Di setiap bulan Agustus, memori bangsa kita dalam hal nasionalisme muncul. Beragam implementasi untuk mewujudkan rasa cinta tanah air ditunjukkan segenap elemen masyarakat. Mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, sampai pada bapak dan ibu melakukan serangkaian kegiatan di tempat masing-masing.
Beragam lomba-lomba yang memupuk kebersamaan, menghias jalan, spanduk hari kemerdekaan sampai acara malam tirakatan diselenggarakan untuk memeriahkan hari kemerdekaan negeri kita tercinta.
Sebagai bagian dari anak bangsa, fenomena tersebut membuat saya bangga. Setidaknya ada media bagi generasi muda untuk belajar sekaligus merefleksikan terkait makna kemerdekaan.
Sebagai pengajar, terbesit tanya dalam lubuk hati tentang pewarisan nilai watak dan kepribadian bangsa kepada generasi muda. Apakah media ragam kegiatan tahunan yang diselenggarakan cukup efektif menanamkan watak kepribadian bangsa kepada generasi muda? Terlebih generasi Z saat ini sangat akrab dengan dunia digital. Apakah literasi sejarah mereka kuat di era digital atau sebaliknya berjarak dengan literasi sejarah bangsa?
Pertanyaan di atas mungkin sulit untuk dijawab jika tidak melakukan riset lapangan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menemukan jawaban pertanyaan di atas. Namun penulis mencoba mengajak refleksi terkait pewarisan watak dan kepribadian bangsa kepada generasi muda yang sangat strategis untuk mempertahankan dan membangun bangsa menuju peradaban yang tinggi.
Jika proses pewarisan watak dan kepribadian bangsa ini lemah kepada generasi muda, maka bisa dipastikan karakteristik kepribadian bangsa bisa terkikis habis, dan kita bergerak menuju bangsa yang ahistoris.
Sebuah Refleksi: Muhammadiyah dan Nasionalisme
Saya teringat ketika momentum majalah SM (Suara Muhammadiyah) mendapat penghargaan di tahun 2018 saat hari Pers Nasional berupa kepeloporan sebagai media dakwah perjuangan kemerdekaan RI dalam bahasa Indonesia. Hal ini menarik untuk saya mencoba menelisik lebih dalam kiprah Muhammadiyah dalam merajut nasionalisme bangsa. Suara Muhammadiyah (SM) lahir pada tahun 1915 dan punya peran penting dalam propaganda nasionalisme.
Tulisan majalah SM edisi Agustus 2019, mengangkat tema kiprah Suara Muhammadiyah. Seperti di tahun 1920-an reportase SM memuat tentang pergerakan Sarekat Islam, Boedi Oetomo, Wanita Oetomo, hingga Centraal Tiong Hoa.
Selain itu, reportase SM juga memperkenalkan peta geografis, peta sosial budaya Hindia Belanda selain Yogyakarta. Seperti Solo, Surabaya, Batavia, Garut, Pekalongan, Priangan, Sumatera hingga Sulawesi. Sebelum Sumpah Pemuda 1928, SM di tahun 1923 menggunakan bahasa melayu secara penuh. Bahkan, di tahun 1924 SM menggunakan kata “Indonesia” sebagai kata ganti Hindia Belanda dalam sebuah artikel.
Selain melalui SM, penanaman nasionalisme di Muhammadiyah dilakukan juga melalui kongres. Tahun 1926 kongres sudah dilakukan di luar Yogyakarta dan menghimpun orang dari berbagai penjuru nusantara untuk bertemu dan menjadi perekat rasa cinta tanah air.
Gambaran singkat tentang kiprah perjuangan Muhammadiyah sebelum kemerdekaan begitu luar biasa dalam membangun nasionalisme. Begitu juga saat jelang kemerdekaan, peran kaum Islam modern dalam membentuk negara NKRI sangat krusial.
Inspirasi dari perjuangan para tokoh Islam modern dalam membentuk sebuah negara patut kita ambil pelajaran. Ki Bagus Hadikusumo, Agus Salim, Mas Mansur, Kahar Muzzakir, Kasman Singodimejo, Hamka, Moh Nasir, Muh Roem, Juanda, Sukiman adalah contoh deretan nama kaum Islam Modernis yang mampu menuangkan konsep bernegara bersama kaum nasionalis.
Isu-isu keislaman dan kenegaraan kontemporer mereka kuasai dan didialogkan bersama kaum nasionalis. Mereka termasuk golongan yang mencerahkan umat sehingga terbangun kesadaran kolektif anak bangsa untuk hidup bersama dalam sebuah negara merdeka.
Muhammadiyah telah melahirkan tokoh-tokoh Islam modern yang menginspirasi dan kiprahnya sangat besar bagi kelangsungan hidup bernegara. Dari masa sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan bahkan sampai sekarang Muhammadiyah telah berkiprah nyata dalam hal pembentukan watak dan karakter hidup berbangsa.
Muhammadiyah selain memiliki tanggungjawab keagamaan dan kebangsaan, juga berkewajiban mengisi kemerdekaan dan membangun negara. Muhammadiyah mengembangkan Indonesia sebagai negara Pancasila Darul Ahdi Wasy Syahadah, yang maknanya negara kesepakatan dan persaksian yang terlibat langsung dalam mengatasi berbagai masalah bangsa serta bekerja keras mewujudkan kemaslahatan dan pembangunan bangsa
Saat ini, bangsa kita masih membutuhkan pahlawan-pahlawan masa kini yang memberikan kiprah dan senantiasa membangun karakter positif diri. Generasi muda saat ini perlu menangkap cita-cita bangsa yang terus dibangun kearah tanda-tanda zaman bergerak.
Generasi muda saat ini erat dengan perkembangan teknologi informasi. Tentu kita tidak menginginkan generasi muda bangsa kita kehilangan orientasi, watak dan kepribadian bangsa. Sikap mental dan tingkah laku yang terpancar dari anak bangsa harapannya sesuai dengan karakter bangsa.
Sikap mental religius, menjunjung tinggi martabat kemanusiaan, menjalin kebersamaan dan persaudaraan, ber-empati merangkul serta menghormati hak-hak orang lain menjadi ciri khas karakter bangsa.
Nilai watak kepribadian tersebut telah dicontohkan oleh Muhammadiyah dalam kiprah-kiprahnya dari awal berdiri hingga saat ini. Muhammadiyah telah meletakkan dasar-dasar nilai agama dalam kehidupan berbangsa sehingga selalu merekatkan kehidupan kebangsaan kita.
Mental karakter individualistis cenderung terjadi di era modernisasi saat ini. Perkembangan masyarakat digital dalam pandangan umum diakui mendorong gaya hidup masyarakat individual yang lebih mementingkan dirinya sendiri.
Muhammadiyah telah memberikan contoh teladan bagaimana cara hidup di era modern tanpa harus kehilangan watak kepribadian sebagai karakter utama. Kader-kader Muhammadiyah harus menjadi “anak panah” yang siap melesat dan berperan dalam internalisasi dan implementasi nilai watak kepribadian bangsa di kehidupan modern demi terwujud “baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur” di era disrupsi ini.
Dari GWO Sriwedari, Belajar Jadi Manusia Seutuhnya
Dua kali saya menyaksikan tampilan seni budaya dalam bentuk drama dan pagelaran seni daerah nusantara persembahan dari siswa SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Gelaran...
Membangun Amal Usaha Muhammadiyah Unggulan
Muhammadiyah adalah sebuah organisasi yang bergerak atas semangat al-Ma’un dan Al-Ashr (dari etos ke spirit peradaban) dan berkhidmat untuk membangun kemanusiaan, keumatan, kebangsaan, dan internasional...
Apa yang Bisa Dilakukan oleh Pimpinan Muhammadiyah dalam Menghadapi Penurunan Jumlah Warganya?
SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pernyataan Denny JA mengenai penurunan yang signifikan dalam jumlah warga Muhammadiyah dalam 20 tahun terakhir merupakan isu yang perlu dipertimbangkan dengan serius...
Historical Walking, Ikhtiar Pembumian Nilai Kemuhammadiyahan
Sepanjang yang saya ketahui, ada dua buku yang mengupas perjalanan Sejarah Muhammadiyah kota Surakarta. Pertama, Matahari Terbit di Kota Bengawan yang ditulis oleh Dr Mohamad...
Mindful Learning dalam Pembelajaran Kimia
Materi kimia sangatlah menarik. Bila seorang guru mampu membangkitkan minat dan motivasi siswa, materi kimia bisa menjadi sarana berpikir kritis, kreatif, membentuk karakter ilmiah dan...
STEM and Digitalisation (3): Manpower Development, Coaching Students, and Reflective Thinking
Diskusi dan sharing pengelolaan pendidikan bersama akademisi Nanyang Polytechnic Singapura berlanjut sampai hari ke -10. Tema Pengembangan sumber daya manusia untuk pertumbuhan ekonomi, membangun cara...
Melekat Kelas Baru
Di awal tahun pelajaran baru, satuan pendidikan menyiapkan awal tahun pelajaran. Kegiatan awal tahun ditandai adanya berbagai kegiatan. Salah satunya adalah masa pengenalan lingkungan sekolah...
STEM and Digitalisation (2): Menciptakan Iklim dan Ekosistem Inovasi
Baca seri pertama dari artikel ini di sini Hari ke-2, 3, dan 4 pelatihan, kami berdialog dan sharing dengan Mr Yoon Eng Tong dalam forum...
Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)
RESENSI BUKU Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan) Judul Buku : Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)...
STEM And Digitalisation (1): Refleksi Teachers Course di Nanyang Polytechnic Singapura
Hari ini, Senin 17 Juli 2023 saya berkesempatan untuk belajar secara langsung bersama Dr Judy Emily dari Nanyang Polytechnic (NYP) Singapore untuk mendalami model pendidikan...
Romansa Guru Penggerak
Program guru penggerak merupakan bagian dari program merdeka belajar episode ke lima yang digagas oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Program guru pengerak adalah...
Buku Merawat Intelektualisme Muhammadiyah Telah Terbit
Kabar gembira bagi para aktivis dan kader Muhammadiyah di kota Solo. Pasalnya, buku karya Dr Mohamad Ali yang merupakan catatan–catatan sejarah pergerakan Muhammadiyah di kota...






