PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Hari Kartini seharusnya bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi ruang refleksi untuk mempertanyakan bagaimana gender, pengetahuan, dan kekuasaan saling terkait dalam dunia akademis. Sosok Kartini bukan hanya memperjuangkan akses perempuan terhadap pendidikan, tetapi juga memperjuangkan martabat, kesetaraan, dan kemerdekaan berpikir bagi perempuan.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yayah Khisbiyah, menegaskan seruannya untuk emansipasi wanita bukan hanya tentang akses terhadap pendidikan, tetapi juga tentang pembongkaran sistem represif yang membungkam dan meminggirkan suara perempuan dan suara kelompok minoritas maupun marginal.
Menurutnya, legasi atau warisan R.A. Kartini melalui tulisan-tulisannya dan visinya untuk emansipasi wanita memberikan wadah untuk mengkritik bagaimana struktur kolonial dan patriarki terus membentuk lembaga pendidikan.
Kemudian apabila dilihat secara historis, Muhammadiyah mendukung pendidikan perempuan dan bersikap progresif atau berkemajuan, misalnya terbukti dengan mendirikan Aisyiyah pada tahun 1917, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.
“Namun, pandangan kritis kita harus mempertanyakan: Bagaimana Muhammadiyah menafsirkan peran perempuan saat ini, dan apakah penafsiran ini berkembang? Jika semangat Kartini adalah tentang mempertanyakan sistem yang mengakar yang membatasi potensi perempuan, maka Muhammadiyah harus terus mengevaluasi kembali teologi dan ajaran sosialnya,” ungkap Yayah yang juga Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Minggu (20/4/2025).
Yayah mempertanyakan, apakah hal itu memungkinkan adanya penafsiran ulang feminis (ijtihad) atas teks-teks Islam? Apakah hal itu memungkinkan kepemimpinan perempuan dalam wacana keagamaan dan pembuatan kebijakan?
Keselarasan dengan semangat Kartini tidak terletak pada pujian-pujian yang menyanjung peran keibuan perempuan, tetapi pada reformasi yang dinamis dan berani melawankesemenaan kekuasaan. “Bagi sivitas akademika di UMS, hari Kartini ini mengundang pertanyaan tentang pengetahuan siapa yang divalidasi, suara siapa yang diperkuat, dan kerja siapa yang tidak terlihat terutama kerja para dosen, mahasiswa, dan staf perempuan,” ujarnya.
Panggilan Pembebasan
Dalam konteks ini, lanjutnya, Hari Kartini bukan sekadar merayakan pahlawan nasional, tetapi panggilan untuk membongkar ketidakadilan epistemik dan menata kembali pendidikan sebagai ruang pembebasan bagi perempuan.
Menurutnya, meskipun telah terjadi peningkatan representasi secara jumlah angka bagi perempuan dalam peran kepemimpinan, sudut pandang kritis tetap harus ada: kepemimpinan seperti apa yang diizinkan dan dilegitimasi masyarakat? Apakah perempuan diharapkan untuk meniru gaya kepemimpinan maskulinitas dan patriarki? Apakah keputusan perempuan bersifat otonom, atau dibatasi oleh norma-norma pemerintahan maskulin?
”Saya memberikan saran seperti di kampus-kampus seperti UMS, dapat melakukan penunjukan pimpinan perempuan yang bersifat simbolis di tingkat Rektorat yang sampai saat ini belum pernah ada keterwakilan perempuan. Walaupun awalnya bisa saja karena alasan ‘memenuhi kuota perempuan’ tapi kebijakan ini dapat mengurangi bias gender sistemik,” tegasnya.
UMS, sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam, memiliki kesempatan dan tanggung jawab yang unik untuk menafsirkan kembali semangat Kartini melalui sudut pandang Islam dan Muhammadiyah. Perjuangan Kartini bukan hanya untuk mendapatkan akses pendidikan, tetapi juga untuk martabat intelektual, keadilan sosial, dan re-humanisasi perempuan.
UMS dapat mewujudkan hal ini dengan menilai ulang secara kritis konten kurikulum, pedagogi yang peka gender, dan kebijakan kelembagaan. Meskipun UMS mungkin memiliki berbagai inisiatif seperti pusat studi gender, organisasi mahasiswa, atau seminar-seminar Nasyiatul Aisyiyah (NA) dan Aisyiyah — semua itu harus dinilai secara kritis untuk mengetahui dampaknya.
Menurutnya masih terdapat ruang pertanyaan, apakah program-program ini menjangkau mahasiswa perempuan yang terpinggirkan (misalnya, dari daerah pedesaan, penyandang disabilitas, dari kelompok minoritas)? Apakah program-program tersebut bergerak melampaui kesadaran untuk benar-benar menantang ketidaksetaraan, kepongahan kekuasaan, dan korupsi sistemik?

Tidak hanya itu, dampak seharusnya tidak diukur dari jumlah acara, tetapi dari perubahan kebijakan, sikap, dan sistem dukungan jangka panjang. Jaringan kepemimpinan perempuan, akses ke sumber daya kesehatan mental, dan program pengembangan kepemimpinan yang membahas interseksionalitas dapat menjadi alat utama dalam mewujudkan visi Perempuan berkemajuan ala Aisyiyah, yang notabene adalah visi Kartini juga.
Yayah menyatakan bahwa lembaga pendidikan tidaklah netral; mereka tertanam kuat dalam struktur kekuasaan. Karenanya, UMS harus bergerak lebih dari sekadar “memberikan akses” untuk menjadi lembaga yang secara aktif mendekonstruksi hambatan terhadap partisipasi penuh dan kemajuan perempuan.
Ini termasuk memerangi kekerasan berbasis gender di kampus termasuk pelecehan seksual dalam berbagai bentuknya, menantang bias gender dalam evaluasi dan promosi, dan menumbuhkan kesadaran kritis.
“Lebih jauh, kurikulum harus berpusat pada pengalaman hidup perempuan, terutama mereka yang terpinggirkan. Mendukung pendidikan perempuan, dalam semangat Kartini, berarti membina agen perubahan sosial—bukan hanya menghasilkan lulusan dan alumni UMS yang patuh pada birokrasi dan kekuasaan yang mempertahankan status quo,” tegasnya.
Dalam ruang akademik UMS, semangat ini seharusnya diwujudkan melalui keberanian untuk mengkritisi kurikulum, kebijakan kampus, dan budaya organisasi yang masih patriarkal. Dosen UMS itu berpesan agar semangat Kartini harus menjadi bahan bakar untuk perubahan struktural, bukan sekedar romantisme sejarah.
Hari Kartini seharusnya menjadi momen refleksi kritis dan aksi nyata. Sebuah ajakan untuk mengubah institusi pendidikan menjadi ruang pembebasan, bukan hanya reproduksi ketimpangan. Perlu langkah nyata dalam kurikulum, dalam budaya kampus, dalam kebijakan yang menjadikan kampus ini ruang humanisasi dan pembebasan atau liberal bagi semua, terutama perempuan, dalam spirit transendensi Ilahiyah.
Mari jadikan Hari Kartini bukan hanya sebagai momen nostalgia, tetapi panggilan untuk bergerak. Untuk membangun ruang akademik yang adil, kritis, memanusiakan, dan memerdekakan di kampus-kampus Muhammadiyah dan Aisyiyah, dan di Tengah Masyarakat serta pemerintahan.
BikersMu Sleman Rayakan Milad Ke-1 dengan Aksi Sosial dan Dakwah di Jalanan
KLATEN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – BikersMu Chapter Sleman memperingati milad pertama dengan menggelar touring dakwah yang dipadukan dengan bakti sosial, layanan kesehatan gratis, dan pengajian di kawasan...
Guru Besar UMS: Investasi Rp1.010 T Buktikan RI Masih jadi Magnet Investasi
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 yang mencapai Rp1.010,6 triliun dinilai menjadi sinyal positif terhadap daya saing nasional di tengah dinamika...
PP Muhammadiyah Restui KucingMu, Siapkan Langkah Menuju Klinik hingga Rumah Sakit Hewan
YOGYAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Komunitas Kucing Muhammadiyah (KucingMu) yang sempat viral setelah meluncurkan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) khusus kucing kini mendapat dukungan dari Pimpinan Pusat...
Hari Anak Nasional 2026, Guru Besar UMS Soroti Pentingnya Penuhi Hak Anak
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli menjadi momentum bagi keluarga dan masyarakat untuk memastikan terpenuhinya hak-hak anak. Guru Besar...
Dosen UMS Ungkap Fakta Baru Manuskrip Al-Qur’an Keraton Surakarta Berusia Lebih dari 200 Tahun
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Dosen Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ainur Rhain, bersama tim peneliti mengungkap temuan baru mengenai manuskrip...
Delegasi Belanda Apresiasi Model Perdamaian Lintas Iman Muhammadiyah Berbasis Aksi Lingkungan
JAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pendekatan Muhammadiyah dalam membangun perdamaian melalui aksi lingkungan lintas iman mendapat apresiasi dari Delegasi Kedutaan Besar Kerajaan Belanda. Pendekatan tersebut dinilai mampu...
Gelombang Panas Global Kian Ekstrem, Guru Besar UMS Soroti Pentingnya Adaptasi Iklim
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir kembali memunculkan kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim. Suhu yang...
Menang di Trofeo Wonorejo Cup, Doskar UMS FC Bawa Pulang Gelar Juara
SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) turut ambil bagian dalam pertandingan eksibisi Wonorejo Cup IV bertajuk “Piala Bersama 2026” melalui tim sepak bola Doskar...
PDM Boyolali Lantik Pengurus BikersMu, Perkuat Dakwah lewat Komunitas Otomotif
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Boyolali resmi melantik Pengurus BikersMu Chapter Boyolali periode 2026–2028 pada Selasa (16/6/2026). Pelantikan yang digelar di Dukuh Kemel,...
Muhammadiyah Pandang Malam Satu Suro sebagai Budaya, Tauhid Tetap Utama
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Muhammadiyah memandang tradisi Malam Satu Suro sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Jawa yang lahir dari proses sosial dan sejarah. Namun, tradisi tersebut...
Pertamax Naik ke Rp16.250, Pengamat UMS Soroti Beban Kelas Menengah
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Isu yang ramai dibicarakan mulai dari ancaman inflasi...
Muhammadiyah Investasikan Rp800 Miliar untuk Bangun Pabrik Infus
MALANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, melakukan groundbreaking (peletakan batu pertama) pabrik infus milik Persyarikatan, PT Suryavena Farma Indonesia, Kamis (11/6/2026), di...







