang dengan sempurna. Beginilah seharusnya semua hal.” Mungkin Anda setuju dengan kata-kata Thanos ini. Bahwa alam ini seharusnya seimbang dengan sempurna. Karena itu, terlepas dari kejahatannya memusnahkan setengah makhluk di alam semesta menggunakan Infinity Stones, sepertinya Thanos mempunyai niat yang mulia. Yaitu mengembalikan keseimbangan alam ini.

Tapi Thanos lupa bahwa dunia ini tidak ada yang sempurna. Karena yang sempurna hanya Tuhan. Sains menunjukan hal yang sama.

“Jika hukum alam ada dalam bentuk yang terlalu sempurna, atau simetris, maka kehidupan tidak ada sama sekali,” ujar Profesor Muchio Kaku, ahli fisika teori.

Ia mengilustrasikan jika kita berharap sebuah gangsing terus berputar dan tidak berhenti, dalam arti seimbang dengan sempurna. Tapi realitanya tidak. Bagaimanapun gangsing ini akan berhenti berputar.

“Ketidaksempurnaan sekecil apa pun, cacat sekecil apa pun, akan menyebabkan bergetar, melambat, dan jatuh ke tingkat energi yang lebih rendah, simetri telah runtuh,” ujarnya.

Apa yang dimaksud Profesor Muchio Kaku adalah alam semesta ini berkerja justru karena ada cacat pada setiap komponennya. Itulah yang menjadikan kita bisa melihat realita. Dengan kata lain alam ini bekerja jika setiap hukum alam membatasi kesempurnaannya. Mengapa? Karena ia hanyalah potongan dari kesempurnaan yang sesungguhnya, yang dalam matematika disebut simetri.

Seperti sayap kupu-kupu. Kita tahu sayap kiri hanya sepotong dari sebelah kanan karena kedua sayapnya simetri. Maka kita melihat kesempurnaan kupu-kupu ketika melihat kedua sayapnya.

Profesor Michio Kaku mengatakan, semua yang kita lihat di sekitar kita hanyalah fragmen dari kesempurnaan sesungguhnya. Ketika Anda melihat butir salju kristal yang indah atau bahkan simetri dari bintang-bintang di langit, itu adalah fragmen, potongan simteri yang asli dari yang paling awal.

Konsep simetri dalam fisika pertama kali ditunjukan oleh seorang matematikawan perempuan bernama Emmy Noether. Ia menunjukan bahwa dari sudut pandang matematika, hukum-hukum fisika yang kita kenal seperti kekekalan momentum atau kekekalan energi sesungguhnya hanya kosekuensi dari simetri.

Itu yang membuat Ilmuwan terus mengoreksi teori-teori yang ada seperti hukum gravitasi Newton yang kemudian dikoreksi oleh Einstein menjadi hukum relativitas umum. Dan semakin mendalami, mereka semakin menyadari bahwa semua ini diatur oleh satu simetri yang sama.

“Hukum-hukum ini benar-benar didikte oleh simetri. Itulah kenapa kami menemukan hukum-hukum ini,” ujar Peter W. Higgs.

“Dan itu membuat kami terus melihat koneksi yang lebih dalam lagi. Jadi pada akhirnya, kita ada mungkin karena alam tidak punya pilihan,” tulis fisikawan S. James Gates, JR.

“Persamaan ini tidak berarti apa-apa buatku, selain mengekspresikan pikiran Tuhan.” – The Man Who Knew Infinity.

Singularity – Tunggal

“Sebelum adanya alam semesta, tidak ada apa pun. Lalu, BOOM!! Big Bang mengirim enam kristal ke penjuru alam semesta yang masih muda.” –Avengers: Infinity War.

Big Bang ini adalah teori di mana Stephen Hawking sebagai ilmuwan atheis sempat mengakui adanya Sang Pencipta. Itu ditulis dalam bukunya The Brief History of Time.

“Jika kita sempat mempelajarinya, maka itu akan jadi kemenangan besar nalar manusia kemudian kita akan tahu pikiran Tuhan. Kamu sungguh-sungguh dalam soal ini? Ya!” –The Theory of Everything.

Big Bang adalah teori yang sulit dibantah karena sains itu sendiri yang membuktikannya. Hawking termasuk yang membuktikannya bahwa alam semesta memiliki awal.

“Kau membuktikan alam ini punya awal, sehingga butuh Pencipta?” –The Theory of Everything.

Penemuan teori ini berawal dari seorang astronom kondang, Edwin Hubble. Dia orang pertama yang membuktikan dengan teleskopnya bahwa alam semesta ini benar-benar mahaluas. Objek yang tadinya dikira hanya debu-debu di angkasa yang disebut Nebula ternyata adalah kumpulan galaksi di tempat yang jauh. Sehingga para astronom saat ini memperkirakan bahwa jagat raya ini memiliki lebih dari 200 miliar galaksi.

Lebih mengejutkan lagi saat Hubble menemukan bahwa galaksi-galaksi ini menjauh dari kita. Semakin jauh, semakin cepat ia bergerak menjauh. Itu dibuktikan dengan adanya Red Shift. Pergeseran gelombang cahayanya yang menuju warna merah yang artinya semakin menjauh.

Bukan hanya galaksi-galaksi ini saja yang menjauh, tapi seluruh alam semesta saling menjauh satu sama lain. Dalam arti alam semesta mengembang seperti balon yang ditiup. Di sini para ilmuwan menyadari bahwa seandainya waktu diputar balik, maka ada masa di mana alam semesta ini berawal dari satu titik.

“Bagaimana jika aku mengembalikan prosesnya sampai awal, untuk tahu apa yang terjadi di awal kejadian waktu itu sendiri?” –The Theory of Everything.

Bukti adanya Big Bang adalah ditemukannya jejak radiasi Big Bang yang disebut Cosmic Microwave Background (CMB) yang ditemukan secara tidak sengaja oleh dua orang astronom Arno Penzias dan Robert Wilson dengan antenanya yang mirip terompet.

Tapi ada satu hal yang mungkin Anda salah paham tentang Big Bang. Mungkin Anda menyangka alam semesta ini tadinya kosong lalu Big Bang mengisinya, tidak bahkan ruang kosong pun tidak ada dan waktupun belum ada. Karena Einstein terlanjur mengemukakan teori relativitas umum bahwa materi ruang dan waktu adalah satu kesatuan. Artinya alam ini mengembang bersama ruang waktu itu sendiri.

Lalu bagaimana para ilmuwan mendeskripsikan satu titik itu di mana ruang waktu tidak relevan? Sayangnya mereka tidak mampu menjelaskannya selain menyebutnya singularity atau singularitas.

“Dan pada akhirnya, apa yang tersisa? Singularitas ruang-waktu.” –The Theory of Everything.

Sulit menjelaskan singularity karena dalam matematika dan fisika singularity dipakai untuk mendefinisikan sesuatu yang tidak terdefinisi. Tidak terdefinisi bukan berarti tidak ada, ada tapi tidak terjangkau oleh akal manusia.

“Mereka tidak punya jawaban bagus sehingga sebut saja ‘tak terdefinisi’. Ini artinya matematika tidak berlaku, sehingga kita sebut singularity.” Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, singularity artinya keganjilan. Tapi akar kata dari singularity itu sendiri adalah single atau singular yang artinya tunggal.

Tunggal berarti tidak terbagi. Seperti dalam matematika, 1 dibagi 0 juga disebut singularity. Coba saja di kalkulator Anda ketik 1 bagi 0 lihat apa hasilnya. Artinya sudah tidak dibagi. Kalau Anda menggunakan kalkulator di Google, maka yang keluar adalah infinity.

Infinity – Tak Terhingga

“Batu-batu Infinity ini mengendalikan setiap aspek penting dalam kehidupan.” –Avengers: Infinity War.

Batu-batu dengan kekuatan seperti Infinity Stones tidak ada di dunia nyata, kecuali Anda percaya dengan kekuatan batunya Ponari atau semacamnya. Tapi kalau Anda mau mengambil pendekatan sains, ada empat kekuatan besar yang mengatur alam ini. Yaitu gravitasi, gaya elektromagnet, gaya nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah.

Kalau Anda belajar fisika, semua gaya yang pernah Anda pelajari mengerucut pada empat gaya ini. Keempat gaya ini mengatur alam ini dari dua sisi. Gravitasi mengatur alam makroskopik seperti bagaimana planet dan galaksi harus bergerak. Tiga gaya sisanya mengatur alam mikroskopik. Bagaimana partikel-partikel di dalam atom saling berinteraksi. Karena itu ada dua teori besar dalam fisika yang mendeskripsikan dua alam ini.

“Dua pilar dalam fisika, teori kuantum, hukum yang mengatur partikel yang sangat kecil, elektron, dan sebagainya, dan relativitas umum, teori Einstein, hukum yang mengatur planet dan semacamnya.” –The Theory of Everything.

Dua teori ini atau empat gaya ini ingin disatukan oleh Stephen Hawking menjadi teori tunggal. Seperti Thanos ingin menyatukan enam kekuatan Infinity Stones.

“Hawking mencari satu teori tunggal, yang bisa menjelaskan semua kekuatan di alam semesta. Artinya Tuhan harus mati.” –The Theory of Everything.

“Dia bilang, dia mampu menjelaskan semua. Jadi semua pertanyaan-pertanyaan secara fisika, dia bisa jawab. Berarti tidak ada tempat lagi untuk Tuhan. Kurang ajar gak?!” tanya BJ Habibie.

Pada akhirnya bukan Tuhan yang mati, tapi Hawking yang inalillahi. Sementara satu teori itu belum ditemukan. Bahkan sebenarnya sebelum meninggal, Hawking menyerah dengan mengatakan “sebagian orang akan sangat kecewa jika tidak ada teori terakhir yang bisa dirumuskan dalam beberapa prinsip. Dulu saya termasuk yang percaya itu. Tapi sekarang saya berubah pikiran.”

“Kalian pernah belajar fisika kuantum? Dunia kuantum itu alam mikroskopis, untuk masuk ke sana, kalian harus sangat-sangat kecil.” –Avengers: Endgame.

Ini adalah teori paling rumit untuk dipahami. Bahkan Richard Feynman mengatakan bahwa “Kalau kalian pikir kalian paham dengan mekanika kuantum, kalian tidak paham mekanika kuantum.”

Mengapa seperti itu? Fisika disebut ilmu pasti karena mengukur sesuatu secara pasti. Seperti mengukur secara akurat di mana jatuhnya rudal ketika ditembakkan dengan sudut dan kecepatan tertentu atau memprediksi kapan Anda akan sampai di suatu tempat dengan mengukur jarak dan kecepatan mobil dari GPS.

Tapi anehnya, ketika para ilmuwan mencoba menerapkan itu pada makhluk terkecil di alam ini, yaitu partikel, hukum-hukum fisika seakan runtuh seketika. Mereka sama sekali tidak bisa memprediksi secara akurat posisi maupun kecepatannya dalam arti hakikat partikel itu sendiri tidak bisa ditebak.

“Semakin akurat kita mengukur kecepatan partikel, semakin tidak akurat kita mengukur posisinya di alam. Dan menurut rekan saya, Partikel itu sama sekali tidak ada, sampai kita mengamatinya. Itu sama sekali tidak masuk akal buat saya. Tepat sekali!” –Einstein National Geographic.

“Hukum di alam kuantum berbeda dengan di sini. Semuanya tidak bisa diprediksi.” –Avengers: Endgame.

Kenyataan ini membuat goyah universe-nya para scientist. Mengapa bangunan dasar paling fundamental dari alam ini ditentukan oleh sesuatu yang tidak terukur. Sampai mereka mengadakan pertemuan khusus untuk membahasnya.

Semua Avengers di dunia sains termasuk Einsten diundang pada pertemuan yang kemudian dikenal dengan Interpretasi Copenhagen. Einstein sendiri mengatakan dengan kalimat yang terkenal sampai saat ini “Tuhan tidak bermain dadu.”
karena tidak terima alam ditentukan oleh sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Tapi kemudian kalimat ini dijawab oleh Stephen Hawking dengan kalimat “Tuhan bukan hanya bermain dadu bahkan terkadang melemperkannya ke tempat yang kita tidak tahu.”

Endgame – Akhir Permainan

Apa kesimpulan kalian dari cerita ini? Apa endgame-nya? Anda boleh menginginkan kekuatan seperti Thanos atau raja yang duduk di singgasana dengan segala kekuasaannya. Anda boleh menginginkan kepintaran seperti Tony Stark atau ilmuwan dengan segala kejeniusan teorinya. Tapi jangan sampai kita dikutuk oleh kekuatan dan kepintaran itu sendiri.

“Kau bukan satu-satunya yang dikutuk dengan kepintaranmu. Satu-satunya kutukan adalah kau.” Thanos dan Tony Stark (Avengers: Endgame).

Karena kekuatan di dunia ini pasti ada batasnya, akal pasti ada batasnya. Alam sendiri menunjukkan ketidaksempurnaannya dan menunjukkan bahwa mereka hanya tunduk pada kesempurnaan yang lebih besar.

Jika kita merasa pintar, ingatlah bahkan kita tidak mampu menjelaskan makhluk sekecil nyamuk atau lebih kecil dari itu atau lebih kecil lagi. Akal bukan ditunjukan untuk mengetahui segalanya, tapi akal ditujukan untuk mengakui yang punya segalanya. Dia Sempurna, Dia Esa, Dia Tak Terhingga.

“Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia” -(QS. al-Ikhlas: 4)

Berita Terbaru

Dari GWO Sriwedari, Belajar Jadi Manusia Seutuhnya

Dua kali saya menyaksikan tampilan seni budaya dalam bentuk drama dan pagelaran seni daerah nusantara persembahan dari siswa SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Gelaran...

Membangun Amal Usaha Muhammadiyah Unggulan

Muhammadiyah adalah sebuah organisasi yang bergerak atas semangat al-Ma’un dan Al-Ashr (dari etos ke spirit peradaban) dan berkhidmat untuk membangun kemanusiaan, keumatan, kebangsaan, dan internasional...

Apa yang Bisa Dilakukan oleh Pimpinan Muhammadiyah dalam Menghadapi Penurunan Jumlah Warganya?

SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pernyataan Denny JA mengenai penurunan yang signifikan dalam jumlah warga Muhammadiyah dalam 20 tahun terakhir merupakan isu yang perlu dipertimbangkan dengan serius...

Historical Walking, Ikhtiar Pembumian Nilai Kemuhammadiyahan

Sepanjang yang saya ketahui, ada dua buku yang mengupas perjalanan Sejarah Muhammadiyah kota Surakarta. Pertama, Matahari Terbit di Kota Bengawan yang ditulis oleh Dr Mohamad...

Mindful Learning dalam Pembelajaran Kimia

Materi kimia sangatlah menarik. Bila seorang guru mampu membangkitkan minat dan motivasi siswa, materi kimia bisa menjadi sarana berpikir kritis, kreatif, membentuk karakter ilmiah dan...

STEM and Digitalisation (3): Manpower Development, Coaching Students, and Reflective Thinking

Diskusi dan sharing pengelolaan pendidikan bersama akademisi Nanyang Polytechnic Singapura berlanjut sampai hari ke -10. Tema Pengembangan sumber daya manusia untuk pertumbuhan ekonomi, membangun cara...

Melekat Kelas Baru

Di awal tahun pelajaran baru, satuan pendidikan menyiapkan awal tahun pelajaran. Kegiatan awal tahun ditandai adanya berbagai kegiatan. Salah satunya adalah masa pengenalan lingkungan sekolah...

STEM and Digitalisation (2): Menciptakan Iklim dan Ekosistem Inovasi

Baca seri pertama dari artikel ini di sini Hari ke-2, 3, dan 4 pelatihan, kami berdialog dan sharing dengan Mr Yoon Eng Tong dalam forum...

Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)

RESENSI BUKU Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan) Judul Buku : Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)...

STEM And Digitalisation (1): Refleksi Teachers Course di Nanyang Polytechnic Singapura

Hari ini, Senin 17 Juli 2023 saya berkesempatan untuk belajar secara langsung bersama Dr Judy Emily dari Nanyang Polytechnic (NYP) Singapore untuk mendalami model pendidikan...

Romansa Guru Penggerak

Program guru penggerak merupakan bagian dari program merdeka belajar episode ke lima yang digagas oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Program guru pengerak adalah...

Buku Merawat Intelektualisme Muhammadiyah Telah Terbit

Kabar gembira bagi para aktivis dan kader Muhammadiyah di kota Solo. Pasalnya, buku karya Dr Mohamad Ali yang merupakan catatan–catatan sejarah pergerakan Muhammadiyah di kota...