Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. tidak cukup hanya diucapkan. Kecintaan tersebut perlu diwujudkan melalui keyakinan, sikap, dan amal dalam kehidupan sehari-hari.
Ada berbagai cara untuk membangun sekaligus membuktikan cinta kepada Rasulullah Saw. Berikut lima di antaranya.
1. Meyakini Nabi Muhammad Saw. sebagai utusan Allah Swt. dan penutup para nabi dan rasul
Seseorang belum dapat dikatakan mencintai Nabi Muhammad Saw. jika belum meyakini beliau sebagai utusan Allah Swt. sekaligus nabi dan rasul terakhir. Tidak ada lagi nabi dan rasul setelah beliau.
Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Anbiya ayat 107:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
Allah Swt. juga menegaskan dalam QS Al-Ahzab ayat 40:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Nabi Muhammad Saw. juga menggambarkan kedudukannya sebagai penutup para nabi melalui sabdanya:
“Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku adalah seperti seorang lelaki yang membangun rumah dengan baik dan indah, kecuali satu tempat yang kosong dari satu batu bata di sudutnya. Maka orang-orang berkeliling dan mengagumi keindahannya, tetapi mereka berkata: Seandainya batu bata ini diletakkan di tempatnya! Maka akulah batu bata itu, dan akulah penutup para nabi.” (HR Al-Bukhari No. 3535)
Keyakinan tersebut menjadi dasar kecintaan kepada Rasulullah Saw. Seorang muslim perlu meyakini risalah yang dibawa beliau sekaligus menerima kedudukannya sebagai nabi dan rasul terakhir.
2. Menjalankan sunah Nabi Muhammad Saw.
Orang yang mencintai seseorang akan berusaha mengikuti dan melakukan hal-hal yang disukai orang yang dicintainya. Demikian pula kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. perlu diwujudkan melalui upaya menjalankan sunah beliau.
Nabi Muhammad Saw. bersabda kepada Anas bin Malik:
“Wahai anakku! Jika kamu mampu pada pagi sampai sore hari di hatimu tidak ada sifat khianat pada seorang pun, maka perbuatlah. Itu termasuk sunahku. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunahku, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang telah mencintaiku, maka aku bersamanya di surga.” (HR Tirmidzi No. 2678)
Menjalankan sunah bukan hanya berkaitan dengan amalan tertentu, tetapi juga meneladani akhlak, kebiasaan, dan sikap Rasulullah Saw. dalam kehidupan sehari-hari.
3. Membela dan menjaga sunah Nabi Muhammad Saw.
Membela sunah dapat diwujudkan dengan memelihara, mempelajari, mengamalkan, dan menyebarkannya dengan benar. Nabi Muhammad Saw. memberikan kabar gembira kepada orang yang menjaga dan menyampaikan ajarannya.
Beliau bersabda:
“Semoga Allah menceriakan wajah seseorang: ia mendengar sesuatu dari kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Banyak sekali orang yang diberi berita lebih paham daripada orang yang mendengar.” (HR Tirmidzi No. 2656)
Menjaga sunah juga berarti berhati-hati dalam menyampaikan hadis dan ajaran Nabi Muhammad Saw. agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami maupun menyebarkannya.
4. Ridha terhadap syariat yang dibawa Nabi Muhammad Saw.
Bukti kecintaan kepada Rasulullah Saw. juga terlihat dari kerelaan menerima syariat yang dibawanya. Diriwayatkan dari Al-Abbas Ra., Nabi Muhammad Saw. bersabda:
“Telah merasakan lezatnya iman siapa yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR Muslim)
Ridha mencakup penerimaan dan kepatuhan. Seorang muslim yang ridha terhadap Nabi Muhammad Saw. sebagai rasulnya akan berusaha menjadikan petunjuk beliau sebagai pedoman dalam kehidupan.
Sikap tersebut diwujudkan dengan menerima ajaran yang dibawa Rasulullah Saw., mengikuti sunahnya, menjadikan petunjuknya sebagai pedoman, serta menjalankan ketentuan syariat dengan penuh kesadaran.
5. Memperbanyak salawat kepada Nabi Muhammad Saw.
Allah Swt. memerintahkan orang-orang beriman untuk bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Perintah tersebut terdapat dalam QS Al-Ahzab ayat 56:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Memperbanyak salawat menjadi salah satu bentuk kecintaan seorang muslim kepada Rasulullah Saw. Selain sebagai ibadah, salawat juga memiliki keutamaan bagi orang yang mengamalkannya.
Nabi Muhammad Saw. bersabda:
“Barang siapa saja yang membaca salawat kepadaku sekali, niscaya Allah bersalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan.” (HR An-Nasa’i)
Lima hal tersebut menjadi sebagian cara untuk membangun cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Kecintaan kepada beliau perlu terus dipupuk melalui keyakinan, pengamalan sunah, menjaga ajaran, menerima syariat, dan memperbanyak salawat.
Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan untuk membangun dan membuktikan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. Semoga Allah Swt. memberikan kita keistiqamahan dalam mengikuti petunjuk Rasulullah Saw. dan menjadikan kecintaan kepada beliau sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Nashrun minallah wa fathun qarib. Fastabiqul Khairat.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an Al-Karim.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 1991 M. Sunan Tirmidzi. Beirut: Maktab Islami (Maktabah Syamilah).
Ibnu Ismail, Muhammad. 1893 M. Shahih Al-Bukhari. Mesir: As-Sulthaniyyah (Maktabah Syamilah).
Ibnu Sulton, Ali. 2002 M. Muroqotul Mafatih. Dar Al-Fikr (Maktabah Syamilah).
Buah dari Muhasabah Diri
Kemajuan peradaban dan kesibukan manusia dalam mengejar tujuan, popularitas, serta harta dapat membuat seseorang lalai dan melewati batas yang telah Allah Swt. tetapkan. Dalam kondisi...
TKA, Wajah Asli Pendidikan Kita Yang Tak Rupawan
Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi bahan refleksi penting dalam diskursus pendidikan nasional. Di tengah euforia reformasi kurikulum dan perubahan sistem evaluasi, TKA hadir bukan...
Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat
Ustaz Muhammad Jazir, tokoh Masjid Jogokariyan, adalah sosok inspiratif yang menunjukkan aksi dan peran nyata dalam dakwah dan gerakan umat. Beliau memberi pelajaran penting bahwa...
Ironi di Penghujung November: Perayaan Ekologis Namun Membiarkan Bencana
Penghujung November seharusnya menjadi momentum ekologis penting bagi umat manusia. Dua peringatan besar—Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28...
Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global
Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja? Penandatanganan MoU...
Teknologi Bisa Mengajar, tapi Hanya Guru yang Bisa Menyentuh Hati
Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kita semakin akrab dengan kelas daring, robot tutor, kecerdasan buatan, hingga platform belajar yang menyediakan ribuan video pembelajaran. Banyak yang...
Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah
Fenomena “gus-gusan” dalam dakwah digital semakin ramai dibicarakan. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh potongan video seorang “Gus” yang mengaitkan rokok merek Sampoerna dengan konsep...
Jangan Korbankan Lawu untuk Keserampangan Energi Hijau
Rencana pemanfaatan panas bumi di Jenawi, lereng Gunung Lawu, bukan sekadar urusan teknis energi. Ia adalah soal keselamatan ekologis, keberlanjutan ekonomi warga, dan kewarasan negara...
Menemukan Tenang di Tengah Badai: Spiritualitas sebagai Kunci Ketahanan Mental
Dalam menjalani kehidupan pasti manusia akan merasakan berbagai macam tekanan pada setiap aspek yang dia jalani. Misalnya, tekanan pada pekerjaan, seperti deadline yang ketat, tuntutan...
Latte Papa: Ayah, Kopi, dan Revolusi Sunyi
Fenomena Latte Papa atau Latte Dad di Swedia sering dianggap sepele: sekumpulan ayah muda yang terlihat mendorong stroller sambil menyesap segelas caffe latte di kafe-kafe...
Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan
Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe, berdiri sebuah madrasah kecil yang menyimpan harapan besar: Madrasah Aliyah Muhammadiyah Petta. Meski letaknya jauh dari pusat-pusat...
Negeri yang Dijajah Tanpa Senapan
Daftar IsiGelar Tak Lagi SaktiKetika Data Menjadi Emas BaruSekolah untuk Dunia yang Sudah MatiTeknologi: Pembebasan atau Panggung Pencitraan?Budaya Terlupa, Akar DicabutSaatnya Sadar, Bangun, dan MelawanDi...







