Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Umum

Refleksi Kritis Perjuangan Kartini Secara Dekolonial

Fika Annisa, Editor: Alan Aliarcham
Senin, 21 April 2025 13:46 WIB
Refleksi Kritis Perjuangan Kartini Secara Dekolonial

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Hari Kartini seharusnya bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi ruang refleksi untuk mempertanyakan bagaimana gender, pengetahuan, dan kekuasaan saling terkait dalam dunia akademis. Sosok Kartini bukan hanya memperjuangkan akses perempuan terhadap pendidikan, tetapi juga memperjuangkan martabat, kesetaraan, dan kemerdekaan berpikir bagi perempuan.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yayah Khisbiyah, menegaskan seruannya untuk emansipasi wanita bukan hanya tentang akses terhadap pendidikan, tetapi juga tentang pembongkaran sistem represif yang membungkam dan meminggirkan suara perempuan dan suara kelompok minoritas maupun marginal.

Menurutnya, legasi atau warisan R.A. Kartini melalui tulisan-tulisannya dan visinya untuk emansipasi wanita memberikan wadah untuk mengkritik bagaimana struktur kolonial dan patriarki terus membentuk lembaga pendidikan.

Kemudian apabila dilihat secara historis, Muhammadiyah mendukung pendidikan perempuan dan bersikap progresif atau berkemajuan, misalnya terbukti dengan mendirikan Aisyiyah pada tahun 1917, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.

“Namun, pandangan kritis kita harus mempertanyakan: Bagaimana Muhammadiyah menafsirkan peran perempuan saat ini, dan apakah penafsiran ini berkembang? Jika semangat Kartini adalah tentang mempertanyakan sistem yang mengakar yang membatasi potensi perempuan, maka Muhammadiyah harus terus mengevaluasi kembali teologi dan ajaran sosialnya,” ungkap Yayah yang juga Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Minggu (20/4/2025).

Yayah mempertanyakan, apakah hal itu memungkinkan adanya penafsiran ulang feminis (ijtihad) atas teks-teks Islam? Apakah hal itu memungkinkan kepemimpinan perempuan dalam wacana keagamaan dan pembuatan kebijakan?

Keselarasan dengan semangat Kartini tidak terletak pada pujian-pujian yang menyanjung peran keibuan perempuan, tetapi pada reformasi yang dinamis dan berani melawankesemenaan kekuasaan. “Bagi sivitas akademika di UMS, hari Kartini ini mengundang pertanyaan tentang pengetahuan siapa yang divalidasi, suara siapa yang diperkuat, dan kerja siapa yang tidak terlihat terutama kerja para dosen, mahasiswa, dan staf perempuan,” ujarnya.

Panggilan Pembebasan

Dalam konteks ini, lanjutnya, Hari Kartini bukan sekadar merayakan pahlawan nasional, tetapi panggilan untuk membongkar ketidakadilan epistemik dan menata kembali pendidikan sebagai ruang pembebasan bagi perempuan.

Menurutnya, meskipun telah terjadi peningkatan representasi secara jumlah angka bagi perempuan dalam peran kepemimpinan, sudut pandang kritis tetap harus ada: kepemimpinan seperti apa yang diizinkan dan dilegitimasi masyarakat? Apakah perempuan diharapkan untuk meniru gaya kepemimpinan maskulinitas dan patriarki? Apakah keputusan perempuan bersifat otonom, atau dibatasi oleh norma-norma pemerintahan maskulin?

”Saya memberikan saran seperti di kampus-kampus seperti UMS, dapat melakukan penunjukan pimpinan perempuan yang bersifat simbolis di tingkat Rektorat yang sampai saat ini belum pernah ada keterwakilan perempuan. Walaupun awalnya bisa saja karena alasan ‘memenuhi kuota perempuan’ tapi kebijakan ini dapat mengurangi bias gender sistemik,” tegasnya.

UMS, sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam, memiliki kesempatan dan tanggung jawab yang unik untuk menafsirkan kembali semangat Kartini melalui sudut pandang Islam dan Muhammadiyah. Perjuangan Kartini bukan hanya untuk mendapatkan akses pendidikan, tetapi juga untuk martabat intelektual, keadilan sosial, dan re-humanisasi perempuan.

UMS dapat mewujudkan hal ini dengan menilai ulang secara kritis konten kurikulum, pedagogi yang peka gender, dan kebijakan kelembagaan. Meskipun UMS mungkin memiliki berbagai inisiatif seperti pusat studi gender, organisasi mahasiswa, atau seminar-seminar Nasyiatul Aisyiyah (NA) dan Aisyiyah — semua itu harus dinilai secara kritis untuk mengetahui dampaknya.

Menurutnya masih terdapat ruang pertanyaan, apakah program-program ini menjangkau mahasiswa perempuan yang terpinggirkan (misalnya, dari daerah pedesaan, penyandang disabilitas, dari kelompok minoritas)? Apakah program-program tersebut bergerak melampaui kesadaran untuk benar-benar menantang ketidaksetaraan, kepongahan kekuasaan, dan korupsi sistemik?

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yayah Khisbiyah
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yayah Khisbiyah. (Humas)

Tidak hanya itu, dampak seharusnya tidak diukur dari jumlah acara, tetapi dari perubahan kebijakan, sikap, dan sistem dukungan jangka panjang. Jaringan kepemimpinan perempuan, akses ke sumber daya kesehatan mental, dan program pengembangan kepemimpinan yang membahas interseksionalitas dapat menjadi alat utama dalam mewujudkan visi Perempuan berkemajuan ala Aisyiyah, yang notabene adalah visi Kartini juga.

 Yayah menyatakan bahwa lembaga pendidikan tidaklah netral; mereka tertanam kuat dalam struktur kekuasaan. Karenanya, UMS harus bergerak lebih dari sekadar “memberikan akses” untuk menjadi lembaga yang secara aktif mendekonstruksi hambatan terhadap partisipasi penuh dan kemajuan perempuan.

Ini termasuk memerangi kekerasan berbasis gender di kampus termasuk pelecehan seksual dalam berbagai bentuknya, menantang bias gender dalam evaluasi dan promosi, dan menumbuhkan kesadaran kritis.

“Lebih jauh, kurikulum harus berpusat pada pengalaman hidup perempuan, terutama mereka yang terpinggirkan. Mendukung pendidikan perempuan, dalam semangat Kartini, berarti membina agen perubahan sosial—bukan hanya menghasilkan lulusan dan alumni UMS yang patuh pada birokrasi dan kekuasaan yang mempertahankan status quo,” tegasnya.

 Dalam ruang akademik UMS, semangat ini seharusnya diwujudkan melalui keberanian untuk mengkritisi kurikulum, kebijakan kampus, dan budaya organisasi yang masih patriarkal. Dosen UMS itu berpesan agar semangat Kartini harus menjadi bahan bakar untuk perubahan struktural, bukan sekedar romantisme sejarah.

Hari Kartini seharusnya menjadi momen refleksi kritis dan aksi nyata. Sebuah ajakan untuk mengubah institusi pendidikan menjadi ruang pembebasan, bukan hanya reproduksi ketimpangan. Perlu langkah nyata dalam kurikulum, dalam budaya kampus, dalam kebijakan yang menjadikan kampus ini ruang humanisasi dan pembebasan atau liberal bagi semua, terutama perempuan, dalam spirit transendensi Ilahiyah.

Mari jadikan Hari Kartini bukan hanya sebagai momen nostalgia, tetapi panggilan untuk bergerak. Untuk membangun ruang akademik yang adil, kritis, memanusiakan, dan memerdekakan di kampus-kampus Muhammadiyah dan Aisyiyah, dan di Tengah Masyarakat serta pemerintahan.

Berita Terbaru

SoulMed Diluncurkan, RS UMS Dukung Medical Wellness Tourism Solo

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Surakarta (RS UMS) A.R. Fachrudin mendukung pengembangan ekosistem kesehatan digital melalui partisipasi dalam peluncuran awal aplikasi SoulMed. Kegiatan yang...

Panahan Solo Raih Dua Emas Pertama di Porprov Jateng 2026

KENDAL, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Tim panahan Kota Solo meraih dua medali emas pada hari pertama pertandingan cabang olahraga panahan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII/2026 Semarang...

Dosen UMS Dampingi Atlet Indonesia Raih Emas Asian Para Games

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Dosen Pendidikan Jasmani Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Azlan Khoirur Rozikin, turut berkontribusi dalam keberhasilan atlet Indonesia meraih...

Sambut Milad ke-61 Kokam, Pemuda Muhammadiyah Solo Putar Film Kedung Kopi

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Surakarta bersama Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) menggelar refleksi Milad ke-61 Kokam bertajuk “Jejak Darah di Kedung...

Tiga AUM Muhammadiyah di Bolon Ajak Warga Berdoa Memohon Hujan

KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Tiga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), yakni MIM Digdaya Bolon, SMP Muhammadiyah 7 Program Unggulan, dan TK Aisyiyah Bolon, bersama warga menggelar Salat Istiska...

Sekolah Muhammadiyah Karanggede Dukung Silaturahmi Akbar FGM

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Jajaran kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kecamatan Karanggede menyatakan dukungan terhadap Silaturahmi Akbar Forum Guru Muhammadiyah (FGM) yang dijadwalkan berlangsung pada 7 November...

UMS Beri Penghargaan bagi Penggerak Muhammadiyah se-Solo Raya

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan penghargaan kepada pimpinan daerah, cabang, ranting, serta dosen dan tenaga kependidikan yang berkontribusi dalam pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah. Apresiasi...

Ribuan Anggota Jemaah Hadiri Tabligh Akbar Hari Jadi ke-68 UMS

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat komitmen dalam membangun generasi berlandaskan nilai-nilai Islam melalui Tablig Akbar dalam rangka Hari Jadi ke-68 UMS. Kegiatan yang menghadirkan...

Wali Kota Solo Siapkan Program Air Bersih Gratis PDAM untuk Rumah Ibadah

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Wali Kota Solo, Respati Ardi menyiapkan program air bersih gratis dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Toya Wening atau PDAM bagi seluruh rumah...

Tiba-tiba Ingat Seseorang, Benarkah Dia Juga Memikirkan Kita?

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Pernah tiba-tiba teringat seseorang, lalu tidak lama kemudian orang tersebut menghubungi atau muncul di hadapan kita? Sebagian orang menganggap pengalaman itu sebagai tanda...

Grup Band Mess in Balance Tuntaskan “Sacred of Ignin Tour” di Lima Kota

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Band rock asal Kota Solo, Mess in Balance (MIB), telah menuntaskan rangkaian tur bertajuk “Sacred of Ignis Tour” di lima kota, yakni Jakarta, Depok,...

Mahasiswa dan Alumni UMS Bersatu Membangun Kepedulian melalui Organisasi Al-Barokah

KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Mahasiswa dan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang tergabung dalam organisasi Al-Barokah mengadakan kegiatan sosial di Panti Disabilitas Anugrah, Kepoh RT 05/06, Desa Tohudan,...