Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perspektif

Buah dari Muhasabah Diri

Habib Asy Syuhada, Editor: Alan Aliarcham
Jumat, 14 Agustus 2026 18:22 WIB
Buah dari Muhasabah Diri
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Gambar ilustrasi orang berdoa. [Freepik.com].

Kemajuan peradaban dan kesibukan manusia dalam mengejar tujuan, popularitas, serta harta dapat membuat seseorang lalai dan melewati batas yang telah Allah Swt. tetapkan. Dalam kondisi seperti ini, muhasabah diri menjadi amalan penting untuk kembali menata kehidupan dan memperbaiki hubungan dengan Allah Swt.

Muhasabah merupakan upaya mengevaluasi diri, merenungi kebesaran Allah Swt., serta memohon ampun atas kesalahan dan dosa yang dilakukan, baik secara sengaja maupun tidak disadari.

Allah Swt. mengingatkan pentingnya introspeksi melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. Al-Hasyr: 18–19)

Ayat tersebut menjadi landasan untuk senantiasa mengoreksi diri. Ketika melakukan kesalahan, seseorang perlu segera memperbaikinya dan bertobat. Jika terdapat kekurangan dalam menjalankan kewajiban, ia perlu berusaha menyempurnakannya sekaligus memohon pertolongan Allah Swt. agar dimudahkan dalam beribadah.

Muhasabah juga memiliki sejumlah manfaat bagi kehidupan seorang muslim.

Pertama, meringankan hisab pada hari kiamat.

Umar bin Khattab berkata, “Hisablah amal kalian sebelum kalian dihisab pada hari akhir. Itu akan memudahkan kalian kelak. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang kelak dan bersiaplah untuk hari besar ditampakkannya amal.” (Mau’idhotul Habib wa Tuhfatul Khatib, hlm. 76).

Pesan tersebut mengajarkan pentingnya mengevaluasi amal sebelum manusia mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Swt. Muhasabah membuat seseorang memiliki kesempatan untuk menyadari kesalahan, memperbaiki kekurangan, dan meningkatkan amal sebelum datangnya hari perhitungan.

Kedua, menggunakan waktu untuk hal yang bermanfaat.

Orang yang terbiasa bermuhasabah akan lebih memperhatikan bagaimana waktunya digunakan. Ia terdorong mengisi kehidupan dengan kegiatan yang bernilai dan meninggalkan aktivitas yang tidak memberikan manfaat.

Hal tersebut tercermin dalam kehidupan Al-Faqih Salim bin Ayyub Ar-Razi. Ia dikenal terbiasa mengevaluasi dirinya dalam setiap kesempatan dan tidak membiarkan waktu berlalu tanpa manfaat. Waktunya diisi dengan menyalin, belajar, atau membaca.

Karena itu, muhasabah perlu dilakukan sebelum maupun setelah beramal. Seseorang dapat memeriksa niat sebelum melakukan sesuatu sekaligus mengevaluasi hasil dan kualitas amal setelahnya.

Jangan sampai kesibukan dalam beramal justru tidak menghasilkan kebaikan sebagaimana peringatan Allah Swt. dalam QS. Al-Ghasyiah ayat 3–4:

“Bekerja keras lagi kepayahan, mereka memasuki api yang sangat panas.”

Ketiga, menjauhkan diri dari kesombongan.

Orang yang sering bermuhasabah akan menyadari berbagai keterbatasan dalam dirinya. Ia memahami setiap kemampuan, keberhasilan, dan kebaikan yang dimiliki merupakan karunia sekaligus amanah dari Allah Swt.

Muhammad bin Wasi’ berkata, “Andaikan dosa itu memiliki bau, tentu tidak ada seorang pun yang ingin duduk dekat-dekat denganku.” (Ighatsatul Lahfan, I:81).

Pesan tersebut menunjukkan kerendahan hati seorang yang memahami kekurangan dirinya. Muhasabah membantu seseorang tidak mudah merasa lebih baik daripada orang lain karena ia lebih sibuk memperbaiki dirinya sendiri.

Karena itu, seorang muslim seyogianya menyediakan waktu untuk merenungi siapa dirinya, apa yang telah dilakukan, serta apa yang perlu dipersiapkan untuk kehidupan akhirat.

Muhasabah bukan sekadar mengingat kesalahan, melainkan menjadi langkah untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas amal, menggunakan waktu dengan lebih baik, dan menjaga hati dari kesombongan.

Semoga Allah Swt. memberikan keistiqamahan dalam keimanan dan menjauhkan kita dari segala sesuatu yang diharamkan-Nya.

Nashrum minallah wa fathun qarib, fastabiqul khairat.

Daftar Pustaka

Bin Muhammad, Ali. 2009. Mau’idhotul Habib wa Tuhfatul Khatib. Abu Dhabi: Yayasan Islamiyah dan Amal Sholih.

Al-Jauziyah, Ibnu Qayyim. 2006. Ighatsatul Lahfan. Riyadh: Perpustakaan Ma’arif.

Berita Terbaru

TKA, Wajah Asli Pendidikan Kita Yang Tak Rupawan

Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi bahan refleksi penting dalam diskursus pendidikan nasional. Di tengah euforia reformasi kurikulum dan perubahan sistem evaluasi, TKA hadir bukan...

Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat

Ustaz Muhammad Jazir, tokoh  Masjid Jogokariyan, adalah sosok inspiratif yang menunjukkan aksi dan peran nyata dalam dakwah dan gerakan umat. Beliau memberi pelajaran penting bahwa...

Ironi di Penghujung November: Perayaan Ekologis Namun Membiarkan Bencana

Penghujung November seharusnya menjadi momentum ekologis penting bagi umat manusia. Dua peringatan besar—Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28...

Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global

Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja? Penandatanganan MoU...

Teknologi Bisa Mengajar, tapi Hanya Guru yang Bisa Menyentuh Hati

Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kita semakin akrab dengan kelas daring, robot tutor, kecerdasan buatan, hingga platform belajar yang menyediakan ribuan video pembelajaran. Banyak yang...

Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah

Fenomena “gus-gusan” dalam dakwah digital semakin ramai dibicarakan. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh potongan video seorang “Gus” yang mengaitkan rokok merek Sampoerna dengan konsep...

Jangan Korbankan Lawu untuk Keserampangan Energi Hijau

Rencana pemanfaatan panas bumi di Jenawi, lereng Gunung Lawu, bukan sekadar urusan teknis energi. Ia adalah soal keselamatan ekologis, keberlanjutan ekonomi warga, dan kewarasan negara...

Menemukan Tenang di Tengah Badai: Spiritualitas sebagai Kunci Ketahanan Mental

Dalam menjalani kehidupan pasti manusia akan merasakan berbagai macam tekanan pada setiap aspek yang dia jalani. Misalnya, tekanan pada pekerjaan, seperti deadline yang ketat, tuntutan...

Latte Papa: Ayah, Kopi, dan Revolusi Sunyi

Fenomena Latte Papa atau Latte Dad di Swedia sering dianggap sepele: sekumpulan ayah muda yang terlihat mendorong stroller sambil menyesap segelas caffe latte di kafe-kafe...

Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan

Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe, berdiri sebuah madrasah kecil yang menyimpan harapan besar: Madrasah Aliyah Muhammadiyah Petta. Meski letaknya jauh dari pusat-pusat...

Negeri yang Dijajah Tanpa Senapan

Daftar IsiGelar Tak Lagi SaktiKetika Data Menjadi Emas BaruSekolah untuk Dunia yang Sudah MatiTeknologi: Pembebasan atau Panggung Pencitraan?Budaya Terlupa, Akar DicabutSaatnya Sadar, Bangun, dan MelawanDi...

The Power of Al-Ma’tsurat: Penghancur Jin dalam Tubuh dan Tameng Spiritual yang Terlupakan

Bayangkan seseorang yang hidupnya terasa berat tanpa sebab yang jelas. Ia bangun pagi dengan tubuh lesu, pikirannya kacau, sering mimpi buruk, mudah marah, gelisah tanpa...